admin No Comments

Sarjana Psikologi, Ruang Lingkup Aktivitas Untuk Menunjang Karir

Sarjana Psikologi, Bisa Apa? Ilmu psikologi merupakan ilmu yang termasuk baru berkembang di Indonesia. Sehingga banyak masyarakat yang kurang memahami pentingnya ilmu psikologi di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, ada persepsi dan stigma yang kurang pas dalam memahami ilmu psikologi dan lulusan psikologi.

Jika masyarakat awam memahami ilmu psikologi sebagai ilmu penerawangan, dan berkaitan dengan dokter untuk orang sakit jiwa. Tentu hal tersebut tidak benar. Hal ini diperkuat dengan lulusan S1 Psikologi yang tidak dibekali keahlian teknis yang terlihat jelas seperti lulusan jurusan teknik dan pendidikan lainnya. Di jurusan teknik, lulusan dianggap menguasai pemahaman tentang mesin, teknologi, dan rancang bangun. Begitu juga dengan lulusan kedokteran, pengacara, dan notaris yang langsung terhubung dengan praktik profesi. Namun bagi sarjana psikologi, keahlian teknisnya lebih tidak terlihat. Ruang lingkupnya lebih melebar kemana-mana.

Jadi di artikel ini akan kita ulas sedikit tentang lulusan S1 psikologi, dan ruang lingkup aktivitas nya sejauh mana untuk menunjang karir.

 

Bidang yang Bisa Ditekuni oleh Sarjana Psikologi

Dalam menjalani praktik psikologi. Ruang lingkup sarjana psikologi lebih terbatas dibandingkan psikolog atau magister psikologi. Hal ini diatur dan diikat dalam kode etik psikologi. Seperti sarjana psikologi dilarang melakukan judgement terhadap kondisi mental klien. Perlu supervisi jika melakukan psikotes dan konseling. Walaupun begitu, masih banyak ruang aktivitas yang bisa dikembangkan oleh sarjana psikologi.

 

1. Sarjana psikologi menjadi konselor

Dalam HIMPSI atau yang dibahas di kode etik Psikologi, Lulusan S1 psikologi bisa dikategorikan sebagai ilmuwan psikologi. Dengan dasar keilmuan psikologi, lulusan S1 Psikologi bisa melakukan proses konseling sederhana. Ditambah pendidikan formal dan non-formal untuk mendukung efektifnya proses konseling; sarjana psikologi bisa mengikuti kursus dan pelatihan terapi psikologi. Namun perlu hati-hati terhadap judgement jenis gangguan klien. Perlu ada supervisi dan pendampingan dari Psikolog.

2. Menjadi tester psikotes

Dalam pemberian psikotes, dibutuhkan pemandu agar instruksi tes bisa dipahami dengan jelas oleh peserta psikotes. Oleh karena itu tester harus memahami alat tes psikologi dan mampu menyampaikan dengan jelas. Lulusan S1 Psikologi sudah terlatih menjadi tester psikotes. Sehingga sarjana psikologi bisa bekerja di biro psikologi atau lembaga penyelenggara psikotes sebagai tester. Lulusan S1 Psikologi juga bisa memberikan penilaian / integrasi parsial alat tes. Melakukan proses skoring alat tes.

3. Menjadi tenaga pendidik dan tenaga pendampingan

Lulusan S1 psikologi terdidik dalam melakukan proses konseling. Sehingga dalam bidang pendidikan, bisa ditempatkan sebagai seorang konselor. Dapat ditempatkan untuk posisi di Bimbingan konseling (BK).

Jika selama proses pembalajaran kuliah S1, mahasiswa psikologi dibekali dengan mata kuliah psikologi perkembangan, psikologi klinis, dan ABK. Maka, itu bisa menjadi modal sarjana psikologi untuk bekerja sebagai pendampingan bagi Anak berkebutuhan khusus. Dengan mengikuti pelatihan tersertifikasi, seorang sarjana psikologi bisa menjadi terapis bagi anak berkebutuhan khusus, seperti speech delay, dan anak dengan keterlambatan kemampuan motorik.

4. Bekerja di perusahaan sebagai HRD

Dikarenakan lulusan psikologi mendapatkan pendidikan dalam bidang kejiwaan manusia. Setidaknya terdidik dan lebih peka dalam memahami manusia berikut dinamika dan permasalahannya. Sehingga, di dalam perusahaan, seorang sarjana psikologi cenderung lebih kompeten di tempatkan dalam bidang HRD.

Secara singkat, HRD berhubungan dengan manajemen karyawan dari rekrutmen hingga pensiun. Di perusahaan, HRD memiliki tugas dalam proses rekrutmen dan pemilihan karyawan, orientasi karyawan baru dan perubahaan job desk atau struktural. HRD juga memiliki peran untuk memanajemen dan mengorganisir kondisi kerja yang kondusif, mengelola hubungan antara karyawan, dan pelaksanaan pengembangan training.

5. Sarjana psikologi potensial sebagai tim Marketing

Dikarenakan aktivitas selling, promosi, dan marketing lebih banyak berinteraksi dengan calon klien, atau orang lain. Maka, seorang lulusan S1 psikologi, setidaknya memiliki keunggulan dalam mengenali karakteristik calon klien. Sehingga, diharapkan mampu membangun interaksi dan mengajak klien untuk membeli produk atau memakai jasa yang ditawarkan. Seorang lulusan S1 diharapkan mampu menguasai kemampuan persuasi dan mampu melihat basic need calon klien. Ditambah dalam perkuliahan, biasanya ada peminatan psikologi pemasaran, dan psikologi komunikasi.

6. Segala pekerjaan yang melibatkan interaksi manusia

Selain yang sudah kami sebutkan di atas. Pada dasarnya, sarjana psikologi bisa bekerja dimana saja selama melibatkan interaksi dengan manusia. Itu berarti sarjana psikologi harusnya tidak akan kehabisan peluang usaha. Karena setiap dia berinteraksi dengan manusia, dia bisa menggunakan ilmu psikologi yang telah dipelajarinya untuk membantunya mencapai tujuan. Seperti mempelajari tipologi kepribadian, kebutuhan dasar, dinamika komunitas, sampai ke permasalahan gangguan kejiwaan. Sehingga, baik dalam interaksi dengan pasangan, dengan tetangga, orangtua, anggota keluarga, perkumpulan organisasi, rekan kerja, dan semua orang… maka seorang sarjana psikologi perlu menggunakan ilmu psikologi yang telah dipelajarinya.

Demikian adalah artikel singkat tentang peluang kerja sarjana psikologi. Lebih tepatnya, ilmu yang didapatkan dari pendidikan S1 Psikologi bisa diaplikasikan ke banyak hal dalam kehidupannya. Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan wawasan dalam melihat peluang sebagai seorang sarjana psikologi.

 

 

 

 

 

admin No Comments

Tokoh-tokoh dalam Psikologi Selain Sigmund Freud

Tokoh-tokoh dalam Psikologi. Ketika mendengar kata psikologi, yang sering terlintas dipikiran kita adalah salah satu tokoh terkenalnya, yaitu Sigmund Freud dengan konsep id – ego – superegonya . Tapi ternyata banyak tokoh lain yang menjadi pendiri atau yang mempelopori berbagai teori psikologi yang digunakan saat ini selain Sigmund Freud.

Sebelum mempelajari ilmu psikologi lebih dalam, alangkah lebih baiknya bila kita berkenalan terlebih dulu dengan tokoh-tokoh tersebut. Berikut ini adalah tokoh-tokoh dalam ilmu psikologi :

 

  1. Wilhelm Wundt (1832 – 1920)

Wilhelm Wundt merupakan tokoh psikologi yangseringkali dianggap sebagai bapak psikologi modern berkat jasanya mendirikan laboratorium psikologi pertama kali di Leipzig. Wundt awalnya dikenal sebagai seorang sosiolog, dokter, filsuf dan ahli hukum. Gelar kesarjanaan Wundt adalah dari bidang hukum dan kedokteran.

Wundt dikenal sebagai seorang ilmuwan yang banyak melakukan penelitian. Termasuk penelitian tentang proses sensori yaitu suatu proses yang dikelola oleh panca indera. Pada tahun 1875, Wundt pindah ke Leipzig, Jerman.

Pada tahun 1879 Wundt dan murid-muridnya mendirikan laboratorium psikologi untuk pertama kalinya di kota tersebut. Berdirinya laboratorium psikologi inilah yang dianggap sebagai titik tolak berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya yaitu Ilmu Filsafat dan Ilmu Faal. Wundt mengabdikan diri selama 46 tahun sisa hidupnya untuk melatih para psikolog dan menulis lebih dari 54.000 halaman laporan penelitian dan teori.

 

  1. Ivan Petrovich Pavlov (1849 – 1936)

Pavlov sebenarnya bukanlah sarjana psikologi dan tidak mau disebut sebagai ahli psikologi. Hal ini karena Pavlov adalah seorang sarjana di bidang ilmu faal yang fanatik. Eksperimen Pavlov yang sangat terkenal di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang pencernaan.

Dalam penelitian tersebut Pavlov melihat bahwa subyek penelitiannya berupa seekor anjing akan mengeluarkan air liur sebagai respons atas munculnya makanan. Pavlov membuat perlakuan khusus pada anjing tersebut yang diiringi dengan pemberian makanan. Kemudian diamatinya, bahwa ada respon-respon tertentu yang memunculkan air liur ketika ritual pemberian makanan diberikan. Walaupun ada maupun tidak ada makanan yang diberikan ke anjing tersebut.

Pavlov kemudian mengeksplorasi fenomena ini dan kemudian mengembangkan satu studi perilaku (behavioral study) yang dikondisikan. Kemudian teori ini dikenal dengan teori Classical Conditioning. Menurut teori ini, ketika makanan yang disebut sebagai stimulus yang tidak dikondisikan atau tidak dipelajari akan dipasangkan atau diikutsertakan dengan bunyi bel (bunyi bel disebut sebagai stimulus yang dikondisikan atau dipelajari). Maka bunyi bel akan menghasilkan respons yang sama, yaitu keluarnya air liur dari si anjing percobaan.

 

Hasil penelitian ini kemudian menghantarkan Pavlov menjadi pemenang hadiah Nobel. Selain itu, teori ini merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviourisme, Sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar.

 

  1. Emil Kraepelin (1856 – 1926)

Kraepelin menjadi dokter di Wurzburg tahun 1878. Kemudian menjadi dokter di rumah sakit jiwa Munich. Pada tahun 1882 Emil Kraepelin pindah ke Leipzig untuk bekerja dengan Wundt yang pernah menjadi kawannya semasa mahasiswa. Dari tahun 1903 sampai meninggalnya, Emil Kraepelin menjadi profesor psikiatri di klinik psikiatri di Munich dan sekaligus menjadi direktur klinik tersebut.

Emil Kraepelin adalah psikiatris yang mempelajari gambaran dan klasifikasi penyakit-penyakit kejiwaan, yang akhirnya menjadi dasar penggolongan penyakit-penyakit kejiwaan yang disebut sebagai DSM. DSM yaitu Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders merupakan buku panduan yang terus dikembangkan dan menjadi buku panduan bagi psikolog dan ilmuan psikologi diseluruh dunia hingga saat ini.  DSM diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA).

Emil Kraepelin percaya bahwa jika klasifikasi gejala-gejala penyakit kejiwaan dapat diidentifikasi maka asal usul dan penyebab penyakit kejiwaan tersebut akan lebih mudah diteliti.

Kraepelin menjadi terkenal terutama karena penggolongannya mengenai penyakit kejiwaan yang disebut psikosis. Emil Kraepelin membagi psikosis dalam dua golongan utama yaitu dimentia praecox dan psikosis manic-depresif. Dimentia praecox merupakan gejala awal dari penyakit kejiwaan yang disebut schizophrenia.

Kraepelin juga dikenal sebagai tokoh yang pertama kali menggunakan metode psikologi pada pemeriksaan psikiatri, antara lain menggunakan test psikologi untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan kejiwaan.

Salah satu test yang diciptakannya di kenal dengan nama test Kraepelin. Tes Kraepelin berupa tes hitung deret angka. Digunakan untuk mengukur tingkat ketelitian, kecepatan kerja, dan kemampuan seseorang bekerja di dalam tekanan kerja. Test Kraepelin banyak digunakan oleh psikolog dan ilmuan psikologi sampai dengan saat ini. Dan merupakan salah satu alat tes psikologi yang sering digunakan dalam proses psikotes untuk ke perusahaan. Baik dalam proses seleksi karyawan, promosi jabatan, rotasi, evaluasi kinerja, maupun efisiensi karyawan.

 

  1. Alfred Binet (1857 – 1911)

Alfred Binet dikenal sebagai seorang psikolog dan juga pengacara atau ahli hukum. Hasil karya terbesar dari Alfred Binet di bidang psikologi adalah apa yang sekarang ini dikenal dengan IQ atau Intelligence Quotient. Binet menggolongkan kemampuan mental seseorang ke dalam nilai IQ. Alfred Binet merupakan anggota komisi investigasi masalah-masalah pendidikan di Perancis. Dia menemukan masalah berkaitan dengan aspek kognitif pada bidang pendidikan.

Alfred Binet kemudian mengembangkan sebuah test untuk mengukur usia mental anak-anak yang akan masuk sekolah. Usia mental tersebut merujuk pada kemampuan mental anak pada saat ditest dibandingkan pada anak-anak lain di usia yang berbeda. Sehingga didapatkan kemampuan mental seseorang dibandingkan dengan rata-rata orang di usia yang sama. Dengan kata lain, jika seorang anak dapat menyelesaikan suatu test atau memberikan respons secara tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diperuntukan bagi anak berusia sepuluh tahun maka ia dikatakan telah memiliki usia mental sepuluh tahun.

 

  1. Alfred Adler (1870 – 1937)

Adler mendapat tawaran kerjasama pada tahun 1902 dari Freud untuk bergabung dalam kelompok diskusi untuk membahas masalah psikopatologi. Adler akhirnya ikut bergabung dan kemudian menjadi teman diskusi setia Freud. Namun hubungan Freud dan Adler tersebut tidak berlangsung lama.

Pada tahun 1907, Adler menulis sebuah paper berjudul “Organ Inferiority” yang menjadi pemicu rusaknya hubungan Freud dengan Adler. Dalam tulisan tersebut Adler mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya mempunyai kelemahan organis. Manusia tidak dilengkapi dengan alat-alat tubuh untuk melawan alam seperti yang dimiliki oleh hewan untuk bertahan hidup.

Beberapa hewan dimiliki kemampuan kamuflasi, kemampuan lari untuk menghindari pemangsa, taring dan cakar untuk, sensitivitas penciuman, dan pendengaran, serta kemampuan survival lainnya. Kelemahan-kelemahan organis inilah yang justru membuat manusia lebih unggul dari makhluk-makhluk lainnya, karena mendorong manusia untuk melakukan kompensasi (menutupi kelemahan).

Adler juga tidak sependapat dengan teori psikoseksual Freud. Pada tahun 1911, Adler meninggalkan kelompok diskusi, bersama dengan delapan orang koleganya, dan mendirikan sekolah sendiri. Sejak itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan Freud.

 

  1. Carl Gustav Jung (1875 – 1961)

Jung lulus dari fakultas kedokteran di University of Basel dengan spesialisasi di bidang psikiatri pada tahun 1900. Pada tahun yang sama ia bekerja sebagai asisten di rumah sakit jiwa Zurich. Di rumah sakit ini, Jung tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan para pasien schizophrenic. Kemudian ketertarikan ini akhirnya membawa Jung melakukan kontak dengan Freud.

Setelah Jung membaca tulisan Freud yang berjudul Interpretation of Dreams, Jung mulai melakukan korespondensi dengan Freud. Akhirnya mereka bertemu di rumah Freud di Vienna tahun 1907. Dalam pertemuan tersebut Freud begitu terkesan dengan kemampuan intelektual Jung dan percaya bahwa Jung dapat menjadi juru bicara bagi kepentingan psikoanalisa karena ia bukan orang Yahudi. Jung juga dianggap sebagai orang yang patut menjadi penerus Freud dan berkat dukungan Freud Jung kemudian terpilih sebagai presiden pertama International Psychoanalytic Association pada tahun 1910. Namun pada tahun 1913, hubungan Jung dan Freud menjadi retak. Tahun berikutnya, Jung mengundurkan diri sebagai presiden dan bahkan keluar dari keanggotaan assosiasi tersebut. Sejak saat itu Jung dan Freud tidak pernah saling bertemu.

 

  1. John Broades Watson (1878 – 1958)

J.B. Watson mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1903 dengan disertasi berjudul “Animal Education”. Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang. Pada tahun 1908 Watson menjadi profesor dalam psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut. Antara tahun 1920-1945 Watson meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen. John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat.

Karya J.B. Watson yang paling dikenal adalah “Psychology as the Behaviourist view it” (1913). Menurut Watson, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkah laku yang nyata saja.

Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting. Karena Watson berkontribusi mengembangkan metode-metode obyektif dalam psikologi. Disini, watson berkontribusi mengangkat Psikologi sebagai ilmu pasti yang bisa diuji validitas, reliabilitas dan objektivitasnya disetarakana dengan ilmu pasti lainnya.

Peran Watson dalam bidang pendidikan juga cukup penting. Watson menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkah laku. J.B. Watson percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu. Watson bahkan memberikan statemen yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan: “Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya”.

 

  1. Jean Piaget (1896 – 1980)

Jean Piaget mulai terjun dalam dunia psikologi pada tahun 1940 dengan menjadi direktur laboratorium psikologi di Universitas Jeneva. Lalu kemudian ia juga terpilih sebagai ketua dari “Swiss Society for Psychologie”. Piaget adalah seorang tokoh yang amat penting dalam bidang psikologi perkembangan. Teori-teorinya dalam psikologi perkembangan yang mengutamakan unsur kesadaran (kognitif) masih dianut oleh banyak orang sampai hari ini. Teori-teori, metode-metode dan bidang-bidang penelitian yang dilakukan Piaget dianggap sangat orisinil, tidak sekedar melanjutkan hal-hal yang sudah terlebih dahulu ditemukan orang lain. Selama masa jabatannya sebagai profesor di bidang psikologi anak, Piaget banyak melakukan penelitian tentang Genetic Epistemology (ilmu pengetahuan tentang genetik). Ketertarikan Piaget untuk menyelidiki peran genetik dan perkembangan anak, akhirnya menghasilkan suatu mahakarya yang dikenal dengan nama Theory of Cognitive Development (Teori Perkembangan Kognitif). Dalam teori perkembangan kognitif, Piaget mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses berpikir formal. Teori ini tidak hanya diterima secara luas dalam bidang psikologi tetapi juga sangat besar pengaruhnya di bidang pendidikan.

 

  1. Carl Rogers (1902 – 1987)

Carl Ransom Rogers memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia University pada tahun 1928 dan kemudian memperoleh gelar Ph.D di dibidang psikologi klinis pada tahun 1931. Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child Study Department of the Society for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak pada perhimpunan pencegahan kekerasan tehadap anak) di Rochester, NY. Pada masa-masa berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah/nakal dengan menggunakan metodemetode psikologi. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul “The Clinical Treatment of the Problem Child”, yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di Ohio State University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American Psychological Society. Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien. Hasil karya Rogers yang paling terkenal dan masih menjadi literatur sampai hari ini adalah metode konseling yang disebut Client-Centered Therapy.

 

  1. Erik Erikson (1902 – 1994)

Erik Homburger Erikson belajar psikologi pada Anna Freud (putri dari Sigmund Freud) di Vienna Psycholoanalytic Institute selama kurun waktu tahun 1927-1933. Pada tahun 1933 Erikson pindah ke Denmark dan disana ia mendirikan pusat pelatihan psikoanalisa (psychoanalytic training center). Pada tahun 1939 ia pindah ke Amerika serikat dan menjadi warga negara tersebut, dimana ia sempat mengajar di beberapa universitas terkenal seperti Harvard, Yale, dan University of California di Berkley. Erik Erikson sangat dikenal dengan tulisan-tulisannya di bidang psikologi anak. Berangkat dari teori tahap-tahap perkembangan psikoseksual dari Freud yang lebih menekankan pada dorongan-dorongan seksual, Erikson mengembangkan teori tersebut dengan menekankan pada aspek-aspek perkembangan sosial. Dia mengembangkan teori yang disebut theory of Psychosocial Development (teori perkembangan psikososial) dimana ia membagi tahap-tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan.

 

  1. Burrhus F. Skinner (1904 – 1990)

Burrhus Frederic Skinner menyelesaikan sekolahnya dan memperoleh gelar sarjana psikologi dari Harvard University. Setahun kemudian ia juga memperoleh gelar doktor (Ph.D) untuk bidang yang sama. Pada tahun 1945, ia menjadi ketua fakultas psikologi di Indiana University dan tiga tahun kemudian ia pindah ke Harvard dan mengajar di sana sepanjang karirnya. Skinner adalah salah satu psikolog yang tidak sependapat dengan Freud. Menurut Skinner meneliti ketidaksadaran dan motif tersembunyi adalah suatu hal yang percuma karena sesuatu yang bisa diteliti dan diselidiki hanya perilaku yang tampak/terlihat. Oleh karena itu, ia juga tidak menerima konsep tentang self-actualization dari Maslow dengan alasan hal tersebut merupakan suatu ide yang abstrak belaka. Skinner memfokuskan penelitian tentang perilaku dan menghabiskan karirnya untuk mengembangkan teori tentang Reinforcement. Dia percaya bahwa perkembangan kepribadian seseorang, atau perilaku yang terjadi adalah sebagai akibat dari respons terhadap adanya kejadian eksternal. Dengan kata lain, kita menjadi seperti apa yang kita inginkan karena mendapatkan reward dari apa yang kita inginkan tersebut. Bagi Skinner hal yang paling penting untuk membentuk kepribadian seseorang adalah melalui Reward dan Punishment. Pendapat ini tentu saja amat mengabaikan unsur-unsur seperti emosi, pikiran dan kebebasan untuk memilih sehingga Skinner menerima banyak kritik.

 

  1. Abraham Maslow (1908 – 1970)

Abraham Maslow sempat belajar di bidang Hukum tetapi kemudian tidak dilanjutkannya. Ia akhirnya mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun 1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934. Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhankebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

 

  1. Albert Bandura (1925 – )

Albert Bandura memperoleh gelar Master di bidang psikologi pada tahun 1951 dan setahun kemudian ia juga meraih gelar doktor (Ph.D). Setahun setelah lulus, ia bekerja di Standford University. Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory), salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Albert Bandura menjabat sebagai ketua APA pada tahun 1974 dan pernah dianugerahi penghargaan Distinguished Scientist Award pada tahun 1972.

 

admin No Comments

Memahami Problematika Remaja

Memahami Problematika Remaja. Setiap manusia memiliki tahapan fase perkembangan, mulai dari masa kanak-kanak, masa dewasa dan lanjut usia. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Setiap fase usia memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari fase-fase pertumbuhan yang lain. Demikian pula dengan fase remaja, memiliki ciri-ciri yang berbeda dan karakteristik yang berbeda pula dari fase kanak-kanak, dewasa dan tua.  Remaja adalah masa ketika identitas dikembangkan lebih besar (Erikson dalam Djiwandono, 2002).

Selain itu Pola-pola hubungan sosial mulai berubah. Menyerupai orang dewasa muda, remaja sering merasa berhak untuk membuat keputusan sendiri. Dengan kata lain, anak remaja seringkali merasa bisa membuat keputusan sendiri sedangkan secara psikologis dirinya belum benar-benar siap untuk menerima konsekuensi dari keputusan yang diambil. Adapun menurut Blos (1989) hampir sebagian besar remaja mengalami suatu konflik emosi.

Untuk sebagian besar remaja, kekacauan emosi dapat ditangani dengan baik tetapi untuk sebagian lainnya kekacauan emosi menjadi bumerang yang bisa memunculkan masalah-masalah remaja. Satu dari masalah yang paling serius dari remaja adalah kenakalan remaja dan mayoritas yang mengalami kenakalan remaja adalah laki-laki.

Anak-anak yang mengalami kenakalan remaja biasanya memiliki prestasi rendah dan diberi dukungan oleh kelompok bermain atau teman sebayanya. Penyebab terjadinya kenakalan remaja sangatlah kompleks, yang berarti satu sebab bisa berpotensi menimbulkan sebab yang lain. Secara psikologi, kenakalan remaja wujud daripada konflik yang tidak diselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak, sehingga fase remaja gagal dalam menjalani proses perkembangan jiwanya. Dengan demikian, remaja yang tidak menyelesaikan fase perkembangan di masa kanak-kanak dengan baik akan rentan mengalami kenakalan remaja.

 

Adapun jenis-jenis kenakalan remaja adalah sebagai berikut :

  1. Pertentangan dan pemberontakan

Pertentangan dan pemberontakan adalah bagian alamiah dari kebutuhan para remaja untuk menjadi dewasa yang mandiri dan peka secara emosional. Remaja suka memberontak dan idealis kadang-kadang ketegangan-ketegangan sering terjadi dengan menantang orangtua, guru dan orang-orang yang ada di sekitar mereka. dengan gagasan-gagasannya yang kadang berbahaya dan kaku.

  1. Perilaku menyimpang

Perilaku menyimpang adalah berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat pada umumnya seperti tawuran, merokok, mencoba minuman keras, membolos, mengucapkan kata-kata kasar, memakai pakaian yang mencoolok, bermalas-malasan, membuat model rambut yang sembarangan, dan lain-lain.

Berbagai perilaku kenakalan remaja masih sangat fenomenal dan terus berkembang di masyarakat sehingga bisa menyebabkan keresahan. Orangtua dari remaja nakal atau bermasalah cenderung memiliki aspirasi yang minim mengenai anak-anaknya, menghindari keterlibatan keluarga dan kurangnya bimbingan orangtua terhadap remaja. Kondisi demikian menyebabkan anak remaja rentan mengalami konflik dan melakukan perilaku menyimpang. Sebaliknya, suasana keluarga yang menimbulkan rasa aman dan menyenangkan akan menumbuhkan kepribadian yang wajar dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, peran orang tua dan lingkungan sekitar sangatlah penting pengaruhnya bagi anak-anak remaja agar tidak terjebak dalam kenakalan remaja. Menciptakan keluarga yang harmonis dan memberikan rasa aman tentu dapat membantu mengurangi angka terjadinya kenakalan remaja.

 

admin No Comments

Cabang-Cabang Ilmu Psikologi yang Wajib Kamu Ketahui

Cabang Ilmu Psikologi. Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental manusia. Psikologi tidak mempelajari jiwa atau mental tersebut secara langsung dikarenakan sifatnya yang abstrak. Tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya. Berikut ini adalah beberapa cabang dari ilmu psikologi yang perlu kamu ketahui :

 

  1. Psikologi Abnormal

Cabang dari psikologi ini meneliti dan melakukan intervensi kepada gangguan-gangguan kejiwaan, seperti autisme, perilaku seksual menyimpang, gangguan kepribadian, dan lain-lain. Tugas mereka adalah mendiagnosa gangguan apa yang dimiliki seseorang dan melakukan terapi agar orang tersebut dapat hidup dengan normal di dalam masyarakat. Biasanya, pandangan masyarakat umum dari sesuatu yang namanya “psikolog” adalah apa yang digambarkan dari praktisi cabang psikologi ini. Praktisinya biasanya dikenal dengan sebutan psikolog (klinis), konselor atau psikoterapis.

 

  1. Psikologi Pendidikan

Psikologi Pendidikan mempelajari tentang hal-hal yang membantu atau menghambat proses mengajar di sekolah. Misalnya, persepsi murid kepada guru, di mana persepsi ini dapat membantu atau menghalangi murid dalam menerima materi yang diajarkan. Kadang, ahli psikologi di bidang pendidikan juga memiliki kemampuan memberikan terapi kepada anak yang memiliki gangguan psikologis. Walaupun sebenarnya terapi bukanlah bidang utama mereka. Sebaiknya, jika anak memiliki gangguan psikologis, anak tetap dibawa ke ahli psikologi perkembangan atau psikolog klinis.

 

  1. Psikologi Industri dan Organisasi

Cabang ini meneliti tentang kondisi terbaik agar karyawan di sebuah perusahaan dapat bekerja dengan maksimal, mulai dari kondisi fisik dari tempat bekerja sampai dengan kondisi psikologis karyawan. Tema yang dibahas oleh ahli di bidang ini mulai dari tingkat terangnya cahaya di tempat kerja, interaksi karyawan-atasan, motivasi karyawan, kepuasan kerja sampai dengan penanganan masalah di rumah yang dapat mengganggu performa di tempat kerja.

 

  1. Biopsikologi

Cabang ini mempelajari bagaimana otak mengontrol perilaku. Misalnya, jika ada seseorang yang kurang mampu memusatkan fokusnya. Maka, mungkin ada yang salah dengan syaraf, neurotransmiter atau komposisi kimia di otakmu. Jika kesalahan ini diperbaiki dengan obat atau operasi, maka gangguan psikologismu akan tersembuhkan. Ahli di bidang ini biasanya bekerja di laboratorium atau di rumah sakit. Bagi kamu yang butuh konseling biasa, tidak perlu menghubungi mereka.

 

  1. Psikologi Kognitif

Ahli psikologi kognitif adalah mereka yang tertarik pada proses berpikir manusia. Mereka mempelajari bagaimana memori itu dibentuk, bagaimana motivasi membuat manusia melakukan sesuatu, proses manusia memecahkan masalah (problem solving), membuat keputusan (decision making), dan lain-lain. Jika kamu perlu untuk “curhat” tentang gangguan kejiwaan keluargamu, ahli psikologi di bidang ini mungkin tidak akan terlalu tepat, karena mereka lebih memiliki kemampuan untuk melihat proses psikologis yang lebih sempit.

 

  1. Psikologi Komparatif

Psikologi Komparatif membandingkan antara perilaku yang ada di manusia dengan perilaku yang terdapat pada binatang lain yang memiliki otak. Hal ini dipelajari karena dalam beberapa hal, sistem kerja otak dan binatang cukup mirip. Misalnya, dalam bagaimana sebuah kelompok memilih pemimpin, bagaimana kelompok menghukum anggotanya yang melanggar peraturan, bagaimana cara individu mengatasi ketakutan, dan lain-lain. Karena subjek utama yang diteliti ahli psikologi di bidang ini adalah binatang, maka curhat dengan mereka akan membuahkan penjelasan yang lebih primitif atau kembali ke akar evolusi. Misalnya, jika ada anak yang takut akan gelap, mereka akan menjelaskan bahwa ketakutan ini adalah warisan dari nenek moyang kita yang masih hidup di alam liar, sehingga akan terancam keamanannya oleh hewan karnivora di tempat gelap.

 

  1. Psikologi Cross-cultural (lintas-budaya)

Cabang ini membandingkan antara struktur psikologis manusia dari beberapa budaya yang berbeda. Misalnya, perbandingan motivasi berprestasi dari orang Indonesia yang memiliki budaya kolektif dengan motivasi berprestasi orang Singapura yang lebih individualistis. Psikolog yang mendalami studi lintas-budaya biasanya tidak terlalu menajamkan kemampuan memberi terapi, tapi lebih ke kemampuan pengukuran psikologi.

 

  1. Psikologi Perkembangan

Ahli di cabang ini adalah pilihan yang tepat untuk gangguan psikologis yang berhubungan dengan perkembangan (pertumbuhan) manusia, seperti yang dijabarkan di awal artikel ini. Mereka mempelajari kematangan perkembangan pikiran manusia di masa muda, serta penurunan kualitas pikiran di masa tua. Mereka biasanya lebih sensitif dengan anomali (penyimpangan) yang sebenarnya normal, yang merupakan bagian dari perkembangan.

 

 

 

  1. Psikologi Behavioral

Cabang dari psikologi ini mempelajari cara membentuk suatu perilaku dengan proses pengkondisian. Misalnya, agar anak selalu rajin belajar, anak harus diberikan hadiah (positive reinforcement) setelah dia belajar. Praktisi dari cabang psikologi ini bisa menjadi konselor di lembaga psikologi (memberi terapi), pendamping guru di sekolah, atau bekerja di bidang yang lebih luas seperti membuat peraturan di suatu lingkungan (lengkap dengan konsekuensinya). Konsultasi dengan ahli di bidang ini akan menghasilkan sebuah sistem reward-punishment dalam menyelesaikan masalahmu. Psikologi behavioral merupakan cabang yang sudah mulai menurun pemakaiannya, meskipun masih dapat dipakai dalam beberapa kasus.

 

  1. Psikologi Eksperimental

Psikolog eksperimental adalah mereka yang bekerja di laboratorium (baik laboratorium di ruangan mau pun laboratorium terbuka yang berada di masyarakat) untuk membuktikan hal-hal yang mempengaruhi kondisi psikologi seseorang. Misalnya, dengan bekerja sama dengan ahli Psikologi Pendidikan, mereka mencari tahu efek suara bising dengan kemampuan seorang murid untuk menyerap materi pelajaran. Ahli psikologi di cabang ini lebih mampu untuk melihat pola di masyarakat secara general (sebagai kelompok) dibandingkan memberikan terapi untuk orang-per-orang.

 

  1. Psikologi Forensik

Psikologi Forensik berhubungan dengan bidang hukum. Pekerjaan mereka adalah memberikan kesaksian ahli di persidangan, mewawancara anak yang dicurigai menjadi korban abuse, membantu anak menyiapkan diri untuk memberi kesaksian, dan mengukur kondisi mental terdakwa.

 

  1. Psikologi Kesehatan

Cabang ini mempelajari tentang cara untuk menjaga kesehatan dan menghadapi masa sakit. Mereka memiliki kompetensi untuk menasihati pasien, keluarga pasien atau bahkan orang yang masih sehat tentang cara untuk mempertahankan kondisi tubuh agar tetap sehat. Tentu sebaiknya kita hanya pergi berkonsultasi ke mereka jika memiliki masalah psikologis yang mempengaruhi kesehatan fisik seseorang.

 

  1. Psikologi Kepribadian

Setiap orang itu unik, dan cabang psikologi ini mencoba memetakan kepribadian-kepribadian yang ada di dunia. Misalnya, dengan alat ukur yang sudah distandarkan. Ahli di cabang ini bisa mengetahui apakah kamu seorang ekstrovert atau introvert, serta berdasarkan temuan ini mengetahui bagaimana cara terbaik untukmu mendapatkan energi tambahan. Serta dengan alat ukur lain, bisa diketahui apakah kamu seorang pemikir (thinking) atau orang yang mengandalkan intuisi (feeling), dan pekerjaan apa yang cocok untuk bagimu. Ahli di bidang ini cukup baik untuk menjadi tempat konsultasi mengenai bakatmu dan pekerjaan seperti apa yang cocok denganmu.

 

  1. Psikologi Sosial

Cabang Psikologi Sosial tertarik dengan perilaku sosial manusia (interaksi antara satu manusia dengan manusia lain): komunikasi nonverbal, rasisme, perilaku sebuah kelompok, interaksi sosial, dan lain-lain. Ahli di cabang ini biasanya lebih mampu mengatasi masalah psikologi kemasyarakatan daripada individu.

Cabang ini adalah yang paling muda diantara yang lain. Pendekatan yang diambil adalah menguatkan nilai atau ciri positif yang dimiliki seseorang. Sehingga dia dapat meraih kematangan dan kesuksesan yang optimal dalam hidupnya. Cabang psikologi positif ini melihat manusia sebagai mahluk yang dari sananya (ketika dilahirkan) sudah memiliki nilai positif. Ahli di bidang ini dapat menjadi konselor yang cukup baik, walau pun sebaiknya tidak menangani keluhan abnormalitas pada kejiwaan.

 

Demikian artikel tentang Cabang-Cabang Ilmu Psikologi yang Wajib Kamu Ketahui. Semoga semakin menambah pemahaman kita tentang luasnya aplikasi psikologi dalam kehidupan sehari-hari di banyak bidang.

admin No Comments

Sarjana Psikologi, Bisa Apa?

Sarjana Psikologi, Bisa Apa? Psikologi merupakan sains yang relative muda, baru muncul sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri pada kuartal terakhir abad kesembilan belas. Dalam bidang ilmu psikologi ada banyak jenispsikologi yang berbeda dan semuanya memiliki titik awal dan metodologi yang berbeda-beda. Dalam perguruan tinggi Strata-1 biasanya dalam tiga tahun pertama, mahasiswa akan mempelajari psikologi sosial, biopsikologi, perbedaan individual (inteligensi dan kepribadian), psikologi kognitif, psikologi belajar dan psikologi perkembangan. Setelah mempelajari bidang-bidang dasar ini, mahasiswa kemudian diperkenalkan ke bidang spesialisasi mencakup psikologi klinis, psikologi pendidikan, psikologi industri, psikologi kesehatan dan psikologi forensik.

Menyelesaikan pendidikan sarjana psikologi strata-1 merupakan langkah pertama untuk menjadi psikolog profesional. Langkah selanjutnya setelah meraih gelar sarjana adalah melanjutkan pendidikan strata-2 profesi psikolog. Namun, realitanya banyak sekali sarjana psikologi yang tidak melanjutkan untuk menempuh ke jenjang pendidikan berikutnya untuk menjadi seorang psikolog.

Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh seorang sarjana psikologi?

Sarjana psikologi bisa disebut juga ilmuwan psikologi. Pada masa perkuliahan, mahasiswa psikologi diberikan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan disipilin ilmu psikologi. Seperti melakukan penelitian, pengenalan mengenai berbagai alat tes psikologi, melakukan praktikum observasi dan wawancara. Dimana tentu kemampuan-kemampuan tersebut bisa digunakan dalam bidang pekerjaan yang berkaitan dengan psikologi. Seperti asisten psikolog, Personalia/HRD,  praktisi dan konselor. Selain itu, sarjana psikologi atau lulusan fakultas psikologi memiliki kemampuan menulis, meneliti, dan menganalisis data yang dapat digunakan dalam berbagai bidang pekerjaan sekalipun tidak berkaitan dengan bidang ilmu psikologi termasuk bisnis, periklanan, mengajar, dan lain-lain.

Jadi, jangan takut dan jangan khawatir mengenai jenjang karir sarjana psikologi. Sarjana psikologi memiliki banyak peluang dalam dunia kerja hanyasaja kesempatan untuk mendapatkan peluang dikembalikan pada usaha setiap individu. Fighting 🙂

admin No Comments

Psikolog Itu Siapa Sih ?

Psikolog Itu Siapa Sih ? Masih banyak sebagian dari kita yang menganggap bahwa ketika datang ke psikolog artinya orang tersebut sudah “gak waras” alias gila. Stigma tersebut masih melekat di masyarakat dan secara tidak langsung membuat orang-orang enggan bahkan malu untuk mendatangi psikolog. Padahal kita tidak perlu menunggu menjadi gila untuk bisa datang ke psikolog.

Menemui psikolog bukan berarti kita gila. Bukan berarti juga kita punya mental illness. Sebut saja ketika kita terjebak dalam lingkungan yang kurang menyenangkan, punya teman yang toxic, atau bahkan keluarga yang tidak mendukung, hal-hal buruk ini, pada akhirnya akan memberikan suatu tekanan pada diri kita. Dan apabila kita membiarkannya, lama kelamaan hal tersebut akan menjadi bom waktu. Nah, disinilah salah satu fungsi dari seorang psikolog, mereka bisa membantu kita mencari jalan ke luar atas semua permasalahan itu sebelum akhirnya mempengaruhi kesehatan mental kita.

Datang ke psikolog adalah solusi yang tepat bila kita merasa masalah sudah semakin kompleks, karena bagaimana pun kita butuh seseorang untuk mendengarkan dan mungkin memberi saran. Seorang psikolog sudah pasti lebih paham bagaimana menjadi seorang pendengar yang baik dan netral, tidak memihak ke A atau B. Mereka juga pasti sudah terlatih memberikan beberapa metode penyelesaian masalah pada kita.

 

Psikologi Itu Siapa Sih ?

Dari segi definisi, dapat dijelaskan bahwa psikolog adalah seorang sarjana psikologi yang telah menempuh studi program akademik (sarjana) dan melanjutkan pada program profesi psikolog. Sementara itu, definisi psikolog menurut HIMPSI adalah adalah lulusan pendidikan profesi yang berkaitan dengan praktik psikologi dengan latar belakang pendidikan Sarjana Psikologi lulusan program pendidikan tinggi psikologi strata 1 (S1) sistem kurikukum lama atau yang mengikuti pendidikan tinggi psikologi strata 1 (S1) dan lulus dari pendidikan profesi psikologi atau strata 2 (S2) Pendidikan Magister Psikologi (Profesi Psikolog). Lantas apa yang menjadi perhatian atau fokus utama dari seorang psikolog?

Psikolog memiliki kewenangan untuk memberikan layanan psikologi yang meliputi bidang-bidang praktik klinis dan konseling; penelitian; pengajaran; supervisi dalam pelatihan, layanan masyarakat, pengembangan kebijakan; intervensi sosial dan klinis; pengembangan instrumen asesmen psikologi; penyelenggaraan asesmen; konseling; konsultasi organisasi; aktifitas-aktifitas dalam bidang forensik; perancangan dan evaluasi program; serta administrasi. Psikolog diwajibkan memiliki izin praktik psikologi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Demikan artikel dengan tema ‘Psikolog Itu Siapa Sih ?’, semoga memberikan sedikit pemahaman bagi kita tentang peran dan latar belakang, serta kompetensi dari psikolog.

admin No Comments

Berdamai dengan diri sendiri : Apakah aku baik-baik saja?

Berdamai dengan diri sendiri. Sikap perdamaian terhadap orang lain dan lingkungan memang sulit diwujudkan bila kita belum mampu berdamai dengan diri sendiri. Yang dimaksud dengan berdamai dengan diri sendiri adalah kesanggupan menerima keadaan atau kenyataan yang semula menimbulkan konflik dalam diri seseorang. Setiap manusia tentu tidak akan terhindar dari konflik. Sehingga setiap individu perlu memiliki alternatif solusi dalam menghadapi konflik agar tidak mengikis ketenangan dan kedamaian diri sendiri. Mungkin kita sering menanyakan kabar orang lain, mengkhawatirkan kondisi orang lain diluar diri kita. Tetapi, sudahkah kita menanyakan kabar diri sendiri? Apakah kita sudah cukup berdamai dengan diri sendiri dari berbagai konflik yang terjadi di masa lalu?

Ketenangan dan Kenyaman Hidup

Ketenangan dan kenyaman hidup yang sejati baru bisa terasa bila seseorang sanggup berdamai dengan diri sendiri. Dan idealnya, setiap saat manusia harus bisa berdamai dengan diri. Hanyasaja, berdamai dengan diri sendiri perlu didukung oleh kondisi yang sehat terutama secara mental. Mental yang sehat akan mempermudah individu mengembangkan kemampuan berdamai dengan diri sendiri. Dalam proses melakukannya bukanlah hal yang mudah, Juga tak ada resep yang berlaku untuk umum agar orang bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Hanya saja setiap orang perlu mencari jalan sesuai dengan caranya sendiri untuk merasakan kedamaian bagi dirinya sendiri.

Ada banyak penyebab orang kehilangan kedamaian dalam dirinya. Kegagalan, kekalahan, ketersingkiran, keirihatian, adalah beberapa hal yang bisa disebutkan. Orang bisa langsung menyalahkan diri sendiri, atau bahkan menuduh orang lain sebagai sumber keadaan buruk yang tidak diinginkan dan direncanakan itu. Untuk berdamai dengan kondisi terburuk yang dialami, cobalah untuk menerima dengan sepenuh hati setiap kondisi yang dialami. Menikmati proses sepanjang kehidupan dengan meyakini bahwa setelah kesulitan akan mengalami banyak kemudahan dan kebahagiaan. Selain itu, cobalah untuk mengenali kekurangan dan kelebihan diri sendiri dan menerimanya dengan besar hati.  Adapun hal yang lebih penting adalah mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bisa mendapatkan ketenangan hati dan kedamaian diri.

 

admin No Comments

Tips Terbaik Dalam Memilih Konsultan Psikologi Paling Tepat

Konsultan Psikologi Terkadang dalam menjalani sebuah kehidupan kita akan menemukan sebuah permasalahan yang sangat rumit. Mungkin selama ini kita hanya selalu mengandalkan berkonsultasi dengan orang terdekat seperti teman atau saudara. Namun terkadang kita masih belum bisa mendapatkan solusi atas sebuah permasalahan tersebut.  Semakin lama tidak di selesaikan permasalahan akan lebih rumit lagi karena akan menimbulkan banyak permasalahan lainya. Maka dari itu mulai sekarang wajib Anda ketahui bahwa untuk mendapatkan solusi atas sebuah permasalahan yang paling tepat adalah dengan jalan berkonsultasi dengan seorang psikolog. 

Psikolog adalah seseorang yang ahli dalam bidang semua tingkah laku manusia. Untuk itu dengan datang ke psikolog Anda pasti akan menemukan solusi yang mudah. Ya segala permasalahan pasti akan ada solusinya disini. Namun sebelum itu Anda wajib mengetahui beberapa tips dalam memilih psikolog yang akan Anda gunakan jasanya untuk berkonseling ya. Lebih jelasnya simak ulasan di bawah ini :

Pilih psikolog yang sesuai dengan unsur masalah

Yang pertama adalah pilihlah seorang psikolog yang paling sesuai dengan unsur permasalahan yang sedang Anda hadapi. Untuk mengetahui hal ini Anda dapat melihat lihat alamat website jasa psikolog tersebut. Karena biasanya mereka akan selalu menuliskan biografi pendidikan secara lengkap disini. Dengan begitu Anda akan dapat memahami dengan baik apakah sesuai dengan unsur masalah Anda atau tidak. 

Dapat dipercaya dan memiliki wawasan luas

Selanjutnya adalah pilih psikolog yang dapat dipercaya dan yang memiliki wawasan yang luas atas semua permasalahan. Ya semua psikolog pasti akan selalu menjaga kerahasiaan semua client yang pernah datang dan berkonseling dengannya. Namun disini yang wajib Anda perhatikan adalah poin berikut yakni psikolog yang memiliki wawasan luas. Bagaimana caranya untuk mengetahuinya? Jadi begini Anda dapat bertanya langsung kepada client yang pernah datang ke psikolog tersebut. Atau Anda juga dapat melihat dengan banyaknya client yang datang. Karena dengan banyaknya client yang cocok maka pasti solusinya adalah hal yang paling tepat. 

Baca Juga: Layanan Psikotes Online yang Paling Tepat untuk Karyawan

Cek tempat praktik

Berikutnya adalah cek lokasi tempat praktik. Pilihlah yang paling dekat dengan domisili tempat tinggal. Selain hemat ongkos hal ini juga akan membuatmu lebih cepat sampai tempat lokasi. Dengan hal tersebut maka Anda akan lebih cepat mendapatkan solusi atas permasalahan Anda sebelum datang masalah berikut ya. Jadi jika dekat dengan lokasi maka Anda juga dapat sewaktu waktu datang ke tempat praktik ya. Yang pastinya Anda harus melakukan perjanjian terlebih dahulu. 

Pastikan Anda merasakan kenyamanan

Tips selanjutnya adalah pastikan Anda merasakan kenyaman dan ketenangan ketika berhadapan dengan psikolog tersebut. Hal ini adalah poin yang paling penting sebab dengan adanya kenyamanan Anda akan lebih leluasa mengeluarkan semua permasalahan yang sedang dihadapi. Juga dapat menghilangkan rasa tertekan yang sedang Anda hadapi akibat permasalah tersebut. 

Diatas adalah beberapa tips dalam memilih seorang psikolog yang akan Anda gunakan jasanya untuk berkonsultasi. Pastinya Anda akan selalu memperoleh solusi yang paling tepat atas semua permasalahan hidupmu hanya dari seorang psikolog. Untuk itu disini akan saya rekomendasikan yakni Deepa Jasa Psikologi dan Konseling yang beralamat di Perumahan Mahkota Regency Blok K1 / nomor 18 Depan Kampus Universitas Singaperbangsa. Jl. Ronggowaluyo Kec. Teluk Jambe Timur Karawang. Atau Anda dapat menghubungi melalui nomor handphone di 0897-3475-777, 085-291-407885.  Disini Anda pasti akan mendapatkan solusi terbaik atas semua jenis permasalahan. 

admin No Comments

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan

  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan. Beberapa ahli mendeskripiskan kecerdasan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Ahli lain mendeskripiskannya sebagai kapasitas beradaptasi dan belajar dari pengalaman. Ahli lain berpendapat bahwa kecerdasan meliputi karakteristik seperti kreativitas dan keahlian interpersonal. Dengan demikian, ada perbedaan pendapat dalam memaknai kecerdasan menurut para ahli. Kecerdasan bukanlah persoalan tinggi, berat dan usia yang dapat diukur dengan mudah karena kecerdasan tidak dapat diukur secara langsung. Kecerdasan terus berkembang sesuai dengan tahapan perkembangan manusia. Kita tidak dapat membuka tempurung manusia untuk melihat seberapa besar kecerdasan yang dimiliki, kita hanya bisa mengevaluasi kecerdasan melalui tindakan kecerdasan yang ditunjukkan. Setiap individu memiliki potensi untuk mengembangkan kekuatan-kekuatan dalam satu bidang atau lebih yang dapat mendorong kecerdasan.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan

Konsep kecerdasan memiliki banyak memunculkan kontroversi. Tidaklah mengejutkan jika pembahasan kecerdasan memunculkan banyak kontroversi karena adanya beragam definisi, tes dan teori. Faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak adalah faktor genetik dan lingkungan. Salah satu area yang paling kontroversial adalah isu sejauh apa kecerdasan dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan?

  • Faktor Genetik

Arthur Jensen (dalam Santrock, 2007) berpendapat bahwa kecerdasan pada umumnya diwariskan dan lingkungan pada umumnya hanya berperan minimal dalam memengaruhi kecerdasan. Jensen meninjau riset tentang kecerdasan, yang kebanyakan melibatkan perbandingan-perbandingan skor tes IQ pada anak kembar identik dan tidak kembar identik. Anak kembar identik memiliki susunan gen yang serupa. Jadi, jika kecerdasan diwariskan skor IQ anak kembar identik harus lebih serupa daripada anak kembar tidak identik. Studi-studi adopsi juga digunakan sebagai usaha menganalisis pentingnya hubungan sanak keluarga dan keturunan bagi kecerdasan. Pada studi tersebut, tingkat pendidikan orang tua kandung menjadi tolak ukur yang lebih baik dalam memprediksi IQ anak daripada IQ orang tua angkat. Sebuah komite, yang terdiri dari peneliti-peneliti terhormat yang dihimpun American Psychological Association, menyimpulkan bahwa pada tahap remja akhir, indeks heritabilitas atau keturunan pada kecerdasan kira-kira 0,75, mengindikasikan adanya pengaruh genetic yang kuat (Neisser dkk, 1996 dalam Santrock, 2007).

 

Baca Juga: Persiapkan 10 Hal Ini Sebelum Menjalani Konsultasi Psikologi

dan  5 Tanda yang Menunjukkan Bahwa Anda Butuh Psikologi Konseling

 

  • Faktor Lingkungan

Saat ini, sebagian besar peneliti setuju bahwa faktor keturunan tidak menentukan kecerdasan seperti klaim Jensen pada penjelasan sebelumnya. Bagi kebanyakan orang, modifikasi lingkungan dapat mengubah skor IQ mereka secara dramatis.  Meskipun dukungan genetik mungkin memengaruhi kemampuan intelektual seseorang, pengaruh-pengaruh lingkungan dan kesempatan yang kita sediakan bagi anak  (dan bagi orang dewasa) juga akan membuat perbedaan.

Lalu, apa sajakah faktor lingkungan yang dapat memengaruhi kecerdasan? Faktor lingkungan yang bisa memengaruhi kecerdasan diantaranya adalah sosial ekonomi, dan cara orang tua berkomunikasi dengan anak. Disamping itu juga ada faktor lain yaitu dukungan yang diberikan orang tua. Yaitu lingkungan dimana keluarga tinggal, dan kualitas sekolah juga ikut berkontribusi memengaruhi kecerdasan.

Berdasarkan penjelasan kedua faktor yang memengaruhi kecerdasan, dapat disimpulkan bahwa faktor genetik dan faktor lingkungan memiliki peran masing-masing yang berkontribusi memengaruhi kecerdasan. Namun, perlu kita ketahui bahwa pengaruh lingkungan cukup kuat dalam memengaruhi kecerdasan anak. Dengan demikian, orang tua perlu mempersiapkan lingkungan yang sehat dan mendukung perkembangan intelektual anak agar dapat berkembang dengan baik.

Demikian artikel singkat tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan, semoga memberi pemahaman tentang teori kecerdasan.

 

Baca Juga: Tips Memulai Jasa Konseling yang Baik

dan  Trik Cerdas Hadapi Psikotes Online

admin No Comments

Pengertian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Karyawan

Kepuasan kerja karyawan ternyata menjadi topik yang menarik dan penting untuk dibahas, karena ternyata besar manfaatnya baik bagi kepentingan individu, industry maupun masyarakat. Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kepuasan hidup, karena sebagian besar waktu individu dewasa lebih banyak dihabiskan di tempat kerja.

Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan suatu hal yag bersifat subjektif. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda sesuai dengan system nilai-nilai yang ditanamkan serta berlaku pada dirinya.

 

Berikut ini beberapa pengertian kepuasan kerja Karyawan:

  1. Perasaan (emosi positif) seseorang mengenai pekerjaannya (Wexley & Yukl, 1964)
  2. Refleksi dari job attitude yang bernilai positif (Vroom, 1964)
  3. Merupakan penilaian dari pekerja yaitu seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan memuaskan kebutuhannya (Hoppeck)
  4. Kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan sesama karyawan (Tiffin, 1958)
  5. Sikap umum yang merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap factor-faktor peerjaan, penyesuaian diri dan hubungan sosial individual di luar pekerjaan (Blum, 1956)

 

Baca Juga: Ragam Hal Tentang Psikotes Online yang Patut Diketahui

dan  Manfaat yang Diberikan Konsultan Psikologi untuk Karyawan

 

Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja Karyawan

Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan. Faktor-faktor itu sendiri dalam peranannya memberikan kepuasan kepada karyawan bergantung pada pribadi masing-masing karyawan. Faktor-faktor yang memberikan kepuasan menurut Blum (1956) adalah sebagai berikut :

1. Faktor individual, meliputi umur, kesehatan, watak, dan harapan;

2. Faktor sosial,

Meliputi hubungan kekeluargaan, pandangan masyarakat, kesempatan bereaksi, kegiatan perserikatan pekerja, kebebasan berpolitik, dan hubungan kemasyarakatan;

3. Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi upah, pengawasan, ketentraman kerja, kondisi kerja, dan kesempatan untuk maju.

 

Baca Juga: Tips Memulai Jasa Konseling yang Baik

dan  Trik Cerdas Hadapi Psikotes Online

 

Sementara itu, faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Gilmer (1966) adalah sebagai berikut :

1. Kesempatan untuk maju.

Dalam hal ini, ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja.

2. Keamanan kerja.

Faktor ini disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja.

3. Gaji.

Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya.

 

4. Perusahaan dan manajemen.

Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil.

 

5. Pengawasan.

Sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan turnover.

 

6. Faktor Intrinsik dari pekerjaan.

Atribut yang ada dalam pekerjaan mensyaratkan keterampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas dapat meningkatkan atau mengurangi kepuasan.

7. Kondisi kerja.

Termasuk di sini kondisi kerja tempat, ventilasi, penyiaran, kantin dan tempat parkir.

 

8. Aspek sosial dalam pekerjaan.

Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam bekerja.

 

9. Komunikasi.

Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.

 

10. Fasilitas.

Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.

Sumber Referensi :

As’ad, Muhammad. 2004. Psikologi Industri edisi keempat. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

Demikian artikel tentang kepuasan kerja karyawan, semoga bermanfaat.

 

Baca Juga: Persiapkan 10 Hal Ini Sebelum Menjalani Konsultasi Psikologi

dan  5 Tanda yang Menunjukkan Bahwa Anda Butuh Psikologi Konseling