admin No Comments

Orang yang AMBISIUS dalam Berkuasa dalam Analisa Psikologi menurut Adler

Ambisi berkuasa adalah manifestasi dari energi agresivitas yang ada di diri seseorang. Energi agresivitas tersebut mencoba disalurkan pada hal yang tidak melanggar norma sosial. Pertanyaan yang muncul adalah apakah ambisi berkuasa tersebut adalah hal yang baik atau buruk?

Ambisi Berkuasa apakah Baik atau Buruk?

Deepapsikologi.com —  Sebelum menjawabnya kita perlu menelaah bahwa, dorongan berkuasa tersebut adalah langkah seseorang untuk memotivasi agar bekerja keras. Seseorang perlu menggunakan potensi baik tenaga maupun pikiran agar tercapai cita-citanya. Dengan tujuan bahwa ‘kekuasaan adalah kenikmatan yang membuat dirinya bisa berkehendak lebih’. Namun, hal tersebut tidaklah gratis dan harus di perjuangkan. Jika langkah memperjuangkan agar mendapatkan kekuasaan ini didapatkan dengan cara yang benar, tidak berbuat curang, tidak menyakiti orang lain: maka hal tersebut adalah baik.

Setelah mendapatkan kekuasaan, pertanyaan selanjutnya: apakah kekuasaan tersebut digunakan untuk hal yang baik atau tidak ?

Kekuasaan berdampak terhadap meningkatnya kemampuan mengontrol lingkungan dan dapat berkehendak lebih. Ada dua karakteristik orang yang berkuasa dalam teori adler nanti bisa kita bahas. Pertama, adalah orang yang berkuasa tetapi hanya untuk memuaskan kepentingan dirinya sendiri. kedua, yaitu orang yang berkuasa untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi masih ada perhatian besar kepada kesejahteraan orang atau lingkungan yang dikuasainya.

Orang yang berkuasa untuk kepentingan dirinya sendiri tentu sangat tidak baik. Dia melakukan banyak hal agar bisa memanfaatkan orang lain di lingkungannya. Memeras dan menekan orang lain untuk memenuhi kepuasan dirinya. Sedangkan, orang yang berkuasa untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Dia masih memperhatikan kesejahteraan orang lain. Masih ada dorongan menjadi ‘Hero’, agar orang di bawah kekuasaannya bisa terbantu menjadi lebih baik. dia masih menerima masukan dan berkorban untuk kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.

Jadi ambisi berkuasa itu baik atau buruk? Baik, jika didapatkan dengan cara yang tepat. Dan disalurkan untuk kesejahteraan orang-orang di sekitarnya. Hal yang tidak baik adalah ambisius. Yaitu mengorbankan segala cara untuk mencari kekusaan. Dan ketika mendapatkannya, akan memanfaatkan banyak orang untuk memenuhi kepuasan dirinya.

 Memahami Kekuasaan dalam perspektif Psikologi

Alfred Adler adalah salah satu tokoh psikologi yang sangat terkenal. Memberikan penjelasan gamblang tentang energi agresivitas untuk mendapatkan kekuasaan. Adler menjelaskan bahwa agresif itu lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian energi agresivitas itu diganti dengan “hasrat dan kekuasaan” dimana energi tersebut paling memberikan kenikmatan dan lebih bisa diterima. Sehingga itu tujuan akhir manusia menurut Adler yaitu : Menjadi Agresif, menjadi berkuasa, dan dengan berkuasa bisa menjadi superior.

Superioritas adalah perjuangan ke arah kesempurnaan, dimana bisa berkehendak lebih atas banyak hal. Superior sebagai dorongan kuat ke atas. Dorongan untuk mendapatkan kekuasaan ini sifatnya bawaan, dan merupakan bagian dari hidup. Sama seperti dorongan hewani, dimana binatang di alam liar berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dari rombongannya, seperti singa, monyet, dan serigala. Jadi, dorongan berkuasa adalah dorongan instingtif atau dorongan hewani yang ada pada diri manusia.

Perasaan Inferior itu Wajar pada Setiap Orang

Perasaan inferoritas muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh.

Setiap orang pasti merasa dirinya ada yang kurang. Apakah dia kurang pintar, kurang bisa bersosialisasi, ada anggota tubuhnya yang kurang proporsional sesuai dengan yang diinginkannya. Adler menjelaskan inferoritas sebagai “feminitas” dan kompensasinya disebut “protes maskulin”.

Adler mengungkapkan jika inferioritas bukan suatu tanda abnormalitas; tetapi penyebab segala bentuk penyempurnaan dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, secara kodrati manusia memang didorong oleh kebutuhan untuk mengatasi inferoritasnya dan ditarik hasrat menjadi superior. Bagi Adler tujuan hidup adalah kesempurnaan bukan kenikmatan.

Ambisi Berkuasa Membutuhkan Potensi

Karena seseorang mengalami konflik dalam menghadapi inferioritas atau perasaan tidak berdaya. Maka, dia akan menggunakan segala cara agar terhindar dari penderitaan. Yaitu, menghindari inferioritasnya tersebut. Namun, upaya untuk mendapatkan kekuasaan itu artinya dia harus bisa membuktikan kepada lingkungan. Harus berjuang agar lingkungan menerima kekuasaannya. Dia harus berjuang dengan potensi yang dimilikinya untuk menutupi kekurangan yang dimilikinya. Apakah dia harus menggunakan otot dan kekuatannya untuk mendapatkan kekuasaan. Atau apakah dia harus menggunakan otak, kreativitas, bahkan harta dan kemampuan negosiasi kepada lingkungan. Intinya, dia harus mencari potensi diri yang membuatnya bisa diterima untuk menyalurkan energi berkuasanya.

Selama dia bisa menggunakan potensi tersebut untuk mencapai kekuasaan. Maka, dia akan dapat meredakan ketegangan stres karena tidak nikmatnya hidup dalam kondisi tidak berdaya. Tetapi, jika orang tersebut tidak mampu menggunakan potensi untuk mencapai kekuasaan, maka sepanjang hidup, dia akan mengalami tegangan karena perasaan tidak berdaya.

Kesimpulan tentang dorongan berkuasa pada diri manusia

Perasaan tidak berdaya ada pada diri manusia. Dorongan hidup membuat orang bergerak untuk menutupi perasaan tidak berdaya dengan jalan dorongan berkuasa. Dorongan berkuasa adalah dorongan kesempurnaan dimana seseorang bisa berkehendak lebih. Kesempurnaan adalah tujuan hidup yang tertinggi menurut teori Adler.

Secara normatif. Dorongan berkuasa itu bisa baik dan buruk, dari bagaimana cara untuk mendapatkannya. Dan bagaimana kekuasaan itu digunakan untuk lingkungan sosialnya. Apakah untuk kepentingan dirinya sendiri, atau tetap memperhatikan kesejahteraan lingkungan sosialnya.