admin No Comments

Memaafkan diri sendiri dan orang lain untuk kesehatan mental kita

Memaafkan diri sendiri dan orang lain.  Apa artinya memaafkan? Memaafkan adalah melepaskan masa lalu dari kesalahan, keinginan untuk menyalahkan, tidak lagi melihat diri sendiri sebagai korban, dan menciptakan hal baru dengan damai dan memberdayakan diri sendiri. Perlu dipahami bahwa memaafkan berarti mengembalikan perhatian pada diri sendiri daripada orang lain serta mendapatkan kembali rasa kedamaian.

Dalam memaafkan orang lain, kita biasanya merasa menjadi korban atas perlakuan orang lain. Hal tersebut yang menyulitkan kita untuk mengapa kita harus memaafkan diri sendiri. Menerima apa adanya diperlukan sebagai upaya untuk memaafkan diri sendiri. Terkadang tuntutan terhadap diri sendiri menjadikan kita menyalahkan diri atas pencapaian yang tidak sesuai dengan harapan. Sehingga kita perlu mengidentifikasikan manakah yang lebih besar, apakah ego, rasa takut atau rasa sakit kita?

 

“Pengampunan bukanlah tindakan sesekali. Ini adalah sebuah Kebiasaan terus menerus.”

-Martin Luther  King, Jr-.

 

Alasan mengapa kita harus bisa memaafkan diri sendiri dan orang lain

Pernahkah kita dalam menghadapi situasi atau hubungan yang penuh tekanan, Kita seringkali berusaha menghindar dengan orang yang terlibat dan menahan emosi negatif yang dirasakan?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang memiliki konflik dengan orang lain dan memendam emosinya akan berdampak pada kesehatan.

Penelitian dari  Luskin, dkk, telah menunjukkan bahwa konflik berbahaya bagi kesehatan seseorang. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa konflik dapat menyebabkan:

  1. Tubuh melepaskan hormon stres dan  merespons dengan cara yang berbahaya.
  2. Berisiko lebih tinggi terkena serangan jantung dan penyakit kardiovaskular lainnya.
  3. Perasaan marah atau kesal akan meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.
  4. Stress yang berdampak buruk pada tubuh dari waktu ke waktu. Stres tersebut dapat menyebabkan kenaikan berat badan, ketegangan otot, kondisi yang ekstrim dapat menyebabkan depresi.

 

Memendam amarah justru dapat mengurangi kesejahteraan hidup. Dengan belajar memaafkan dapat memperbaiki kondisi yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Namun stigma masyarakat mengasosiasikan         bahwa memaafkan merupakan bentuk dari kelemahan. Sebaliknya, budaya            kemarahan,     balas    dendam,          kebencian,       tidak memaafkan adalah bentuk dari kekuatan seseorang. Padahal stigma tersebut tidaklah benar. Selalu ada kemungkinan untuk memaafkan. Faktanya dalam situasi tertentu selalu ada alasan mengapa seseorang memilih untuk memaafkan walaupun mungkin memaafkan itu sulit.

Memaafkan sebenarnya tidak lebih dari tindakan penyembuhan diri dan pemberdayaan diri. Saya menyebutnya obat ajaib. Ini gratis; itu bekerja dan tidak memiliki efek samping.- Eva Kor

 

Proses Memaafkan Diri Sendiri dan Orang Lain

Disclaimer: Proses step by step dalam memaafkan bukanlah terapi, bukan menggantikan sesi konseling atau treatment lainnya.

Sebelum memulai Proses Pengampunan, langkah-langkah berikut disarankan:

  1. Jangan terburu – buru melakukannya. Luangkan banyak waktu dalam setiap proses.
  2. Berikan support kepada diri sendiri. Support system bisa berupa konselor atau teman terpercaya yang dapat diajak bicara selama menjalani proses.
  3. Temukan partner atau buatlah support group berskala kecil. Yang paling ideal  adalah dilakukan bersama sama, membuat suatu grup dapat berdiskusi mengenai progress, sharing session, dan saling mendukung satu sama lain.
  4. Lakukan langkah – langkah tersebut secara berurutan. Dimulai dari langkah yang paling pertama.
  5. Pilihlah kejadian yang  ingin dicoba untuk     Hal  ini    dirancang        untuk mengidentifikasikan mana yang berpotensi untuk dimaafkan terlebih dahulu sesuai

 

 Langkah pertama, Persiapan

Pikirkan tentang berbagai kejadian dalam kehidupan Anda. Buat daftar semua orang yang perlu Anda maafkan, teman, keluarga, atasan dikantor, jangan lewatkan termasuk diri Anda sendiri.

Berikan juga alasan untuk apa Anda perlu memaafkan setiap orang. Sebagai pilihan, tuliskan diatas kertas sesuai kebutuhan.

Langkah kedua, Jelaskan situasi Anda

Deskripsikan rangkaian kejadiannya. Siapa yang terlibat, apa yang terjadi, bagaimana perasaan dirimu tentang hal itu. Jangan menahan diri. Berikaplah dengan jujur dan ungkapkan kejadian tersebut selengkap – lengkapnya. Tuliskan diatas ketas sebanyak yang dibutuhkan untuk menulis hal– hal penting yang telah terjadi.

 Langkah 3, Dekonstruksi Kisah Anda

Buat Kisah Keluh Kesah. Dengan menceritakan keluh kesah, Anda dapat menginterpretasikan kejadian tersebut dan apa yang dirasakan. Setelah Anda mengetahuinya, Anda dapat erekonstruksi cerita tersebut.

Hal tersebut membuat Anda dapat melihatnya dari sudut pandang  yang berbeda. Anda belajar melihat dari sudutpandang yang lebih luas, lebih bertanggungjawab atas perasaan Anda sendiri dan tidak melihat diri Anda sebagai korban.

Langkah 4, Pertimbangkan Dampaknya

Tulislah apa dampak dari peristiwa yang Anda alami. Bagaimana hal itu membentuk dan memengaruhi berbagai aspek pengalaman  hidup Anda? Bagaimana dampak terhadap Anda baik secara mental, emosional,  spiritual  ataupun fisik? Namun sebelumnya, Luangkan waktu sejenak untuk memejamkan mata dan pikirkan tentang kejadian yang menimpa Anda dan perhatikan pengaruhnya terhadap fisik Anda.

Perhatikan bagaimana perasaan Anda saat membayangkan situasinya. Perhatikan setiap tempat yang membuat Anda merasa tegang atau tertekan.

 Langkah 5, Dengarkan Emosi Anda

Emosi adalah bagian dari sisi kemanusiaan, dan sangat penting untuk kesejahteraan psikologis. Untuk itu penting bagi kita untuk belajar merasakan perasaan kita dan tetap terhubung dengannya. Mulailah kenali perasaan yang dialami.

Berilah nilai dalam skala 1 – 10 atas perasaan/ emosi apa yang terkoneksi dengan peristiwa yang Anda alami dan emosi apa yang paling membuat anda terpicu dalam peristiwa tersebut.

Langkah 6, Shift Perspective: Tidak Ada yang Perlu dimaafkan

Dalam perspektif ini kita diajarkan untuk dapat menerima segala peristiwa menyakitkan tersebut apa adanya. Bahwa dengan menerimanya membuat kita tidak lagi melihat diri kita sebagai korban yang dapat membuat kita membuka diri untuk merasakan perubahan positif.

Namun hal ini menjadi perdebatan. Karena akan sulit dan mustahil diimplementasikan untuk orang– orang yang mengalami peristiwa traumatis.

 

Langkah 7, Apakah Anda Siap Memaafkan?

Apa Anda merasa Anda “harus” memaafkan, tetapi tidak benar-benar ingin memaafkan?

Apakah Anda merasa “harus” siap, tetapi tidak benar- benar merasa siap?

Apakah Anda merasa menolak untuk memaafkan?

Jika demikian, jangan coba mengabaikan atau menyangkalnya. Izinkan diri Anda untuk benar benar merasakan yang seharusnya.

 

 Langkah 8, Carilah Niat Positif

Carilah alasan positif mengapa Anda mengalami atau merasakan peristiwa menyakitkan tersebut. Bukan hanya untuk diri Anda sendiri tetapi mungkin terdapat alasan positif dibalik peristiwa bagi orang yang terlibat didalamnya.

Langkah 9, Maafkan dirimu sendiri

Tanpa memaafkan diri Anda sendiri, Anda berpotensi membuat cerita keluhan yang baru yang mungkin dapat menghancurkan proses memaafkan yang sudah dilalui. Deskripsikan mengapa Anda harus memaafkan diri sendiri dan pembelajaran apa yang sudah Anda dapatkan  sejauh ini.

Langkah 10, Tulis ulang Ceritanya

Menceritakan kisah baru tentang apa yang terjadi. Tuliskan dan ceritakan kembali cerita Anda sedemikian rupa. Di dalamnya memuat,

  1. Positive Intentions : Tulislah maksud/ alasan bagi setiap orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut yang berdampak positif.
  2. Self- Forgiveness : Ceritakan penilaian diri Anda setelah memaafkan diri sendiri
  3. Ucapan Rasa Syukur : Ungkapkan rasa syukur dan terimakasih Anda atas peristiwa yang sudah terlewati termasuk orang yang terlibat didalamnya

 

Langkah 11, Integrasi

Anda perlu mengintegrasikan ke dalam pikiran, emosi, dan tubuh anda. Kisah baru tersebut perlu ditambatkan dengan imajinasi dan perasaan Anda. Baca kembali cerita baru yang sudah Anda tulis. Setiap Anda membaca kembali, bayangkan diri Anda dalam cerita tersebut penuh dengan kedamaian dan penuh dengan cinta.

 

Langkah 12, Penyelesaian

Jika anda mengalami perubahan yang signifikan, hal ini berarti titik dimana anda sudah menyelesaikan masalah yang menjadi beban terberat selama ini. Mungkin anda merasa dapat menyelesaikannya setelah menulis berbagai peristiwa, lalu menulis ulang cerita baru dan mengintegrasikannya. Tetapi jika anda merasa belum sepenuhnya terselesaikan, ada cara untuk benar benar mengakhirinya dengan melaksanakan  sejumlah ritual:

  1. Fire Ritual. Deskripsikan sepenuhnya konflik yang terjadi untuk melepas beban yang dirasakan diatas kertas. Selanjutnya bakar kertas tersebut dan biarkan terbakar sepenuhnya.
  2. Water Ritual. Ritual kuno yang menggunakan media air untuk membersihkan diri. Dapat dilakukan di lautan luas atau dapat juga dilakukan dengan mandi berendam didalam bathup.
  3. Sweat Lodge. Proses ritual yang biasa dilakukan oleh budaya etnis di Amerika Utara, Asia, Eropa Barat dan Timur yang bertujuan membersihkan diri dengan mandi keringat atau berdiam di sauna untuk menghasilkan keringat.

 

Demikian artikel terkait Memaafkan diri sendiri dan orang lain, semoga bermanfaat. Untuk menutup artikel ini, kami cuplikkan kata mutiara dari Harriet Nelson, “Maafkan semua yang menyinggung Anda, bukan untuk mereka, tapi untuk diri Anda sendiri.”

 

Oleh : A l i y a  W i d i y a n t i

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

admin No Comments

Forgiveness, belajar memaafkan diri sendiri dan orang lain

Forgiveness belajar memaafkanApa itu Forgiveness? Ada tiga level dari Forgiveness. Yaitu:

  1. Forgiveness of Other. Pada tingkat memaafkan orang lain, merupakan tingkatan pengampunan atas tindakan impersonal, tindakan yang tidak dapat diatribusikan kepada individu mana pun, tetapi bagaimanapun dapat memiliki dampak yang mendalam pada kehidupan kita.
  2. Self-Forgiveness. Tanpa memaafkan diri sendiri, kita terus menimbulkan rasa sakit emosional pada diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Kita mungkin menyimpan penilaian terhadap diri kita sendiri. Namun pada akhirnya, Satu-satunya pembebasan adalah melalui pengampunan diri.
  3. There Is nothing to Forgive. Pada tingkat ini, meminta kita untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa pada tingkat tertentu semuanya persis seperti yang diharapkan, meskipun kita mungkin tidak menyukai atau memahaminya. Jika kita mampu mencapai ini, saat kita menerima kehidupan, apa adanya, kita bebas untuk mengalir mengikuti arus, bukan melawannya.

 

Apa arti memaafkan?

Memaafkan adalah keputusan untuk tidak melakukan balas dendam. Memaafkan berarti menciptakan cerita baru tentang apa yang terjadi dan memberdayakan diri, serta mendapatkan kembali rasa kedamaian.

Ada mitos dan Fakta terkait Forgiveness. Yaitu memaafkan dilakukan untuk keuntungan orang lain. Hal tersebut adalah mitos, Faktanya, memaafkan BUKAN untuk keuntungan orang lain, TETAPI untuk keuntungan diri.

Memaafkan bukanlah melupakan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain atau diri sendiri, atau mengatakan bahwa perilaku yang menyakitkan tidak masalah. Jika kita melupakan kesalahan, berarti rawan bagi kita jika suatu saat terjebak dalam kesalahan yang sama.

Memaafkan tidak dipandang sebagai kewajiban, tetapi pilihan.

Mitos dan fakta tentang Forgiveness belajar memaafkan diri sendiri dan orang lain

Mengapa aku harus memaafkan? belajar memaafkan diri sendiri

Penelitian yang dilakukan oleh Luskin dkk. menunjukan bahwa adanya masalah/konflik, berbahaya bagi kesehatan seseorang, seperti :

Memikirkan tentang konflik yang belum terselesaikan menyebabkan tubuh melepaskan bahan kimia stres dan merespons dengan cara yang berbahaya. Hanya dengan mengingat suatu peristiwa yang memicu perasaan marah atau dendam akan meningkatkan detak jantung dan tekanan darah seseorang.

Orang yang marah secara kronis berisiko lebih tinggi terkena serangan jantung dan penyakit kardiovaskular lainnya, serta kelemahan imunologis. Sebaliknya, belajar memaafkan dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko penyakit jantung, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh

 

Apakah beberapa hal sebenarnya tidak bisa dimaafkan? Menurut Luskin, ia meyakinkan bahwa jawabannya adalah tidak. Selalu mungkin untuk memaafkan. Berdasarkan fakta bahwa dalam situasi tertentu ada orang yang telah memilih untuk memaafkan. Jika individu memilih untuk memaafkannya, itu dapat membantu individu untuk dapat memaafkan ketika ia menghadapi tantangan apa pun yang kita hadapi dalam hidup kita.

 

How Do I Learn to Forgive?

Memaafkan adalah keterampilan yang bisa dipelajari, seperti belajar memainkan olahraga baru atau berbicara bahasa baru. Memaafkan paling baik digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu untuk disimpan pada saat kejadian yang langka, sekali seumur hidup.

 

Proses dalam belajar memaafkan

12 step dalam Proses Memaafkan

12 proses dalam memaafkan

Step 1. Preparation

Sebelum dimulai, dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini :

  1. Sisihkan banyak waktu, jangan terburu-buru melakukannya.
  2. Ciptakan dukungan untuk diri Anda sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan konselor atau teman tepercaya yang dapat Anda ajak bicara saat Anda menjalani proses.
  3. Buat kelompok dukungan kecil.
  4. Lakukan langkah-langkah secara berurutan.
  5. Pilih situasi yang ingin Anda lakukan. Ini mungkin masalah yang sudah berlangsung lama, peristiwa traumatis yang hanya terjadi satu kali, perselisihan yang saat ini Anda alami, atau situasi dari masa lalu yang terus membebani Anda.

 

Step 2. Describe Your Situation

Jelaskan situasi anda, termasuk siapa yang terlibat, apa yang terjadi dan bagaimana perasaan anda tentang hal itu. Gunakan kertas sebanyak yang Anda butuhkan untuk menulis semua yang Anda rasa penting tentang situasi tersebut. Jangan menahan diri. Bersikaplah jujur mungkin dalam mengungkapkan cara anda memandang situasi.

 

Step 3. Deconstruct Your Story

Langkah selanjutnya, memberi anda kesempatan untuk melihat masing-masing elemen ini dalam konteks situasi Anda. Jawablah masing-masing dari tiga pertanyaan dibawah, lalu di halaman berikutnya, pertimbangkan apakah cerita Anda telah menjadi ‘kisah keluhan’.

 

  1. Aspek apa dari situasi yang Anda anggap pribadi?
  2. Apakah Anda pernah menyalahkan orang lain atas perasaan Anda dalam
  3. situasi ini? Siapa yang telah Anda salahkan dan untuk apa?
  4. Dengan cara apa Anda melihat diri Anda sebagai korban?

Kita jawab pertanyaan dibawah ya …

  1. Terkadang, apakah Anda merasa bahwa Anda adalah satu-satunya orang yang memiliki pengalaman ini?
  2. Apakah Anda mendapati diri Anda mengira pengalaman ini terjadi  karena kekurangan di pihak Anda?
  3. Apakah Anda menyalahkan orang lain atas perasaan Anda?
  4. Pernahkah Anda menceritakan kisah Anda lebih dari dua kali kepada orang yang sama?
  5. Apakah orang yang menyakiti Anda adalah tokoh utama cerita Anda?
  6. Ketika Anda menceritakan kisah ini, apakah itu mengingatkan Anda tentang hal-hal menyakitkan lainnya?
  7. Sudahkah Anda membuat komitmen pada diri sendiri untuk tidak menceritakan kisah itu lagi ?

 

Step 4. Consider The Impact?

Langkah selanjutnya adalah mempertimbangkan dampak dari cerita Anda. Bagaimana hal itu membentuk dan memengaruhi berbagai aspek pengalaman hidup Anda? Berapa biayanya?

Sebelum menulis, luangkan waktu sejenak untuk memejamkan mata dan pikirkan tentang cerita Anda dan perhatikan pengaruhnya terhadap tubuh Anda. Perhatikan bagaimana perasaan Anda saat membayangkan situasinya. Perhatikan tempat-tempat yang membuat Anda merasa tegang atau tertekan.

 

Jawab pertanyaan berikut :

  1. Di bagian tubuh mana yang Anda rasakan ketika menghadapi konflik tersebut?
  2. Bagaimana konflik tsb berdampak pada hidup Anda, termasuk: kesehatan, pekerjaan, keluarga, hubungan, keuangan dan kesejahteraan lainnya?
  3. Bagaimana konflik akan berdampak pada Anda di masa depan jika konflik tsb terus berlanjut?
  4. Apa yang Anda peroleh dengan mempertahankan konflik tersebut?
  5. Apakah Anda ingin melepaskan konflik ini?

 

Step 5. Listen to Your Emotions

Saat Anda menjalani proses ini, jika Anda mengalami masalah emosional yang dalam atau merasa terjebak dalam pola emosional, mulailah mengenali pola atau kebiasaan emosional Anda. Sadarilah bahwa biasanya cerita Anda, yaitu pikiran Anda, yang memicu reaksi emosional Anda. Oleh karena itu, saat Anda membuat cerita baru, emosi Anda juga akan berubah.

Dari skala 1-10, berapa skor yang Anda alami dari masing-masing hal berikut sehubungan dengan situasi tsb?

Emosi yang muncul sebelum Forgiveness

 

  1. Emosi apa yang paling memicu diri anda dalam situasi ini?
  2. Bedakan antara pembawa pesan dan pesannya. Siapa pembawa pesannya? Apa
  3. pesannya?
  4. Apa ‘tanda emosional’ dari pesan tersebut? Apakah itu bagian dari pola berulang dalam hidup Anda? Apa pengalaman paling awal dari pola ini yang Anda ingat?
  5. Bisakah Anda membiarkan diri Anda benar-benar merasakan kedalaman emosi yang anda rasakan? Jika tidak, apakah Anda mengetahui sesuatu yang menghalangi Anda untuk merasakannya? Apakah ada dukungan yang Anda butuhkan?
  6. Saat Anda merasakan sakit Anda, apakah Anda bisa merasakannya?
  7. pakah Anda mampu untuk menyayangi diri anda sendiri?

 

Step 6. Shift Perspective

Sekarang, kita coba step ini ya …

  1. Bagaimana situasi  konflik  pribadi  yang  anda            rasakan mampu menghadirkan peluang pertumbuhan bagi anda?
  2. Apakah anda melihat pola berulang dalam situasi ini dan peristiwa lain dalam hidup anda?
  3. Apa yang telah anda pelajari sejauh ini dari konflik ini?
  4. Bayangkan anda telah meninggal dan sekarang sedang melihat kembali kehidupan anda. Menurut anda, bagian mana yang menurut anda bagian tsb adalah bagian sempurna dalam hidup anda?
  5. Dengan cara apa Anda dapat melihat bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan? Bisakah Anda melihat hal positif dalam situasi tsb?

 

Step 7. Are You Ready to Forgive?

 

Apakah anda siap untuk melepaskan cerita lama anda? Apakah anda siap untuk memaafkan orang lain?

Pada skala 0 sampai 10 (0 belum siap sama sekali, dan 10 benar-benar siap), seberapa siap anda?

Jika anda melihat bahwa anda belum sepenuhnya siap untuk memaafkan, jelaskan mengapa anda belum bisa memaafkannya?

Adakah yang anda butuhkan untuk siap memaafkannya?

 

Step 8. Look for Positive Intention

Salah satu kunci untuk memaafkan (diri sendiri dan orang lain) adalah melihat niat

positif setiap orang.

 

Jawab pertanyaan di bawah yaa ..

 

  1. Apa niat positif anda? Apakah tujuan terbesar Anda dalam situasi ini sudah sesuai?
  2. Apa niat positif satu sama lain?

 

Step 9. Forgive Yourself

  1. Untuk apa anda perlu memaafkan diri sendiri? Jelaskan.
  2. Bagimana penilaian anda terhadap diri anda?
  3. Apakah anda tidak memenuhi harapan anda sendiri? Bagaimana dan mengapa anda kecewa pada dirimu sendiri?
  4. Dapatkah anda melihat cara-cara di mana konflik eksternal merupakan cerminan dari konflik internal?
  5. Apa niat positif anda dalam situasi ini?
  6. Apa yang telah anda pelajari dari situasi ini sejauh ini?
  7. Bisakah anda memandang diri sendiri dengan belas kasih?

 

 

Step 10. Rewrite The Story

Gunakan kertas sebanyak yang anda butuhkan. Akan sangat membantu jika mendapatkan bantuan dari orang lain untuk langkah ini. Karena, seringkali sulit bagi kita untuk mendengar atau melihat apa adanya jika masih menahan diri sebagai korban. Mintalah seseorang yang bisa objektif untuk mendengar cerita anda dan memberikan umpan balik yang jujur kepada anda, dan solusi apapun yang mereka memiliki.

 

 

Step 11. Integration

Anda dapat melakukan ini setiap hari untuk mengingat cerita baru anda, memvisualisasikan itu, dan rasakan. Untuk hasil maksimal, ini adalah cara yang disarankan untuk mengintegrasikan cerita baru anda:

Baca ulang cerita baru anda sekali sehari. Setiap kali anda membaca ulang cerita baru anda, Bayangkan diri anda dalam cerita itu merasa damai dan dipenuhi cinta. Izinkan diri anda sendiri untuk merasakan perasaan ini di tubuh anda. Lanjutkan ini sampai anda merasa memilikinya mengintegrasikan cerita baru.

 

Step 12. Completion

Step terakhir ….

Adakah yang perlu anda katakan atau lakukan sebelum anda memutuskan untuk mengakhirinya?

 

Jika ya, apa yang anda lihat sebagai langkah anda selanjutnya?

Buat rencana untuk 30 hari ke depan. Langkah spesifik apa yang akan anda lakukan, dan kapan kamu akan melakukannya?

 

Demikian artikel tentang Forgiveness, belajar memaafkan diri sendiri dan orang lain. Sebagai penutup dari bahasan kali ini, akan kami kutipkan pernyataan dari Ajahn Chan tentang Forgiveness:

Jika Anda melepaskan sedikit, Anda akan memiliki sedikit kebahagiaan. Jika Anda banyak melepaskan, Anda akan memiliki banyak kebahagiaan. Namun jika Anda melepaskan sepenuhnya, Anda akan bebas.

 

 

admin No Comments

Psychological First Aid: Pertolongan pertama pada Gangguan Psikologis

Pertolongan pertama pada Gangguan Psikologis — Berbagai macam krisis dan pengalaman tidak menyenangkan banyak sekali terjadi di dunia. Meskipun dampak dari kondisi tersebut beragam dan reaksi dari setiap orang berbeda-beda, tetapi banyak orang yang mungkin merasa bingung, cemas, ketakutan atau bahkan sangat tidak memahami apa yang sedang terjadi. Sama seperti luka yang terjadi pada fisik kita, pengalaman tidak menyenangkan yang kita hadapi bisa juga menghadirkan luka pada psikologis kita. Kondisi ini bisa berlanjut pada gangguan psikologis yang lebih kompleks dan rumit kalau tidak segera dibantu kesembuhannya.

Setiap orang mungkin sudah memahami apa yang sebaiknya dilakukan jika fisik kita terluka? Seperti halnya jatuh dari sepeda, setiap orang sudah memahami pertolongan pertama apa yang perlu dilakukan yang dapat membantu kesembuhannya. Namun, bagaimana jika psikologis kita atau bahkan psikologis orang terdekat kita yang terluka? Apa yang bisa kita lakukan? Bisakah kita memberikan pertolongan pertama yang bisa membantu kondisi psikologisnya semakin membaik? Jawabannya “tentu bisa!”.

 

Pertolongan pertama pada gangguan psikologis

Tahukah kamu pertolongan pertama pada gangguan psikologis atau yang biasa disebut Psychological First Aid bisa dilakukan oleh semua orang? Semua orang dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda baik sebagai orang terdekat, keluarga atau teman (bukan profesional) yang sering dipercaya untuk mendengarkan cerita teman atau kita memiliki keluarga gejala gangguan psikologis atau bahkan kita yang memang tertarik dengan tama-tema psikologis.

Cara melakukan Psychological First Aid

Lalu, bagaimanakah cara melakukan Psychological First Aid? Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk memberikan pertolongan pertama pada gejala awal gangguan psikologis, diantaranya adalah:

  1. Menjadi pendengar yang baik, tidak menjeda atau terburu-buru memberikan saran
  2. Mengajak mereka yang kita lihat memiliki gejala awal gangguan psikologis untuk melakukan self care seperti berjalan-jalan keluar ruangan.
  3. Memberikan rasa aman kepada mereka dengan bersikap tenang pada saat berbicara dan menunjukkan kekhawatiran yang wajar.
  4. Mendorong keberfungsian dengan memberikan rasa nyaman baik dengan perilaku verbal ataupun nonverbal, seperti menunjukkan kepedulian dan antusias pada cerita mereka dan mengajarkan cara mengelola stres sederhana seperti latihan bernafas, relaksasi sederhana, terapi safe place, dll.

Nah, mau tau tentang Psychological First Aid lebih detail? Bagaimana cara yang tepat untuk mengaplikasikannya? Yuk, join workshop Psychological First Aid yang akan diselenggarakan oleh biro psikologi Deepa. Supaya kita gak worry ataupun bingung kalau ada temen yang curhat atau melihat orang sekitar kita mulai mengalami gejala awal gangguan psikologis. Untuk informasi lebih lanjut bisa diakses di website Webinar.psikotes.net atau bisa juga melihat informasi di instagram @deepafamilycare.

admin No Comments

Alasan Dibalik Kenapa Kita Memutuskan untuk Membeli Sesuatu Menurut Psikologi Konsumen

Memutuskan untuk Membeli Sesuatu — Dibalik proses pengambilan keputusan membeli, kita sebenarnya melewati lima tahap, yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi terhadap alternatif-alternatif, keputusan pembelian, dan tingkah laku setelah pembelian.

Proses pembelian dimulai jauh sebelum saat kita melaksanakan pembelian dan mempunyai konsekuensi jauh setelah pembelian tersebut. Hal ini mendorong pemasar untuk menitik beratkan perhatian pada proses pembelian keseluruhan, bukan sekedar pada keputusan pembelian.

  1. Pengenalan masalah

Proses pembelian dimulai ketika kita menyadari bahwa terdapat suatu masalah atau kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal maupun eksternal.

  1. Pencarian informasi

Pada tahap ini kita akan terdorong untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin terkait produk yang akan dibeli. Semakin banyak informasi yang diperoleh, kesadaran dan pengetahuan kita akan merek dan fitur yang tersedia meningkat. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang mendesain bauran pemasarannya untuk membuat konsumen menyadari dan mengetahui merek atau toko tersebut.

2. Evaluasi alternatif

Pada tahap ini kita memproses informasi untuk mengevaluasi toko alternatif dan sekelompok pilihan. Cara kita dalam mengevaluasi alternatif bergantung pada diri pribadi dan situasi pembelian tertentu, sehingga banyak pemasar harus mempelajari pembeli untuk menemukan bagaimana pembeli mengevaluasi pilihan toko untuk selanjutnya mempengaruhi keputusan pembeli.

3. Keputusan pembelian

Pada umumnya kita akan cenderung membeli di toko yang kita sukai. Tetapi ada dua faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian yakni sikap orang lain dan faktor situasional yang tidak diantisipasi

4. Perilaku pasca pembelian

Pada tahap ini, kita sudah dapat memberikan evaluasi tentang apakah produk yang dibeli sudah dapat memenuhi kebutuhan atau menyelesaikan masalah atau justru kita tidak mendapatkan manfaat sama sekali dari suatu produk.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan membeli

Menurut Kotler dan Amstrong, faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan membeli terdiri dari budaya, sosial, pribadi, dan psikologi.

  1. Faktor kebudayaan

Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam tingkah laku kita sebagai konsumen. Pemasar harus mengetahui peran yang dimainkan oleh budaya, sub-budaya, dan kelas sosial pembeli.

Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan tingkah laku yang kita pelajari dari keluarga dan lembaga penting lainnya. Setiap kelompok atau masyarakat mempunyai suatu budaya, dan pengaruh budaya pada tingkah laku membeli bervariasi amat besar dari negara ke negara. Kegagalan menyesuaikan perbedaan ini dapat menghasilkan pemasaran yang tidak efektif.

Sub-budaya merupakan pencacahan dari budaya, didalamnya termasuk nasionalitas, agama, kelompok ras, dan wilayah geografi. Sub-budaya merupakan salah satu yang membentuk segmen pasar, oleh karena itu pemasar seringkali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Kelas sosial adalah divisi masyarakat yang relatif permanen dan teratur dengan para anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan tingkah laku yang serupa. Kelas sosial menunjukkan pilihan produk dan merek tertentu dalam bidang-bidang seperti pakaian, peralatan rumah tangga, aktivitas di waktu senggang, dan mobil.

2. Faktor-faktor sosial

Tingkah laku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga, serta peran dan status sosial konsumen.

Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan telah diteliti secara mendalam. Anggota keluarga dapat amat mempengaruhi tingkah laku pembeli.

Peran terdiri dari aktivitas yang diharapkan dilakukan seseorang menurut orang-orang yang ada di sekitarnya. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Orang seringkali memilih produk yang menunjukkan statusnya dalam masyarakat.

3. Faktor-faktor pribadi

Keputusan membeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian konsep diri pembeli.

Orang merubah barang dan jasa yang mereka beli selama masa hidupnya. Selera akan makanan, pakaian, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur. Membeli juga dibentuk oleh tahap daur hidup keluarga tahap-tahap yang mungkin dilalui oleh keluarga sesaui dengan kedewasaannya.

Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Pekerja kasar cenderung membeli lebih banyak pakaian untuk bekerja, sedangkan pekerja kantor membeli lebih banyak jas dan dasi. Selain itu, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian konsep diri pembeli pun dapat mempengaruhi keputusan kita ketika akan membeli sesuatu.

4. Faktor-faktor psikologis

Pilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh empat faktor psikologis yang penting yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan, serta keyakinan dan sikap.

Terkadang kita memiliki banyak kebutuhan pada suatu waktu. Ada kebutuhan biologis, yang muncul dari keadaan yang tegang seperti lapar, haus, atau merasa tidak nyaman. Selain itu, ada pula kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan, atau rasa memiliki. Kebutuhan-kebutuhan ini yang akhirnya akan memunculkan motivasi pada diri individu untuk membeli sesuatu demi memenuhi kebutuhannya. Selain motivasi, persepsi, pengetahuan, serta keyakinan dan sikap juga dapat mempengaruhi keputusan kita ketika akan membeli sesuatu.

admin No Comments

Parafilia : Macam-Macam Penyimpangan Seksual

 Macam Penyimpangan SeksualIstilah parafilia mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Definisi Parafilia berdasarkan DSM-IV adalah sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Parafilia meliputi aspek fantasi, dorongan dan perilaku seksual yang menyimpang, hal tersebut setidak-tidaknya harus berlangsung secara intens selama minimal 6 bulan.

Parafilia disebut penyimpangan karena, fantasi, dorongan dan perilaku seksual ini umumnya melibatkan suatu bentuk aktivitas, objek, baik orang atau benda, maupun situasi yang pada kondisi normal tidak merangsang secara seksual. Seringnya, parafilia menyebabkan masalah terhadap hidup seseorang karena hasrat tersebut akan diwujudkan menjadi sebuah perilaku sehingga. Jenis-jenis penyimpangan seksual yang tegolong ke dalam parafilia sangat beragam. Berikut ini adalah penjelasannya :

 

  1. Fetishisme

Orang dengan fetishisme akan memiliki ketertarikan seksual terhadap benda mati. Penderita fetishisme mayoritas adalah laki-laki, mereka memiliki dorongan seksual yang berulang dan intens terhadap benda non genital seperti sepatu perempuan, celana dalam, stoking, sarung tangan, dll. Benda-benda ini yang umumnya digunakan untuk menimbulkan gairah seksual bagi para fetisis.

  1. Fetishisme Transvestik

Orang dengan fetishisme transvestic merasakan gairah seksual ketika memakai pakaian lawan jenisnya meskipun ia tetap merasa sebagai laki-laki/perempuan. Misalnya dengan menggunakan pakaian dalam.

  1. Pedofilia

Penyimpangan seksual yang terjadi pada individu dewasa yang mendapatkan kepuasan seksual dengan cara berkontak fisik dan/atau seksual dengan anak-anak pra-pubertas yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka. Kasus pedofilia banyak terjadi di Indonesia.

  1. Incest

Merupakan hubungan seksual antarkerabat dekat. Hal yang paling sering terjadi adalah antara kakak-adik atau bahkan antara ayah dan anak kandung perempuannya.

  1. Voyeurisme

Kondisi dimana seseorang memiliki ketertarikan yang tinggi untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat orang lain yang sedang tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual. Kadang seorang vouyer berfantasi melakukan hubungan seksual dengan orang yang diintipnya.

  1. Eksibisionisme

Seorang eksibisionis akan mendapatkan kepuasan seksual dengan cara memamerkan organ vitalnya kepada orang yang tidak dikenal. Seorang eksibisionis akan merasakan kepuasan apabila orang yang menjadi melihat aksinya terkejut, takut, dan merasa malu.

  1. Froteurisme

Melakukan sentuhan yang berorientasi seksual pada bagian tubuh seseorang yang tidak menaruh curiga akan terjadinya hal tersebut. Penderita froterisme biasanya menggesekan alat vital ke bagian tubuh korban dan biasanya dilakukan ditempat umum yang padat, seperti didalam bus, kereta ataupun didalam antrian.

  1. Sadisme dan masokisme

Penderita sadisme memiliki ketertarikan yang tinggi untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan cara menyiksa pasangannya secara psikologis dan fisik. Seperti memperkosa, menyiksa, mempermalukannya dengan kata-kata kotor. Sementara itu, penderita masokisme memiliki ketertarikan yang tinggi untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan cara menjadikan diri sendiri sebagai subjek rasa sakit atau kondisi dipermalukan.

Penderita masokisme dapat menyayat atau membuat luka bakar pada dirinya sendiri. Seringkali orang dengan kelainan masokisme mencari pasangan yang meraih kepuasan seksual dengan melakukan kekerasan (sadisme). Pasangan sadomasokisme, di mana yang satu adalah seorang masokis dan yang lain adalah seorang sadis. Biasanya melakukan aktivitas seksual meliputi jeratan atau ikatan (bondage), pemukulan pada bokong (spanking), atau simulasi pemerkosaan.

Referensi :

Davison, Gerald C, dkk. 2006. Psikologi Abnormal Edisi ke 9. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

 

 

 

 

admin No Comments

Hidup kok gini-gini aja ya? Memahami perspektif psikologi well-being

Hidup kok gini-gini aja ya? Semakin bertambah usia, mungkin sebagian orang semakin mempertanyakan tujuan hidup yang sesungguhnya “untuk apa aku hidup?” atau mungkin “kemana aku harus melangkah melanjutkan hidup?”. Banyak orang berlomba-lomba mencari kepuasan hidup semata, hari-harinya selalu disibukkan untuk melakukan pekerjaan, menyelesaikan tugas harian sampai lupa menata kebahagiaan dalam kehidupannya bahkan muncul statement “hidup kok gini-gini aja ya?”.

Banyak orang melakukan berbagai cara untuk menemukan kebahagiaan. Kenapa? Apakah kebahagiaan itu penting untuk menjalankan kehidupan? Jawabanya adalah “ya, sangat penting”. Salah satu alasan seseorang bersemangat menjalani hidup adalah agar bahagia.

Kebahagiaan bukan hanya memiliki, tetapi kebahagiaan adalah kemampuan menggunakan apa yang kita miliki dengan baik. Kebahagiaan bisa merujuk ke banyak arti seperti rasa senang (pleasure), kepuasan hidup, emosi positif, hidup bermakna, atau bisa juga merasakan kebermaknaan (contentment). Bebebrap ahli yang telah melakukan penelitian menyatakan bahwa well-being adalah istilah dari kebahagiaan (happiness) itu sendiri.

 

Perspektif psikologi well-being

Dalam perspektif psikologi well-being atau disebut juga sebagai subjective well being berkaitan dengan dengan rasa puas seseorang akan kondisi hidupnya, seringkali seseorang merasakan emosi positif dan jarang merasakan emosi negatif. Dalam artian seseorang akan merasakan banyak emosi bahagia daripada ketidakbahagiaan dalam menjalani hidup. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa semakin tinggi subjective well being seseorang maka semakin positif juga seseorang menjalankan kehidupannya karena penuh dengan semangat, rasa senang dan optimis. Dalam kata lain, semakin puas seseorang akan kehdupannya maka kehidupannya akan semakin bahagia.

Lalu, bagaimana cara meningkatkan kepuasan dalam menjalani kehidupan biar hidup gak gini-gini aja?

  1. Menghargai diri sendiri

“Harga diri” adalah komponen penting yang dapat membangun kepuasan seseorang dalam menjalani hidup karena menghargai diri sendiri akan membantu seseorang menilai kepuasan dan kebahagiaan yang akan dirasakan.seseorang yang memiliki harga diri rendah cenderung tidak puas dengan kehidupannya, alih-alih menghargai diri mereka hanya menyalahkan diri sendiri. Cobalah untuk mereflesikan diri dan memaknai kelebihan atau kekurangan diri agar bisa memandang diri sendiri dengan lebih positif. Cobalah ucapkan “I like my self” aku menyukai diriku dengan segala kelebihan dan kekurang yang dimiliki.

  1. Memiliki makna dan tujuan hidup

seseorang akan merasakan kepuasan maupun kebahagiaan dalam hidupnya jika memiliki makna dan tujuan dalam hidup. dalam hal ini, nilai-nilai religiusitas menjadi faktor pengaruh yang penting agar seseorang bisa memaknai dan menentukan tujuan hidupnya. Dengan adanya makna dan arah dalam hidup akan menimbulkan kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan.

  1. Menjalin hubungan yang positif

Terciptanya hubungan yang positif bila adanya dukungan sosial dan keintiman emosional. Hubungan yang didalamnya ada dukungan dan keintiman akan membuat individu mampu mengembangkan harga diri, meminimalkan masalah-masalah psikologis, kemampuan pemecahan masalah yang adaptif, dan membuat individu menjadi sehat secara fisik. Hubungan positif bisa dijalin dengan keluarga, sanak saudara, dan teman dekat.

  1. Bersikap optimis akan masa depan

Orang yang optimis mengenai masa depan merasa lebih bahagia dan puas dengan kehidupannya. Individu yang mengevaluasi dirinya dalam cara yang positif, akan memiliki kontrol yang baik terhadap hidupnya, sehingga memiiki impian dan harapan yang positif tentang masa depan.

 

 

admin No Comments

Tips menerapkan kedisiplinan yang adil pada anak

Tips menerapkan kedisiplinan. Kedisiplinan yang adil bukan berarti kedisiplinan yang sama bagi semua anak. Setiap anak tentu memiliki karakter yang berbeda maka akan berbeda pula kedisiplinan yang dibutuhkan oleh anak dalam memberikan pembelajaran dan batasan.

Berikut adalah tips menerapkan kedisiplinan yang adil menurut dr. Brazelton, dokter anak terfavorit di Amerika :

  1. Pertama-tama, dalam memberikan hukuman harus sesuai dengan jenis kenakalan yang dilakukan oleh anak.
  2. Ketika anda sebagai orang tua terlalu banyak mengeluh dan memarahi anak pada saat berkelahi, cobalah untuk berhenti sejenak. Pikirkan dan pertimbangkan, apakah anda memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri? Mungkin anak akan lebih merasa nyaman ketika diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah daripada mendengarkan omelan dari orang tua.
  3. Seimbangkanlah antara hal-hal positif dan hal-hal negatif. Ketika anda dengan anak atau antar anak bisa menjalin kerjasama yang baik bahkan mengerjakan pekerjaan atau bermain bersama, berilah kata-kata pujian sebagai reward yang menyenangkan bagi anak.
  4. Jika masalah yang berhubungan dengan perilaku anak sering terjadi, tanyakan pada anak-anak apa yang bisa membantu mereka untuk bersikap lebih baik. berikan mereka kesempatan untuk andil merencanakan solusi bersama.
  5. Membanding-bandingkan anak adalah hal yang paling tidak disukai anak, maka membanding-bandingkan anak dengan anak lainnya bukanlah solusi untuk menegakkan kedisiplinan.
  6. Cobalah untuk tidak membiacarakan satu anak pada anak lain agar tidak menimbulkan perasaan iri pada saudaranya, karena setiap anak memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda.
  7. Jangan permalukan satu anak didepan anak lain.
  8. Cara yang paling efektif dalam menerapkan kedisiplinan agar diserap oleh anak adalah menerapkan kedisiplinan secara pribadi. Namun, adakalanya dua anak atau lebih memerlukan kedisiplinan pada waktu bermasaan. Anda bisa mengingatkan mereka sebagai satu kelompok untuk menerima pelajaran dan konsekuensi yang diterapkan pada mereka semua, tanpa pilih kasih.
  9. Perlu Tarik ulur untuk menyesuaikan kedisiplinan seorang anak. Orang tua pasti memahami temperamen, tahap perkembangan, cara belajar dan batasan setiap anak, jika menyesuaikan kedisiplinan sesuai pada karakter anak maka mereka memiliki peluang yang lebih baik. Amati wajah dan gerakan tubuhnya sebagai bukti bahwa anda sudah berhasil mengasainya.
  10. Pastikan anda sebagai orang tua menemukan kata-kata dan perilaku yang tepat untuk mengimbangi kedisiplinan yang telah diterapkan. Bagaimanapun orang tua adalah teladan bagi anak-anaknya, anak akan lebih mudah menjalankan kedisiplinan ketika orang tua memberikan contoh untuk berperilaku disiplin.
admin No Comments

SIAP HADAPI ANAK DENGAN EMOSI POSITIF

Hadapi Anak dengan Emosi Positif. Mengatur dan memahami perasaan anak bukanlah hal yang mudah, tak hanya itu orang tua seringkali merasa kesulitan mengelola emosinya sendiri yang akhirnya merasa kurang kesiapan untuk menghadapi emosi anak. Sebelum memahami perasaan anak hal yang perlu dilakukan tentu memahami perasaan diri sendiri. Bagaimana orang tua bisa siap menghadapi emosi anak ketika dirinya belum siap menghadapi emosinya sendiri. Dengan demikian orang tua perlu mempersiapkan diri agar bisa menghadapi  anak dengan emosi positif yang tentu akan memberikan dampak positif pada anak bukan sebaliknya.

 

Tips Menghadapi Anak dengan Emosi Positif

Berikut ini adalah Tips Bagi Orang Tua Agar Siap Hadapi Anak Dengan Emosi Positif :

  • Regulasi diri

Regulasi diri merupakan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikan perilaku diri kita. Sebelum menghadapi perilaku anak yang unpredictable tentu langkah awal adalah meregulasi diri kita. Secara sadar, sebagai manusia kita perlu membatasi pikiran, emosi dan perilaku kita.

Faktor-faktor yang turut mempengaruhi pembentukan regulasi diri adalah faktor proses perhatian dan faktor kesadaran terhadap emosi-emosi negatif. Semakin seseorang mampu menyadari emosi negatif yang muncul dalam dirinya dan semakin seseorang mampu mengendalikan perhatiannya pada sesuatu (attentional prosess), maka seseorang tersebut akan semakin mampu menahan dorongan-dorongan dan mengendalikan tingkah lakunya. Jika orang tua mampu melakukan regulasi diri dengan baik, orang tua bisa lebih siap menghadapi anak dengan emosi yang positif.

  • Edukasi diri

Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah, kita tidak mendapatkan pendidikan untuk menjadi orang tua di sekolah formal manapun. Dalam artian, diri kita sendiri yang perlu mencari ilmu dan pengetahuan agar bisa menjadi orang tua yang baik dan memiliki emosi yang positif. Melakukan edukasi terhadap diri sendiri adalah hal yang harus dilakukan sampai kapanpun.

Perlu menumbuhkan keinginan untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Jika terkendala secara emosi, maka yang perlu kita pahami adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan emosi seperti emotional coaching. Mengelola emosi agar tetap stabil tentu tak semudah teori. Perlu ada usaha kuat dari dalam diri untuk terus mengedukasi diri di setiap prosesnya menjadi orang tua. Berusaha menjadi orang tua yang cerdas secara emosi.

  • Take your time

Memiliki me time adalah hal yang langka bagi banyak orang tua. Orang tua banyak disibukkan dengan aktivitas rumah tangga sehingga tidak memiliki waktu untuk sekedar memberikan kebahagiaan pada diri sendiri. Lupa untuk memberikan me time pada diri sendiri seringkali membuat diri kita lelah, hingga akhirnya sensitif secara emosi. Tentu hal tersebut dapat berdampak buruk bagi anak karena akan merasa mudah marah pada anak. Dengan demikian, orang tua perlu meluangkan waktu untuk memberikan kebahagiaan pada diri sendiri agar bisa berbagi kebahagiaan dengan anak. Saat melihat anak marah, atau terjadi situasi tertekan dalam rumah tangga cobalah untuk bersikap tenang dan memberikan jeda dengan duduk, menarik nafas barang sebentar agar lebih siap berhadapan dengan situasi tersebut. Ciptakanlah keluarga bahagia, orang tua bahagia maka anak akan merasa lebih bahagia J

 

 

admin No Comments

5 Strategi Membangun Harga Diri Anak

Strategi Membangun Harga Diri Anak — Pada umumnya, tidak setiap individu bisa dipandang sebagai orang yang berharga, dan tida setiap individu bisa diterima oleh orang lain. Namun, perlu kita ingat bahwa setiap anak diciptakan berharga dan memiliki hak untuk dihargai terlepas dari kecerdasan, ketampanan ataupun kecantikan yang seringkali menjadi kekeliruan dalam memberikan penghargaan.

Orang tua perlu mengerti cara-cara untuk mengajari anak mengenai harga diri tanpa memandang bentuk hidung, telinga, atau efisiensi otaknya. Jadi, apa yang harus orang tua lakukan untuk mengajari mereka harga diri? Bagaimana kami, sebagai orang tua dan guru membangun jiwa yang kuat dan semangat yang gigih kepada anak-anak kami? Langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk membangun harga diri anak agar bisa tampil percaya diri?

Berikut ini adalah 5 strategi membangun harga diri anak menurut James C. Dobson yang dijelaskan dalam bukunya yang berjudul “Kiat-Kiat Ampuh Menjadikan Anak Sebagai Pribadi Yang Mandiri, Bertanggung Jawab Dan Percaya Diri”, yaitu sebagai berikut :

  1. Periksalah nilai-nilai yang diterapkan dalam keluarga

Langkah pertama dalam membangun harga diri anak adalah dengan memeriksa perasaan-perasaan diri kita sendiri, dan bersedia menunjukkan perilaku-perilaku yang salah pada anak, yang mungkin sebelumnya tidak disadari oleh kita sebagai orang tua.

Apakah secara diam-diam kita kecewa pada anak karena dirinya yang sangat biasa? Adakah penolakan pada anak karena kekurangan yang dimilikinya? Apakah pasangan menjalani perkawinan dengan keterpaksaan? Apa orangtua merasa terbebani dalam membesarkan anak? Apakah merasa malu karena perilaku anak yang nakal?

Cukup jelas, kita tidak bisa mengajari seorang anak untuk menghormati dirinya sendiri jika kita tidak menyukainya karena alasan-alasan yang kita buat. Apabila anak yakin bahwa ia sangat dicintai dan dihargai oleh orang tuanya, ia cenderung menerima perasaan berharga sebagai seorang manusia.  Oleh karena itu cobalah untuk memeriksa apakah nilai-nilai yang diterapkan dalam keluarga telah dibangun dengan penuh cinta dan kasih sayang?

Apakah orang tua menanamkan nilai-nilai tersebut dengan penuh penghargaan pada anak? Jika “ya” maka kita telah memulai langkah dalam membangun harga diri seorang anak.

 

  1. Mengajari anak melalui kebijaksanaan “Tidak Mencela”

Salah satu karakter seseorang yang paling jelas merasa rendah diri adalah ia membicarakan kekurangan-kekurangannya secara berlebihan, merasa tidak berdaya, dan mencela diri sendiri. Oleh karena itu, orang tua perlu mengajari anak tentang kebijaksanaan dalam memandang diri sendiri, tidak menyalahkan dan mencela diri sendiri. Jika mencela diri sendiri dilakukan secara terus menerus dapat menjadi kebiasaan buruk, dan tidak menyelesaikan apapun. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara menjadi teman bagi anak untuk mendengarkan keluh kesah yang dihadapinya sehari-hari, bagaimana pergaulannya dengan teman-temannnya? Apakah ia mendapatkan ejekan yang mengecam dari teman-teman sekolahnya? Bersikaplah kepadanya dengan penuh pengertian dan simpatik tanpa menangis dalam keputusasaan.

 

  1. Membantu anak mengubah kelemahannya menjadi kekuatannya

Realitanya, beberapa anak memiliki kekurangan-kekurangan lebih banyak daripada anak lainnya. Orang tua yang cemas dapat melihat hal tersebut seperti datangnya badai. Bisa jadi masalah yang dhiadapi adalah anak berwajah buruk atau bermasalah dalam belajarnya.

Apapun alasannya, setiap orang tua pasti memiliki permasalahan dalam kehidupannya. Pada kenyataannya, pandangan anak mengenai dirinya dipengaruhi oleh dua hal “kualitas kehidupan di rumah dan pengalaman sosial di luar rumah”. Yang pertama jauh lebih mudah dikontrol, namun tidak mudah bagi anak jika ditolak atau ditertawakan dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.

Anak memang membutuhkan pengalaman yang mengecewakan, hanya saja orang tua perlu siap membantu anak untuk bangkit dan bisa menerima kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal yang bisa dilakukan adalah memahami kekurangan dan kelebihan anak, setelah itu cobalah untuk mengembangkan kelebihan yang dimiliki dengan memfasilitasi anak agar fokus pada kelebihannya. Namun, tentu perlu diingat orang tua juga perlu mengajarkan bagaimana anak bisa menerima kekurangan yang dimiliki agar bisa tampil percaya diri.

 

  1. Disiplin tanpa merusak harga diri anak

Sekarang kita harus membicarakan hal penting yaitudisiplin dan harga diri. Apakah hukuman bisa mematahkan harga dirinya? Jawabannya tergantung pada perilaku menghukum dan tujuan orang tua memberikan hukuman. Perlu diketahui bahwa cara yang efektif untuk menghancurkan harga diri anak adalah menghilangkan kontrol dan disiplin pada anak. Ketika anak melakukan kesalahan, ia berharap orang tua merespons kesalahannya dengan cara yang baik bukan mengabaikan kesalahannya. Orang tua adalah simbol keadilan, hukum, dan peraturan setiap anak.

 

  1. Menggagalkan bom rendah diri

Semua masa kanak-kanak merupakan persiapan untuk masa remaja dan seterusnya. Orang tua memiliki waktu selama satu dekade untuk menanamkan pondasi nilai-nilai dan perilaku kepada anak-anak agar mereka bisa menanggulangi tekanan-tekanan dan masalah-masalah yang akan menyebabkan mereka rendah diri di masa mendatang. Untuk itu, orang tua perlu melakukan semuanya dengan baik dalam memperkenalkan anak mengenai arti harga diri dan bagaimana mempertahankannya, karena setiap manusia pasti berhubungan dengan harga diri dalam kehidupannya masing-masing.

admin No Comments

Penyebab Anak Mengalami Gangguan Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD)

Gangguan Attention Deficit Hiperactive Disorder atau disingkat dengan ADHD sebenarnya sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat. Tetapi dengan istilah yang berbeda. Sejarah gangguan ADHD telah mendapatkan berbagai label dan stigma negatif dari masyarakat. Dan juga ADHD mencerminkan berbagai pandangan tentang penyebabnya.

ADHD sebagai suatu gangguan kronis (menahun) yang dapat dimulai pada masa bayi dan dapat berlanjut sampai dengan dewasa. Gangguan ini dapat berpengaruh negatif terhadap kehidupan anak di sekolah, di rumah, maupun didalam komunitasnya.

ADHD sebagai diagnosis yang diberikan untuk remaja, anak-anak dan beberapa orang dewasa, yang mengalami kesulitan dalam pemusatan perhatian, hiperaktif, mudah terdistraksi, dan juga impulsif. Gangguan ADHD merupakan suatu gangguan neurobiologi, dan bukan penyakit yang mempunyai penyebab spesifik. ADHD digambarkan dalam DSM-IV secara khas sebagai kesatuan dari tiga rangkaian kurangnya perhatian, impulsif, dan juga hiperaktif.

 

Penyebab Gangguan Attention Deficit Hyperactive Disorder

Penyebab pasti dan patologi ADHD masih belum diketahui secara jelas. Seperti halnya gangguan autis, gangguan ADHD merupakan suatu kelainan yang bersifat multi faktor. Banyak faktor yang dianggap sebagai penyebab gangguan ini, diantaranya:

  1. Faktor perkembangan janin

Ibu hamil yang pernah mengalami masalah dalam kandungannya, terkait gangguan pada proses persalinan, kecelakaan, terjatuh, traumatis psikologi sangat rawan menyebabkan anak tumbuh dengan kondisi ADHD. Termasuk penggunaan forceps dan obat secara berlebihan pada ibu hamil dapat menyebabkan hiperaktivitas pada anak.

2. Faktor genetik

Sekitar 80 persen dari perbedaan antara anak-anak yang mempunyai gejala ADHD di kehidupan bermasyarakat akan ditentukan oleh faktor genetik. Anak dengan orang tua yang menyandang ADHD mempunyai delapan kali kemungkinan resiko mendapatkan anak ADHD. Hal ini jauh lebih besar dibandingkan dengan anak ADHD yang dilahirkan dari orangtua yang tidak ada riwayat orangtua dan garis keturunan atas dengan gangguan ADHD. Faktor genetik menentukan pada perbedaan-perbedaan fungsi dan kimiawi otak yang diturunkan oleh orangtua. Perbedaan fungsi dan kimiawi otak ini muncul dapat diwariskan secara genetik.

 

3. Ibu hamil mengkonsumsi minuman beralkohol

Zat-zat yang terkandung dalam alkohol terutama bahan kimiawi dapat menyebabkan bayi mengalami gangguan hiperaktivitas.

 

4. Keracunan dan kontaminasi lingkungan

Polusi udara dengan kandungan timbal yang tinggi dapat menyebabkan hiperaktivitas pada anak. Beberapa masyakarat yang tinggal di wilayah kawasan pertambangan, pusat industrialisasi juga rawan memiliki anak dengan kondisi ADHD.

 

5. Alergi makanan

Beberapa peneliti mengungkapkan penderita ADHD mengalami alergi terhadap makanan. Teori Feingold memperkirakan bahwa Salisilat mempunyai efek kurang baik terhadap tingkah laku anak. Asam silsilat adalah obat yang digunakan untuk mengatasi masalah kulit yang disebabkan oleh penebalan dan pengerasan kulit. Beberapa teori menjelaskan bahwa gula merupakan subtansi yang merangsang hiperaktifitas pada anak.

 

6. Lingkungan fisik dan pola asuh anak oleh orang tua

Keluarga yang tidak harmonis misalnya perceraian orangtua, konflik suami istri menyebabkan depresi dan stres pada istri. Terlebih jika istri sedang hamil, dimana kondisi psikologis mempengaruhi pertumbuhan perkembangan janin. Ibu hamil yang depresi juga rawan melahirkan anak dengan permasalahan-permasalahan fisik, termasuk diantaranya gangguan ADHD.

 

7. Aktifitas otak yang berlebihan

Penelitian neuropsikologi menunjukkan bahwa kortek frontal dan sirkuit yang menghubungkan fungsi eksekutif bangsal ganglia, dopaminergic dan noradrenergik neurotransmission merupakan target utama dalam pengobatan ADHD. Perubahan lainnya terjadi gangguan fungsi otak tanpa disertai perubahan struktur dan anatomis yang jelas. Penyimpangan ini menyebabkan terjadinya hambatan stimulus atau justru timbulnya stimulus yang berlebihan yang menyebabkan penyimpangan yang signifikan dalam perkembangan hubungan anak dan orang tua serta lingkungan sekitar. Pada pemeriksaan radiologis otak PET (Position Emission Tomography) didapatkan gambaran bahwa pada anak penderita ADHD dengan gangguan hiperaktif yang lebih dominan didapatkan aktifitas otak yang berlebihan dibandingkan anak yang normal dengan mengukur kadar gula yang didapatkan perbedaan yang signifikan antara penderita hiperaktif dan anak normal.

 

Kemunculan ADHD pada anak memang tidak dapat dicegah, namun risiko munculnya kelainan ini sangat mungkin untuk diminimalisir. Untuk meminimalisir risiko terjadinya ADHD, ibu hamil tidak boleh merokok, minum minuman beralkohol, dan menggunakan NAPZA. Selain itu, jauhkan anak dari asap rokok dan paparan zat beracun.

Walaupun begitu, anak terlahir dalam kondisi ADHD bukanlah penderitaan bagi orangtua yang harus diratapi. Orangtua tetap bisa memberikan pengkondisian dan metode dalam mendidik anak, namun agak berbeda dengan pengkondisian anak normal pada umumnya. Dibutuhkan kesabaran dan kerjasama orangtua untuk menyikapi anak dengan permasalahan ADHD. Sehingga, anak tetap dapat tumbuh dengan keberfungsian hidup yang optimal.

Demikian artikel singkat terkait Penyebab Anak Mengalami Attention Deficit Hyperactive Disorder. Semoga bermanfaat.