admin No Comments

Kenapa Kita Harus Bersyukur? Memang seberapa penting sih bersyukur menurut psikologi?

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kewajiban untuk bersyukur dalam segala keadaan, entah itu susah maupun senang. Sebenarnya, kenapa sih kita harus bersyukur? Apa alasannya? Memang apa dampak bersyukur pada diri kita?

Bersyukur merupakan sebuah anjuran bahkan suatu perintah langsung yang Allah berikan kepada umat Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam alquran surat Ibrahim ayat 7 yang berbunyi :

‎وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Artinya : Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, “Sesungguh¬nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

           Surat Ibrahim ayat 7 menjelaskan tentang ke-Esaan Allah bagi hamba-hambaNya yang selalu bersabar ketika dihadapkan cobaan dan selalu bersyukur ketika menerima nikmat yang telah diberikan-Nya. Allah senantiasa akan menambahkan nikmat kepada orang-orang yang bersyukur atas apa yang telah diberikan-Nya. Nikmat yang Allah berikan tidak selalu dalam bentuk harta melainkan dapat berupa nikmat diberi kesehatan, diberi keluarga serta teman-teman yang sayang terhadap diri kita, diberi napas, diberi kekuatan untuk beribadah, diberi ketenangan jiwa dan sebagainya. Orang yang bersyukur akan merasa bahwa dirinya telah mendapatkan banyak kebaikan baik dari Allah ataupun orang disekitarnya.

Sebenarnya apa sih syukur itu? Lalu apa kaitan dan dampaknya pada diri kita?

Rasa syukur digambarkan sebagai emosi, suasana hati, kebajikan moral, kebiasaan, motif, sifat kepribadian, respons koping, dan bahkan cara hidup. Menurut Peterson dan Seligman tahun 2004 syukur diartikan sebagai rasa terima kasih dalam menanggapi atau merespon suatu hadiah, rasa syukur merupakan respons psikologis terhadap anugerah seperti apapun sifatnya, dan pengalaman sesingkat apapun itu, serta perasaan bahwa kita mendapat manfaat dari orang lain. Maka dapat dikatakan bahwa syukur merupakan suatu respons psikologis dalam menanggapi pemberian seperti apapun sifatnya, sesingkat apapun pengalamannya, serta adanya emosi transenden atas kasih dan karunia yang diberikan-Nya, juga perasaan bahwa kita mendapatkan manfaat dari orang lain.

Tentu sangat erat kaitannya antara bersyukur dengan diri kita, dengan kondisi psikologis dan kesejahteraan hidup kita. Mccullough, Emmons, dan Tsang pada tahun 2002 dalam bukunya mengatakan bahwa orang yang bersyukur akan mengalami emosi positif dan kesejahteraan yang meningkat. Kemudian berdasarkan penelitian Emmons pada tahun 2007 menyatakan bahwa rasa syukur diketahui mampu meningkatkan emosi positif yang ada dalam diri seperti kegembiraan, antusiasme, cinta, kebahagiaan, dan optimisme, serta selain itu keberadaan rasa syukur dapat melindungi seseorang dari dorongan iri hati, dendam, keserakahan, dan kepahitan; lebih lanjut Emmons menyatakan bahwa ketika orang mengalami rasa syukur, mereka akan merasa lebih mencintai, memaafkan, dan lebih dekat dengan Tuhannya. Emmons lebih lanjut menyatakan bahwa, pendapat yang berlaku tentang kebahagiaan adalah bahwa pendekatan yang efektif untuk memaksimalkan kepuasan seseorang adalah dengan cara bersyukur secara sadar atas berkah yang di dapatkannya.

Rasa syukur sangat penting dimiliki oleh siapapun, karena dengan rasa syukur kita mampu mengembangkan emosi positif yang ada dalam diri. Mccullough, Emmons, dan Tsang pada tahun 2002 menyatakan bahwa orang-orang yang sangat bersyukur akan memiliki pandangan bahwa segala sesuatu yang mereka miliki bahkan tentang kehidupannya sendiri adalah suatu hadiah. Penghargaan untuk hal-hal baik yang telah diterima dalam kehidupan dapat membuat kita menjadi bersyukur, akibatnya kita akan terbiasa dengan kondisi kehidupan yang positif. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa bersyukur memiliki banyak manfaat secara psikologis khususnya, karena melalui bersyukur kita bisa menghadirkan emosi positif dalam diri kita. Bahagia, antusias, optimis, cinta dan kegembiraan akan hadir mengiringi kehidupan kita.

Kalau gitu, adakah cara agar saya mampu bersyukur?

    Tentu saja ada! Ada cara agar kita mampu meningkatkan rasa syukur kita. Menurut Emmons pada tahun 2007 dalam bukunya ia menawarkan tahapan atau cara untuk meningkatkan rasa syukur :

  1. Ask yourself question, maksudnya adalah kita diminta untuk merefleksikan atau menanyakan pada diri sendiri tentang “apa yang sudah saya terima dari orang lain?” Menanyakan pada diri sendiri “apa yang sudah saya berikan untuk orang lain atau orang sekitar?” Serta tanyakan kepada diri sendiri tentang “masalah dan kesulitan apa yang terjadi pada diri saya?”
  2. Write a gratitude journal, yaitu kita diminta untuk menuliskan surat terimakasih atau surat yang mengungkapkan rasa syukur untuk seseorang yang telah memberikan pengaruh positif dalam kehidupan kita.
  3. Keep gratitude journal, menulis jurnal harian tentang kebersyukuran yang dilakukan akan meningkatkan keterbukaan pikiran tentang hal-hal yang harus disyukuri dalam kehidupan.
  4. Recounting, yaitu mengingat nikmat besar ataupun kecil yang telah diterima. Tujuannya adalah agar peserta memahami bahwa setiap nikmat yang diterima besar ataupun kecil semuanya berarti dan berharga
  5. Memanjatkan doa syukur, dengan berdoa akan menghubungkan koneksi antara diri dengan Tuhan. Selain itu doa merupakan bentuk terima kasih untuk berkah yang telah diterima sehingga seseorang dapat merasakan bahagia.

Naaaah, jadi dapat dikatakan bahwa memang ada keterkaitan yang cukup erat antara bersyukur dengan diri kita, dengan kondisi psikologis dan kesejahteraan diri kita. Karena dengan bersyukur  kita bisa meningkatkan emosi positif yang ada pada diri. Oleh karena itu, mungkin teman-teman bisa mencoba menerapkan cara-cara meningkatkan syukur yang udah di jelaskan pada paragraf sebelumnya untuk meningkatkan produksi emosi positif yang ada dalam diri kita.

Penulis : Annisa Rahma Azizzah

Referensi :

Emmons, R. A. (2007). The Psychology of Gratitude Words of Gratitude for Mind, Body, and Soul. HOUGHTON MIFFLIN COMPANY.

Peterson;, C., & Seligman, M. P. (2004). Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification. In American Journal of Psychiatry (Vol. 162, Issue 4). https://doi.org/10.1176/appi.ajp.162.4.820-a

McCullough, M. E., Emmons, R. A., & Tsang, J. A. (2002). The grateful disposition: A conceptual and empirical topography. Journal of Personality and Social Psychology, 82(1), 112–127. https://doi.org/10.1037/0022-3514.82.1.112

 

admin No Comments

6 Tahapan dalam Hubungan

Hubungan Interpersonal adalah hubungan yang teridiri dari dua orang atau lebih yang saling tergantung satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang konsisten. Tentu saja, hubungan tersebut akan memberikan pengaruh terhadap satu dengan yang lainnya atau dapat dikatakan juga sebagai habungan yang bersifat timbal balik.

Beberapa ciri-ciri hubungan interpersonal sebagai berikut:

  1. Mengenal secara dekat artinya bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan interpersonal saling mengenal secara dekat.
  2. Saling memerlukan hubungan interpersonal diwarnai oleh pola hubungan saling menguntungkan scara dua arah dan saling memerlukan.
  3. Pola hubungan antarpribadi, adanya sikap keterbukaan diantara keduanya.
  4. Kerjasama, kerjasama akan timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat bersama mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan tersebut.

Menurut Devito hubungan interpersonal mempunyai enam tahap sebagai berikut:

  1. Tahap kontak (contact), Proses interaksi dari kedua individu yang terlibat di dalamnya. Dari proses interaksi, bakal timbul persepsi. Sehingga persepsi  bakal menjadi bumbu di dalam interaksi.
  1. Tahap keterlibatan (involvement), Fase ini mulai ada keberanian dari salah satu individu dalam memulai pendekatan. Di fase ini, individu akan menggali karakteristik lawan jenis yang bermuara pada pertemuan dan perbincangan.
  1. Tahap keakraban (intimacy), Tahap ini masuk proses keintiman (adanya komitmen dalam diri). Dalam proses ini, terjadi proses komunikasi interpersonal yang lebih intim, mulai dari proses pengungkapan rahasia dalam diri masing-masing individu.
  1. Tahap pemudaran (deteriorationFase ini ditimbulkan banyak hal. Terutama munculnya ketidakpuasan interpersonal berupa rasa bosan dan hadirnya unsur manusiawi berupa opsi lain yang lebih menguntungkan.
  1. Tahap pemulihan (repair), Fase ini semacam upaya menganalisis dan menelaah pemicu kemerosotan hubungan sekaligus melakukan flashback di tiap fase yang telah dilalui. Di sini juga terjadi upaya evaluasi perubahan.
  1. Tahap pemutusan (Dissolution), Sebuah fase dimana konflik tidak menemui solusi, dan hubungan kian berantakan. Sebab tidak ada yang saling terima keputusan satu sama lain. Apabila hubungannya sudah sah, maka akan terjadi perpisahan.

Itulah Enam tahap dalam hubungan, semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan teman-teman yaa. Dan jangan lupa untuk baca juga artikel-artikel menarik lainnya di web psikologi deepa.

Penulis : Ega Nurlaila

admin No Comments

Psikologi Remaja dan Media Sosial

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Perkembangan psikologi mengikuti berkembangnya teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi saat ini berkembang sangat pesat, seperti perkembangan aplikasi media sosial yang diciptakan untuk mempermudah pekerjaan kita sebagai pengguna. Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, secara perlahan membuat penggunanya menjadi ketergantungan untuk menggunakan media sosial. Saat ini perkembangan teknologi informasi sudah memasuki ruang lingkup anak – anak bahkan remaja. Orang tua perlu memperhatikan, karena media sosial memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi remaja.

Menurut Santrock, masa remaja merupakan peralihan dari masa anak – anak dengan masa dewasa rentang usia 12 – 22 tahun, pada masa tersebut terjadi proses perubahan biologis, kognitif dan sosial – emosional. Kehidupan remaja seharusnya dipenuhi oleh kreativitas yang mampu melatihan mereka untuk berpikir. Sehingga mereka mampu mengembangkan kemampuannya dan ketika beranjak dewasa mampu menyalurkan kemampuannya dengan baik. Namun, saat ini para orang tua membiarkan anak – anaknya untuk bermain handphone bermedia sosial tanpa pengawasan orang tuanya.

Para orang tua harus mengetahui bahwa media sosial memiliki pengaruh terhadap psikologi remaja, yaitu:

  1. Membantu Remaja Menemukan Identity

Media sosial membantu para remaja menemukan identity mereka, remaja yang memiliki minat akan bergabung dalam sebuah kelompok, mengembangkan diri, ikut berpartisipasi dalm diskusi topik yang menarik perhatian. Hal ini dapat membangun sense of indetity dalam dirinya.

  1. Membangun Relationship dan Cultural Awareness

Bermain media sosial bisa bertemu dengan orang lain dari daerah dan negara diluar Indonesia. Hal ini membantu remaja untuk memahami perbedaan budaya di berbagai daerah dan negara.

  1. Cyber – Bullying 

Remaja belum cukup matang untuk memahami dampak dari informasi mereka miliki di media sosial yang mengarah ke kasus perkelahian yang dimulai dengan komentar yang mengarah ke SARA, komentar yang dianggap sebagai ejekan, dan lain – lain. Bahkan, dampak cyberbullying terhadap korban dan pelaku dapat mempengaruhi masa depan mereka.

  1. Mempengaruhi kualitas tidur

Remaja yang sering menggunakan media sosial hingga larut malam lebih rentan terhadap risiko kesehatan dan menderita insomnia.

  1. Mempengaruhi emosi

Para remaja yang bermain media sosial akan mempengaruhi emosinya. Hal ini disebabkan oleh emosi anak remaja yang masih belum stabil. Mereka cenderung menerima informasi secara utuh tanpa mencari tahu informasi tersebut benar apa tidak. Ketidakmampuan remaja akan literasi digital berdampak pada sikap dan karakter remaja. Para remaja terbiasa membaca, mengomentari informasi – informasi yang ada di media sosial dan komentar – komentar tersebut beragam. Jika dianggap informasi tersebut negatif, mereka dengan segera menulis komentar – komentar yang bernada menghina, menjatuhkan dan merendahkan. Jika informasi tersebut dinilai positif, mereka tidak segan – segan untuk berbagi informasi tersebut di akun miliknya.

Selain itu, media sosial memiliki dampak dari beberapa aspek perkembangan psikologi, yaitu:

  1. Dampak pada perkembangan fisik

Remaja yang adiktif media sosial kesehatannya akan terganggu, seperti merusak kesehatan mata.

  1. Dampak pada perkembangan emosi

Tidak bisa mengontrol dirinya bagi pengguna adiktif media sosial sehingga memiliki kontrol diri yang rendah dan emosi menjadi tidak stabil ketika membaca komentar yang negatif.

  1. Dampak pada perkembangan sosial

Dampak positifnya remaja menjadi lebih bersahabat, perhatian dan empati terhadap lingkungannya, seperti memberikan perhatian saat ada teman yang berulang tahun dan menjaga hubungan persahabatan walaupun tidak dapat bertemu secara fisik. Sedangkan, dampak negatifnya remaja menjadi malas berkomunikasi di dunia nyata dan tingkat pemahaman bahasapun menjadi terganggu.

  1. Dampak pada perkembangan inteligensi

Dampak positifnya anak remaja akan termotivasi untuk belajar mengembangkan diri melalui teman – teman yang mereka jumpai secara online, karena mereka berinteraksi dan menerima umpan balik satu sama lain. Sedangkan, dampak negatifnya anak remaja menjadi lebih malas belajar karena terlalu asyik dengan media sosial dan konsentrasinya akan terganggu.

  1. Dampak pada perkembangan moral

Para remaja menjadi tidak memiliki sopan santun dalam berbicara atau berkomentar di media sosial.

Pengaruh dan dampak media sosial terhadap perkembangan remaja sangatlah besar, hal ini peran orang tua sangat penting dalam melakukan proses pengawasan dan memberikan pemahaman pada anak dalam penggunaan media sosial karena lembaga pertama dalam pembetukkan pola pikir, perilaku dan karakter anak adalah orang tua.

Penulis: Suci Hasanah

Sumber:

Wilga, dkk. 2016. Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Remaja. Jurnal Prosiding KS: Riset & PKM. Vol 3. No 1. Hal 1 – 154.

Gani, AG.  2020. Pengaruh Media Sosial terhadap Perkembangan Anak Remaja. Jurnal Psikologi. Hal 32 – 42.

Saleh, AA. 2018. Pengantar Psikologi. Sulawesi Selatan: Aksara Timur.

admin No Comments

Introvert Bukan Sebuah Pembelaan!!

Siapa yang tak mengenal istilah kepribadian introvert dan ekstrovert?

Kedua istilah tersebut sangat populer di kalangan anak muda jaman sekarang hingga orang dewasa. Tak jarang kita mendapati istilah tersebut untuk memberikan gambaran tentang bagaimana diri kita kepada orang lain agar mereka tak jadi salah paham dengan kita, sehingga kita pun dapat dihargai dan dihormati.

Belakangan ini, ada fenomena yang diperbincangkan, di mana seseorang mengakui dirinya sebagai introvert sehingga hal tersebut membuat dirinya enggan apabila harus bekerja dan berinteraksi dengan orang asing.

Apakah kalian pernah mendengar pernyataan seperti di bawah ini,

“Aku orangnya introvert. Makanya, aku malas banget kalau harus kerja yang selalu berhadapan sama orang-orang. Aku paling nggak bisa untuk mulai bicara sama orang.”

Hal tersebut sebenarnya mampu menjadi sorotan.

 

Masih banyak orang beranggapan bahwa orang yang pemalu dan pendiam, selalu menyendiri, serta tidak mampu bergaul dengan orang lain disebut sebagai introvert. Namun, apakah istilah kepribadian introvert benar-benar memiliki arti yang demikian? Mari kita bahas terlebih dahulu mengenai siapa sebenarnya pencetus dari istilah kepribadian introvert dan ekstrovert serta pengertiannya.

Tokoh yang mempopulerkan istilah introvert dan ekstrovert adalah Carl Gustav Jung atau akrab disapa dengan Jung. Menurutnya, kepribadian introvert merupakan keadaan di mana seseorang cenderung mementingkan dunia internal pikiran, perasaan, fantasi, dan mimpi mereka, sementara kepribadian ekstrovert merupakan keadaan di mana seseorang cenderung mementingkan dunia eksternal yang terdiri dari segala benda, orang lain, dan aktivitas-aktivitas di luar.

Kepribadian introvert dikenal mirip dengan sifat pemalu karena keduanya dicirikan oleh interaksi sosial yang terbatas, tetapi keduanya merupakan suatu hal yang berbeda. Biasanya orang yang pemalu memiliki keinginan untuk terlibat dengan orang lain, tetapi mereka takut untuk melakukannya.

Sedangkan orang yang memiliki kepribadian introvert pada dasarnya mampu untuk bersosialiasi, meskipun memang lebih tertarik pada kelompok yang sangat kecil. Mereka—orang yang introvert—menikmati  obrolan yang memiliki makna mendalam bersama orang lain, sebab mereka menyukai keterlibatan yang kuat dengan dunia kreativitas dalam imajinasi seseorang.

Istilah kepribadian introvert dan ekstrovert pun lebih menjelaskan tentang bagaimana cara energi kita dapat terkuras habis atau dapat ditingkatkan kembali dengan perilaku kita, serta bagaimana cara kita memproses sebuah informasi dalam pikiran kita.

Menurut Scott Dust, seseorang yang introvert akan lebih nyaman memproses informasi sendirian dan dengan banyak lead-time. Ekstrovert lebih nyaman memproses informasi di hadapan orang lain dan secara real-time.  Ciri khas orang dengan kepribadian ekstrovert adalah cenderung terbuka dalam lingkungan sosial, di mana mereka mampu untuk membicarakan apa saja dengan orang lain secara konsisten. Mereka akan memiliki energi yang terus bertambah apabila mendapatkan stimulus lingkungan. Sebaliknya, energi yang dimiliki seseorang yang introvert cenderung lebih cepat habis apabila mendapatkan stimulus lingkungan yang begitu banyak, sehingga mereka lebih dikenal sebagai orang yang tertutup dalam lingkungan sosial dan hanya mau membicarakan hal-hal yang mereka anggap sebagai sesuatu yang penting.

Jadi, apabila seorang introvert mulai terlihat tidak banyak bicara, hal tersebut biasanya terjadi karena mereka telah menghabiskan tangki energi mereka atau secara proaktif sedang mencoba untuk menyimpan energi mereka untuk nanti.

Kepribadian introvert dan ekstrovert hanya berbeda dalam memilih untuk berinteraksi dengan siapa. Ekstrovert memang cenderung memiliki jaringan dukungan yang lebih luas dan bersedia untuk berbagi pekerjaan dan informasi pribadi dengan banyak orang.

Di sisi lain, orang dengan kepribadian introvert pun cenderung berbagi banyak informasi, tetapi hanya dengan beberapa rekan kerja tertentu.  Hal tersebut bukan berarti introvert tidak menginginkan koneksi dengan teman sebaya, mereka hanya melakukannya dengan jumlah orang yang lebih sedikit, misalnya teman dekat.

Oleh karena itu, kepribadian introvert seharusnya tidak menjadi alasan seseorang untuk menolak bergaul dan berinteraksi dengan orang lain karena mereka tetap memiliki energi untuk terlibat dengan kontak sosial meskipun sangat terbatas.

Dalam lingkungan bekerja maupun kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang, mereka yang mengaku tak mampu beradaptasi dengan lingkungan dan melakukan pekerjaan secara tim, serta mereka yang tak mampu berinteraksi bersama orang-orang sekitar sehingga menyebut dirinya sebagai introvert sebenarnya tidak tepat.

Hal-hal yang disebutkan justru merupakan keahlian yang sebaiknya bisa dilatih dan dipelajari oleh siapapun, terlepas dari apakah dia seorang introvert maupun ekstrovert.

(Penulis : Syifa Intan Mutiara)

Sumber:

https://www.psychologytoday.com/us/basics/introversion

https://www.psychologytoday.com/us/blog/what-we-really-want-in-leader/202104/the-unexplored-differences-between-introverts-and 

 

admin No Comments

Teori Karen Horney, Bahasan tentang Neurotik

Teori Karen Horney sebagai salah satu bahasan penting dalam ilmu psikologi yang menyumbangkan banyak gagasan tentang psikoanalisis, khususnya mengkaji tentang masalah neurotik. Karen Horney pun menjadi salah satu tokoh psikologi yang perlu kita kenal dan pahami tentang sumbangan ilmu pengetahuannya di bidang psikologi. Namun, sebelum kita mengkaji teorinya. Perlu kita kenal lebih jauh tentang latar belakang Karen Horney di masa lalu. Karena pengalaman masa lalunya, cukup menyumbangkan perspektif teori yang dikemukakannya.

Karen Horney memiliki latar belakang pendidikan di bidang kedokteran. Ia pernah bergabung dengan psikoanalisa, yang menginduk pada tokoh Sigmund Freud. Namun, ada beberapa pandangan Freud yang membuatnya tidak nyaman berkaitan dengan bahasan Freud yang cenderung merendahkan wanita, sedangkan Horney sebagai tokoh wanita memandang hal tersebut tidak tepat. Horney tidak puas dengan psikoanalisa yang menurutnya ortodoks. Ia berusaha menghilangkan kesalahan-kesalahan dalam pemikiran Freud yang berakar pada prinsip-prinsip yang mekanistis dan biologis. Serta mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang terkait dengan pandangan instingtif dan genetik

Teori Karen Horney, Bahasan tentang Neurotik

Teori Karen Horney, Bahasan tentang Neurotik

Kritik terhadap teori Freud

Karen Horney menjelaskan tentang psikologi perempuan merupakan sesuatu yang muncul dari ketidakpercayaan diri dan penekanan yang terlalu berlebihan pada hubungan cinta. Jadi tidak ada hubungan dengan anatomi organ seksual. Horney juga mengkritisi teori Freud tentang Odipus Kompleks. Menurut Horney, Oedipus kompleks bukan suatu konflik seksual dan dorongan agresi yang terjadi antara anak dengan orangtuanya. Odipus kompleks merupakan kecemasan yang timbul dari gangguan-gangguan dasar yang terjadi dalam hubungan antara anak dengan orangtuanya. Misalnya karena penolakan, perlindungan yang berlebihan, dan lain sebagainya.

Horney mendirikan asosiasi untuk pengembangan psikoanalisa. Pengembangan idenya tidak dengan pendekatan baru terhadap kepribadian. Namun begitu, ide-idenya masih dalam kerangka psikologi Freud untuk banyak hal.

Disisi lain, Horney tidak setuju dengan ajaran-ajaran Freud tentang penis envy dalam psikologi perempuan, odipus kompleks, dan lain sebagainya. Horney tidak sepakat terhadap statement Freud, bahwa sikap-sikap, perasaan-perasaan, dan konflik-konflik yang ada pada perempuan timbul dari perasaan perempuan terhadap inferior genital dan rasa iri pada laki-laki.

Menurut Horney, agresi bukan merupakan sesuatu yang bersifat bawaan. Agresi merupakan cara untuk melindungi diri dari ancaman yang ada di lingkungan luar yang dirasa mengancam. Dengan kata lain, agresi sebagai upaya mendapatkan keamanan. Menurut Horney, narsisme pada dasarnya bukan cinta diri. Tetapi pendewaan diri dan penilaian diri yang berlebihan sebagai akibat perasaan tidak aman. Prinsip-prinsip lain dari Freud yang kurang disetujui Horney antara lain seperti prinsip tentang ego, id, super ego, masokhisme, dan lain sebagainya.

 

Bahasan Singkat teori Karen Horney di Channel Youtube Deepa Psikologi

Konsep-konsep Ajaran Teori Karen Horney

Konsep utama Teori Karen Horney adalah kecemasan dasar. Yaitu perasaan yang terdapat pada anak, yang disebabkan oleh rasa terisolasi dan tidak berdaya dalam menghadapi hal-hal yang ada di lingkungan dan membuat anak merasa tidak aman. Hal-hal yang menumbuhkan rasa tidak aman adalah dominasi. Baik dominasi tersebut datang atau muncul secara langsung maupun tidak langsung. Hal lain yang menumbuhkan rasa tidak aman yaitu, sikap masa bodoh dari orangtua, kurang adanya penghargaan terhadap kebutuhan-kebutuhan anak, orangtua kurang kesungguhan dalam membimbing anak, sikap orangtua meremehkan anak, kurang adanya kehangatan orangtua, suasana permusuhan, dan lain sebagainya.

Segala sesuatu yang mengganggu keamanan anak dalam hubungan dengan orangtuanya akan menimbulkan kecemasan dasar. Anak yang tidak aman dan cemas akan menempuh berbagai siasat untuk mengatasi perasaan-perasaan terisolasi dan rasa tidak berdaya. Cara-cara yang ditempuh anak antara lain:

  1. Anak bisa menjadi bermusuhan dan ingin membalas dendam terhadap orang-orang yang menolaknya atau sewenang-wenang terhadapnya. Serta anak bisa tumbuh menjadi sangat patuh, untuk mendapatkan kembali cinta yang dirasanya telah hilang.
  2. Anak mengembangkan gambaran diri yang tidak realistik sebagai kompensasi terhadap perasaan-perasaan inferioritasnya. Anak dapat menyogok atau mengancam orang lain supaya mencintainya. Membuat dirinya merasa patut dikasihani untuk mendapat simpati dari orang lain.
  3. Bila anak tidak mendapatkan cinta, maka ia akan berusaha menguasai orang lain sebagai kompensasi terhadap rasa ketidakberdayaan. Dia akan mengeksploitasi orang lain, mencari cara untuk menyalurkan permusuhan, meremehkan diri sendiri, menjadi sangat kompetitif, dan lain sebagainya.

 

 Macam-macam kebutuhan neurotik menurut Teori Karen Horney

Horney membagi kebutuhan neurotik kepada beberapa jenis, yaitu:

  1. Kebutuhan neurotik akan kasih sayang dan penerimaan.

Yaitu keinginan yang membabi buta untuk menyenangkan orang lain dan berbuat sesuai dengan harapan-harapan mereka. Orang dengan kebutuhan kasih sayang yang neurotik ini mengharapkan pendapat dari orang lain dan amat peka terhadap penolakan atau ketidakramahan.

  1. Kebutuhan neurotik akan mitra atau sahabat yang bersedia mengurus kehidupan seseorang.

Orang dengan kebutuhan ini akan menjadi parasit dalam interaksi sosial khususnya ke hubungan orangtua anak, atau hubungan pasangan. Ia akan terlalu menghargai cinta dan sangat takut diabaikanatauditinggalkan sendirian.

  1. Kebutuhan neurotik untuk membatasi kehidupan dalam batas yang sempit.

Orang dengan kebutuhan ini tidak menuntut, puas dengan yang serba sedikit, lebih suka tetap tidak dikenal, sangat menginginkan kesendirian. Dalam skala kecil terlihat tidak mengganggu, namun orang tipe ini tidak banyak mengijinkan orang lain masuk ke zona dekatnya. Atau mengijinkan didekati oleh orang-orang.

  1. Kebutuhan neurotik akan kekuasaan.

Orang dengan kebutuhan ini ingin berkuasa demi kekuasaan itu sendiri. Orang tipe ini sama sekali tidak hormat terhadap orang lain. Jika dia tampak hormat adalah upaya untuk mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan. Dia sangat memuja segala bentuk kekuasaan untuk dapat mengendalikan dan mengatur sesuatu diluar dirinya. Orang yang takut menunjukkan kebutuhan ini secara terang-terangan akan menguasai orang lain melalui eksploitasi dan superioritas intelektual. Orang-orang dengan kebutuhan ini percaya akan kemahakuasaan kemauan. Mereka percaya dapat mencapai apa saja dengan menggunakan kekuatan kekuasaan.

  1. Kebutuhan neurotik untuk mengeksploitasi orang lain.

Mereka bisa mengupayakan untuk mendapatkan kekuasaan dengan tujuan dapat mengendalikan orang lain. Atau dengan jalan kekayaan dan uang untuk mengendalikan orang lain.

  1. Kebutuhan neurotik akan prestise.

Orang dengan kebutuhan ini percaya bahwa harga diri seseorang ditentukan oleh banyaknya penghargaan yang diterima dari masyarakat.

  1. Kebutuhan neurotik akan kekaguman pribadi.

Orang-orang dengan kebutuhan ini mempunyai gambaran diri yang melambung dan ingin dikagumi. Dia selalui ingin dipuji dan disanjung. Dia menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, dan layak mendapatkan prioritas dan jabatan atau prestasi yang lebih dibandingkan orang lain.

  1. Ambisi neurotik akan prestasi pribadi.

Orang dengan kebutuhan ini ingin menjadi yang terbaik dan memaksa diri untuk semakin berprestasi guna mendapatkan rasa aman.

  1. Kebutuhan neurotik untuk berdiri sendiri dan bebas (mempunyai independensi).

Orang tipe ini seringkali merasa pernah kecewa dalam usaha menemukan hubungan-hubungan yang hangat dan memuaskan dengan orang lain. Kemudian orang-orang ini memisahkan diri dan tidak mau terikat pada siapapun atau apapun. Mereka menjadi orang-orang yang menyendiri dan tidak mau terikat dengan organisasi, kelompok, atau peraturan, dan hubungan dekat dengan orang lain.

  1. Kebutuhan neurotik akan kesempurnaan dan ketidaktercelaan.

Orang tipe ini takut membuat kesalahan dan dikritik. Sehingga terkadang dia takut untuk mencoba hal baru, atau takut tampil di depan banyak orang. Orang tipe ini berusaha membuat diri mereka sebagai orang tidak terkalahkan dan tanpa cela. Mereka terus menerus mencari kekurangan-kekurangan diri agar dapat ditutupi sebelum diketahui oleh orang lain.

Menurut Horney, sepuluh kebutuhan tersebut merupakan sumber yang menyebabkan konflik batin dan merupakan kebutuhan yang tidak realistik

 

Orientasi kebutuhan terhadap Kecemasan

Horney juga mengelompokkan sepuluh kebutuhan yang disebutkan di atas ke dalam tiga kelompok, yaitu kebutuhan dengan orientasi:

  1. Bergerak menuju orang lain (moving toward people), misalnya, kebutuhan akan cinta
  2. Orientasi bergerak menjauhi orang lain (moving away from people), misalnya, kebutuhan independen
  3. Bergerak melawan orang lain (moving again people), misalnya, kebutuhan berkuasa

 

Setiap kelompok kebutuhan tersebut menunjukkan orientasi dasar terhadap orang lain dan diri sendiri. Menurut Karen Horney, pada setiap orientasi ditemukan adanya dasar konflik batin. Dasar konflik batin ini akan menentukan normal atau neurotiknya seseorang, dan yang menentukan adalah tingkatannya. Jadi pada dasarnya, setiap orang mempunyai konflik batin. Tetapi pada orang-orang tertentu (yang mengalami penolakan, pemanjaan, perlindungan yang berlebihan, dan lain sebagainya), cenderung mempunyai konflik dalam taraf yang memberatkan.

 

Kepribadian sehat dalam teori Karen Horney

Orang yang sehat atau normal adalah dimana konflik batinnya tersebut tidak mengganggu aktivitas hidupnya. Atau malah, konflik batinnya tersebut mampu menjadikan energi yang mendorongnya untuk berprestasi atau menjadi lebih baik. Sebaliknya, orang dengan kondisi yang tidak sehat jika konflik batinnya mampu menghambat dirinya menjadi lebih baik, terus mengganggu aktivitas hidupnya. Sehingga dia menjadi tidak bisa berdaya melakukan aktivitas hidupnya dengan lebih baik.

Ketiga orientasi terhadap kecemasan tersebut tidak ada yang lebih baik. Hanya saja, pada orang-orang normal atau sehat cenderung mengintegrasikan ketiga orientasi tersebut. Akan efektif diterapkan orientasi tertentu pada kondisi tertentu.

Sedangkan orang-orang neurotik cenderung menggunakan pemecahan yang irasional dan dibuat-buat. Karena mereka mengalami kecemasan dasar yang lebih kuat, mereka juga cenderung menggunakan satu orientasi saja dan tidak mengakui yang lain.    Menurut Karen Horney, konflik-konflik itu dapat dihindarkan dan dipecahkan, kalau anak dibesarkan dalam keluarga yang memberi rasa aman, cinta, memberi kepercayaan, menghargai, dan toleransi.

 

Demikian artikel tentang Teori Karen Horney. Kami juga mengulas secara singkat di channel youtube Deepa Psikologi. Anda bisa mengakses channel tersebut untuk informasi dan pembelajaran lainnya.

admin No Comments

Konstruksi Alat Ukur Psikologi; Asesmen, Pengukuran, dan Evaluasi

Konstruksi Alat Ukur Psikologi. Di bidang psikologi, terdapat beberapa metode untuk melakukan asesmen psikologi. Asesmen dapat dilakukan dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. Konstruksi Alat Ukur Psikologi sendiri banyak menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam pengukuran psikologi terdapat istilah yang biasa dipahami sebagai tes psikologi.

Konstruksi Alat Ukur Psikologi; Asesmen, Pengukuran, dan Evaluasi

Konstruksi Alat Ukur Psikologi; Asesmen, Pengukuran, dan Evaluasi

Tes psikologi merupakan suatu pengukuran yang objektif dan standar terhadap sampel perilaku (Anastasi). Sedangkan menurut Kaplan (2005), menjelaskan bahwa tes merupakan metode, alat, atau teknik pengukuran yang digunakan untuk mengukur perilaku atau membantu memahami dan memprediksi perilaku. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tes psikologi merupakan  Suatu metode untuk mengetahui kapasitas atau potensi tertentu seseorang. Di dalam pengukuran psikologi, ada beberapa istilah penting yang sering kita temui, yaitu kuisioner, skala, dan tes. Lantas apa perbedaan dari ketiga istilah tersebut? Berikut kami jabarkan gambaran singkatnya:

 

 

Kuesioner, Skala, dan Tes

Kuesioner Skala Tes
Mengungkap data faktual atau yang dianggap  kebenaran dan fakta yang diketahui subjek Data yang diungkap berupa konsep psikologis atau konstruk yang menggambarkan seperti kepribadian individu Mengungkap rangsang stimulus dengan aspek kognitif yang akan diungkap
Merupakan pertanyaan – pertanyaan langsung terarah kepada informasi mengenai data yang hendak diungkap Aitem berupa pernyataan yang tertuju pada indikator untuk memancing jawaban yang merupakan afeksi keadaan subjek yang tidak disadari Pertanyaan terstuktur dan terstandarisasi
Jawaban tidak diberi skor, tetapi berupa koding Respon terhadap skala diberi skor melalui proses penskalaan Respon diberi skor dan bisa melalui penskalaan
Satu angket dapat mengungkap informasi tentang banyak hal Satu skala psikologi hanya dapat digunakan mengungkap suatu atribut tunggal   Mengungkap kapasitas kognitif dan nonkognitif melalui sampel perilaku
Validitas angket terletak pada kejelasan tujuan dan lingkup informasi yang hendak diungkap Validitas skala terletak pada kejelasan konsep yang diukur Teruji validitasnya
Hasil angket tidak dapat diuji reliabilitasnya secara psikometris  Hasil skala psikologis dapat teruji reliabilitasnya secara psikometris Reliabel untuk digunakan pada semua subjek

 

Klasifikasi Tes

Atribut psikologis Proyektif Non proyektif
Individual Kelompok Individual Kelompok
Kepribadian Roschach, dan The Holtzman Inkblot CAT, TAT, Warteg, DAM, HTP,P-F 16 PF, EPPS, DRAKE P3,
Intelegensi Binet, WAIS, PMT, WISC, K-BIT, KAIT CFIT
Potensi intelektual MAJT CogAT, DAS, TPA, SAT, DAT, GRE, MCT, Orlens –Hanna…,F-JAS,
Hasil belajar K-ABC EBTANAS, TOELF

 

Karakteristik skala psikologi

Skala psikologi sebagai alat ukur memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari berbagai bentuk alat pengumpulan data lain. seperti formulir atau daftar isian, angket, kuiz, inventori, dll. Skala sebagai alat ukur psikologi memiliki karakteristik, yaitu berisi banyak aitem pertanyaan atau pernyataan. Stimulus skala psikologi berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur. Dan respons subyek pada skala psikologi tidak diklasifikasikan sebagai jawaban benar salah.

prosedur pembuatan skala psikologi

prosedur pembuatan skala psikologi

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan skala psikologi

  1. Subyek penelitian atau sampel penelitian yang dikenai alat yang akan dikembangkan
  2. Jenis skala yang dipakai
  3. Tujuan pengukuran harus dinyatakan dengan jelas
  4. Model Skala yang akan dipakai
  5. Kisi-kisi atau Blue-print
  6. Alokasi waktu yang disediakan

 

Skala sikap

Skala Psikologis bisa berupa  skala yang mengukur sikap dan mengukur atribut psikologis. Karena skala psikologis mengukur aspek psikologi seperti sikap, maka penting sekali diperhatikan terkait objektivitasnya. Pada skala sikap, objek yang diukur harus penting untuk diteliti dan berupa hal yang menimbulkan kontroversi. Komponen skala sikap meliputi komponen emosional (afeksi), konatif (komponen perilaku), dan komponen kognitif.

 

Perbedaan kontruksi skala sikap dan skala psikologis. Jika Skala Psikologis; Dimensi, indikator berasal dari konstrak teori yang dipakai dan memakai teori psikologis tentang konstrak yang diukur. Namun Skala sikap memakai teori sikap. Dimensi skala sikap berasal dari dua hal, yaitu teori sikap dan dari fakta. Penggalian fakta didapatkan dengan cara studi literatur, wawancara, dan sebagainya. Indikator skala sikap berasal dari gabungan dua dimensi diatas.

 

Langkah-langkah penyusunan alat ukur psikologi :

 

  1. Identifikasi tujuan ukur
  2. Operasionalisasi konsep atau indikator perilaku
  3. Menentukan teknik Penskalaan
  4. Pembuatan tabel spesifikasi
  5. Penulisan aitem
  6. Parakitan aitem
  7. Uji coba
  8. Analisis aitem
  9. Seleksi aitem
  10. Pengujian Reliabilitas
  11. Validasi, yaitu sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukam fungsi ukurannya
  12. Format Final

 

Konstruk Psikologis

Konstruk psikologis merupakan konsep buatan. Konstrak psikologis dibangun oleh ahli untuk menjelaskan fenomena psikologis. Contohnya, dengan menggunakan konstruk ‘intelegensi’ kita dapat menjelaskan mengapa individu memiliki kemampuan penalaran bervariasi dengan daya tangkap informasi yang berbeda-beda. Kontruk psikologi tidak bisa diamati secara langsung. Karena bersifat abstrak dan hipotetik. Sebelum diturunkan menjadi indikator tampak, konstrak psikologis tidak dapat diamati.

Konstrak psikologi mengalami perkembangan karena bersifat konseptual. Misalnya, locus of Control berubah menjadi Self Control dan Self Efficacy.

Peneliti harus berpedoman pada teori yang menjelaskan aspek yang relevan dengan apa yang diukur dan bagaimana mengukurnya. Definisi konseptual dan definisi operasional. Dengan memakai landasan teori yang kuat, maka peneliti dapat dengan mudah mengembangkan alat ukur.  Apabila tidak ada teori yang secara khusus mengkaji aspek yang hendak diukur, maka peneliti dapat memadukan teori-teori yang mendukung untuk mendefinisikan aspek yang relevan dengan apa yang hendak diukur.  Contoh, Mengukur Tata Krama Jawa. Dari aspek akan diturunkan dalam indikator perilaku dan item pernyataan.

 

Demikian artikel singkat tentang Konstruksi Alat Ukur Psikologi. Semoga bermanfaat.

 

 

 

admin No Comments

Teori Perkembangan Moral: Teori Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg

Teori Perkembangan Moral. Jika kita membahas tentang perkembangan moral, maka tokoh Psikologi yang memberikan sumbangsih paling banyak yaitu Jean Piaget dan Kohlberg. Istilah moral berasal dari kata Latin “mores” yang berarti tata cara, kebiasaan dan Adat. Sehingga perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Perilaku moral dikendalikan konsep konsep moral dimana terikat dengan nilai, sistem sosial, dan tradisi masyarakat. Perilaku yang sama bisa dikategorikan tidak bermoral dalam budaya tertentu, namun di daerah lain, perilaku tersebut merupakan hal wajar dan bermoral.

 

Moral Dan Perilaku

Perilaku non moral atau amoral adalah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial yang disebabkan oleh ketidakacuhan terhadap harapan sosial. Seperti pelanggaran secara tidak sengaja terhadap standar kelompok.

Perilaku tak bermoral yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Dikatakan tidak bermoral karena perilaku tersebut tidak selaras dengan standar sosial atau kurang memiliki rasa wajib menyesuaikan diri dengan harapan sosial.

 

Konsep-konsep Teori Perkembangan Moral

Peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan anggota kelompok atau anggota suatu budaya. Peraturan perilaku yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.

 

Pola Perkembangan Moral

Bayi yang baru lahir tidak membawa aspek moral, sehingga dianggap Amoral atau Non-Moral. Menurut teori Psikoanalisa dan teori belajar, menyatakan bahwa aspek moral merupakan sesuatu yang berkembang dan dikembangkan.

Menurut Teori Psikoanalisa Perkembangan moral adalah proses internalisasi norma-norma masyarakat dan kematangan organik- biologik. Seseorang telah mengembangkan aspek moral bila telah menginternalisasikan aturan-aturan atau kaidah-kaidah kehidupan di dalam masyarakat. Kemudian orang tersebut dapat mengaktualisasikan dalam perilaku yang terus menerus, atau dengan kata lain telah menetap dalam diri orang tersebut. Menurut teori Psikoanalisa , perkembangan moral dipandang sebagai proses internalisasi norma-norma masyarakat dan sebagai kematangan dari sudut organik-biologik.

Menurut teori Psikologi Belajar perkembangan moral dipandang sebagai hasil rangkaian stimulus respons yang dipelajari oleh anak. Proses belajar didapatkan antara lain berupa hukuman (punishment) dan pujian (reward) yang sering dialami oleh anak. Anak akan mendapatkan reward atau reinforcement positif jika dia berperilaku sesuai moral, dan akan mendapatkan punishment jika berperilaku tidak sesuai moral.

 

 

Konsep Teori Psikoanalisa dan Teori Belajar

Konsep teori Psikoanalisa dan psikologi belajar tentang proses perkembangan moral adalah bahwa seseorang telah mengalami perkembangan moral apabila ia memperlihatkan adanya perilaku yang sesuai dengan aturan-aturan yang ada di dalam masyarakatnya. Dengan kata lain perkembangan moral berkorelasi dengan kemampuan penyesuaian diri individu.

 

Teori Perkembangan Moral Menurut Jean Piaget dan Kohlberg

Menurut Jean Piaget dan Kohlberg perkembangan moral berkorelasi dengan perkembangan kecerdasan individu. Sehingga seharusnya bila perkembangan kecerdasan telah mencapai kematangan, maka perkembangan moral juga harus mencapai tingkat kematangan. TEORI JEAN PIAGET tentang PERKEMBANGAN MORAL Perkembangan moral berlangsung dalam 2 (dua) tahap, yaitu:

Tahap Realisme Moral –> Moralitas oleh pembatasan (pada usia kurang dari 12 tahun):

Usia 0 – 5 tahun:

Pada tahap ini perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian. Anak menilai tindakan berdasar konsekuensinya. Jika dia melakukan sesuatu dan dihukum, berarti sesuatu tersebut tidak boleh dilakukan atau salah.

 

Usia 7 atau 8 – 12 tahun:

Pada tahap ini anak menilai perilaku atas dasar tujuan. Konsep tentang benar atau salah mulai dimodifikasi (lebih luwes atau fleksibel). Konsep tentang keadilan mulai berubah.

 

Tahap Operasional Formal –>Moralitas dengan analisis (pada anak dengan usia lebih dari 12 tahun):

Anak mampu mempertimbangkan segala cara untuk memecahkan masalah. Anak bernalar atas dasar hipotesis dan dalil. Dimana pada tahan ini, anak mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang.

 

Sekilas biografi Tentang Lawrence Kohlberg, sebagai tokoh psikologi kognitif.

Beliau lahir tahun 1927, dan dibesarkan di Brouxmille, New York. Kohlberg menamatkan Sekolah Menengah di Andover Academy di Massachusetts tahun 1948. Kemudian Masuk Universitas Chicago, setahun kemudian Bachelor diraih dan ia mengambil bidang Psikologi. Ketika mengambil bidang Psikologi, Kohlberg tertarik dengan Teori Jean Piaget. Pada Tahun 1958,  Kohlberg lulus program doktoral dengan Disertasi yang berjudul The Development of Modes of Thinking and Choice in the year 10 to 16. Pada tahun 1962 – 1968 Kohlberg mengajar di Universitas Chicago kemudian sejak tahun 1968 mengajar di Harvard.

Menurut Kholberg, Ketika anak dilahirkan maka dia belum dan tidak membawa aspek moral. Kohlberg juga berpendapat, bahwa aspek moral merupakan sesuatu yang berkembang dan dikembangkan. Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral berdasar teori Jean Piaget, yaitu dengan pendekatan organismik. Pendekatan orgasmik merupakan tahap-tahap perkembangan yang memiliki urutan pasti (tidak melompat-lompat) dan berlaku secara universal. Selain itu Kohlberg juga menyelidiki struktur proses berpikir yang mendasari perilaku moral (moral behavior).

 

Tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg

 

Tahap-tahap perkembangan moral terdiri dari tiga tingkat, yang masing-masing tingkat terdapat dua tahap, yaitu:

  1. Tingkat Pra-Konvensional (Moralitas Pra-Konvensional)

Pada tahap ini, perilaku anak tunduk pada kendali eksternal. Tahap 1: Orientasi pada kepatuhan dan hukuman. Dimana anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah (reward) dan tidak mau melakukan karena takut mendapat hukuman (punishment). Tahap 2: Relativistik Hedonisme. Dimana anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relatif, dan anak lebih berorientasi pada prinsip kesenangan. Menurut Mussen, dkk., Orientasi moral anak masih bersifat individualistik, egosentris dan konkrit.

 

  1. Tingkat Konvensional (Moralitas Konvensional)

Pada tingkat Konvensional (Moralitas Konvensional) ini fokusnya terletak pada kebutuhan sosial (konformitas).

Tahap 3: Orientasi mengenai anak yang baik, dimana anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain.

Tahap 4: Mempertahankan norma2 sosial dan otoritas. Dimana seseorang menyadari kewajiban untuk melaksanakan norma-norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma. Artinya untuk dapat hidup secara harmonis, kelompok sosial harus menerima peraturan yang telah disepakati bersama dan melaksanakannya.

III. Tingkat Post-Konvensional (Moralitas Post-konvensional)

Pada tingkat Post-Konvensional (Moralitas Post-konvensional) ini, individu mendasarkan penilaian moral pada prinsip yang benar secara inheren.

Tahap 5: Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya. Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan sosialnya. Artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma sosial, maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat.

Tahap 6: Prinsip Universal. Pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. Artinya, dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur-unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan atau perilaku itu baik atau tidak baik; bermoral atau tidak bermoral. Disini dibutuhkan unsur etik atau norma etik yang sifatnya universal sebagai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas.

 

Demikian artikel singkat tentang Teori Perkembangan Moral Teori Piaget Dan Kohlberg.

admin No Comments

Contoh Laporan Hasil Periksaan Psikologis kasus Pidana

Berikut kami laporkan hasil pemeriksaan psikologis:

Nama : LST
Usia : 24 tahun
Tanggal Pemeriksaan Psikologis : 2 Februari 20XX
Diperiksa atas permintaan : Institusi XXX
Metode pemeriksaan : Observasi, wawancara, Tes Psikologis (Tes intelegensi, Grafis dan SSCT)
Pemeriksa : XXX, M.Psi., Psikolog

 

  1. Gambaran Umum

Saudara LST berusia 24 tahun dengan postur tubuh tinggi dan berat badan yang berimbang. LST memiliki tampilan fisik yang bersih. Ia bersikap ramah dan dapat  memberikan respons yang baik saat berinteraksi dengan pemeriksa, walaupun seringkali jawaban yang diberikan terkesan pendek dan kurang mendalam. Tidak tampak adanya gejala depresi atau perasaan tertekan berlebihan yang dialami LST. Ia tampak tegar, meskipun sempat menangis ketika proses pemeriksaan psikologis berlangsung dengan alasan teringat ibu kandungnya.

 

  1. Profil Psikologis

Sebagai pribadi, terlihat LST memiliki tingkat kecerdasan rata-rata. Meskipun memiliki tingkat pendidikan yang kurang memadai, tetapi ia cukup mampu menemukan problem solving atas permasalahan sederhana yang harus ia hadapi. Namun, kemampuannya dalam melakukan perencanaan tampak kurang. Ia juga kurang mampu menganalisa secara mendalam sebuah situasi sehingga ketika berhadapan dengan situasi yang rumit, ia akan sulit menemukan alternatif pemecahan masalah yang tepat secara cepat.

Lebih lanjut, LST memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik dengan lingkungan sekitar, terutama pihak yang memiliki otoritas terhadap dirinya. Ia juga dapat menampilkan sikap sopan dan ramah ketika berinteraksi dengan pihak otoritas tersebut. Namun perlu diperhatikan, bahwa LST memiliki potensi agresifitas verbal. Kondisi ini umumnya akan berpengaruh saat LST terlibat dalam kondisi yang menekan bagi dirinya, LST akan memiliki kecenderungan menyerang secara verbal seperti berkata kasar dan berusaha menyakiti lingkungan menggunakan kata-kata kepada orang atau lingkungan yang ia rasa mengganggunya.

Selain itu, LST juga memiliki potensi melakukan agresifitas secara fisik. Hal ini kemungkinan akan juga berpengaruh terhadap cara yang ia gunakan dalam menyalurkan emosi yang muncul dalam dirinya. Ia dapat melakukan upaya menyerang secara fisik terhadap pihak yang ia anggap mengganggunya. Namun, perlu diperhatikan, bahwa seluruh kondisi tersebut hanya akan dilakukan LST terhadap lingkungan yang ia anggap dapat dikuasai atau tidak berkuasa atas dirinya.

Namun demikian, secara keseluruhan, tidak terdapat gejala gangguan kejiwaan (Psychotic Symptom) yang dialami oleh LST. Gejala gangguan jiwa seperti adanya halusinasi dan delusi tidak muncul selama pemeriksaan berlangsung dan tidak pernah pula dialami LST disepanjang masa hidupnya.

Selain itu, fungsi hidup LST sebagai individu juga berjalan cukup baik.  Ia mampu merawat diri sendiri, bekerja, memiliki fungsi kognitif yang cukup baik, dan dapat beraktifitas secara mandiri. Dengan demikian, keseluruhan kondisi tersebut memperlihatkan bahwa LST dapat bertanggung jawab terhadap sikap dan perilaku yang ia munculkan termasuk tindak pidana yang ia lakukan.

 

  • Kesimpulan

  1. LST merupakan individu dengan tingkat kecerdasan rata-rata
  2. Memiliki potensi melakukan agresifitas verbal dan fisik
  3. Tidak memiliki gejala (symptom) gangguan kejiwaan
  4. Dapat dimintai pertanggungjawaban atas tindak pidana yang dilakukan
 

 

 

 

 

Karawang, 5 Februari 20XX

Psikolog,

 

 

 

 

XXX, M. Psi., Psikolog

SIPP No. 16xx-xx-2-2

 

Demikian adalah Contoh Laporan Hasil Periksaan Psikologis kasus Pidana. Sangat membantu jika ada tambahan metode untuk menggali tersangka dengan tambahan psikotes intelegensi. Tersangka bisa diberikan tes CFIT atau tes IST. Untuk melihat potensi intelektual berkaitan dengan kemampuan pengambilan keputusan, problem solving, dan pertanggungjawaban kognitif terhadap perilaku. Semoga Contoh Laporan Hasil Periksaan Psikologis kasus Pidana ini bermanfaat.

 

admin No Comments

Kompetensi Berpikir Konseptual untuk Mengidentifikasikan Permasalahan

Kompetensi Berpikir Konseptual atau Conceptual Thinking, (Kode :CT). Merupakan kemampuan memahami situasi atau masalah dengan cara memandangnya sebagai satu kesatuan yang terintegritas. Berpikir Konseptual mencakup kemampuan mengidentifikasi ; dan memahami pola keterkaitan antara masalah yang tidak tampak dengan jelas atau kemampuan mengidentifikasi permasalahan yang utama yang mendasar dalam situasi yang kompleks.

Kompetensi Berpikir Konseptual meliputi :

  1. Melihat perbedaan antara situasi dan hal-hal yang pernah terjadi sebelumnya
  2. Menggunakan logika dan pengalaman masa lalu dalam mengenali masalah
  3. Mempraktekkan dan memodifikasi konsep atau metoda yang pernah dipelajari
  4. Mengidentifikasi hubungan dalam data

 

Dalam kamus kompetensi Spencer and Spencer, Berpikir Konseptual memiliki dua dimensi, yaitu :

Berdasarkan kompleksitas dan keaslian konsep atau gagasan; dan berdasarkan Ukuran permasalahan yang dihadapi.

 

Kompetensi Berpikir Konseptual Dimensi Kompleksitas dan keaslian konsep atau gagasan

Tidak menggunakan konsep abstrak; mendapatkan point 0. Mampu berpikir secara kongkrit, tetapi tidak nampak berpikir konseptual.

Menggunakan rumusan sederhana; mendapatkan point 1. Menggunakan akal sehat, pengalaman masalah lalu untuk mengidentifikasi situasi atau masalah. Melihat kesamaan antara pemasalahan sekarang dan masalah lalu.

Menggunakan rumusan sederhana; mendapatkan point 2. Menggunakan akal sehat, pengalaman masalah lalu untuk mengidentifikasi situasi atau masalah. Melihat kesamaan antara pemasalahan sekarang dan masalah lalu.

Menerapkan rumusan yang komplek; mendapatkan point 3. Seperti analisis akar masalah. Atau menerapkan pengetahuan masa lalu, kecenderungan dan hubungan antara berbagai situasi yang berbeda. Menerapkan dan memodifikasi konsep belajar secara wajar.

Menyederhanakan hal yang kompleks; mendapatkan point 4. Menyatukan ide, isu-isu, dan observasi menjadi konsep tunggal atau penjelasan yang jelas. Mengidentifikasi isu kunci dalam situasi kompleks.

Membuat konsep-konsep baru; mendapatkan point 5. Mengidentifikasikan masalah dan keadaan yang tidak jelas bagi orang lain dan tidak menggunakan pelajaran dari masa lalu dengan memunculkan cara pandang baru.

Membuat konsep–konsep baru untuk isu – isu kompleks; mendapatkan point 6. Memformulasikan penjelasan yang berguna untuk situasi – situasi, permasalahan – permasalahan, atau kesempatan – kesempatan yang kompleks. Memunculkan dan menguji berbagai konsep dugaan atau penjelasan untuk situasi tertentu, atau mengidentifikasikan penjelasan hubungan- hubungan yang bermanfaat dari berbagai data kompleks yang berasal dari bidang area yang tidak saling berkaitan

Membuat model – model baru; mendapatkan point 7. Menyelesaikan suatu permasalahan yang kompleks dengan menggunakan model atau teori baru yang diciptakan.

 

 

Kompetensi Berpikir Konseptual Dimensi Ukuran permasalahan yang dihadapi

Memikirkan performansi satu atau dua orang; mendapatkan point 1.

Memikirkan unit kerja kecil atau unit penjualan skala sedang, atau salah satu aspek dari unit yang lebih besar; mendapatkan point 2.

Memikirkan masalah yang dihadapi; mendapatkan point 3. Dapat termasuk unit kerja berukuran sedang , beberapa penjualan,dan penjualan yang cukup besar.

Memikirkan performansi keseluruhan organisasi; mendapatkan point 4. Termasuk dari divisi atau organisasi besar dari suatu perusahaan besar, atau keseluruhan perusahaan berukuran kecil.

Memikirkan performansi jangka panjang yang berkelanjutan; mendapatkan point 5. Berhubungan dengan divisi atau organisasi yang besar, atau seluruh perusahaan dalam lingkungan yang kompleks.

 

Demikian artikel tentang Kompetensi Berpikir Konseptual menurut kamus Kompetensi Spencer and Spencer. Dimensi-dimensi dari berpikir konseptual sangat dibutuhkan dalam melakukan asesmen kompetensi terhadap asesi pemegang jabatan.

admin No Comments

Asesmen Kepercayaan Diri untuk Menyelesaikan Tugas Kerja

Asesmen Kepercayaan Diri atau dalam bahasa tes kompetensi dengan kode SCF – Self Confidence. Kepercayaan diri menjadi salah satu aspek psikologi yang paling sering dilihat kompetensinya dalam bidang industri organisasi. Untuk melihat Asesmen kompetensi Kepercayaan diri bisa dilihat dari dua panduan umum kompetensi, yaitu di Kamus Kompetensi Spencer & Spencer, dan kamus kompetensi general.

 

Asesmen Kepercayaan Diri untuk Menyelesaikan Tugas Kerja

Asesmen Kepercayaan Diri untuk Menyelesaikan Tugas Kerja

Asesmen Kepercayaan Diri: Definisi dan Indikator

Dalam kamus Spencer dan Spencer, Kepercayaan diri dipahami sebagai keyakinan orang pada kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan suatu tugas atau tantangan atau pekerjannya.

Indikator Kepercayaan diri terdiri dari:

  • Tetap melakukan tindakan yang diyakini, meskipun ditentang orang lain
  • Merupakan pribadi yang yakin atau percaya terhadap penilaian atau kemampuan diri sendiri.
  • Menyatakan suatu posisi yang jelas dan percaya diri terhadap orang lain.
  • Bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat
  • Belajar dari kesalahan, menganalisis performansi dan mau memperbaikinya

 

Asesmen Kompetensi Kepercayaan diri menurut Kamus Spencer & Spencer

Dalam kamus Spencer and Spencer, kepercayaan diri ada dua dimensi, yaitu

  1. Keyakinan terhadap diri sendiri dalam menghadap tantangan atau resiko
  2. Tanggung jawab yang diambil dalam menghadapi kegagalan

 

Dimensi Keyakinan terhadap diri sendiri dalam menghadap tantangan atau resiko

 

Tidak berlaku atau menghidari tantangan; mendapatkan point 0. Digambarkan sebagai pribadi yang tidak percaya diri.

Impresif atau memaparkan kekuatan diri; mendapatkan point 1. Membuat keputusan tanpa mengindahkan ketidaksetujuan selain yang berwenang. Namun, bila tindakannya melawan pengawas sampai dengan level 5.

Menyatakan rasa percaya diri atas kemampuannya; mendapatkan point 3. Memandang diri sebagai ahli, orginisator, atau penggerak utama. Membandingkan diri dengan orang lain mengungkapan rasa percaya diri berdasarkan pertimbangan kemampuan sendiri.

Menunjukan ras percaya diri; mendapatkan point 4. Menempatkan posisi secara jelas dalam suatu konflik. Melakukan perbuatan untuk membuktikan apa yang telah diucapkan.

Menerima tantangan dengan suka rela; mendapatkan point 5. Merasa senang dengan tantangan, dan mencari tanggung jawab yang lebih besar tanpa diminta.

Menempatkan diri dalam suatu yang sangat menantang; mendapatkan point 6. Mengambil tugas yang sangat menantang dan menentang atasan atau konsumen.

 

Dimensi Tanggung jawab yang diambil dalam menghadapi kegagalan

Menerima tanggung jawab; mendapatkan point 1. Mengakui kesalahan secara spesifik dan tidak secara umum. Seperti pernyataan “saya salah menilai situasinya saat itu!”.

Belajar dari kesalahan diri sendiri; mendapatkan point 2. Menganalisa perfomansi diri dan mengerti kesalahannya, dan melakukan perbaikan. Seperti pernyataan “karena saya ceroboh!”.

Mengakui kesalahan diri terhadap orang lain dan bertindak untuk memperbaiki masalah; mendapatkan point 3.

 

Asesmen Kompetensi Kepercayaan diri menurut Kamus Kompetensi General

Bertindak percaya diri dalam pekerjaannya; mendapatkan point 1. Perilaku yang muncul melingkupi kriteria : bekerja sendiri tanpa perlu supervisi langsung, Tampil percaya diri dan mampu mempresentasikan dirinya, dan mengambil keputusan sesuai dengan otoritasnya, tanpa perlu persetujuan orang lain bahkan bila orang lain tidak setuju.

Menyatakan keyakinan atas kemampuan sendiri ; mendapatkan point 2. Menggambarkan dirinya sebagai seorang ahli, seseorang yang mampu mewujudkan sesuatu menjadi kenyataan, dan seorang penggerak atau seorang nara sumber. Secara eksplisit menunjukkan kepercayaan akan penilaiannya atau kemampuannya sendiri. Melihat dirinya lebih baik dari orang lain.

Menyukai tugas yang menantang; mendapatkan point 3. Menyukai tugas-tugas yang menantang dan mencari tanggung jawab baru. Bicara terus terang jika tidak sependapat dengan manajemen, pelanggan atau orang-orang lain yang lebih kuat, tetapi tetap mengutarakan pendapatnya dengan sopan. Menyampaikan pendapat dengan jelas dan percaya diri walaupunpun dalam situasi konflik.

Memilih situasi yang sangat menantang; mendapatkan point 4. Secara sukarela mau melakukan tugas yang sangat menantang. Misalnya mengandung resiko tinggi bagi pribadinya. Melakukan konfrontasi secara terbuka dengan pelanggan atau manajemen dalam menghadapi suatu isu.

 

Demikian artikel tentang Asesmen Kepercayaan Diri menurut kamus kompetensi Spencer and Spencer dan kamus kompetensi General.