admin No Comments

Kompetensi Berprestasi untuk Mencapai Target Kerja Meliputi Merencanakan dan Mengimplementasikan

Kompetensi berprestasi. Dalam bidang asesmen psikologi, perlu diukur banyak aspek kompetensi berikut dengan dimensi dan perilaku yang muncul. Salah satu komponen yang diukur dalam tes uji kompetensi psikologi yaitu kompetensi berprestasi. Dalam kamus spencer, termasuk dalam ACH, yaitu Achievement And Action. Yaitu kemampuan dalam merencanakan dan mengimplementasikan.

Kompetensi Berprestasi untuk Mencapai Target Kerja

Kompetensi Berprestasi untuk Mencapai Target Kerja

Kompetensi Berprestasi menurut Spencer and Spencer

Semangat berprestasi untuk mencapai target kerja (Achievement Orientation, Ach) yaitu derajat kepedulian seseorang terhadap pekerjaannya, sehingga orang tersebut terdorong berusaha untuk bekerja dengan lebih baik atau diatas standar.

Achievement Orientation mencakup dalam bekerja untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh manajemen, menetapkan dan bertindak dalam meraih sasaran diri sendiri dan orang lain, pengoptimalan dalam penggunaan sumber daya, dan fokus pada perbaikan, serta melakukan perhitungan terhadap resiko enterpreneurial.

 

Terdapat tiga dimensi berkaitan dengan Kompetensi berprestasi untuk Mencapai Target Kerja, Yaitu :

  1. Intensitas dan Kelengkapa
  2. Dampak prestasi atauusaha yang dilakukan, besarnya
  3. Derajat inovasi, usaha membuat sesuatu yang baru, berbeda baik tindakan ide, dalam konteks pekerjaan organisas

 

Kompetensi berprestasi Dimensi A: Intensitas dan Kelengkapan

Melingkupi :

 

Berfokus pada tugas yang diberikan mendapatkan Point 0 (nol). Memberikan usahanya dengan fokus pada tugas yang dengan prestasi rata-rata. Tidak diperlukan suatu inisiatif untuk memulai suatu tugas atau cara kerja yang baru.

 

Bermotivasi untuk mengerjakan pekerjaan dengan cara yang lebih baik;

mendapatkan point 1. Memiliki inisiatif dan menunjukan keinginan untuk mencapai standar kerja yang telah ditetapkan (minimum sama dengan prestasi rata-rata). Senangnya mencoba untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik atau benar, misalnya ingin menemukan cara kerja yang lebih cepat, lebih efisien, lebih murah, dan sebagainya.

 

Selalu berusaha untuk menyamai standar orang lain atau prestasi rata-rata;

mendapatkan point 2. Harus mampu untuk bekerja untuk mencapai suatu standar kinerja yang ditetapkan oleh pihak manajemen (misalnya, menyesuaikan dengan anggaran, mencapai kuota atau target penjualan, dan persyaratan kualitas, dan sebagainya).

 

Mampu menetapkan ukuran kepuasan kerja atau prestasi kerja sendiri, tidak perlu ada pedoman perfomasi dari manajemen;

mendapatkan point 3. Berfikir mandiri dalam menetapkan ukuran keberhasilan kerjanya. Misalnya, tingkatan penjualan yang ingin dicapai, jumlah uang yang dikeluarkan, menilai perfoma orang lain, penggunaan waktu, memenangkan persaingan, dan sebagainya. Level ini juga dapat untuk jabatan yang memegang jabatannya perlu menetapkan target kerjanya secara mandiri, tetapi belum benar-benar menantang dan selalu menetapkan target baru yang sedikit lebih baik. Catatan: untuk target kerja yang benar-benar menantang dapat diberi nilai untuk level 5, jika tidak benar-benar menantang atau agak ragu diberi skor 3.

 

Terus berusaha untuk memperbaiki kinerja;

mendapatkan point 4. Mempunyai kebijakan dalam sistem kerja, atau dalam kebiasaan kerjanya sendiri untuk memperbaiki kinerja.  Memperbaiki kinerja dengan menetapkan target kerja selalu meningkat dari waktu ke waktu. Misalnya mengerjakan sesuatu dengan lebih baik, cepat, dengan biaya yang lebih efisien, lebih murah, meningkatkan kualitas, meningkatkan kepuasan konsumen, serta meningkatkan pendapatan.

 

Menetapkan tujuan yang menantang;

mendapatkan point 5. Menetapkan suatu tindakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang menantang baik menurut standar diri sendiri maupun standar dari orang lain. Misalnya, meningkatkan penjualan atau kualitas atau produktivitas sebanyak 15 persen dalam waktu 6 bulan.

Arti ‘menantang’ disini maksudnya ada kemungkinan 50-50 untuk mencapai tujuan tersebut. Peluang 50 persen merupakan suatu tujuan yang ketat, namun realistis, atau mungkin berhasil jika dilaksanakan. Individu yang biasa melaksanakan dan merencanakan suatu tujuan untuk mencapai suatu tujuan yang menantang tetap diberi skor 5. Bahkan jika tujuan itu tidak dapat dicapai. Sebaliknya untuk individu yang dalam keseharianya membuat target yang “aman” tidak diberi skor 5, tetapi 3. Skor 5 diberikan juga kepada individu yang tidak mencapai target kerjanya di awal, tetapi terbukti performansinya meningkat tajam.

 

Menganalisa segala tindakan dan keputusan berdasarkan pertimbangan Biaya-Manfaat;

mendapatkan point 6. Menentukan keputusan-keputusan, menetapkan prioritas, atau memilih tujuan–tujuan dalam basis input dan output. Yaitu membuat pertimbangan secara eksplisit dan ilmiah.

 

Mengambil resiko enterprenerial dengan pertimbangan yang masak;

mendapatkan point 7. Dimana jika individu tersebut dapat memanfaatkan sumber daya dan atau waktu yang signifikan (dalam ketidakpastian) untuk meningkatkan peformansi. Individu juga dapat mencoba suatu yang baru, mencoba suatu tujuan yang menantang. Misalnya mengeluarkan produk atau jasa baru, memilih operasi ‘turn around’. Disamping itu juga, individu melaksanakan tugas untuk meminimasi resiko yang akan terjadi. Misalnya melakukan riset pemasaran, melakukan pendekatan pada konsumen, dan sebagainya. Atau dalam Achievement for orther entrepreneurial, memberikan semangat dan mendukung bawahan dalam menanggung resiko entrepreneurial. Mengambil kesempatan baru dengan penuh pertimbangan. Serta meninggalkan apa yang telah dicapai atau dimiliki dengan resiko terbesar akan kehilangan yang telah dimiliki jika ternyata kesempatan baru yang diambil tersebut gagal.

 

Konsisten dalam usaha-usaha entrepreneurial;

mendapatkan point 8. Melaksanakan tindakan yang dilakukan diluar waktu kerja dalam ketidakpastian untuk meraih tujuan entrepreneurial. Atau dengan sukses melakukan usaha-usaha entrepreneurial.

 

 

Dimensi B: Dampak prestasi atau usaha yang dilakukan, besarnya pengaruh

Dimensi Dampak prestasi atau usaha yang dilakukan, besarnya pengaruh berlaku jika level kompetensi ACH A 3 atau lebih. Melingkupi:

 

Fokus pada kinerja atau performansi pribadi;

mendapatkan point 1. Bekerja untuk meningkatkan efisiensinya melalui teknik time management, metode kerja personal yang baik, dan sebagainya.Termasuk di dalamnya usaha-usaha untuk untuk meningkatkan efisiensi kerja diri sendiri dan bisa juga termasuk satu orang lainya (salah satu bawahan, sekretaris, dan sebagainya).

 

Mempengaruhi satu atau dua orang lain;

mendapatkan point 2. Mampu menumbuhkan komitmen finansial (pendapatan atau penghematan) yang kecil saja bagi perusahaan.

Mempengaruhi satu kelompok kerja (4-15 orang);

mendapatkan point 3. Mampu memberikan dampak komitmen finansial atau penjualan dengan ukuran moderat. Bekerja untuk membuat sistem yang menjadi lebih efisien, mempengaruhi orang lain untuk bekerja dengan lebih baik atau efisien (ACH Others). Meningkatkan performensi kelompok (ACH Team).

Mempengaruhi satu departemen lebih dari (15 orang);

mendapatkan point 4.Mampu meningkatkan penjualan dalam jumlah yang cukup besar atau komitmen yang cukup besar bagi perusahaan.

Mempengaruhi perusahaan yang cukup besar dalam skala menengah;

mendapatkan point 5. (atau suatu divisi dalam perusahaan besar).

Mempengaruhi perusahaan dalam skala besar; mendapatkan point 6

Mempengaruhi keseluruan industri; mendapatkan point 7

 

Dimensi C. Derajat inovasi, usaha membuat sesuatu yang baru,

 

Pada dimensi ini, usaha membuat sesuatu yang baru, berbeda baik tindakan ide, dalam konteks pekerjaan organisasi. Dimensi Derajat inovasi, berlaku untuk level kompetensi ACH A 3 atau lebih. Melingkupi:

 

Hal baru untuk pekerjaan atau unit kerja;

mendapatkan point 1. Mampu melakukan hal-hal tertentu untuk meningkatkan performansi yang belum pernah dilakukan untuk pekerjaan tertentu. Namun mungkin sudah dilakukan di bagian lain perusahaan.

 

Hal baru untuk organisasi;

mendapatkan point 2. Mampu melaksanakan performansi dengan hal-hal baru dan berbeda yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh perusahaan tersebut. Namun bukan hal yang baru di dalam industri yang bersangkutan.

Hal baru untuk industri;

mendapatkan point 3. Mampu meningkatkan performansi dengan melakukan hal yang unik, melawan arus, dan merupakan hal baru bagi industri yang bersangkutan.

Transformasi;

mendapatkan point 4. Mampu melakukan hal-hal yang benar-benar baru dan efektif yang merubah industri. Misalnya transformasi yang dimulai Apple, terhadap industri komputer personal, dan pengembangan transistor oleh Schockley. Dimana hal-hal baru tersebut yang mengawali langkah industri elektronik, transformasi yang dilakukan Henry Ford terhadap industri manufaktur mobil. Level ini jarang sekali terlihat.

 

Kompetensi Berprestasi menurut Kamus Generik

Dalam melakukan kompetensi psikologi. Para psikolog dan asesor biasa menggunakan dua panduan utama untuk melihat aspek kompetensi. Yaitu kamus Spencer and Spencer, dan kamus Generik. Berdasarkan kamus Generik, kompetensi berprestasi (ACH) dapat dilihat tingkat kedalaman perilaku melingkupi:

Berusaha untuk bekerja dengan sebaik-baiknya; mendapatkan point 1. Ingin melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Merasa tidak puas bila melihat ketidakefisienan. Misalnya mengeluh karena waktu yang terbuang.

Menetapkan standar prestasi yang ingin dicapai; mendapatkan point 2. Mengukur hasil kerja berdasarkan standar prestasi yang tidak ditentukan orang lain. Menekankan pada cara yang baru untuk mencapai target yang telah ditetapkan manajemen.

Meningkatkan kinerja; mendapatkan point 3. Membuat perubahan spesifik dalam sistem atau metode kerjanya untuk meningkatkan kinerja. Melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih cepat, dengan biaya lebih rendah. Meningkatkan kualitas, kepuasan pelanggan, moral atau pendapatan.

Menetapkan dan mencapai sasaran yang menantang; mendapatkan point 4. Menetapkan sasaran yang menantang dalam arti sesuatu dengan probabilitas keberhasilan/sukses 50% – sulit tapi bukannya tidak mungkin. Membandingkan secara spesifik adanya peningkatan kinerja yang berarti setelah beberapa lama. Menetapkan untuk mencapai suatu standar yang unik, yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan analisis manfaat-biaya (cost- benefit analysis) ; mendapatkan point 5. Membuat keputusan, menetapkan prioritas atau memilih sasaran berdasarkan perhitungan input dan output. Secara eksplisit menyatakan pertimbangan keuntungan, return-on-investment atau analisis cost-benefit. Menganalisa hasil bisnis dengan menyebut secara spesifik biaya, keuntungan, dan keputusan yang diambil berdasarkan analisa ini (Analisa cost-benefit ini tidak harus berupa angka-angka).

Mengambil resiko wirausaha yang diperhitungkan; mendapatkan point 6. Menginvestasikan sumber daya dan waktu yang signifikan (dalam situasi yang tidak pasti) untuk meningkatkan keuntungan (misalnya mencoba membuat produk baru). Memulai membuat atau memasarkan suatu produk atau mengembangkan suatu bisnis baru

 

_________
Penutup

Demikian adalah bahasan terkait Kompetensi Berprestasi untuk Mencapai Target Kerja Meliputi Merencanakan dan Mengimplementasikan menurut kamus kompetensi Spencer and Spencer dan kampus kompetensi Generik.

 

admin No Comments

Memahami Kesehatan Mental, Self Awareness, Self Love, dan Self Care

Memahami Kesehatan Mental. Belakangan ini, isu kesehatan mental sudah mulai diperhatikan oleh banyak pihak. Diaplikasikan dalam bidang pendidikan, industri di perusahaan, sampai ke permasalahan di rumah tangga. Pada artikel ini akan kami bahas, Seperti apa Self Awareness, Self Love, & Self Care yang tepat? Dan Apa Bedanya dengan Egosentris?

 

Memahami Kesehatan Mental

 

Kesehatan Mental belum menjadi isu yang populer di Masyarakat Indonesia.

Masalah kesehatan yang menjadi fokus kerja kementrian kesehatan RI hingga 2019 adalah STUNTING. Dan isu saat ini adalah pencegahan penyebaran COVID-19 jadi belum juga memberikan fokus pada kesehatan mental sebagai dampak dari dua hal tersebut.

 

 

Berikut adalah beberapa konsep salah tentang kesehatan mental:

  • Tidak pernah berkonflik
  • Selalu bahagia
  • Selalu memiliki kehidupan yang aman dan tentram
  • Gangguan jiwa adalah aib yang harus disembunyikan
  • Gangguan mental merupakan peristiwa tunggal
  • Datang ke psikolog/psikiater berarti sudah gila

 

Orang yang sehat mental bukan berarti dia tidak pernah sedih, atau berkonflik, dan mengalami stres. Orang dengan kesehatan mental yang bagus bisa mengalami banyak tekanan dari luar, tetapi dirinya mampu bersikap dan berpikir dengan baik dan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

 

Menurut WHO (2001), Kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.

 

Individu yang sehat mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menghormati perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia.

 

Berkenalan dengan Kepribadian Sehat

 

Karakteristik Kepribadian Sehat secara umum

  • Dapat terbebas dari gangguan psikologis dan gangguan mental berat.
  • Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa kehilangan identitas
  • Mampu mengembangkan potensi dan bakat
  • Memiliki keimanan pada Tuhan dan berupaya untuk hidup sesuai ajaran-ajaran agama yang dianutnya.
  • Memiliki nilai kebajikan dan berkehidupan sesuai dengan nilai-nilai tersebut

 

 

Konsep Kepribadian Sehat Menurut Teori Psikodinamika

  • Mampu untuk mencintai & bekerja
  • Memiliki ego strength
  • Mampu melakukan kompensasi bagi perasaan inferiornya
  • Memiliki hasil yang positif dalam setiap tahap interaksinya dengan lingkungan sosial

 

 

Tanda saat kita sedang Tidak sehat mental

 

5 tanda sedang tidak sehat mental

 

  1. Perubahan pola tidur dan makan
  2. Menarik diri dari teman, keluarga dan kegiatan
  3. Kehilangan energi
  4. Mudah terganggu dan perubahan suasana hati
  5. Kehilangan kinerja di sekolah atau di tempat kerja

 

Catatan penting: penyakit mental berdampak pada kesehatan fisik secara langsung dan tidak langsung. Penyakit mental sendiri berhubungan erat dengan kelelahan, dan kelelahan yang terus menerus dapat dengan mudah menyebabkan penurunan kesehatan fisik.

 

5 hal yang bisa di cek untuk tahu apakah kita sedang sehat secara mental

  1. Pola Makan
  2. Pola Tidur
  3. Keinginan untuk bersih diri dan olah raga
  4. Kebutuhan untuk berinteraksi secara sosial
  5. Mampu untuk Produktif (Sekolah, kuliah, kerja, keluarga, dan di masyarakat)

 

 

3 gangguan mental/psikologis yang sering muncul dan tidak disadari

  1. Stres yang tidak terselesaikan, berdampak pada munculnya Fase Depresi
  2. Gangguan Emosi. Kesulitan untuk mengelola emosi seperti kemarahan dan kebencian
  3. Gangguan Kecemasan. Merupakan Perasaan takut, prasangka, overthinking

 

Apa dampak dari tidak sehat mental?

  • Perasaan tidak bahagia dalam hidup.
  • Konflik dengan anggota keluarga.
  • Kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain.
  • Terasing dari kehidupan sosial.
  • Kecanduan rokok, alkohol, atau NAPZA.
  • Keinginan untuk bunuh diri dan mencelakai orang lain.
  • Terjerat masalah hukum dan keuangan.
  • Rentan sakit akibat sistem kekebalan tubuh menurun.

 

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga Kesehatan Mental? Yaitu penting bagi kita untuk mencintai diri sendiri, perhatian terhadap diri, dan memiliki self awareness.

Mari memahami kesehatan mental dengan cara berkenalan dengan konsep Self Awareness, Self Love, dan Self Care

 

 

Self Awareness

Kesadaran diri merupakan sikap yang berupaya memerhatikan pikiran, perilaku, perasaan yang kita miliki dan memahami dampaknya terhadap orang lain/lingkungan sekitar kita. Kesiapan pada setiap peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar dan peristiwa internal dalam diri termasuk koginitif yang meliputi pikiran dan perasaan serta sensasi pada fisik, dan memori yang muncul.

Self  awareness  ini  membantu  kita  untuk  memahami  diri  kita seutuhnya  termasuk  membantu  kita  terampil  dalam memunculkan  reaksi  terhadap  peristiwa  internal  yang  kita alami  dan  melakukan  self  love  terhadap  diri  sendiri

 

Self Love

Berarti kita mau dan mampu menghargai, menghormati, dan memahami diri sendiri. Kita mencoba bersikap realistis dan jujur pada diri sendiri tentang kekurangan dan kekuatan kita, dan menjadi diri sendiri dengan nyaman.

Kita  memahami  apa  yang  sebetulnya  kita  butuhkan  sebagai individu,  bertindak  berdasarkan  kebutuhan  kita,  bukan  berdasar pada  keinginan  yang  mungkin  sumbernya  dari  tuntutan lingkungan

 

 

Self Care

Self care adalah peduli dan melakukan perawatan dengan cara melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri kita sendiri, baik untuk fisik maupun psikis agar tetap bisa menjadi pribadi yang produktif dan positif.

Menyisihkan waktu untuk melakukan self care bisa membantu kita mengatasi stres, kekhawatiran, dan untuk sebagian orang, membantu mengontrol amarah.

Pilihan Cara yang bisa digunakan seperti, berjalan-jalan dan menghirup udara pagi, olahraga ringan, menulis, bermeditasi  atau  merasakan  nafas. Hal-hal lain seperti  tidur  berkualitas, menemukan  hobi,  atau  melakukan  body care juga penting kita punyai. Kita perlu memiliki kesadaran untuk terus mengembangkan diri.

 

Setiap individu selalu memiliki kesempatan untuk berfungsi dalam meningkatkan level kesejahteraan psikologisnya (psychological well-being). Sadari, kehidupan kita tidak mungkin selalu mulus dan tanpa masalah.

 

 

Resiliensi

Sangat  penting  untuk  mengajarkannya  bagaimana memikul penderitaan yang tidak dapat dihindarkan

Resiliensi  berarti  kemampuan  individu  untuk  beradaptasi  dan tetap teguh saat berhadapan dengan situasi/pengalaman tidak menyenangkan

 

Kita perlu belajar untuk memiliki resiliensi dan berupaya mengembangkan diri untuk bisa mencapai kesejahteraan psikologis dan kesehatan mental.

Bagaimana Caranya? Diantaranya yaitu dengan mengasah keterampilan Komunikasi, Keterampilan mendengar aktif, berempati, komunikasi non-verbal, dan mampu bersikap asertif.

Menggunakan Humor sebagai resiliensi konflik. Humor mampu meredakan ketegangan dan membuat rileks tubuh. Reaksi humor yang tepat dapat membuat individu melupakan pengalaman yang tidak

menyenangkan, dan berdampak pada reaksi emosi yang lebih positif. Kemampuan menangkap humor terutama tentang dirinya sendiri dapat menurunkan tingkat stres dan berdampak pada meminimalisasi munculnya gejala depresi

 

 

Membangun keterampilan mengelola konflik

Konflik tidak selalu menghadirkan perpecahan atau kerusakan hubungan interpersonal. Kemampuan melakukan resolusi konflik akan membantu individu untuk tetap mengelola dan mempertahankan hubungan interpersonal dan mungkin saja menjadi semakin memahami orang lain yang berada disekitarnya.

Kemampuan mengelola konflik perlu ditingkatkan dengan memiliki fleksibilitas dan kesadaran untuk terbuka terhadap pengalaman dan kebiasaan baru. Semakin fleksibel dalam berpikir dan punya banyak pengalaman, maka orang tersebut memiliki beberapa alternatif dalam menyelesaikan masalah yang muncul.

 

Terapkan Self Awareness, Self Love, dan Self Care

  • Didorong oleh rasa cinta.
  • Selalu mempertimbangkan diri sendiri dan orang lain sebelum mengambil keputusan.
  • Tidak semata-mata memikirkan keuntungan atau kesenangan pribadi.

Demikian artikel singkat tentang, Memahami Kesehatan Mental. Artikel ini ditutup dengan statement dari sphancer, “kesehatan mental bukanlah tujuan, tetapi proses. Kesehatan mental tentang bagaimana anda mengendalikan diri.” Semoga artikel ini bermanfaat.

admin No Comments

Apa itu FGD – Focused Group Discussion – Teori Psikologi wawancara

Apa itu FGD. FGD yang merupakan singkatan dari Focuses Group Dscussion merupakan bentuk kegiatan pengumpulan data melalui wawancara kelompok. Focuses Group Dscussion menjadi metode dan teknik dalam mengumpulkan data kualitatif di mana sekelompok orang berdiskusi tentang suatu fokus masalah atau topik tertentu dipandu oleh fasilitator atau moderator.

Jadi Apa itu FGD ?

FGD merupakan diskusi terfokus bukan diskusi bebas. Selama diskusi berlangsung, moderator harus fokus pada tujuan diskusi, sehingga moderator akan selalu berusaha mengembalikan diskusi ke “jalan yang benar”.

 

Karakteristik FGD

Peserta FGD terdiri dari 1 kelompok berisi peserta yang idealnya terdiri dari 7-11 orang. Namun begitu, FGD bisa diselenggarakan dengan peserta dengan jumlah minimal 3 peserta. Hal ini karena dibutuhkan peserta dengan jumlah lebih baik ganjil sehingga bisa didapatkan suara terbanyak jika dibutuhkan untuk voting atau mencari pendapat dengan pernyataan terkuat. Namun harus dipahami, soal jumlah ini bukanlah pembatasan yang mengikat dan tidak mutlak sifatnya.

Kelompok pada sesi FGD harus cukup kecil agar memungkinkan setiap individu mendapat kesempatan mengeluarkan pendapatnya. Sekaligus agar individu tersebut cukup memperoleh pandangan dari anggota kelompok yang bervariasi dan penggalian masalah melalui diskusi atau pembahasan kelompok dapat dilakukan secara relatif lebih memadai.

Peserta FGD terdiri dari orang-orang dengan ciri-ciri yang sama atau relatif homogen yang ditentukan berdasarkan tujuan dan kebutuhan studi atau proyek. Atau bisa kelompok orang dalam divisi yang berbeda tetapi satu tujuan untuk memajukan perusahaan atau menyelesaikan permasalahan perusahaan yang sama. Kesamaan ciri-ciri pada peserta FGD ini seperti: persamaan gender, tingkat pendidikan, pekerjaan atau persamaan status lainnya.

FGD memerlukan pedoman seperti halnya wawancara umum. Pedoman tersebut berisi pertanyaan mengenai hal-hal yang akan disampaikan selama FGD berlangsung. Pedoman ini di buat berdasarkan tujuan yang ingin di capai melalui FGD. Juga perlu disiapkan sebelum pelaksanaan FGD tentang contoh kasus yang hendak diangkat.

FGD merupakan metode dan teknik pengumpulan data kualitatif. Oleh sebab itu di dalam metode FGD yang digunakan oleh fasilitator adalah pertanyaan terbuka (open question) yang memungkinkan peserta memberi jawaban dengan penjelasan dan eksplorasi ide serta opini mereka.

Berikut adalah dokumentasi materi FGD dalam mata kuliah online psikologi wawancara

Fungsi Fasilitator atau Moderator dalam FGD

Keberhasilan pelaksanaan FGD sangat ditentukan oleh kecakapan moderator dalam menjalin komunikasi dengan para peserta. Moderator yaitu fasilitator diskusi yang terlatih dan memahami masalah yang dibahas serta tujuan penelitian yang hendak dicapai (ketrampilan substantif), serta terampil mengelola diskusi (ketrampilan proses). Fasilitator berfungsi selaku moderator yang bertugas sebagai pemandu, pengamat, pendengar, dan menganalisa data secara induktif.

Meskipun dengan peserta yang relatif homogen, FGD yang bertujuan untuk menggali dan memperoleh beragam informasi tentang masalah atau topik tertentu yang sangat mungkin dipandang secara berbeda-beda dengan penjelasan yang berbeda pula. Sehingga fasilitator harus cerdas dalam memahami sudut pandang tiap peserta FGD.

Seperti wawancara umum, fasilitator memiliki tugas seperti interviewer yang mengarahkan diskusi dengan menggunakan panduan pertanyaan yang telah disiapkan. Hal ini penting agar FGD berjalan sesuai tujuan awal.

 

 

Waktu dan Tempat yang Tepat untuk Melakukan FGD

FGD umumnya dilakukan dalam 60 sampai dengan 90 menit. Jika waktu FGD terlalu pendek dikhawatirkan diskusi dan pembahasan masih terlalu dangkal sehingga data yang diperoleh sangat terbatas. Sedangkan jika waktu terlalu lama, dikhawatirkan peserta lelah, bosan atau

sangat menyita waktu sehingga berpengaruh terhadap konsentrasi dan perhatian peserta. Namun terkait waktu sangat fleksibel. Hal ini tergantung dengan kualitas peserta FGD dan kemampuan dari fasilitator untuk membuat pelaksanaan FGD lebih efisien. Pada dasarnya, FGD bisa disudahi jika tujuan dari FGD sudah tercapai. Jika data yang hendak digali sudah didapatkan semua.

Pelaksanaan FGD dilakukan dalam ruangan yang nyaman dan netral dengan pertimbangan utama bahwa peserta dapat secara bebas dan tidak merasa takut untuk mengeluarkan pendapatnya. Penting untuk menghindari gangguan dari luar ruangan. Seperti suara bising, orang dan kendaraan lalu lalang yang terlihat di jendela ruangan FGD.

 

Teknis Pelaksanaan FGD Bagi Fasilitator

Ada beberapa teknis dalam pelaksanaan FGD yang perlu disampaikan fasilitator yaitu Menjelaskan maksud dan tujuan FGD, Menjelaskan topik/isu pokok diskusi, dan Menjelaskan tata cara pelaksanaan dalam FGD.

Fasilitator perlu menciptakan suasana kondusif dan mampu mengelola dinamika kelompok. Diantara tugas lain fasilitator terhadap peserta yaitu:

  1. Memperhatikan keterlibatan peserta,
  2. Tidak boleh berpihak atau membiarkan beberapa orang tertentu memonopoli diskusi
  3. Memastikan bahwa setiap orang mendapat kesempatan yang cukup untuk berbicara.
  4. Peserta merasa nyaman untuk berbagi dan menyampaikan pendapat/pemikirannya.
  5. Mengamati peserta dan tanggap terhadap reaksi mereka
  6. Memperhatikan bahasa non verbal peserta seperti nada suara, ekspresi, dan gerak tubuh.
  7. Menghindari pemberian pendapat pribadi dan komentar setuju/tidak setuju
  8. Mampu mengendalikan waktu yang telah ditentukan

 

Pertimbangan Dalam Menggunakan FGD

Pentingnya Sinergisme. Dimana peserta dalam berpendapat apakah saling menguatkan pendapat atau saling mematahkan dan menyalahkan pendapat peserta yang lainnya. Perlu juga diperhatikan ketika suatu kelompok mampu menghasilkan informasi, ide dan pandangan yang lebih luas. Fasilitator perlu melemparkan umpan ke peserta dan kemudian melihat apakah ada efek bola salju dalam sesi diskusi. Efek bola salju yaitu komentar yang didapat secara acak dari peserta atau fasilitator dapat memacu reaksi berantai respons yang beragam dan sangat mungkin menghasilkan ide-ide baru.

Fasilitator perlu menjadi stimulan, serta membiarkan peserta secara alami menjadi stimulan bagi kelompok diskusi. Pengalaman diskusi kelompok sebagai sesuatu yang menyenangkan dan lebih mendorong orang berpartisipasi mengeluarkan pendapat.

Rasa aman perlu diberikan ke peserta. Ketika individu biasanya merasa lebih aman, bebas dan leluasa mengekspresikan perasaan dan pikirannya dibandingkan kalau secara perseorangan yang mungkin ia akan merasa khawatir. Perasaan aman juga membuat peserta mampu bersikap secara spontan. Individu dalam kelompok lebih dapat diharapkan menyampaikan pendapat atau sikap secara spontan dalam merespons pertanyaan, hal yang belum tentu mudah terjadi dalam wawancara perseorangan.

FGD sering digunakan oleh pembuat keputusan untuk mendukung dugaan/pendapat pembuat keputusannya. Hal ini karena FGD dapat dilakukan secara cepat dan murah. Persoalannya adalah, seberapa jauh FGD dilakukan sesuai prinsip dan prosedur yang benar.

FGD terbatas untuk dapat memperoleh informasi yang lebih mendalam dari seorang individu yang mungkin dibutuhkan. Hal ini disebabkan FGD terbatas waktu dan memberi kesempatan secara adil bagi semua peserta untuk menyampaikan pendapatnya. Untuk ini FGD tidak boleh dipertentangkan dengan metode lainnya, tetapi justru harus dilihat sebagai saling melengkapi.

Teknik FGD mudah dilaksanakan, tetapi sulit melakukan interpretasi datanya. FGD memerlukan fasilitator-moderator (pemandu diskusi) yang memiliki ketrampilan tinggi. Hal ini amat berpengaruh terhadap hasil.

 

Demikian artikel singkat tentang ‘Apa itu FGD’. Semoga bermanfaat.

 

admin No Comments

Teori attending behavior – Pengantar Psikologi Wawancara

Teori attending behavior. Apa yang dimaksud dengan attending behavior ? Atending behavior merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh konselor dalam proses wawancara. Attending adalah cara yang menunjukan bagaimana konselor menyiapkan diri, mendengarkan, bersikap atau berperilaku, memberikan perhatian kepada klien sehingga klien merasa aman, nyaman, diperhatikan oleh konselor (Carkhuff dalam Retno dan Eko, 2007).

 

 

Teori attending behavior – Pengantar Psikologi Wawancara

Teori attending behavior – Pengantar Psikologi Wawancara

Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa attending behavior adalah ketrampilan atau teknik yang digunakan konselor untuk memusatkan perhatian kepada klien agar klien merasa dihargai dan merasa dibimbing dengan suasana yang kondusif. Sehingga klien bebas mengekspresikan atau mengungkapkan pikiran, perasaan dan tingkah lakunya. Perilaku attending dapat juga dikatakan sebagai penampilan konselor yang menampakkan komponen-komponen perilaku nonverbal, kontak mata, dan bahasa lisan. Karena komponen-komponen tersebut tidak mudah perlu dilatih secara bertahap dan terus menerus.

 

Perilaku attending juga berfungsi untuk mengurangi kuantitas bicara konselor dan memberikan klien waktu lebih banyak untuk menceritakan tentang diri mereka.

Konselor mengetahui waktu yang tepat untuk memberi masukan dan waktu yang tepat untuk mendengarkan apa yang klien ucapkan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam attending behavior

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan konselor dalam attending behavior, yaitu:

  1. Visual : Pattern of eye contact

Menatap klien secukupnya, jangan banyak mengalihkan pandangan. Karena konselor juga perlu melakukan observasi terhadap klien

  1. Vocal Qualities : tinggi rendahnya dan kecepatan nada suara

Kecepatan bicara mengindikasikan seberapa besar ketertarikan dan rasa empati terhadap cerita klien. Kecepatan bicara juga memberikan kesan mengenai ketenangan dan profesionalisme konselor saat berhadapan dengan klien. Tone suara yang cukup rendah (dan empuk) juga bisa membantu klien untuk memiliki ketenangan dan memunculkan rasa aman. terutama saat berhadapan dengan klien-klien dengan masalah klinis

 

  1. Verbal Tracking : Following the client or changing the topic?

Jangan mengubah tujuan pembicaraan yang telah ditetapkan sejak awal. Konselor harus peka dalam memilih pernyataan klien yang harus diberi perhatian khusus dan yang harus diabaikan agar wawancara tetap fokus pada tujuan awal.

Konselor adaah leader dalam proses wawancara

  1. Body Language : Attentive and authentic

Attentive yaitu ketertarikan untuk terlibat dalam wawancara. Umumnya muncul dari sikap tubuh dan ekspresi wajah klien. Authentic yaitu sikap apa adanya, jujur, asli, yang dimunculkan selama wawancara. Tidak berlebihan dalam merespons informasi yang diberikan klien.

Jenis pertanyaan yang diajukan dalam wawancara

 

  1. Closed question / pertanyaan tertutup

Closed question adalah pertanyaan yang merujuk pada jawaban tertentu, bersifat mengarahkan. Jawaban dari closed question ini akan pendek dan sebatas ‘ya’ dan ‘tidak’.

Terkadang akan menjadi leading question dan membuat klien merasa konselornya memiliki agenda tertentu pada kliennya. Oleh karena itu pertanyaan tertutup tidak boleh digunakan di awal wawancara. Closed Question Boleh digunakan, bila konselor merasa perlu meyakinkan diri mengenai apa yang ia

tangkap dari klien.

 

  1. Open question / pertanyaan terbuka

Pertanyaan terbuka sifatnya tidak mengarahkan. Klien lebih dibebaskan untuk mengekspresikan perasaan, pemikiran, ide, dan penghayatan yang dimiliki. Dengan open question kita akan mendapatkan informasi yang lebih kaya dari klien. Pertanyaan terbuka dapat digunakan dengan menggunakan kata ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ saat mengawali kalimat tanya yang di sampaikan. Jenis pertanyaan terbuka ini memberikan kesan bahwa konselor berupaya memahami permasalahan atau informasi yang dimiliki klien dengan lebih mendalam.

 

Perilaku verbal dan non verbal

 

Perilaku Non Verbal

(a) Ekspresi wajah; alis dinaikkan, bibir dirapatkan, bibir menganga, senyuman, tawa, kernyitan dahi, dan sebagainya yang merefleksikan emosi klien.

(b) Bahasa tubuh; postur tubuh, posisi duduk, gerakan

tangan, gerakan kaki, tarikan napas, dsb.

(c) Hindari stereotype; tidak cepat menentukan, menilai, dan menginterpretasi alasan klien bertindak demikian.

Perilaku verbal

(a) Sellective attention and key words yaitu perlu memperhatikan kata yang ditekankan oleh klien (biasanya berulang) yang mengindikasikan hal tersebut penting bagi dirinya.

(b) Ada potensi klien atau yang diwawancarai akan mengulang cerita yang dianggapnya senang bagi pewawancara untuk di dengar, sehingga pewawancara perlu mengontrol ekspresi yang ditampilkan selama wawancara berlangsung.

 

 

Pewawancara harus mewaspadai diskrepansi antara tindakan verbal dan nonverbal klien selama wawancara. Diskrepansi berarti apa yang dibicarakan dengan ditampilkan berbeda.

Inkongruensi bisa mengindikasikan bahwa klien merasa tidak nyaman untuk mendiskusikan masalah tertentu atau bahwa klien tidak sepenuhnya bersikap jujur dan menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Inkongruensi berkaitan dengan bina rapport yang menentukan klien dapat mempercayai konselor atau tidak.

 

Demikian artikel singkat tentang Teori attending behavior sebagai salah satu keahlian yang harus dikuasai oleh konselor. Semoga artikel Teori attending behavior ini bermanfaat.

admin No Comments

Materi Pengantar Konseling: Definisi, Tahapan, dan Keterampilan Penunjang

Materi Pengantar Konseling. Apa yang terpikirkan saat kita mendengar kata “Konseling?” Secara umum konseling bisa dipahami sebagai proses interaksi antara konselor dan klien untuk membantu klien menyelesaikan permasalahannya. Ada beberapa point dari konseling yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Konseling merupakan suatu hubungan yang bersifat membantu.
  2. Terdapat interaksi antara konselor dan klien.
  3. Konseling merupakan sebuah proses.
  4. Dilakukan secara profesional
Materi Pengantar Konseling: Definisi, Tahapan, dan Keterampilan Penunjang

Materi Pengantar Konseling: Definisi, Tahapan, dan Keterampilan Penunjang

Memahami arti Konseling

Gibson dan Mitchell (2003) menyatakan bahwa konseling adalah hubungan bantuan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Sedangkan menurut Brammer dan Shostrom (1982) menjelaskan bahwa konseling adalah suatu perencanaan yang lebih rasional, pemecahan masalah, pembuatan keputusan intensionalitas, pencegahan terhadap munculnya masalah penyesuaian diri, dan memberi dukungan dalam menghadapi tekanan-tekanan situasional dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil akhir dalam proses konseling adalah :

  1. Pemecahan Masalah
  2. Penyesuaian Diri terhadap masalah yang dihadapi
  3. Pertumbuhan Pribadi menjadi lebih baik
  4. Mendapatkan Insight dari masalah yang dihadapi
  5. Mendapatkan dukungan

 

Komponen utama dalam konseling

 

Cavanagh dan Levitov (2002) menyimpulkan konseling memiliki empat komponen utama, yaitu hubungan, masalah, tujuan, dan treatment.

  1. Hubungan

Hubungan yang dimaksud adalah hubungan antar konselor dengan konseli. Pentingnya hubungan dalam konseling telah lama digali oleh para ahli psikologi seperti Freud, Rogers, dan Sullivan. Dalam hubungan konseling, konselor mengembangkan berbagai sikap seperti empati, terbuka, hangat, unconditional positive regard (hal positif tanpa syarat), sehingga hubungan yang dibuat antara konselor dan konseli dapat menjadi sebuah instrumen yang dapat membantu.

  1. Masalah

Masalah merupakan komponen penting dalam konseling. Berbagai teknik konseling yang dikemukakan oleh para ahli pada dasarnya bertujuan untuk mendefinisikan, mengidentifikasi, dan menyelesaikan masalah yang dialami oleh konseli.

  1. Tujuan

Tujuan konseling bervariasi sesuai dengan orientasi teoritis dan masalah konseli. Beberapa teori menekankan pada perubahan kognisi dan pemahaman. Teori lainnya menekankan pada perubahan emosi dan perilaku. Ada juga teori yang bertujuan pengembangan dan pertumbuhan individu.

  1. Treatment

Treatment dalam hubungan konseling dilaksanakan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam proses konseling. Pelaksanaan treatment sangat bergantung pada permasalahan konseli dan pendekatan yang digunakan. Intinya, hubungan dalam konseling bersifat membantu (helping relationship), bukan memberi (giving) atau mengambil alih pekerjaan.

Hubungan konseling tidak bermaksud mengalihkan pekerjaan klien kepada konselor. Tetapi konselor perlu memotivasi klien untuk lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dalam mengatasi masalahnya.

 

Hal yang perlu dihindari sebagai konselor

Sikap-sikap yang perlu dihindari konselor dalam hubungan konseling

1.Sikap acuh tak acuh

2.Tidak sabar dan amarah

3.Terus memberi nasehat

4.Tepengaruh secara emosional

5.Tidak kreatif

Sikap yang perlu dihindari sebagai seorang konselor

Sikap yang perlu dihindari sebagai seorang konselor

Hal yang perlu dimiliki sebagai seorang konselor

Menurut Carl Rogers, ada 3 komponen dasar yang dimiliki konselor berkaitan dengan kualitas hubungan konselor dengan klien. Yaitu : kongruensi (congruence), Empati (empathy), perhatian positif tanpa syarat (Unconditional positive regard).

  1. Kongruensi (congruence)

Seorang konselor yang efektif harus mampu membedakan individu yang menunjukkan dirinya secara sesungguhnya. Konselor perlu mengatakan apa yang ingin dikatakan. Sehingga, ada keselarasan antara apa yang dirasakan dan dimunculkan dalam ekspresi.

  1. Empati (empathy)

Komponen dasar empati merupakan kemampuan seorang konselor untuk mengetahui dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh konseli. Empati sangat berbeda dengan simpati.

  1. Perhatian positif tanpa syarat

Seorang konselor dapat menerima bahwa konseli yang dihadapi memiliki nilai-nilai yang berbeda dari yang dimiliki konselor

Konseling Remaja

Geldard (2012) menjelaskan bahwa, konseling remaja merupakan proses bantuan yang dilakukan seorang individu dengan sikap, keyakinan, dan respon uniknya masing-masing dalam menghadapi masalah remaja. Konselor harus bekerja secara kolaboratif dan proaktif dengan masing-masing remaja. Menghargai mereka sebagai individu dan mengundang mereka terlibat aktif dalam memilih strategi dan intervensi konseling yang menarik dan bermanfaat baginya.

Sebagai konselor, sangat penting untuk memahami karakteristik dan perkembangan remaja. Setiap fase perkembangan manusia memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari fase-fase pertumbuhan yang lain. Termasuk pada tahap perkembangan remaja. Stanly Hall, psikolog asal Amerika menyatakan bahwa fase remaja adalah fase “storm-and-stress” (Pergolakan dan Stress).

Pada fase remaja, terjadi peralihan lingkungan dari keluarga ke dunia luar. Sehingga muncul konflik-konflik dalam interaksi sosial.

Sehingga ada perbedaan penanganan konseling pada Anak dan Remaja serta pada orang dewasa. Konselor perlu memahami hal tersebut dan melakukan sikap terhadap klien yang akan ditemui. Apakah kepada anak-anak, remaja atau kepada orang dewasa.

Konselor yang paling sering berhubungan dengan anak dan remaja adalah konselor sekolah. Hal ini karena sebagian besar waktu remaja dihabiskan di sekolah dan konselor sekolah memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan observasi dan mengidentifikasi masalah yang dihadapi remaja.

Pada orang dewasa, tingkat keberfungsian kognitif lebih matang. Orang dewasa relatif memiliki kebebasan dalam membuat pilihan dan mengambil keputusan. Sedangkan pada anak dan remaja, cenderung tidak banyak memiliki kebebasan mengambil keputusan dan pilihan. Hal ini karena remaja cenderung secara kognitif dan kepribadian masih belum matang. Pada usia remaja, mereka lebih terikat pada proses pendidikan dan norma keluarga. Sehingga, hasil konseling berdampak pada proses pendidikan dan pengembangan diri remaja.

 

Tahapan Konseling pada Remaja

Brammer, Abergo & Shostrom (2011) menjelaskan bahwa tahapan konseling pada remaja yaitu;

  1. Membangun Hubungan
  2. Identifikasi dan Penilaian Masalah
  3. Memfasilitasi Perubahan Konseling
  4. Evaluasi dan Terminasi

 

Keterampilan-keterampilan penunjang yang perlu dikuasai Konselor

  1. Attending Behavior. Mencakup komponen kontak mata, bahasa lisan/verbal, bahasa tubuh, dan kemampuan mendengarkan. Manfaat dari attending behavior yaitu meningkatkan harga diri klien, memberikan rasa aman, klien merasa diterima dan dihargai, serta membuat klien mau terbuka dan percaya.
  2. Mengklarifikasi. Konselor perlu mengajukan pertanyaan ke klien sampai diperoleh gambaran yang jelas terkait permasalahan yang dialami klien.
  3. Paraphrasing. Menyampaikan dengan kata-kata sendiri apa yang ditangkapnya dari klien
  4. Reflection. Mengekspresikan kembali perasaan, pikiran sikap dan pengalaman klien

 

Masalah yang Menghambat Proses Konseling

Masalah yang datang dari konselor biasanya berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan, usia dan pengalaman, serta kebudayaan, bahasa dan agama.

  1. Pengetahuan dan Keterampilan.

Konselor seringkali dihadapkan pada banyak teori tanpa mendapatkan keterampilan khusus agar dapat bekerja utuh.

Permasalahan yang sering terjadi pada konselor yaitu kurangnya keterampilan

Permasalahan yang sering terjadi pada konselor yaitu kurangnya keterampilan

  1. Usia dan Pengalaman

Usia dan pengalaman merupakan salah satu hal yang mungkin saja bisa jadi masalah atau hambatan dalam proses konseling. Klien melihat bahwa usia dan pengalaman konselor mempengaruhi klien untuk lebih mantap dalam mengambil keputusan. Hal ini dikarenakan konselor yang memiliki usia dan pengalaman yang mencukupi dilihat sebagai orang yang bijak.

  1. Kebudayaan, Bahasa dan Agama

Kebudayaan, bahasa, agama seringkali membuat ”gerakan” konselor terbatas. Hal ini menjadi masalah karena konselor belum sepenuhnya memahami budaya, bahasa atau agama klien. Pada kenyataannya setiap klien memiliki bahasa, budaya, dan agama yang berbeda-beda. Sehingga membuat klien mempunyai nilai yang berbeda. Hal ini berpengah terhadap bagaimana klien dalam berpikir dan mengambil keputusan, serta berperilaku. Perbedaan nilai itulah yang harus konselor pahami.

 

Masalah yang datang dari Klien

Seringkali konseling tidak berjalan dengan lancar dan tidak berhasil disebabkan karena klien tidak kooperatif. Beberapa klien punya mental block, atau tidak mau mengosongkan gelasnya. Sedangkan beberapa masalah yang datang dari klien berkaitan dengan gaya komunikasi. Berikut adalah beberapa hal pada klien yang menghambat jalannya konseling. Yaitu;

  1. Membisu, tidak mau bercerita
  2. Tidak Serius
  3. Berbicara Berlebihan
  4. Mendebat
  5. Intelektualisme
  6. Menolak Bekerjasama

 

Apa beda Konseling dan Bimbingan?

Sekilas walaupun tampak sama, konseling dan bimbingan adalah dua hal yang berbeda.

Konseling

Tujuan konseling yaitu untuk membangun insight klien. Masalah berkaitan dengan Ketidakmampuan klien menghadapi stressor, adaptasi, dan masalah gangguan psikologis. Proses konseling untuk membantu memahami masalah klien. Sedangkan terkait waktu, konseling dilakukan dalam satu sesi atau beberapa sesi sampai permasalahan klien menemukan titik terang. Siapapun bisa menjadi konselor, dengan beberapa latar belakang pendidikan dan menguasai dasar-dasar & teknik konseling. Namun hanya profesi psikolog yang diijinkan memadukan konseling dengan terapi di dalam sesi konseling.

Bimbingan

Ditujukan untuk memberi info, mengarahkan, menunjukkan jalan, menuntun, mengarahkan, dan memberikan nasihat. Masalah berkaitan dengan bimbingan biasanya berhubungan dengan bidang pendidikan dan bidang karir. Dalam proses bimbingan dilakukan untuk mengajarkan, dan memberi nasehat. Peran pembimbing dilakukan oleh guru, Teman, Keluarga, tokoh agama, pimpinan, dan pihak yang memiliki jabatan atau posisi.

 

Kapan kita perlu merujuk klien ke profesional lain?

Perlunya merujuk ke profesi lain atau rekan lain jika kita sebagai konselor dirasa buntu dalam membantu klien menyelesaikan masalahnya. Disamping itu, jika konselor merasa bahwa permasalahan yang dihadapi klien perlu didukung oleh terapi dan obat. Maka, klien perlu dirujuk ke profesi lainnya.

Konselor perlu merujuk ke Psikolog, jika terdapat masalah psikologis yang meliputi depresi, kecemasan, masalah perilaku. Sedangkan konselor perlu merujuk ke Psikiater jika ada gangguan mental berat, halusinasi, atau gangguan mental diiringi gejala fisik tertentu, serta gangguan fungsi otak.

 

Sumber referensi

Mulawarman, Ph.D. 2016. Pengantar Psikologi Konseling Jurusan Bimbingan Dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang.

admin No Comments

Workshop Wawancara Psikologi dalam Rangka Pelatihan Guru BK

Workshop Wawancara Psikologi. Wawancara menjadi keahlian yang penting dikuasai sebagai seorang konselor atau guru BK. Dengan keahlian sebagai pewawancara yang handal, maka klien atau siswa bisa digali informasi dengan lebih detail dan menyeluruh untuk didapatkan data sesuai dengan kebutuhan. Sehingga, disini.. keahlian pewawancara perlu didukung oleh pengalaman, pelatihan dan teori. Untuk mendukung tercapainya tujuan sebagai pewawancara yang handal, Deepa Psikologi memberikan layanan workshop bagi tenaga pendidik, guru BK, dan konselor sesuai dengan kebutuhan.

Workshop Wawancara Psikologi dalam Rangka Pelatihan Guru BK di Yayasan SDIT Al Irsyad Karawang

Workshop Wawancara Psikologi dalam Rangka Pelatihan Guru BK di Yayasan SDIT Al Irsyad Karawang

Pada event workshop wawancara psikologi dari Deepa Psikologi kali ini. Kami menyelenggarakan event di Lembaga Pendidikan al Irsyad Karawang.

 

Berikut adalah materi singkat terkait tema workshop wawancara psikologi yang diselenggarakan pada tahun 2021

_____________________

Wawancara Psikologi

Wawancara memiliki unsur percakapan di dalamnya, tetapi prosesnya berbeda dengan percakapan pada umumnya. Keduanya juga mencakup aspek komunikasi verbal dan non verbal. Perbedaan paling mendasar diantara keduanya yaitu adanya suatu tujuan tertentu yang dipilih secara sadar pada wawancara, sedangkan pada percakapan umum tidak ada tujuan yang spesifik.

Menurut Lexy J Moleong (2002) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Pewawancara atau disebut sebagai interviewer (iter) akan berhadapan langsung (face to face) untuk mendapatkan informasi secara lisan dengan tujuan mendapatkan isian data yang dapat menjelaskan permasalahan.

 

Untuk Apa Wawancara Digunakan?

Wawancara digunakan sebagai alat untuk mengetahui tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi, serta proyeksi individu terhadap masa depannya, keadaan dirinya saat ini, ataupun menggali masa lalu, serta hal yang cenderung disembunyikan. Sehingga, wawancara dibutuhkan untuk menangkap aksi-reaksi individu dalam bentuk ekspresi dalam pembicaraan saat tanya-jawab.

Untuk Apa Wawancara Digunakan?

Untuk Apa Wawancara Digunakan?

 

 

Jenis-Jenis Wawancara

Setidaknya ada tiga jenis wawancara berdasarkan metode dalam pengambilan data, yaitu:

Wawancara terstruktur, yaitu wawancara dimana pertanyaan dan kategori jawaban telah dipersiapkan. Dalam wawancara jenis ini, kecepatan dan waktu proses wawancara terkendali. Bahasan dan arah wawancara juga sudah dibatasi dari awal. Sehingga tipe wawancara ini tidak ada fleksibilitas. Cenderung mengikuti pedoman dan bertujuan untuk mendapat penjelasan tentang fenomena.

Wawancara tidak terstruktur, yaitu wawancara yang pertanyaan bersifat terbuka, dan pedoman wawancara sangat longgar dalam urutan atau alur pertanyaan. Tipe wawancara ini ketepatan waktu, kecepatan sulit diprediksi. Bahasan wawancara juga berpotensi tidak tepat pada tema yang digali saja. Tetapi bisa membahas ke arah yang lebih luas. Tipe wawancara ini sangat fleksibel.

Wawancara semi terstruktur, yaitu tipe wawancara yang menggabungkan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur secara lebih fleksibel. Segala kekurangan dari wawancara terstruktur dan tidak terstruktur bisa ditutupi ditipe wawancara ini.

Pewawancara yang baik

Menjadikan wawancara sebagai alat pengumpul data yang lengkap. Seorang pewawancara harus bisa menggali data secara menyeluruh terkait tujuan dari interview tersebut diadakan. Informasi-informasi detail yang berhubungan dengan permasalahan bisa digali dengan menyeluruh. Data yang terkumpul tersebut digali secara objektif dan bisa mengesampingkan penilaian subjektif.

Disertai kemampuan observasi selama proses wawancara berlangsung. Banyak informasi non-verbal yang bisa diperhatikan oleh pewawancara sebagai data pendukung wawancara berlangsung. Pewawancara yang baik bisa memahami arti dari bahasa non verbal yang terjadi pada klien selama proses wawancara berlangsung.

Ekspresi individu ditangkap sebagai data yang perlu dikonfirmasi. Ekspresi juga bagian dari bahasa non verbal yang perlu diperhatikan. Ada hal lainnya seperti gerak tubuh, sorot mata dan perhatian mata ke arah mana, penekanan nada, emosi yang muncul, dan sebagainya.

Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam wawancara?

Berikut adalah beberapa contoh perilaku yang perlu diperhatikan dalam wawancara.

Bahasa verbal. Perlu diperhatikan juga terkait kandidat apakah mau berbicara atau tidak. Mencoba tidak terbuka terhadap informasi tertentu, berbicara lancar atau tersendat-sendat. Apakah yang diwawancara berbicara gugup atau normal, banyak sedikit bicara, dan intonasi suara yang tinggi dan rendah.

Senyum. Ada tidaknya senyum. Apakah senyum yang dibuat-buat atau spontan. Senyum yang tampak ikhlas atau dibuat-buat, dan apakah senyum tersebut tepat waktu atau tidak tepat pada waktunya.

Kontak mata. Ada tidaknya kontak mata dengan pewawancara, upaya menghindari kontak mata, kontak mata yang terus-terusan atau kadang-kadang.

Ekspresi wajah. Apakah cerah atau kusam, rileks ata tegang, gembira atau sedih, dan bercahaya atau pucat?

Gerak gerik tangan. Apakah ada gerak gerik tangan atau tidak ada?

Posisi duduk. Apakah rileks atau kaku, duduk condong mendekat atau menjauh, duduk dengan sopan atau tidak?

Anggukan kepala. Apakah ada anggukan kepala atau tidak ada.

Telapak tangan. Genggamannya hangat atau dingin, normal atau berkeringat.

Rambut. Apakah rapi atau kusut. Sesuai norma atau gaya rambut yang kurang sopan.

Menangis. Apakah ada tangisan atau tidak?

Pakaian. Apakah rapi atau tidak rapi, sopan atau tidak, dan bersih atau kotor?

Serta banyak hal lainnya yang perlu diperhatikan selama jalannya proses wawancara.

 

Kode Etik Dalam Wawancara

Informed consent subjek (persetujuan)

Kerahasiaan Subjek dan Data Subjek

Perlindungan terhadap keamanan dan kenyamanan

Penggunaan data hasil wawancara. Digunakan untuk kepentingan dan tujuan wawancara. Tidak ada penyimpangan terhadap penyalahgunaan hasil wawancara.

Interaksi Fisik dan Emosional. Menghindari atau menjaga interaksi fisik dengan klien agar tidak berlebihan/ sewajarnya saja.

Kode Etik Dalam Wawancara

Kode Etik Dalam Wawancara

 

Pedoman Wawancara

Berikut adalah contoh pedoman wawancara untuk Kontruk Psikologis: Konsep Diri

Definisi: Konsep diri adalah pandangan dan sikap individu terhadap diri sendiri. Konsep diri dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah hubungan orang tua dan anak, dan penilaian pribadi terhadap diri sendiri (Mubina, 2020)

Faktor Definisi Faktor Pertanyaan
Hubungan orang

tua dan anak

Hubungan interpersonal yang

dimiliki oleh orang tua dan anaknya

1.       Bagaimana pandangan dirimu

terhadap figur ayah dan ibu?

2.       Siapakah antara ayah dan ibu yang

menurutmu paling dekat denganmu?

3.       Apakah kamu merasa nyaman ketika berinteraksi dengan ayah/ibu?

Penilaian pribadi Kemampuan individu dalam memberikan penilaian terhadap diri sendiri 1.       Bagaimana kamu memandang

dirimu? mengapa demikian?

2.       Apakah kamu merasa dirimu berharga? mengapa demikian?

 

 

 

Demikian adalah artikel tentang workshop wawancara Psikologi. Pada kali ini, informasi artikel adalah tentang bahan atau materi dari workshop. Semoga artikel ini bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

 

admin No Comments

Psikotes suami istri sebagai bahan evaluasi dan bahan konseling pernikahan

Psikotes suami istri. Banyak hal yang menjadi sumber konflik dalam rumah tangga. Seperti permasalahan finansial, perhatian, ekspresi cinta, aktivitas seksual, pekerjaan, pihak ketiga dalam hubungan suami istri, keluarga besar, dan sebagainya. sehingga, sumber konflik tersebut bisa menjadi masalah bagi interaksi suami istri yang perlu segera diselesaikan dan dicari akan permasalahannya. Terkadang sumber masalah tertentu dapat menyebabkan konflik-konflik yang lain dalam interaksi suami istri. Misalnya, akar permasalahan di kurangnya komunikasi yang menyebabkan prasangka dan sering salah paham. Atau kurang harmonis dalam aktivitas seksual yang menyebabkan perselingkuhan. Oleh karena itu, upaya menyelesaikan permasalahan rumah tangga, jika tidak diselesaikan di akar masalah.. maka akan tetap masalah tersebut muncul lagi dikemudian hari.

 

Tujuan psikotes suami istri

Dalam pendekatan psikologi, konflik suami istri bisa dibantu dengan pendampingan oleh psikolog melalui proses konseling. Konseling dimulai denan penggalian sumber masalah dan diakhiri dengan problem solving, pemberian terapi, dan kemudian terminasi. Untuk penggalian sumber masalah dan mencari tipe atau karakteristik suami dan istri yang menjadi sumber konflik… bisa dilakukan dengan wawancara mendalam atau dengan pendekatan psikotes suami istri. Psikotes pasangan ini adalah dengan diberikannya alat tes kepribadian untuk menggali sifat dan karakteristik, atau pola interaksi dalam rumah tangga. Tes suami istri ini juga bisa digunakan untuk proses evaluasi sebelum konseling ke psikolog. Dengan masing-masing suami istri mengetahui karakteristik, kepribadian, dan persepsi pernikahan satu sama lainnya. Diharapkan bisa menjadi bahan introspeksi antara istri dan suami.

 

  Alat Tes yang Digunakan

Seperti yang telah kami sebutkan di atas. Tes ini digunakan untuk mengungkap kepribadian, dan persepsi pernikahan. Tools yang kami gunakan untuk tes ini yaitu tes bahasa cinta, tes relasi keluarga, dan tes keluarga fungsional. Ditambah jika perlu ada tes kepribadian umum.

 

Psikotes Bahasa Cinta

Pada psikotes suami istri ini, menggali tentang ekspresi atau tipe bahasa cinta yang paling dominan dalam diri seseorang. Ada lima bahasa cinta yaitu, waktu yang berkualitas, melakukan pelayanan, kata-kata afirmasi, sentuhan fisik, dan pemberian hadiah.

Kata-kata yang menguatkan.

Jika ini adalah bahasa cinta yang dominan, maka Anda mampu mengatakan pujian tanpa diminta. Mendengar perkataan, “Aku mencintaimu,” itu penting. Mendengar alasan di balik ungkapan cinta adalah hal yang akan menumbuhkan rasa semangat. Perkataan yang mengandung unsur hinaan dapat membuat Anda hancur dan hal tersebut tidak akan mudah untuk dilupakan.

Waktu yang berkualitas

Jika ini adalah bahasa cinta yang dominan, maka meluangkan waktu untuk pasangan adalah ungkapan cinta. Ungkapan “Aku mencintaimu,” perlu disertai dengan adanya perhatian. Sangat penting bagi pasangan untuk tetap hadir di sampingnya. Keberadaan memberikan kesan pengorbanan tentang waktu, simbol memberikan perhatian dan kasih sayang. Orang yang dominan tipe ini akan merasa sakit hati ketika ada hal-hal yang mengganggu waktunya dengan pasangan, adanya penundaan tanggal pada jadwal yang sudah direncanakan sebelumnya dengan pasangan, atau tidak adanya keberadaan pasangan untuk mendengarkan perasaannya.

Pemberian hadiah

Jika ini adalah bahasa cinta yang dominan, maka Anda akan merasa dicintai, diperhatikan dan dihargai ketika menerima hadiah dari pasangan. Menurutnya, hadiah adalah hal penting yang dapat menumbuhkan rasa cinta. Tetapi perlu diketahui bahwa bahasa cinta ini bukanlah bentuk materialisme. Pemberian hadiah dapat menunjukkan bahwa seseorang diakui, dijaga, dan diprioritaskan. Orang yang dominan tipe ini akan sangat merasa kecewa ketika hari ulang tahunnya, atau hari-hari spesialnya terlewatkan tanpa adanya hadiah. Rasa kecewa yang dirasakan dapat mempengaruhi kebiasaannya dengan pasangan di kehidupan sehari-hari.

Melakukan pelayanan

Jika ini bahasa cinta yang dominan, maka perkataan yang paling ingin didengar adalah “Biarlah saya melakukannya untuk Anda.” Orang yang dominan tipe ini akan sangat merasa senang ketika pasangan membantu meringankan beban tanggung jawabnya. Orang yang dominan tipe ini akan merasa kesal dengan adanya kemalasan, komitmen yang tidak terjaga, dan pekerjaan yang semakin banyak.

Sentuhan fisik

Jika ini bahasa cinta yang dominan, perlu diketahui bahwa bahasa cinta ini tidak selalu tentang kamar tidur. Seseorang yang bahasa utamanya adalah sentuhan fisik akan lebih sensitif. Ia akan merasa dicintai ketika berpelukan, berpegangan tangan, dan mendapatkan sentuhan penuh perhatian pada lengan, bahu, atau wajah. Menurutnya sentuhan fisik yang diberikan pasangan adalah cara untuk menunjukkan kegembiraan, kepedulian, dan cinta. Kehadiran fisik dan adanya akses untuk melakukan sentuhan fisik adalah hal yang sangat penting, tetapi adanya kelalaian atau penyalahgunaan adalah hal yang tidak dapat dimaafkan dan merusak.

Dengan mengetahui bahasa cinta yang tepat pada pasangan, akan membuat pasangan dimengerti, dihargai, dan dicintai. Sedangkan kurang tepatnya pemberian bahasa cinta sesuai karakteristik pasangan, akan membuatnya merasa tidak dicintai atau disayangi. Terkadang perasaan tidak dicintai oleh pasangan tidak karena pasangan benar-benar tidak mencintainya. Tetapi kadang, karena mereka tidak saling tepat dalam mengekspresikan bahasa cinta. Bahasa cinta perlu digali dengan tes. Kemudian hasil tes berupa laporan tertulis bisa diberikan kepada pasangan untuk bisa dijadikan bahan evaluasi dan bahan konseling untuk menerima pasangan satu dengan yang lainnya.

 

Psikotes Relasi Keluarga

Pada psikotes suami istri dengan tes keluarga fungsional ini, ditujukan untuk menggali interaksi (relasi) antara dua anggota keluarga. Sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada suami-istri, tetapi juga bisa ditujukan ke anak-orangtua, anak-wali asuh, anak dan kakek nenek. Tes relasi keluarga ditujukan untuk menggali aspek-aspek relasi keluarga seperti pembatasan, afeksi, keadilan, pengakuan, dan kepercayaan. Berikut adalah penjelasan singkat terkait aspek yang diungkap dari tes relasi keluarga:

Pembatasan atau pengekangan pasangan.

Pada tes ini, semakin tinggi pembatasan atau pengekangan menunjukkan indikasi bahwa suami atau istri menghayati pasangannya sebagai seseorang yang sangat otoriter dan karenanya memiliki perasaan tidak bebas. Sedangkan semakin rendah pembatasan atau pengekangan menunjukkan indikasi bahwa suami atau istri menghayati pasangannya sebagai seseorang yang sangat demokratis dan memiliki kebebasan untuk berpendapat.

Melihat Aspek Afeksi

Pada tes ini, semakin tinggi Afeksi mengungkapkan hubungan yang intim dan / atau membutuhkan relasi afeksi dengan pasangannya. Menunjukkan afeksi yang kuat, artinya bahwa suami atau istri dan pasangannya memiliki hubungan afeksi yang memuaskan. Sedangkan semakin rendah afeksi pasangan menunjukkan adanya suasana yang dingin dan hubungan secara fisik yang minim.

Pada tes ini, semakin tinggi Kepekaan pasangan mengindikasikan suami atau istri mampu ikut merasakan kepekaan pasangannya. Suami Atau Istri mampu memahami dan mengekspresikan empati terhadap perasaan sakit, kesepian, dan kesedihan dari pasangannyanya. Sedangkan semakin rendah kepekaan pasangan mengindikasikan bahwa suami atau istri kurang mampu merasakan kepekaan pasangannyanya.

Melihat Aspek Keadilan

Pada tes ini, semakin tinggi keadilan menunjukkan penghayatan suami atau istri bahwa pasangannya banyak berbuat untuknya dan bahwa dia mau berbuat sesuatu sebagai balasannya. Penghayatan suami atau istri terkait dengan keseimbangan antara memberi dan mengambil dalam hubungan dengan pasangannyanya. Sedangkan semakin rendah keadilan menunjukkan penghayatan suami atau istri bahwa pasangannya tidak banyak berbuat untuknya.

Melihat Aspek Pengakuan

Pada tes ini, semakin tinggi pengakuan mengekspresikan penghayatan bahwa pasangannya menghargai dirinya dan perilakunya. Suami Atau Istri merasa apa yang dilakukannya telah diakui secara eksplisit oleh pasangannyanya. Sedangkan semakin rendah pengakuan mengekspresikan penghayatan suami atau istri merasa tidak dianggap betul-betul penting dalam relasi dengan pasangannya.

Melihat Aspek Kepercayaan

Pada tes ini, semakin tinggi Kepercayaan mengindikasikan bahwa suami atau istri melihat bahwa pasangannya dapat diandalkan dan memiliki penghayatan bahwa pasangannyanya mempercayainya. Suami Atau Istri merasakan banyak dukungan yang bisa diharapkan dari pasangannyanya. Sedangkan semakin rendah kepercayaan mengindikasikan Suami Atau Istri melihat bahwa pasangannya kurang dapat diandalkan dan memiliki penghayatan bahwa pasangannya kurang mempercayainya. Suami Atau Istri merasakan pasangannya kurang memberikan dukungan kepadanya.

 

Psikotes Keluarga Fungsional

Pada psikotes suami istri ini, ditujukan untuk menggali persepsi finansial pasangan, Persepsi tetang  pengampunan dan perbaikan pernikahan, persepsi tentang komunikasi perkawinan, dan persepsi tentang keintiman seksual.

Persepsi tentang finansial pasangan mengungkapkan bagaimana pasangan memahami uang. Ada empat persepsi tentang uang, yaitu sebagai status, rasa aman, kesenangan, dan sebagai kontrol atau kendali terhadap pihak lain. Pada persepsi pengampunan dan perbaikan pasangan melihat tentang sulit dan mudahnya suami istri dalam memberikan pemaafan terhadap pasangannya. Kemudian terkait persepsi tentang komunikasi pernikahan mengukur bagaimana penyampaikan perasaan, keinginan, dan pikiran suami istri kepada pasangannya. Semakin kuat mengindikasikan pasangan yang asertif. Yang terakhir yaiatu persepsi tentang keintiman seksual mengukur tentang permasalahan seksual yang mampu menjadi sarana untuk menunjang keharmonisan dalam keluarga. Melihat tentang kepuasan interaksi seksual berdampak terhadap keharmonisan keluarga.

 

 

______

Demikian adalah artikel singkat kami tentang psikotes suami istri. Tes-tes psikologi di atas bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan konseling pasangan dan bahan pertimbangan atau evaluasi. Semoga artikel ini bermanfaat.

 

 

admin No Comments

Psikotes anak SDIT Nurul Imam melihat Kesiapan Anak Masuk Sekolah Dasar

Psikotes anak SDIT. Tes psikologi merupakan metode untuk menggali potensi psikologi manusia dan dapat diaplikasikan untuk banyak hal dibanyak bidang. Termasuk dapat diaplikasikan ke banyak bidang seperti industri organisasi, klinis, sosial, dan pendidikan. Di bidang pendidikan, psikotes dapat diaplikasikan dari mulai anak usia Pra Sekolah sampai pendidikan tingkat tinggi di universitas. Dengan beberapa tujuan untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Yaitu untuk melihat minat bakat, mengukur intelegensi untuk memilah siswa masuk dalam kelas akselerasi, untuk melihat kematangan anak masuk SD, menggali gangguan belajar, dan sebagainya.

Psikotes anak SDIT di sekolah Nurul Imam

Psikotes anak SDIT di sekolah Nurul Imam

Pada anak usia SD dan menjelang masuk SD, psikotes diperlukan untuk melihat kemampuan anak dalam mengikuti pembelajaran. Dengan asumsi; apakah anak sudah siap mengikuti pembelajaran di SD atau masih perlu belajar di rumah? Sehingga, potensi tersebut perlu diukur dan dilihat.

Tes kematangan sekolah penting untuk memfilter calon siswa SD agar anak sudah siap belajar di Sekolah Dasar dengan kepribadian dan kognitif yang sudah matang secara mental. Anak yang kurang matang secara mental namun dipaksakan masuk SD sebenarnya agak memiliki dampak kurang bagus terhadap tumbuh kembangnya.. karena dipaksakan matang sebelum waktunya. Akhirnya anak dapat mengalami tekanan secara psikologis di strata pendidikan yang lebih tinggi. Seperti ketika anak sudah masuk SMA, atau ke perguruan tinggi.

Tes Psikologi pada anak SD untuk melihat kematangan mental dalam mengikuti pembelajaran masuk Sekolah Dasar

Tes Psikologi pada anak SD untuk melihat kematangan mental dalam mengikuti pembelajaran masuk Sekolah Dasar

Tes Kematangan Sekolah

Pada tes ini, ada beberapa tools yang bisa digunakan untuk mengukur kematangan sekolah anak memasuki pendidikan SD. Beberapa tools yang sering Biro psikologi Deepa gunakan yaitu alat tes NST, CPM, dan Frostig. Masing-masing dari alat tes tersebut memiliki karakteristik dan fungsi yang menyesuaikan dengan kebutuhan.

Pada tes Frostig, digunakan untuk mengukur kecerdasan perseptual. Tes Frostig ini akan melihat terkait koordinasi motorik mata, Figure ground, Position in space, Constancy of shape, dan Spatial relationship. Berikut adalah penjelasan singkat terkait hal-hal yang diungkap dalam tes Frostig.

Eye-motor coordination. Pada tes ini ditujukan untuk melihat kemampuan koordinasi mata dengan tangan. Dimana hal ini berkaitan dengan kematangan anak dalam merespon apa yang dia lihat dengan apa yang akan dia lakukan termasuk di dalamnya aktivitas fisik. Instruksi tes yang diberikan berupa anak diminta menggambar garis lurus, garis lengkung dan garis patah sudut diantara dua batas yang berbeda lebarnya dari satu titik lainnya tanpa pembimbing.

Tes pada anak diberikan dengan pendampingan khusus. Hal ini karena perhatian anak sangat sensitif terhadap rangsangan dan stimulus dari respon luar.

Tes pada anak diberikan dengan pendampingan khusus. Hal ini karena perhatian anak sangat sensitif terhadap rangsangan dan stimulus dari respon luar.

Tes Figure-ground. Untuk melihat kemampuan Persepsi dalam latar belakang atau lingkungan yang kompleks dan rumit. Pada tes ini, anak dilihat kemampuan konsentrasi dan kemampuan membedakan dua objek.

Tes Constancy of shape. Pada tes ini, anak diukur tentang kemampuan membedakan objek, hal yang menonjol, melihat bentuk dan letak dalam ruang serta pemisahan dari bentuk- bentuk geometris lain yang mirip.

Tes Position in space. Pengenalan gambar-gambar yang terbalik atau dirotasikan. Pada tes ini, anak dilihat kemampuan imaginasinya untuk membedakan bentuk dan gambar. Untuk melihat gambar yang sama dan tidak sama.

Spatial relationship. Pada tes ini, anak dilihat kemampuan Analisis bentuk dan pola sederhana, terdiri atas garis-garis dengan panjang berbeda dan sudut berbeda pula.

Pada tes yang diberikan kepada anak perlu dikondisikan tentang rasa nyaman anak dalam mengerjakan tes.

Pada tes yang diberikan kepada anak perlu dikondisikan tentang rasa nyaman anak dalam mengerjakan tes.

Contoh Laporan Tes Kematangan Sekolah

Berikut adalah contoh laporan tes kematangan sekolah untuk psikotes anak SDIT.

_______________

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap Ananda XXX (usia 4 Tahun, 8 Bulan), didapatkan hasil bahwa kemampuan persepsi visual Ananda Alesha Divyanata Ferdiyan berfungsi pada taraf (PQ = 100).

Ananda XXX menunjukkan kemampuan yang berkembang lebih baik di atas usia kronologisnya pada beberapa aspek. Diantaranya adalah kemampuan koordinasi antara mata dengan tangan. Ia sudah mampu untuk menarik garis lurus, melengkung, dan sudah dapat menghubungkan titik-titik dengan garis lurus. Kemampuan ini sebagai dasar dari kemampuan menulis.     Ananda XXX dalam melakukan analisa terhadap suatu bentuk, meniru pola-pola tertentu, membedakan bentuk – bentuk geometri tertentu yang ditunjukkan di dalam ukuran, tekstur, dan posisi yang berbeda serta bentuk-bentuk tersebut berada di dalam bentuk lain juga berkembang optimal. selain itu, kemampuan Ananda XXX dalam menemukan bentuk yang letaknya berbeda, menghadap ke arah lain, atau menemukan bentuk-bentuk yang identik juga berkembang optimal. Kemampuan ini setara dengan anak usia 6 tahun 3 bulan yang artinya berkembang lebih baik 1 tahun 5 bulan dari usia kronologisnya.

 

Disisi lain, kemampuan Ananda XXX dalam mengenali bentuk di atas dasar yang semakin lama semakin kompleks dan bentuk yang tersembunyi belum berkembang optimal. Kemampuan ini setara dengan anak usia 3 tahun. Hal ini dapat dikatakan bahwa Hamiz memiliki 73% aspek kesiapan perseptual untuk mengikuti proses pembelajaran pada tingkat taman kanak-kanak. Pada aspek tingkah laku, Ananda XXX tampak sudah menunjukkan kemandirian dan penyesuaian diri yang memadai pada saat menghadapi situasi dan orang baru. Ia juga dapat bekerja sama dalam mengikuti kegiatan dan menyelesaikan tugasnya hingga tuntas. Berdasarkan uraian hasil pemeriksaan tersebut Ananda XXX dapat “DISARANKAN” untuk mengikuti pembelajaran di taman kanak-kanak.

 

Demikian artikel singkat kami tentang Psikotes anak SDIT. Semoga bermanfaat.

 

admin No Comments

Psikotes Monokem Tahapan Seleksi Karyawan

Psikotes monokem. Untuk kali ini Deepa psikologi memberikan dokumentasi terhadap serangkaian psikotes kebutuhan Seleksi karyawan di perusahaan Monokem. Tes psikologi menjadi salah satu tahapan yang kandidat harus tempuh disamping seleksi proses administrasi lainnya.

Psikotes menjadi tools yang penting diberikan kepada kandidat karena mampu memberikan pemetaan potensi karyawan sebagai prediktor terkait kinerja di perusahaan nantinya.

Hal yang bisa diungkap dari proses psikotes ini yaitu melihat aspek intelegensi, kepribadian, cara dan sikap kerja, serta potensi terhadap kepemimpinan. Diharapkan dengan adanya tes ini, perusahaan dapat memfilter untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan jobdesk dan beban kerja perusahaan.

Berikut adalah dokumentasi terkait psikotes Monokem sebagai tahapan seleksi karyawan

Psikotes monokem untuk memfilter kandidat yang potensial untuk bekerja sesuai dengan ekspektasi di perusahaan

Psikotes monokem untuk memfilter kandidat yang potensial untuk bekerja sesuai dengan ekspektasi di perusahaan

 

Psikotes diberikan berupa tes Intelegensi dan tes kepribadian untuk mengungkap gambaran diri Kandidat secara lebih menyeluruh

Psikotes diberikan berupa tes Intelegensi dan tes kepribadian untuk mengungkap gambaran diri Kandidat secara lebih menyeluruh

 

Teknis pelaksanaan Psikotes

Psikotes dilakukan secara tatap muka dengan pemberian tes secara manual. Dimana kandidat mengerjakan tes didampingi oleh tim Deepa yang memberikan instruksi tes. Tim Deepa memastikan agar peserta dapat mengerjakan tes sesuai dengan instruksi yang tepat, juga melakukan observasi terhadap perilaku kandidat selama psikotes berlangsung.

Serangkaian proses psikotes bisa berlangsung 3-4 jam dengan beberapa sesi alat tes yang diberikan

Serangkaian proses psikotes bisa berlangsung 3-4 jam dengan beberapa sesi alat tes yang diberikan

Tahapan ini berlangsung selama beberapa jam yang meliputi tes intelegensi dan tes non intelegensi. Untuk tes intelegensi, kandidat diberikan soal dengan jawaban benar dan salah. Kemudian kami skoring untuk menentukan berapa skor IQ yang bersangkutan. Sedangkan untuk tes non intelegensi, kandidat diberikan pernyataan opsional yang tidak ada jawaban benar salah. hanya mencerminkan pilihan yang paling menggambarkan diri kandidat. Hasilnya kemudian kami olah untuk melihat karakteristik kepribadian. Apakah kandidat sudah tepat untuk menduduki posisi yang ditawarkan oleh perusahaan atau kurang tepat.

 

Demikian artikel tentang psikotes Monokem. Semoga bermanfaat.

admin No Comments

Psikotes Pasangan untuk Mengevaluasi Interaksi agar Didapatkan Keluarga yang Harmonis

Psikotes pasangan. Dalam berumahtangga, banyak permasalahan yang mungkin muncul dan mengakibatkan konflik pasangan. Seperti permasalah finansial, perbedaan karakter atau kepribadian, penyesuaian diri, masalah seksualitas, ekspresi cinta, dan hal lainnya. Sehingga perlu upaya untuk menyelesaikan permasalahan dalam berkeluarga. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan rumah tangga adalah dengan melakukan konseling pasangan, dan mencoba mengenali kepribadian satu sama lain. Psikotes pasangan merupakan salah satu sarana untuk bisa menjadikan pasangan suami istri bisa mengenali karakteristik satu sama lainnya. Tes pasangan tersebut juga bisa digunakan oleh psikolog untuk menggali data dalam proses konseling untuk membantu klien menyelesaikan permasalahan rumah tangga. Ada banyak tools dalam psikotes pasangan. Di Biro Psikologi Deepa sendiri, setidaknya menggunakan tiga alat tes dalam menggali kepribadian suami istri. Yaitu dengan tes bahasa cinta, tes relasi keluarga dan tes keluarga fungsional.

 

Tes Bahasa Cinta untuk Melihat Ekspresi Cinta Paling Dominan

Tes ini untuk melihat bahasa cinta mana yang paling dominan ada di diri seseorang. Ada lima bahasa (ekspresi) cinta yaitu:

Kata-kata yang menguatkan.

Seseorang dengan dominasi kata-kata afirmasi ini, maka dia cenderung mengatakan pujian tanpa diminta. Suka memberikan rayuan, ucapan manis, sanjungan kepada orang yang dia cintai. Bagi orang dengan dominasi tipe ini, maka mendengar perkataan, “Aku mencintaimu,” merupakan hal yang penting. Mendengar alasan di balik ungkapan cinta adalah hal yang akan menumbuhkan rasa semangat. Perkataan yang mengandung unsur hinaan dapat membuat orang tipe ini hancur dan hal tersebut tidak akan mudah untuk dilupakan. Kurangnya pujian, dan kata-kata yang menguatkan oleh pasangan bisa dimaknai bahwa pasangannya kurang mencintainya.

Waktu yang berkualitas

Seseorang dengan dominasi bahasa cinta Waktu yang berkualitas akan menilai kebersamaan dengan pasangan adalah hal yang penting. Meluangkan waktu untuk pasangan adalah ungkapan cinta. Jadi baginya cinta tidak cukup hanya diucapkan tetapi perlu disertai dengan adanya perhatian. Ekspresi bahasa cinta tipe ini yaitu dengan mendampingi, menemani, melakukan aktivitas bersama-sama menjadi prioritas dibandingkan ekspresi cinta yang lainnya.

Orang dengan tipe ini akan merasa sakit hati ketika ada hal-hal yang mengganggu waktu Anda dengan pasangan, adanya penundaan tanggal pada jadwal yang sudah direncanakan sebelumnya dengan pasangan, atau tidak adanya keberadaan pasangan untuk mendengarkan perasaan Anda. Interaksi LDR atau hubungan jarak jauh akan sangat mengganggu hubungan pernikahannya.

 

Contoh Tes Bahasa cinta. Salah satu Psikotes Pasangan yang bisa digunakan untuk melihat ekspresi cinta pasangan

Contoh Tes Bahasa cinta. Salah satu Psikotes Pasangan yang bisa digunakan untuk melihat ekspresi cinta pasangan

 

Penerimaan hadiah

Seseorang dengan dominasi bahasa cinta Memberi Hadiah, maka Anda akan merasa dicintai, diperhatikan dan dihargai ketika menerima hadiah dari pasangan. Bagi orang tipe ini, Hadiah tidak selalu berupa benda atau materialisme. Kadang hal-hal kecil yang diberikan mampu membuat orang tipe ini sangat bahagia. Seperti memberikan bunga, surprise lagu khusus untuk kekasih dalam acara keluarga, atau makanan dan minuman kesukaannya. Baginya, hadiah adalah bentuk perhatian yang menunjukkan pengorbanan dan itu dianggapnya sebagai manifestasi cinta. Sehingga, orang tipe ini jika diberi hadiah, akan membuatnya merasa diistimewakan. Pemberian hadiah dapat menunjukkan bahwa Anda diakui, dijaga, dan diprioritaskan. Orang tipe ini bisa sangat kecewa ketika hari ulang tahunnya, atau hari-hari spesial terlewatkan tanpa adanya hadiah.

Melakukan pelayanan

Seseorang dengan dominasi bahasa cinta Melayani, maka hal yang paling penting adalah melakukan pengorbanan dengan melayani pasangan. Orang dengan tipe ini akan senang jika bisa mengantarkan istrinya ke pasar, menyiapkan baju kerja yang akan dipakai suaminya. Orang tipe ini menganggap pelayanan sebagai bentuk dari pengorbanan sebagai manifestasi terbesar bahasa cinta. Dia akan sangat merasa senang ketika pasangan membantu meringankan beban tanggung jawab Anda. Orang tipe ini  merasa kesal dengan adanya kemalasan, komitmen yang tidak terjaga, dan pekerjaan yang semakin banyak yang mengakibatkan tidak ada pelayanan dari pasangan.

Sentuhan fisik

Seseorang dengan dominasi bahasa cinta menganggap pentingnya kedekatan fisik dengan pasangan. Sentuhan fisik tidak selalu berhubungan dengan interaksi seksual. Orang tipe ini sangat  sensitif dengan  sentuhan fisik. Dia suka jika bisa pegangan tangan dengan pasangan saat jalan kemana saja. Ketika pasangan sedang tertekan, maka dia dapat diringankan dengan pelukan dan usapan pada punggung untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman. Orang tipe ini menganggap sentuhan fisik yang diberikan pasangan adalah cara untuk menunjukkan kegembiraan, kepedulian, dan cinta. Kehadiran fisik dan adanya akses untuk melakukan sentuhan fisik adalah hal yang sangat penting, tetapi adanya kelalaian atau penyalahgunaan adalah hal yang tidak dapat dimaafkan dan merusak. Dia akan tertekan ketika mendapati pasangannya bekerja di luar kota dan terpaksa menjalin interaksi LDR.

Dari kelima bahasa cinta ini, seseorang akan cenderung dominan di salah satu bahasa cinta. Perlu adanya tes untuk mengetahui tipe bahasa cinta mana yang dominan. Kemudian, pasangan perlu melakukan evaluasi diri… terkait bahasa cinta mana yang pasangannya paling dominan. Dengan mengetahui tipe bahasa cinta pasangan, maka seseorang bisa bersikap dengan tepat. Sehingga pasangan akan merasa dicintai dengan sepenuh hati.

Tes relasi keluarga

Tes ini merupakan alat untuk melihat hubungan timbal balik (relasi) antara anggota keluarga. Sebenarnya tes ini tidak hanya diperuntukkan bagi suami istri. Tetapi bisa juga untuk orangtua dan anak, anak dan kakek-nenek, atau anak dan wali asuh. Dalam relasi keluarga, setidaknya ada enam aspek yang perlu digali yaitu aspek Pembatasan, Afeksi, Kepekaan, Keadilan, Pengakuan, dan Kepercayaan.

Berikut adalah contoh laporan tes relasi keluarga.

Contoh Tes Relasi Keluarga

Contoh Tes Relasi Keluarga

 

 

Psikotes pasangan melalui Tes Keluarga Fungsional

Tes ini mengukur keluarga dari segi keberfungsiannya. Setidaknya ada 4 indikator untuk melihat nilai dari keluarga fungsional. Yaitu Nilai tentang Finansial, Kuesioner Pengampunan dan Perbaikan Pernikahan, Pemeriksaan Komunikasi Perkawinan, dan Kuesioner Keintiman Seksual.

Untuk melihat nilai tentang finansial, maka bisa digali tentang persepsi uang pada pasangan yang meliputi Uang sebagai simbol status, Uang untuk keamanan, Uang sebagai kesenangan, dan memaknai uang sebagai kendali atas sesuatu.

Orang dengan dominasi uang sebagai status maka akan memaknai uang sebagai kekuasaan merupakan alat untuk merasa lebih berkuasa dari orang lain. Sedangkan orang dengan dominasi uang sebagai lambang keamanan akan sangat berhati-hati dalam membelanjakan uang dan cenderung menabung. Penggunaan uang yang keliru akan mengancam rasa aman. Individu yang dominan Uang sebagai kesenangan akan mendapatkan kepuasan dari berbelanja menggunakan uang untuk diri maupun orang lain. Sedangkan, Individu dengan dominasi uang sebagai kontrol akan menggunakan uang sebagai cara mempertahankan kontrol atas hidupnya dan kemandirian dari pasangan atau anggota keluarganya.

Psikotes keluarga fungsional selain mengukur persepsi seseorang tentang pemaknaan uang, juga melihat tentang Pengampunan dan Perbaikan Pernikahan. Dalam tes ini akan melihat bagaimana pasangan sulit memberikan pemaafan atau mudah memberikan pemaafan kepada pasangan.

Untuk tes Komunikasi Perkawinan dapat dilihat tentang apakah pasangan tidak mampu menyampaikan perasaan dan apa yang dibutuhkan secara terbuka kepada pasangan. Atau sebaliknya, pasangan mampu bersikap asertif, tanpa menyakiti hati pasangan namun tidak melukai diri sendiri.

Sedangkan yang terakhir dari psikotes keluarga fungsional adalah melihat Keintiman Seksual. Apakah interaksi seksual cenderung kurang hangat, belum bisa memberikan kepuasan bagi diri sendiri, sehingga perlu adanya perbaikan komunikasi. Atau Interaksi seksual pasangan dapat memberikan kepuasan satu sama lainnya, sehingga dapat mendukung dalam keharmonisan keluarga.

Epilog

______

Demikian adalah psikotes pasangan yang bisa diberikan sebagai sarana untuk melihat dan mengukur sejauh mana permasalahan dan melihat karakteristik pasangan. Psikotes pasangan ini diharapkan bisa membantu dalam mengenal karakteristik suami istri. Sehingga, dapat meminimalisir konflik atau menjadi sarana untuk resolusi konflik. Itulah artikel singkat kami tentang psikotes pasangan, semoga bermanfaat.