admin No Comments

Psikotes Calon Tenaga Kerja Indonesia Sebagai Syarat Kerja ke Luar Negeri

Deepapsikologi.com — Tersedianya lowongan pekerjaan di luar negeri menjadikan banyak orang tertarik untuk mengajukan diri. Seiring dengan banyaknya TKI menjadikan banyak permasalahan yang dihadapi. Mulai dengan kasus kriminalitas, perlindungan hukum TKI, kualitas kerja, kepuasan klien, dan ketahanan kerja di luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah membuat filter untuk menghindari permasalahan-permasalahan yang dialami oleh TKI. Pemerintah mulai membentuk regulasi, diantaranya perlu di adakan Psikotes untuk mengetahui kesiapan mental calon TKI. Maka, mulai masa pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mulai di atur syarat psikotes sebagai bagian dari tahapan pelatihan calon TKI.

Mengapa psikotes penting diberikan kepada calon TKI?

Psikotes sebagai serangkaian proses untuk mengungkapkan infomasi psikologis peserta tes. Proses tersebut dilakukan sesuai dengan standar keilmuan psikologi yang sudah di validasi dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Informasi laporan psikologis tersebut berupa beberapa aspek psikologi seperti kepribadian, kecerdasan, sikap kerja, performa, dan kepemimpinan. Psikotes tersebut diberikan kepada calon TKI untuk memberikan infomasi, apakah calon TKI tersebut berkualifikasi atau tidak.

Laporan psikologi memberikan gambaran secara utuh terkait kondisi psikologis peserta. Sehingga hasilnya bisa di gunakan untuk penarikan kesimpulan atau proses evaluasi. Misalnya, untuk bisa mengikuti aktivitas kerja, perusahaan yang dituju mensyaratkan calon karyawan harus memiliki intelegensi di atas 88, ketekunan tinggi, loyalitas, tempo tinggi, dan tahan stres. Perusahaan tersebut juga memerlukan portofolio laporan psikologis calon karyawan untuk memastikan, bahwa dia memang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. Oleh karena itu, perlu diberikan pelaksaan psikotes untuk mengungkapkan informasi psikologis sesuai yang dibutuhkan.

Fungsi lain dibutuhkan laporan psikologis adalah untuk proses evaluasi. Beberapa aspek psikologis bersifat dinamis. Artinya bisa di evaluasi untuk kemudian ditingkatkan. Misalnya, tingkat kepercayaan diri, tempo kerja, ketelitian, kepemimpinan, dan performa diri bisa dilatih dan dipelajari. Aspek psikologis yang rendah bisa ditingkatkan agar sesuai dengan standar kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Beberapa LPK menggunakan Psikotes untuk proses seleksi. LPK tersebut memilah mana kandidat yang memang sesuai dan dibutuhkan oleh perusahaan yang akan ditempati.

artikel terkait : Tes Psikologi untuk CTKI

Apa Saja Aspek yang Diungkap dari Psikotes?

Beberapa aspek bisa diungkap dari laporan psikologis mencakup aspek intelegensi, cara kerja, kepribadian, dan kepemimpinan.

Pada aspek intelegensi terdapat kemampuan konsentrasi, dan kemampuan mengurai masalah, melakukan analisa, dan membuat kesimpulan atas suatu masalah. Selain itu, bisa diketahui kemampuan menggunakan cara baru untuk sudut pandang dan tidak kaku dalam menerapkan persepsi pribadi.

Dalam aspek cara kerja, terdapat pengungkapan perencanaan dan pengelolaan, fokus pada kebutuhan masa depan, objektivitas dan integritas. Pengukuran aspek lain yaitu, memiliki disiplin, fokus, dan ketegaran untuk melakukan komitmen terhadap kemajuan perusahaan; pembelajar teknis; dan tingkat ketaatan terhadap aturan perusahaan.

Aspek kepemimpinan untuk pengungkapkan indikator terkait motivasi memimpin, pengambilan keptutusan, pendelegasian tugas, dan ketegasan. Indikator lain dari kepemimpinan yaitu keberanian mengambil resiko, impact dan influence ke bawahan, dan berusaha untuk mengembangkan skill dan pengetahuan bawahannya.

Sedangkan untuk aspek kepribadian, yang diungkapkan meliputi intikator; penyesuaian diri, kepercayaan diri, kemandirian, dan kerja sama. Indikator lain dari kepribadian yang diungkapkan adalah stabilitas emosi, kemampuan mendengarkan, kontrol diri, motivasi berprestasi, inisiatif diri dan self development.

Keseluruhan aspek psikologi yang diungkapkan tersebut, cukup memberikan gambaran individual yang lengkap dan menyeluruh. Sehingga, hasil laporan psikologis tersebut bisa menjadi data untuk pengambilan keputusan, baik oleh perusahaan, LPK, BNP2TKI, maupun individu yang bersangkutan.