admin No Comments

Cara Stimulasi Anak Usia 3 – 6 Tahun

Anak yang normal akan memiliki respon yang bagus terhadap berbagai hal. Anak dengan usia 3 hingga 6 tahun memiliki proses pemikiran dan lebih mudah dalam mengolah pengetahuan dengan cara yang mereka inginkan. Umumnya mereka akan lebih mudah jika sembari bermain. Pengetahuan di masukkan secara perlahan dengan bermain.

Cara Stimulasi Anak Usia 3 – 6 Tahun

Stimulasi Anak dalam Kemampuan Berbahasa

Anak dengan usia 3 hingga 6 tahun harus memiliki kemampuan berbahasa. Dalam hal ini, orang tua memiliki peran yang penting. Orang tua harus mampu memberikan stimulus kepada anak agar anak memiliki kemampuan berbahasa.

Melakukan percakapan dengan anak untuk memperkaya kosa kata yang dimiliki oleh si anak. Orang tua bisa memperkenalkan bahasa yang bagus untuk anak. Selain melalui percakapan ringan, orang tua dapat membuat permainan atau game, yang mampu melatih kemampuan anak.

Permainan seperti memilih kata yang benar dan sebagainya. Jika hal ini di lakukan orang tua secara konsisten dengan tingkat kesulitan yang bertahap, maka dapat memberikan stimulus yang baik untuk kemampuan berbahasa sang anak.

Stimulasi Anak dalam Kemampuan Sosial

Hal yang tak kalah penting dari kemampuan berbahasa adalah kemampuan sang anak untuk dapat bergaul dengan teman sebaya. Hal ini bisa di sebut dengan kemampuan dalam bersosial. Kasih sayang yang besar dari orang tua pada si anak, kerap membuat orang tua membatasi sang anak untuk bermain dengan teman sebaya.

Sebenarnya hal ini akan menimbulkan banyak kerugian untuk kemampuan anak dalam bersosial. Orang tua dapat mengenalkan lingkungan bermain pada anak, mengajak anak untuk selalu berkenalan dengan teman baru. Kemudian mengajarkan tata cara bergaul dengan teman yang sesuai, dimana selalu membantu teman.

Tidak merugikan teman dan lain-lain. Hal ini akan membeirkan stimulus yang kelak saat remaja dapat membangun karakter yang bagus untuk anak. Pengajaran yang di berikan sejak kecil akan memberikan nilai pada saat anak menjadi remaja.

Stimulasi Anak dalam Kemampuan Emosional

Kemampuan emosional juga tak kalah penting dari kemampuan yang lain orang tua harus bisa membuat anak memiliki kemampuan emosional yang baik. Orang tua harus memiliki pengetahuan terkait dengan karakter sang anak sejak kecil.

Bagaimana anak mengolah emosinya dengan baik. Kemudian berbekal dengan pengetahuan tersebut, orang tua dapat mulai membangun emosi anak menjadi lebih baik. Dapat melalui berbagai macam permainan yang memiliki dampak terhadap perkembangan emosional.  Seperti anak yang selalu memiliki watak atau sifat pemarah.

Dalam hal ini orang tua bisa mengatakan untuk memiliki hati yang sabar dengan cara memberikan contoh. Anak akan dengan mudah mengerti apa yang di ajarkan oleh orang tua, jika di beri contoh secara langsung oleh orang tua.

Membangun karakter anak dapat di mulai dari anak masih pada usia dini. Hal yang bisa di lakukan adalah dengan cara melakukan stimulus pada beberapa kemampuan yang dimiliki oleh anak. Anak sebenarnya memiliki kemampuan dan potensi yang sudah melekat dalam dirinya.

Baca Juga: Tips Mendidik Anak Usia Dini Sesuai Perkembangan Psikologi

Namun, jika tidak di berik stimulus, maka potensi tersebut tidak akan terasah. Selain itu, orang tua harus selalu mengarahkan dan mengajarkan berbagai hal yang baik untuk anak sejak kecil. Agar kelak saat tumbuh remaja menuju dewasa, anak memiliki karakter yang positif dan selalu berbuat berbagai hal yang positif. Jadi, bagaimana karakter anak terbentuk, hal itu bergantung bagaimana pendidikan yang di berikan oleh orang tua.

admin No Comments

Tips Mendidik Anak Usia Dini Sesuai Perkembangan Psikologi

Anak yang masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan memiliki pola didikan yang berbeda. Orang tua tak boleh lengah dalam mendidik, sehingga harus tetap memantau anak. Pendidikan yang di berikan oleh orang tua akan memberikan bekas pada sang anak. oleh karena itu, mendidik dengan tepat dan sesuai psikologi perkembangan adalah hal yang harus di lakukan oleh orang tua.

Tips Mendidik Anak Usia Dini Sesuai Perkembangan Psikologi

Anak dengan Usia Masih di Bawah 1 Tahun

Anak yang memiliki usia di bawah 1 tahun memiliki karakter yang sangat sensitif. Mereka akan mudah takut oleh hal baru, suasana baru. Kemudian untuk mengekspresikan rasa takutnya, ia akan menangis. Ia akan membuat kegaduhan lain untuk mendapatkan perhatian lebih.

Hal ini di karenakan mereka belum mampu melakukan kendali pada emosinya, sehingga apapun yang ingin di lakukan jika gagal, maka mereka akan mengekspresikan dengan amarah, menangis dan sebagainya. Bahkan, setiap benda asing yang ia temui juga akan di masukkan ke dalam mulut. Tak peduli apakah benda tersebut kotor atau tidak.

Untuk mendidik anak usia dini yang masih berada di umur kurang dari satu tahun adalah dengan melakukan pola asuh sama yang konsisten. Tak perlu melakukan kekerasan jika merasa jengkel. Karena hal itu malah akan merubah karakter baik yang ada dalam diri anak. tunjukkan berbagai hal positif dan juga arahkan untuk selalu melakukan hal yang positif.

Anak dengan Usia Antara 2 Hingga 3 Tahun

Anak dengan usia 2 hingga 3 tahun memiliki kecenderungan untuk memberontak. Seperti selalu pergi bermain bersama dengan teman. Tidak mengenal waktu dan juga lelah. Anak seperti pada usia ini akan mudah bosan terhadap banyak hal. Awalnya mereka akan mulai merasa antusias terhadap banyak hal dan pengetahuan baru. Namun, setelah lama bermain, maka ia akan merasakan kebosanan.

Selain itu, anak dengan usia ini akan mulai mudah mengingat berbagai hal. Sehingga sebagai orang tua, harus bisa memberikan pengajaran yang baik agar sang anak selalu mengingat hal baik. Cara yang tepat untuk mendidik anak pada usia 2 hingga 3 tahun adalah dengan cara memberikan fasilitas belajar yang menarik. Fasilitas ini nantinya akan memberikan rangsangan kepada sang anak untuk semakin suka belajar.

Selain itu, anak pada usia ini cenderung tidak akan merasakan bahwa ia mulai lapar atau kelelahan. Orang tua harus mampu melihat kondisi anak. Bagaimana keadaan anak. Bagaimana karakter yang di tunjukkan oleh anak saat ia merasa kelelahan atau kelaparan. Sehingga orang tua harus mampu dan mengenal dengan baik bagaimana sang anak.

Kemudian terkait dengan proses pembelajaran, anak dengan usia 2 hingga 3 tahun, sudah bisa di ajak berkomunikasi terkait dengan pengenalan nama hewan, nama benda dan lain sebagainya. Orang tua harus memiliki usaha yang baik untuk mendidik anak yang masih berada pada tahap usia dini. Hal ini agar si anak memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Setiap perkembangan anak akan sesuai dengan pendidikan yang di berikan orang tua.

Baca Juga: 5 Hal yang Perlu Dilakukan Agar Anak Cerdas Sejak Kecil

Kemudian perkembangan juga akan berpengaruh terhadap bagaimana karakter anak saat dewasa. Oleh karena itu, menyesuaikan pola asuh dan juga pola pendidikan sesuai dengan umur anak adalah hal yang penting untuk dilakukan. Memaksakan suatu pendidikan untuk anak yang belum sesuai dengan usia malah akan membuat pendidikan tidak tercapai.

admin No Comments

5 Hal yang Perlu Dilakukan Agar Anak Cerdas Sejak Kecil

Para orang tua pasti menginginkan anak yang cerdas. Kecerdasan anak sudah bisa terlihat sejak kecil. Anak memiliki potensi yang sama untuk menjadi cerdas. Hal itu bergantung bagaimana cara orang tua memperkaya dan juga melatih potensi si anak. Bagi para orang tua, berikut ini merupakan cara yang bisa di lakukan agar anak menjadi cerdas sejak masih kecil.

Apa saja 5 hal itu?

5 Hal yang Perlu Dilakukan Agar Anak Cerdas Sejak Kecil

  • Memberi Anak Nutrisi yang Cukup dan Seimbang

Asupan makanan yang di konsumsi sang anak setiap harinya akan memberikan pengaruh. Pengaruh bukan hanya pada tubuh tapi pada otak juga. Orang tua harus mampu memberikan pilihan makanan yang benar-benar sehat untuk tumbuh kembang anak. makanan yang kaya akan nutrisi bisa menjadi salah satu solusi.

Kemudian anak yang masih kecil, umumnya akan aktif bergerak. Hal ini juga harus di perhatikan oleh orang tua. kandungan zat besi harus seimbang. Orang tua harus memberikan asupan makanan yang bisa membuat anak semakin bersemangat. Bukan malah loyo. Berikan makanan yang sehat dan juga alami. Usia masih kecil sangat di larang untuk mengkonsumsi makanan yang instan.

  • Mempelajari Gaya Belajar Sang Anak

Anak memiliki kebiasaan belajar yang di bawa sejak kecil. Dalam upaya mengetahui hal tersebut, orang tua dapat melakukan beberapa tes sederhana yang di tunjukkan pada si anak. Tes ini nantinya akan memberikan informasi terkait gaya belajar.

Setelah mengetahui hal tersebut, orang tua bisa memanfaatkannya untuk melatih kemampuan berpikir dan juga potensi si anak. Ajari anak untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya, hal ini agar setiap hal yang di pelajari akan menjadi mudah untuk di ingat.

  • Mengajarkan Membaca Secara Bertahap

Anak harus bisa membaca sejak kecil. Meski hanya pada hal yang sederhana dengan jumlah kata sedikit. Orang tua memiliki peran penting disini. Karena orang tua yang akan memberikan pengaruh kemampun membaca pada si anak. Melatih anak untuk membaca secara bertahap adalah hal yang bisa di lakukan.

Jangan memaksa anak untuk langsung mampu membaca dengan benar. Latihlah dengan sabar, apabila anak belum bisa maka Anda harus memaklumi sembari terus melatih si anak. Pembelajaran sesuaikan dengan tingkatana umur si anak.

  • Mendepankan Proses dari Pembelajaran

Orang tua memiliki peran dalam perkembangan sang anak. Orang tua yang melulu berpacu pada hasil tanpa melihat proses yang ada, malah membuat anak semakin tertekan. Hal ini tentu saja membuat perkembangan sang anak terhambat.

Orang tua harus melihat proses yang di lakukan oleh sang anak dari pada sekadar hasil. Karena hasil merupakan buah yang timbul akibat proses yang di lakukan.

Baca Juga: 5 Solusi Buat Kamu yang Mudah Putus Asa

  • Memberikan Kesempatan Anak untuk Berkreativitas

Jangan mengekang anak atau memberinya batasan dalam bermain yang memunculkan kreativitas. Mungkin bagi Anda permainan tersebut buruk, atau kotor. Namun jika itu dapat melatih kreativitas yang ada pada anak, maka harus di maklumi. Anak yang terbiasa berpikir kreatif sejak kecil, akan menjadi pribadi yang cerdas saat dewasa.

Mendidik anak agar cerdas merupakan suatu tantangan tersendiri bagi orang tua. Kecerdasan bisa saja berasal dari faktor genetik. Namun, yang menjadi pengaruh paling utama adalah kecerdasan yang di timbulkan oleh perkembangan anak dan juga ptensi yang dimilikinya sejak masih kecil. Sehingga orang tua harus bisa mengasah poteni si anak dengan cara-cara jitu yang tepat.

admin No Comments

5 Solusi Buat Kamu yang Mudah Putus Asa

Putus asam merupakan hal yang sering muncul apabila seseorang merasakan kegagalan dalam hal-hal yang di lakukan. Apakah putus asa termasuk hal yang baik, tentu saja tidak. Putus asa dapat membuat orang merasa kehilangan harapan dan  malas memulai upaya atau usaha baru untuk mencapai hal tertentu. Putus asa dapat di sebut sebagai awal dari kegagalan. Bagi Anda yang sering putus asa, berikut ini meru[akan solusi tepat.

5 Solusi Buat Kamu yang Mudah Putus Asa

Anggap Kegagalan Sebagai Ajang Memperkaya Potensi Diri

Kegagalan bukan tanda bahwa diri tak memiliki potensi. Potensi yang dimiliki mungkin saja belum terasah dengan benar. Sehingga masih menghadapi kegagalan. Adanya kegagalan merupakan suatu kesempatan untuk mampu mengasah kembali potensi yang dimiliki. Dengan begitu, Anda dapat mempersiapkan diri lebih baik dalam menghadapi tantangan berikutnya.

Potensi diri akan semakin di tempa dan juga dapat di lakukan evaluasi yang lebih baik. Hal ini mampu memberikan Anda potensi dan kemampuan diri yang lebih baik. Sehingga saat menghadapi kesempatan lainnya, Anda akan lebih mampu menyelesaikan dengan sempurna.

Anggap Kegagalan Sebagai Kesempatan Meraih Keberhasilan Lebih Besar

Pikiran merupakan salah satu faktor yang bisa mempengaruhi tingkat putus asa seseorang. Memiliki pemikiran bahwa kegagalan merupakan suatu kesempatan lain untuk mendapat keberhasilan adalah pemikiran yang tepat. Gagal dalam tantangan merupakan suatu kesempatan untuk dapat meraih keberhasilan lain dalam tantangan yang lainnya. Sehingga jangan menganggap kegagalan merupakan sebuah akhir dalam perjuangan.

Keberhasilan dapat di peroleh dari kemampuan yang tinggi di sertai dengan peluang yang tepat. Kegagalan yang di terima saat ini bisa saja merupakan cara untuk menuju suatu peluang besar yang lebih tepat.

Benahi Kegagalan dengan Terus Berusaha Mendapatkan Peluang yang Baru

Kegagalan memang sering membuat seseorang merasa sangat terpukul. Namun, Anda harus bersyukur, karena dengan kegagalan di satu kesempatan. Maka Anda akan mendapatkan peluang baru dari kesempatan yang lain. Bisa jadi, kesempatan yang lain tersebut malah lebih bagus dan memiliki hasil yang lebih baik dari pada kesempatan yang awal. Jangan memandang remeh kesempatan apapun, gunakan potensi dan ambil peluang yang baru.

Simak Kisah Orang Sukses yang Telah Berulang Kali Mengalami Kegagalan

Solusi untuk orang yang baru saja kegagalan dan mengalami keterpurukan akibat kegagalan adalah dengan selalu menyimak berbagai kisah inspiratif dari orang-orang yang sukses. Dari kegagalan tersebut  mereka di tempa dan juga memiliki karya dan potensi yang tinggi. Sehingga akhirnya mereka mendapatkan peluang yang bagus dan mendapatkan keberhasilan.

Menanamkan Pemikiran Positif Terhadap Kegagalan

Pikiran adalah faktor utama pembentuk suatu keberhasilan dan juga mengolah diri menjadi lebih baik. Oleh karena itu, memiliki pemikiran yang baik dan juga dapat menjadikan suatu keberhasilan.

Berpikir bahwa kegagalan merupakan suatu ketentuan dan Anda di persiapkan untuk sebuah tantangan yang baru merupakan pemikiran positif terhadap kegagalan. Selain itu, berpikir bahwa suatu kegagalan merupakan sarana untuk melatih mental dan juga pikiran adalah hal yang tepat dan bisa menjadi solusi dari suatu kegagalan.

Baca Juga: Cara Membaca Mata Seseorang Menurut Psikologi

Putus asa merupakan sebuah karakter yang apabila di pelihara akan berakibat buruk. Menghilangkan sifat putus asa dapat di lakukan melalui berbagai pelatihan terkait putus asa yang tepat. Cara melatih diri agar terhindar dari sifat putus asa umumnya berasal dari pemikiran yang positif. Pemikiran yang positif dapat merubah karakter putus asa seseorang.

admin No Comments

Cara Membaca Mata Seseorang Menurut Psikologi

Mata merupakan indera yang paling menarik. Berbagai pandangan yang di keluarkan secara mendalam dari mata, akan memiliki makna yang dalam pula. Mata seseorang ternyata memiliki makna yang bisa menggambarkan beberapa hal terkait diri orang tersebut. Terdapat suatu cara dalam psikologi yang bisa di gunakan untuk mengetahui kondisi seseorang hanya dengan melihat melalui matanya.

Jika di perhatikan secara mendalam, sebenarnya mata seseorang memiliki arti tersendiri. Mata seseorang dapat menunjukkan karakter yang di milikinya. Karakter berarti mengarah bagaimana sifat dan juga keseharian yang mungkin di lakukan oleh orang tersebut. Hal itu dapat di lihat dari mata.

Cara Membaca Mata Seseorang Menurut Psikologi

Membaca Mata Berdasarkan Ukuran Mata

Orang umumnya memiliki tiga jenis mata yang berbeda apabila di lihat dari besar ukurannya. Orang yang memiliki mata sipit, cenderung memiliki kepribadian yang mudah tertawa atau dalam artian periang. Namun, orang ini, akan sangat sulit untuk memaafkan jika telah terlanjur memiliki rasa kekecewaan.

Seseorang dengan mata yang sedang cenderung memiliki sikap yang sederhana. Orang ini akan memiliki banyak pertimbangan terhadap banyak hal. Sehingga ia akan cenderung menentukan langkah yang tepat dalam menentukan suatu solusi.

Seseorang dengan kondisi mata lebar akan cenderung memilki sifat mudah tersinggung dan mudah marah. Sehingga orang seperti ini akan kesulitan untuk di ajak bercanda berlebihan yang memiliki pembahasan sehingga menyinggung dirinya.

Terkait dengan ukuran dan bentuk mata, tidak selalu memberikan makna yang benar terkait karakter seseorang. Dalam hal ini, Anda harus mengenal lebih dekat karakter seseorang. Sehingga Anda tidak akan salah menilai karakter orang tersebut.

Membaca Mata Berdasarkan Gerakan Mata

Gerakan mata juga memberikan banyak arti karakter orang. Hal ini dapat dilihat saat Anda mengalami kontak mata dengan orang tersebut. Orang yang memiliki gerakan berkedip secara pelan, memberikan tanda bahwa orang tersebut tidak berbicara bohong. Dalam artian berbicara apa adanya.

Kemudian orang yang menggosok mata secara tiba-tiba saat sedang berbicara, memiliki kemungkinan bahwa orang tersebut sedang berusaha untuk mengalihkan pandangan. Hal ini bisa berarti orang tersebut mengatakan hal yang tidak jujur.

Seseorang yang cenderung mengedipkan matanya secara cepat, memiliki tanda bahwa ia sedang mengalami hal yang berat. Sehingga tekanan seperti membuatnya stress. selain itu, bisa saja ia merasa tidak suka dengan apa yang di bicarakan oleh orang lain.

Seseorang dengan kecenderungan melirik ke arah bawah sebelah kanan, dapat memiliki kemungkinan bahwa orang tersebut sedang mencari kosa kata atau pembicaraan yang kreatif. Tetapi jika ia melirik ke arah kiri atas, hal tersebut dapat di baca sebagai upaya orang dalam mengingat suatu hal.

Seseorang yang melirikkan matanya ke arah kanan pada saat berbicara juga memiliki maksud tersendiri. Orang dengan mata melirik ke arah kanan sebelah atas, merupakan upaya untuk mencari pemikiran dan solusi yang terbaik dari masalah yang mungkin saja di ungkapkan oleh temannya. Kemudian orang yang melirik ke arah kanan bawah, merupakan upaya dalam mempertimbangkan banyak hal dalam upaya mengambil keputusan tepat.

Baca Juga: Cara Menghadapi Orang Tua yang Belum Siap Melepas Anaknya Dewasa

Membaca gerakan mata berdasarkan ukuran dan juga lirikan mata merupakan hal yang tidak bisa dijadikan dasar dalam menilai kegiatan atau karakter setiap orang. Namun, hal tersebut merupakan bentuk pendekatan dalam menilai karakter yang memiliki kemungkinan benar. Sehingga apabila Anda ingin melakukan identifikasi, membaca mata bisa di jadikan salah satu caranya.

 

admin No Comments

Cara Menghadapi Orang Tua yang Belum Siap Melepas Anaknya Dewasa

Orang tua memiliki sudut pandang yang berbeda tentang kedewasaan sang anak. Kerap sekali hal tersebut bertolak belakang dengan anak. Tak jarang pertikaian terjadi di antara mereka. Dalam upaya untuk menghindari hal tersebut, anak harus memiliki strategi dan metode yang tepat dalam menangani perbedaan yang terjadi dengan orang tua.

Cara Menghadapi Orang Tua yang Belum Siap Melepas Anaknya Dewasa

Lakukan Pengamatan Terhadap Permintaan Orang Tua

Banyak orang tua yang meminta hal macam-macam pada anak. Tak jarang hal ini membuat sang anak malah semakin frustasi. Banyaknya permintaan seperti memberikan sedikit ruang gerak. Sehingga memiliki kesan seperti melakukan pengekangan pada sang anak.

Permintaan tersebut memiliki artian bahwa orang tua belum yakin bisa memperlakukan anaknya seperti orang dewasa. Dal hal ini sang anak, harus mengerti terlebih dahulu dengan melakukan pengamatan terhadap situasi saat itu. Pengamatan ini di lakukan sebagai upaya untuk mengetahui maksud sesungguhnya dari orang tua. apakah orang tua benar-benar menginginkan sesuatu atau sekadar ingin berinteraksi lebih banyak dengan sang anak.

Beri Batasan Pada Diri Sendiri dalam Setiap Keinginan Orang Tua

Orang tua sering melakukan hal-hal yang mendesak sang anak. Anak akan merasa tertekan ketika harus memenuhi seluruh keinginannya. Hal ini juga berkaitan dengan tujuan anak yang tidak sesuai dengan kehendak orang tua. Sehingga orang tua membuat hal-hal yang bertentangan sebagai upaya menghalangi sang anak dari tujuannya.

Dalam hal ini, anak harus memahami situasi, apakah harus menuruti permintaan orang tua, atau menolak secara halus. Hal ini bisa menjadi pilihan bagi anak. Anak juga harus memiliki batasan terhadap setiap permintaan dari orang tua. Agar tidak menimbulkan tekanan yang bisa berakibat stress.

Berpikir Kritis Terhadap Setiap Permintaan Orang Tua

Menjadi anak harus memiliki pemikiran yang kritis. Hal ini seperti mempertanyakan keinginan orang tua. Apakah keinginan tersebut memang harus dan penting untuk di ikuti. Sehingga jika tidak di ikuti, akan memiliki dampak yang amat besar. Seperti keretakan yang menjadi dalam hubungan antara anak dan orang tua.

Atau keinginan orang tua hanya sebatas manipulasi untuk sang anak agar menuruti keinginannya. Jika memang demikian, anak harus memiliki batasan dan juga cara yang tepat untuk mengatasi keinginan orang tua.

Mencari Jalan Tengah Terhadap Setiap Permintaan Orang Tua

Banyak anak yang merasa tertekan dengan sikap orang tua yang selalu menuntut berbagai hal. Bahkan, hingga kehidupan pribadi di lakukan koreksi dan juga pantauan dari orang tua. hal ini seperti tidak mengizinkan anak untuk bersikap menjadi dewasa. Dalam hal ini, meminta bantuan saudara dapat di gunakan sebagai jalan tengah untuk mencairkan kondisi tersebut.

Ungkapkan Perasaan dengan Cara yang Berbeda

Apabila anak kesulitan untuk mengatakan kemauannya dan perasaannya, maka dapat menggunakan cara lain. Seperti bertukar surat pada orang tua. anak dapat mengungkapkan berbagai hal yang mengganggu dirinya terkait dengan sikap orang tua.

Anak juga harus memahami bahwa orang tua yang kerap meminta banyak hal dan cenderung tidak ingin membiarkan sang anak lepas menjadi dewasa, merupakan bentuk kasih sayang yang berlebih. Sehingga menyalahkan orang tua terhadap hal tersebut bukanlah cara yang tepat.

Baca Juga: Memahami Kesehatan Mental dan Self Love Sebagai Salah Satu Terapinya

Hal yang tepat untuk dapat di lakukan adalah dengan mencari solusi yang tidak akan merugikan kedua belah pihak dan tentunya tidak membuat orang tua merasa sakit hati terhadap sikap anak.

admin No Comments

Memahami Kesehatan Mental dan Self Love Sebagai Salah Satu Terapinya

Deepapsikologi.com — Berbicara tentang kesehatan mental, sebelumnya mari kita sedikit ulas terlebih dahulu penjelasan mengenai apa itu sehat dan kesehatan mental. Sehat (Health) secara umum dapat dipahami sebagai kesejahteraan secara penuh (keadaan yang sempurna) baik secara fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah.

Sedangkan di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/ 1992 menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis.

 

Memahami Kesehatan Mental

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya. Singkatnya ialah bahwa orang yang bermental sehat adalah orang yang menguasai dan mengatasi segala faktor perasaan dalam hidupnya. Sehingga tidak menimbulkan gangguan jiwa, neurosis maupun psikosis.

 

Selama ini masih banyak mitos dan konsepsi yang diyakini masyarakat Indonesia mengenai kesehatan mental yang keliru, antara lain gangguan mental :

  1. Adalah herediter/diturunkan
  2. Tidak dapat disembuhkan
  3. Muncul secara tiba-tiba
  4. Merupakan aib/noda bagi keluarga dan lingkungannya
  5. Merupakan peristiwa tunggal
  6. Seks merupakan penyebab munculnya gangguan mental
  7. Kesehatan mental cukup dipahami dan ditangani oleh satu disiplin ilmu saja
  8. Datang ke psikiater hanya untuk orang gangguan jiwa
  9. Kesehatan mental dipandang sama dengan “ketenangan batin”. Kesehatan mental dimaknai sebagai tidak ada konflik, tidak ada masalah, hidup tanpa ambisi, pasrah dan lain sebagainya.

 

Memahami kesehatan mental tak pernah lepas dari penjelasan bahwa seseorang dapat dikatakan sehat mental ketika ia dapat melakukan adaptasi dan penyesuaian diri. Di era revolusi industri 4.0 dan digitalisasi ini, banyak perubahan dalam proses kehidupan sosial masyarakat saat ini. Banyaknya aplikasi-aplikasi yang memudahkan kita dalam banyak hal. Kini membuat masyarakat banyak menyisihkan waktu senggangnya untuk masuk kedalam dunia aplikasi tersebut. Dalam setiap hal, tentu saja ada sisi positif maupun negatifnya.

 

Era Digitalisasi Menyumbangkan Gaya Hidup dan Tekanan Hidup Baru

 

Seperti kita ketahui bahwa dengan pesatnya perkembangan dunia internet, digital maupun teknologi semakin mempermudah proses-proses kehidupan sosial seperti komunikasi, berekspresi, berdiskusi, mencari informasi serta lainnya. Namun, besar pula sisi negatif dari perkembangan yang terjadi ini, terutama dalam dunia internet yang setiap orang bisa melakukan banyak hal atas keinginannya sendiri. Penyebaran berita tidak benar atau hoax, komentar-komentar negatif, hatespeech, dan yang paling sering terjadi juga bullying. Fenomena ini menjadikan seseorang dapat merasa cemas, sedih bahkan depresi hingga yang paling parah ialah bunuh diri (seperti kasus Sulli dan Goo Ha-Ra artis K-Pop) akibat dampak negatif tersebut.

 

Dengan pesatnya perkembangan dunia digital saat ini, isu kesehatan mental selalu muncul hampir setiap hari dalam berbagai media, seperti artikel, jurnal, berita daring, narablog serta unggahan-unggahan dari berbagai akun dalam berbagai media daring. Banyak sekali akun-akun yang aktif mengunggah konten-konten yang termasuk dalam bidang kesehatan mental, baik dari media instagram, twitter, facebook hingga youtube.

pentingnya kesehatan mental

pentingnya kesehatan mental

Adanya Ajakan Kesadaran Kesehatan Mental melalui Jejaring Sosial

Isi dari unggahan konten tersebut cukup menarik, dari yang menjelaskan istilah-istilah kesehatan mental hingga ajakan-ajakan atau mengkampanyekan isu kesehatan mental. Seperti peringatan hari kesehatan mental se-dunia, peringatan hari anti kekerasan, peringatan hari anti bunuh diri dan masih banyak lainnya. Dampaknya, kini masyarakat awam mencari tahu dan mulai sadar akan pentingnya kesehatan mental. Kini, psikolog dan psikiater banyak dicari oleh masyarakat, sebab masyarakat saat ini sudah tidak lagi memandang isu kesehatan mental sebagai hal yang buruk dan dapat disembuhkan dengan cara-cara tradisional seperti dijampi-jampi atau di rukiah.

 

Namun, ada juga dampak yang kurang baik dengan mudahnya akses informasi mengenai kesehatan mental saat ini, tak sedikit masyarakat yang melakukan self diagnose atas dasar apa yang ia alami dan dirasakan relate dengan penjelasan atau arti dari gangguan kesehatan mental yang ada di media daring. Padahal, yang berhak memberi diagnosis seseorang dikatakan mengalami gangguan mental adalah tenaga ahli, yaitu psikolog atau psikiater. Sebenarnya kini sudah banyak akses untuk menemui psikolog atau psikiater. Bahkan kini sudah masuk hingga ke lingkungan fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Maka dari itu, kita perlu bersama-sama untuk saling mengingatkan, membantu dan menguatkan terhadap orang-orang di sekitar megenai kesehatan mental ini.

Dewasa ini juga, isu kesehatan mental sudah tak lagi menjadi hal yang tabu dan kurang diminati untuk dijadikan bahan obrolan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Belakangan ini, berita kematian beberapa artis K-Pop akibat bunuh diri serta booming nya film “JOKER” yang mengangkat isu-isu kesehatan mental menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat awam. Baik melalui obrolan santai, dalam ruang diskusi maupun di media daring. Yang lebih menarik, kini isu-isu kesehatan mental sudah masuk ke ranah musik.

 

Upaya Self Love untuk Mendapatkan Kesehatan Mental

Beberapa musisi bermunculan dengan menciptakan album yang mengandung tema kesehatan mental. Seperti Kunto Aji dengan album “mantra-mantra” nya serta Baskara Putra atau sering disebut Hindia dengan album “menari dengan bayangan” nya. Selain isu kesehatan mental, dua album tersebut juga mengajak para pendengar nya untuk mencoba menikmati proses, berdamai dengan masa lalu dan ajakan untuk lebih mencintai diri sendiri atau yang biasa disebut self-love. Dua album itu sedang banyak didengarkan oleh berbagai kalangan. Terutama orang-orang yang mungkin relate dengan lagu-lagu dari kedua album tersebut.

Bicara tentang self-love tentunya banyak hal yang dapat dilakukan agar kita lebih mencintai diri sendiri. Misalnya seperti menonton film di bioskop sendiri, membaca buku, olah raga teratur. Contoh lain seperti manajemen waktu dalam berselancar di dunia maya, memaafkan masa lalu dan kesalahan yang telah lalu dan masih banyak lainnya. Tidak hanya tentang itu, untuk mecapai tujuan bisa sampai mencintai diri sendiri, banyak hal lain yang perlu dilakukan juga. Seperti mengontrol diri, meregulasi diri, keinginan untuk berkembang, fight dalam setiap permasalahan yang pada akhirnya semua yang dilakukan itu akan merujuk pada self-love itu sendiri.

Apalagi ketika masuk ke ruang media sosial, akan banyak sekali hal-hal yang tidak kehendaki dan inginkan dapat terjadi. Kita harus pintar-pintar mengontrol diri terhadap segala hal yang ada di media sosial. Banyak sekali hal, post atau konten toxic yang bisa saja men-trigger diri kita sendiri. Sehingga dapat membuat kita stres dan mendapat masalah baru hanya karena sebuah post atau konten.

 

Tips untuk Belajar Mencintai Diri Sendiri

Ada beberapa tips dari penulis mengenai cara penulis dalam mencintai diri sendiri pada era digital dan moderen yang akan penulis bagi kan dalam artikel ini. Tips yang Pertama dengan mengurangi penggunaan aplikasi media sosial seperti instagram, facebook dan twitter. Biasanya, dengan berlama-lama dalam aplikasi tersebut dapat membuat kita larut hingga terkadang lupa waktu.

Kedua ialah mengurangi melihat story orang-orang yang kita ikuti akunnya. Terkadang, akan ada perasaan iri, penasaran bahkan curiga atas apa yang orang lain lakukan saat kita sering melihat apa yang orang lain lakukan dalam story itu.

Ketiga ialah perbanyak membaca buku. Dengan membaca buku, pikiran akan lebih terfokus pada apa yang dibaca daripada memikirkan hal lain. Tips yang Keempat ialah mencari teman yang mampu diajak berdiskusi baik diskusi ringan, candaan hingga pembahasan yang memerlukan keseriusan. Kita pasti membutuhkan orang-orang yang support dalam kehidupan sehari-hari selain keluarga. Kelima ialah olahraga secara teratur. Tentunya, mencintai diri tak hanya rohani saja, kesehatan jasmani juga tak kalah pentingnya sebagai penunjang seseorang menjadi sehat mental.

Beberapa tips diatas sudah penulis lakukan hingga saat ini. Semoga tips yang penulis bagikan bisa menjadi referensi ataupun motivasi bagi pembaca. Yang terpenting ialah, setiap orang mempunyai cara masing-masing dan unik dalam memperlakukan dirinya sendiri. Hanya perlu perbanyak action dari setiap rencana yang dibuat serta konsistensi tentunya. Harapannya ialah kita semua bisa menjadi agent of change bagi diri kita sendiri khususnya. Setelah itu kita diharapkan dapat menjadi agent of changeuntuk orang-orang di sekitar kita. Semangat!

 

 

_________

Ditulis Oleh Raka, Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

admin No Comments

Kasus Keraton Agung Sejagat, Raja harus waspada Gangguan Mythomania

Deepapsikologi.com — Kejujuran adalah harta yang mahal. Manusia mudah diyakinkan apabila dalam kondisi biasa atau netral, tetapi mereka menjadi susah percaya apabila pernah dibohongi. Kejujuran dan kebohongan seakan memiliki kekuatan sangat besar apabila dimasukan dalam Classical Conditioning ala Pavlov. Sebuah kebohongan bisa menghilangkan pengaruh stimulus lain sehingga orang susah untuk percaya lagi. Terkadang satu kebohongan besar tidak bisa diobati dengan satu atau beberapa penebusan kesalahan. Orang yang terlanjur dibohongi, tidak mudah percaya lagi. Bahkan orang akan menghindari si pembohong. Kebohongan adalah hukuman (punishment) bagi orang yang percaya dengan kebohongan tersebut. Lalu bagaimana kebohongan-kebohongan bisa dibuat begitu indah sehingga banyak orang yang terperdaya.

 

merasa raja dan gangguan mythomania

merasa raja dan gangguan mythomania

Kasus Keraton Agung Sejagat

TSH (42 tahun) dan Kanjeng Ratu (41 tahun) ditahan pihak Kepolisian Jawa Tengah pada 14 Januari 2020. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melanggar Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang penyebaran berita bohong dan Pasal 378 KUHP tentang penipuan 1). TSH adalah orang sama yang mendirikan Jogja Development Commite (DEC) dan memberikan janji-janji manis kepada anggotanya dengan modus pendidikan dan kemanusiaan 2).

Kepada pengikutnya, TSH mengatakan bahwa Keraton Agung Sejagat (KAS) adalah ahli waris Majapahit dan pemegang kekuasaan di seluruh dunia, melebihi Eropa dan Amerika Serikat. Totok menjanjikan jabatan dan gaji dari pencairan dana internasional. Orang-orang yang percaya bahkan rela membayar uang keanggotaan dan uang seragam mencapai 3 juta rupiah. Untuk menguatkan pengakuan, Totok sampai membuat sebuah prasasti supaya orang-orang percaya dengan kisahnya. Bahkan ada parade budaya yang diakhiri dengan deklarasi kekuasaan supaya kegiatannya terlihat resmi di mata pengikutnya.

Pada negara dimana hal-hal klenik dan gaib seringkali dijadikan bumbu sebuah perilaku, adalah lahan yang empuk bagi orang-orang yang suka berbohong, membual dan menawarkan halusinasi. Halusinasi terjadi ketika mimpi menyalahi realita. Halusinasi juga terjadi ketika mimpi-mimpi tanpa tindakan yang nyata. Menjual mimpi sering dijadikan komoditi yang laris. Dan antagonisnya adalah sama, yaitu orang yang suka berbohong.

 

Memahami istilah Gangguan Mythomania

Dalam dunia psikologi, ada sebuah istilah untuk pembohong sejati yaitu mythomania. Psikiater asal Jerman, Anton Delbrueck adalah orang yang pertama kali mencetuskan penyakit ini dengan istilah pseudologia fantastica pada tahun 1891, untuk pasien-pasien yang berbohong secara berlebihan dan terdengar luar biasa 3). Pseudologia fantastica adalah kelainan dimana orang terus berbohong tanpa henti. Kelainan ini kerap diuji dalam bidang forensik untuk mendiagnosa orang-orang dengan dugaan penipuan, membuat tuduhan palsu atau pengakuan palsu. Kebohongan mereka umumnya bertujuan untuk menarik perhatian dan membesar-besarkan kepentingan mereka 4).

Berbeda dengan kebohongan biasa yang kerap dilakukan orang biasa, gangguan mythomania dilakukan secara berulang-ulang dan lebih dramatis. Cerita mereka terperinci, rumit, kaya akan warna dan fantasi. Mereka menempatkan dirinya sebagai korban atau pahlawan dengan tujuan memperoleh simpati dan kekaguman dari orang-orang yang percaya. Hal tersebut dilakukan untuk menciptakan zona nyaman bagi mereka. Bahkan pada tingkat tertentu, pelaku tidak bisa membedakan antara kebohongannya dan khayalan sehingga pelaku justru masuk dalam kebohongan yang dibuatnya sendiri. Mereka memiliki indera persepsi yang tajam sehingga mampu mengelabui firasat orang lain 5).

 

Kasus ‘Raja’ dan ‘Ratu’ Kerajaan Agung Sejagat diindikasikan Mythomania

TSH alias Penguasa di Kerajaan Agung Sejagat (KAS) tentu belum bisa disebut pengidap mythomania. Akan dibutuhkan banyak pengukuran secara bertahap dan mendalam oleh Psikolog atau Psikiater untuk memvonis ke arah sana. Walaupun gejala-gejala (symptom) gangguan mythomania nampak jelas pada perilakunya dan pengakuan orang-orang sekitar, penegakan diagnosa hanya bisa dilakukan oleh Psikolog profesional. Pada kenyataannya, TSH berusaha meyakinkan orang-orang dengan sejarah dan cerita-cerita palsu. Kekayaan yang diumbarnya pun hanya milik orang lain, seperti rumah kontrakan yang diakuinya milik sendiri.

 

Banyak faktor bisa menjadi penyebab gangguan mythomania. Kerusakan jaringan otak, harga diri rendah, kebutuhan neurotik, dan hambatan dalam aktualisasi diri. Otak pada mythomania memiliki white matter lebih banyak daripada grey matter. White matter adalah bagian prefrontal cortex yang menyalurkan informasi lebih cepat dan lebih kompleks dibandingkan grey matter. Apabila white matter berjumlah jauh lebih banyak, maka orang mampu berpikir dan mengatakan gagasan lebih cepat, tetapi tanpa kontrol yang ketat. Hal ini yang memicu seseorang mudah berbohong 6).

 

Harga diri yang rendah bisa memicu orang untuk berbohong. Kegagalan dalam karir, pernikahan, hubungan sosial, dan kegagalan dalam pendidikan meyebabkan inkongruensi. Pada situasi ini terjadi ketidakseimbangan psikologis karena perbedaan (yang cukup jauh) antara konsep diri dan kenyataan yang dialami 7). Inkongruensi bisa menyebabkan perilaku yang tidak konsisten dan sumber kecemasan. Sebagai kondisi yang tidak menyenangkan, kecemasan bisa berubah menjadi ancaman. Ancaman tersebut yang akan memicu seseorang mencoba menyeimbangkan kenyataan dan konsep dirinya. Apabila konsep dirinya terus diperbaiki supaya memperoleh kenyataan yang lebih baik di masa depan, maka dia menjadi individu yang sehat. Akan tetapi apabila kenyataan dipaksakan mengikuti konsep diri, maka orang tersebut mengalami hambatan psikologis. Perilakunya antara lain dengan membohongi orang lain atau membohongi dirinya sendiri.

 

 

Mythomania sebagai gangguan psikologis yang karena Neurotik

Gangguan Mythomania bisa disebabkan karena kebutuhan neurotik. Pembohong sejati mengharapkan penerimaan orang lain dan ketakutan akan penolakan. Kebohongan dilakukan supaya dirinya sejajar dengan harapan orang lain. Kebohongan dilakukan sebagai langkah untuk memasukannya ke dalam zona aman. Pembohong sejati juga haus akan kekuasaan dan kekuatan. Dua hal tersebut dibutuhkan supaya dirinya mampu mengontrol orang lain dan dianggap superior. Dengan menjadi orang yang superior, mereka akan dikagumi oleh orang lain.

Kebutuhan neurotik lain pada gangguan mythomania adalah mengeksploitasi orang lain. Selalu ada ide untuk memanfaatkan kelemahan dan kekurangan pada orang lain. Usaha eksploitasi dengan membohongi korban supaya mereka rela menyerahkan atau menyumbangkan harta yang dimilikinya.

 

Orang-orang yang terhambat dalam aktualisasi diri cenderung menolak beberapa aspek dalam kehidupannya. Penolakan tersebut menyebabkan dirinya menyiasati dengan kebohongan-kebohongan sebagai langkah praktis agar tidak direndahkan orang lain atau teman sebaya. Kebohongan juga bisa digunakan untuk membuatnya tampak unggul di depan orang lain. Kebohongan yang dilakukan secara berulang, apalagi mengandung unsur kenikmatan (pleasure) bisa membuat pelakunya kecanduan dan menjadi sebuah kebiasaan.

 

Bagaimana Menyikapi Pembohong Besar ?

Lalu bagaimana menghadapi pembohong besar ? Anda perlu tahu bahwa mereka bisa berbohong bahkan untuk hal-hal sepele. Anda jangan marah tetapi cukup dengarkan saja, tidak perlu diambil hati atau dipikirkan. Katakan kepada orang itu bahwa Anda lebih menyukai dirinya apa adanya. Dia harus tahu bahwa dia tidak perlu berbohong apabila ingin dijadikan teman. Tunjukan bahwa Anda peduli dengan memintanya berobat ke Psikolog atau Psikiater 8).

 

Siapapun kita pasti pernah berbohong. Sebagai manusia normal, kita berbohong ketika merasa terancam atau takut kehilangan sesuatu yang berharga. Tetapi masih menjadi hal yang wajar apabila kita menyadari kesalahan kita dan tidak mengulangi kebohongan di waktu yang lain. Biasakanlah berkata jujur, berkata apa adanya tanpa ditambahkan atau dikurangi, walaupun kita tahu imbasnya tidak menguntungkan. Kita adalah raja bagi diri kita masing-masing, dan jadilah raja yang jujur. Raja yang jujur tidak akan mengidap gangguan mythomania.

 

 

Referensi :

1) https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200115123401-20-465537/raja-dan-ratu-ditangkap-warga-ramai-datangi-keraton-agung

2) https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2020/01/15/513/1029510/pengakuan-orang-dekat-totok-santoso-raja-keraton-sejagat-tipu-warga-lewat-ormas-dec-diy

3) Thom, R., Teslyar, P., & Friedman, R. (2017). Pseudologia Fantastica in the Emergency Department: A Case Report and Review of the Literature, dalam Jurnal Hindawi, Volume 2017, dari https://doi.org/10.1155/2017/8961256 (Online)

4) Sharma, P.R., Sidana, A., & Singh, G.P. (2007). Pseudologia Fantastica : Case Report, dalam Jurnal Delhi Psychiatry 2007, Vol. 10, No. 1 : 78-80 (Online)

5) Arakelyan, H.S. (2018). Pathological lyar Syndrome-Mythomania, diperoleh dari https://www.researchgate.net/publication/323683318_Pathological_lyar_Syndrome_-_Mythomania

6) Biever, C. (2005). Liars’ brains make fibbing come naturally, diperoleh dari https://www.newscientist.com/article/dn8075-liars-brains-make-fibbing-come-naturally/

7) Feist, J. & Feist, G.J. (2013). Teori kepribadian (S.P. Sjahputri, Penerjemah). Jakarta : Salemba Humanika

8) Santos, A. (2018). How Do I Cope with Someone Being a Pathological Liar, diperoleh dari https://www.healthline.com/health/pathological-liar

 

 

_________

Oleh : Epip Nurdiansah (Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang)

admin No Comments

Ini Lho Penyebab Pernikahan di Usia Dini Menurut Psikolog

Di Indonesia saat ini sedang menjamur nikah muda. Bahkan nikah muda menjadi slogan dan beberapa pembahasan yang saat ini tengah di perbincangkan. Banyak yang bangga terhadap nikah muda, meskipun belum tertata, namun sudah banyak anak yang menikah muda denagn berbagai macam alasan. Agar lebih jelasnya, berikut ini merupakan penyebab dari pernikahan di usia dini.

Ini Lho Penyebab Pernikahan di Usia Dini Menurut Psikolog

Kurangnya Pendidikan yang Memadai

Umumnya pernikahan dini terjadi pada orang-orang yang memiliki tingakt pendidikan rendah dan kurang memadahi. Hubungan antara pernikahan dan pendidikan amatlah banyak. Jika seseorang memperhatikan pendidikan, maka pernikahan dini tidak akan terjadi. Pernikahan dini, menyebabkan wanita hamil di usia yang masih amat muda.

Hamil di usia muda, dapat memberikan dampak yang berbahaya bagi tubuh. Hal ini di karenakan rahim belum mampu dan belum siap apabila di gunakan untuk mengandung janin. Jika hal ini terjadi, maka peluang terjadi masalah pada kehamilan tidak bisa di hindari.

Adanya Ketakutan Berbuat Zina

Adanya kekhawatiran bahwa akan berbuat hal yang di larang. Hal ini terjadi pada remaja yang suka saling suka. Rasa suka yang dimiliki para remaja, masih berupa perasaan yang labil. Sehingga di khawatirkan mereka melakukan berbagai hal yang berlandaskan cinta. Tentu saja, untuk menghindari hal tersebut, pernikahan dini di perlukan.

Terbawa Arus Pergaulan

Pergaulan merupakan suatu faktor yang penting dan memiliki dampak yang besar bagi para remaja. Pergaulan bukan hanya dari segi sekolah, tetapi pergaulan tetangga juga menjadi salah satu faktornya.

Remaja yang hidup di kalangan orang yang sudah tidak tabu lagi terkait dengan nikah mudah, lambat laun akan memberikan pengaruh dan juga stimulus bahwa menikah di usia dini bukanlah hal yang salah dan dapat di lakukan oleh siapa saja. meskipun baru saja memiliki KTP.

Hamil Sebelum Waktunya

Faktor yang satu ini menjadi penyebab yang paling banyak mengapa terjadi menikah di usia dini. Para remaja yang terlalu berlebihan dalam mengekspresikan dan menunjukkan perasaan cintanya, memiliki dampak yang buruk. Remaja yang berbuat hal-hal dilarang denagn berlandaskan cinta, merupakan faktor pasti terjadi pernikahan dini.

Pengaruh Orang Tua

Orang tua memiliki pengaruh dan andil yang amat besar dalam kehidupan anaknya. Orang tua yang memiliki cara didik anak benar, maka anak akan terarah dengan benar. Terdapat banyak tipe dan macam dari orang tua. terdapat orang tua yang memang memiliki tradisi, bahwa menikah pada usia dini merupakan hal yang wajar sehingga mereka memberikan pengaruh dan juga pengertian pada anak agar melakukan tindakan menikah di usia dini.

Terdapat pula orang tua yang tidak menerima adanya menikah usia dini. Umumnya orang tua yang memiliki sikap seperti ini, sangat mementingkan pendidikan dan juga karir sang anak. Jadi, mereka memotivasi sang anak untuk terus menempuh pendidikan dan juga menjalani karier yang cemerlang. Dapat disimpulkan bahwa orang tua menjadi penyebab dari anak yang menikah di usia dini.

Baca Juga: Cara Mendidik Remaja Menurut Ilmu Psikologi

Menikah di usia dini bukanlah suatu kesalahan atau hal yang di larang. Namun, setiap pernikahan seharusnya di jalani oleh kedua orang yang memiliki pengertian dan juga pemikiran secara dewasa. Karena menjalankan rumah tangga sama dengan menjalankan roda kehidupan.

Oleh karena itu, melakukan pemikiran yang matang adalah salah satu hal yang perlu untuk dilakukan. Orang tua harus memiliki cara yang terbaik dalam mengarahkan anaknya.

admin No Comments

Cara Mendidik Remaja Menurut Ilmu Psikologi

Anak pada usia remaja merupakan masa transisi. Seperti peralihan masa kanak-kanak menuju dewasa. Sehingga masa remaja, merupakan masa yang labil. Emosi tak terkontrol dan mudah sekali terbawa oleh perasaan.

Masa remaja merupakan masa seorang anak mencari jati dirinya. Oleh karena itu, orang tua harus mendidik anak pada masa remaja dengan cara yang tepat. Berikut merupakan cara yang tepat mendidik remaja menurut psikologi.

Cara Mendidik Remaja Menurut Ilmu Psikologi

Jadilah Rekan dan Sahabat

Orang tua harus memiliki sikap dan kemampuan untuk bertransformasi menjadi rekan dan juga sahabat bagi sang anak. Hal ini merupakan bentuk mendidik anak agar tidak memiliki sikap yang introvert. Apabila sang anak memiliki sikap introvert, maka hal tersebut akan mempersulit orang tua untuk melakukan kontrol pada anak.

Dengarkan keluhan anak dengan baik dan seksama. Hindari menghakimi dan sebagainya. Namun, berikan solusi yang terbaik dengan cara-cara yang baik. Hal ini akan membuat sang anak merasa di perhatikan. Sehingga tidak akan ragu untuk mengungkapkan masalah-masalahnya.

Jangan Terlalu Mengekang

Orang tua yang selalu mengekang anak di berbagai perbuatannya, akan membuat anak semakin tertekan. Hal ini mengakibatkan anak merasa tak nyaman. Bahkan cenderung menjauh dari orang tua. orang tua harus tahu bagaimana cara bersikap pada anak yang memasuki usia transisi ini.

Biarkan mereka memilik kegiatan yang di sukai, namun sebagai orang tua harus tetap memberikan pengawasan dengan cara memberikan berbagai pertimbangan. Dan juga mengecek bagiamana perkembangan sang anak tanpa harus mengekang.

Awasi Secara Sembunyi-bunyi

Pengawasan yang berlebihan dan di lakukan secara terang-terangan, akan membuat sang anak semakin merasa terbebani. Sehingga orang tua harus memiliki cara bagaimana mengawasi anak secara sembunyi-sembunyi. Dengan hal ini, meskipun terkesan membiarkan sang anak untuk berbuat semaunya, namun kontrol tetap berjalan. Sehingga anak tidak lepas kontrol begitu saja.

Berlaku Tegas Terhadap Kesalahan

Orang tua harus menunjukkan wibawanya pada anak. Berlaku tegas pada anak pada saat membuat kesalahan, merupakan bentuk pendidikan yang tepat bagi remaja. Jika orang tua selalu memberikan keringanan terhadap kesalahan. Hal ini akan membuat anak semakin berani dalam melakukan kesalahan. Karena merasa orang tua tidak begitu memperhatikan.

Berbeda dengan mendidik anak saat kecil yang harus banyak membeirkan toleransi. Saat remaja, orang tua harus mengajarkan sang anak untuk memiliki sikap tanggung jawab terhadap kesalahan yang di lakukan.

Arahkan Jangan Memaksa

Apabila Anda sebagai orang tua ingin sang anak melakukan hal tertentu dalam kehidupannya, misalkan memiliki kegiatan harian, hingga bakat. Maka, orang tua harus memberikan arahan yang bisa menarik minat sang anak terhadap bidang tersebut. Jika arahan yang dilakukan tepat, maka sang anak bisa saja menuruti keinginan orang tua.

hal yang harus di pahami disini adalah, melakukan pemaksaan akan membuat anak tertekan dan tidak akan menurut pada orang tua. Bahkan pada kasus tertentu, anak akan menjadi sangat melawan pada orang tua.

orang tua harus paham bahwa apabila sang anak telah memasuki usia remaja, maka cara didikan yang di lakukan harus berbeda. Orang tua harus memiliki kontrol namun tidak membebani sang anak. hal ini di karenakan, usia remaja merupakan usia yang sangat mudah terseret arus pergaulan.

Baca Juga: Efek Berbahaya Mendidik Anak dengan Kekerasan

Lingkungan hidup, lingkungan sekolah memberikan pengaruh yang sangat besar untuk sang anak. sehingga Anda harus mengatasi berbagai pengaruh tersebut dalam bentukan pendidikan yang tepat.