admin No Comments

Psikotes suami istri sebagai bahan evaluasi dan bahan konseling pernikahan

Psikotes suami istri. Banyak hal yang menjadi sumber konflik dalam rumah tangga. Seperti permasalahan finansial, perhatian, ekspresi cinta, aktivitas seksual, pekerjaan, pihak ketiga dalam hubungan suami istri, keluarga besar, dan sebagainya. sehingga, sumber konflik tersebut bisa menjadi masalah bagi interaksi suami istri yang perlu segera diselesaikan dan dicari akan permasalahannya. Terkadang sumber masalah tertentu dapat menyebabkan konflik-konflik yang lain dalam interaksi suami istri. Misalnya, akar permasalahan di kurangnya komunikasi yang menyebabkan prasangka dan sering salah paham. Atau kurang harmonis dalam aktivitas seksual yang menyebabkan perselingkuhan. Oleh karena itu, upaya menyelesaikan permasalahan rumah tangga, jika tidak diselesaikan di akar masalah.. maka akan tetap masalah tersebut muncul lagi dikemudian hari.

 

Tujuan psikotes suami istri

Dalam pendekatan psikologi, konflik suami istri bisa dibantu dengan pendampingan oleh psikolog melalui proses konseling. Konseling dimulai denan penggalian sumber masalah dan diakhiri dengan problem solving, pemberian terapi, dan kemudian terminasi. Untuk penggalian sumber masalah dan mencari tipe atau karakteristik suami dan istri yang menjadi sumber konflik… bisa dilakukan dengan wawancara mendalam atau dengan pendekatan psikotes suami istri. Psikotes pasangan ini adalah dengan diberikannya alat tes kepribadian untuk menggali sifat dan karakteristik, atau pola interaksi dalam rumah tangga. Tes suami istri ini juga bisa digunakan untuk proses evaluasi sebelum konseling ke psikolog. Dengan masing-masing suami istri mengetahui karakteristik, kepribadian, dan persepsi pernikahan satu sama lainnya. Diharapkan bisa menjadi bahan introspeksi antara istri dan suami.

 

  Alat Tes yang Digunakan

Seperti yang telah kami sebutkan di atas. Tes ini digunakan untuk mengungkap kepribadian, dan persepsi pernikahan. Tools yang kami gunakan untuk tes ini yaitu tes bahasa cinta, tes relasi keluarga, dan tes keluarga fungsional. Ditambah jika perlu ada tes kepribadian umum.

 

Psikotes Bahasa Cinta

Pada psikotes suami istri ini, menggali tentang ekspresi atau tipe bahasa cinta yang paling dominan dalam diri seseorang. Ada lima bahasa cinta yaitu, waktu yang berkualitas, melakukan pelayanan, kata-kata afirmasi, sentuhan fisik, dan pemberian hadiah.

Kata-kata yang menguatkan.

Jika ini adalah bahasa cinta yang dominan, maka Anda mampu mengatakan pujian tanpa diminta. Mendengar perkataan, “Aku mencintaimu,” itu penting. Mendengar alasan di balik ungkapan cinta adalah hal yang akan menumbuhkan rasa semangat. Perkataan yang mengandung unsur hinaan dapat membuat Anda hancur dan hal tersebut tidak akan mudah untuk dilupakan.

Waktu yang berkualitas

Jika ini adalah bahasa cinta yang dominan, maka meluangkan waktu untuk pasangan adalah ungkapan cinta. Ungkapan “Aku mencintaimu,” perlu disertai dengan adanya perhatian. Sangat penting bagi pasangan untuk tetap hadir di sampingnya. Keberadaan memberikan kesan pengorbanan tentang waktu, simbol memberikan perhatian dan kasih sayang. Orang yang dominan tipe ini akan merasa sakit hati ketika ada hal-hal yang mengganggu waktunya dengan pasangan, adanya penundaan tanggal pada jadwal yang sudah direncanakan sebelumnya dengan pasangan, atau tidak adanya keberadaan pasangan untuk mendengarkan perasaannya.

Pemberian hadiah

Jika ini adalah bahasa cinta yang dominan, maka Anda akan merasa dicintai, diperhatikan dan dihargai ketika menerima hadiah dari pasangan. Menurutnya, hadiah adalah hal penting yang dapat menumbuhkan rasa cinta. Tetapi perlu diketahui bahwa bahasa cinta ini bukanlah bentuk materialisme. Pemberian hadiah dapat menunjukkan bahwa seseorang diakui, dijaga, dan diprioritaskan. Orang yang dominan tipe ini akan sangat merasa kecewa ketika hari ulang tahunnya, atau hari-hari spesialnya terlewatkan tanpa adanya hadiah. Rasa kecewa yang dirasakan dapat mempengaruhi kebiasaannya dengan pasangan di kehidupan sehari-hari.

Melakukan pelayanan

Jika ini bahasa cinta yang dominan, maka perkataan yang paling ingin didengar adalah “Biarlah saya melakukannya untuk Anda.” Orang yang dominan tipe ini akan sangat merasa senang ketika pasangan membantu meringankan beban tanggung jawabnya. Orang yang dominan tipe ini akan merasa kesal dengan adanya kemalasan, komitmen yang tidak terjaga, dan pekerjaan yang semakin banyak.

Sentuhan fisik

Jika ini bahasa cinta yang dominan, perlu diketahui bahwa bahasa cinta ini tidak selalu tentang kamar tidur. Seseorang yang bahasa utamanya adalah sentuhan fisik akan lebih sensitif. Ia akan merasa dicintai ketika berpelukan, berpegangan tangan, dan mendapatkan sentuhan penuh perhatian pada lengan, bahu, atau wajah. Menurutnya sentuhan fisik yang diberikan pasangan adalah cara untuk menunjukkan kegembiraan, kepedulian, dan cinta. Kehadiran fisik dan adanya akses untuk melakukan sentuhan fisik adalah hal yang sangat penting, tetapi adanya kelalaian atau penyalahgunaan adalah hal yang tidak dapat dimaafkan dan merusak.

Dengan mengetahui bahasa cinta yang tepat pada pasangan, akan membuat pasangan dimengerti, dihargai, dan dicintai. Sedangkan kurang tepatnya pemberian bahasa cinta sesuai karakteristik pasangan, akan membuatnya merasa tidak dicintai atau disayangi. Terkadang perasaan tidak dicintai oleh pasangan tidak karena pasangan benar-benar tidak mencintainya. Tetapi kadang, karena mereka tidak saling tepat dalam mengekspresikan bahasa cinta. Bahasa cinta perlu digali dengan tes. Kemudian hasil tes berupa laporan tertulis bisa diberikan kepada pasangan untuk bisa dijadikan bahan evaluasi dan bahan konseling untuk menerima pasangan satu dengan yang lainnya.

 

Psikotes Relasi Keluarga

Pada psikotes suami istri dengan tes keluarga fungsional ini, ditujukan untuk menggali interaksi (relasi) antara dua anggota keluarga. Sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada suami-istri, tetapi juga bisa ditujukan ke anak-orangtua, anak-wali asuh, anak dan kakek nenek. Tes relasi keluarga ditujukan untuk menggali aspek-aspek relasi keluarga seperti pembatasan, afeksi, keadilan, pengakuan, dan kepercayaan. Berikut adalah penjelasan singkat terkait aspek yang diungkap dari tes relasi keluarga:

Pembatasan atau pengekangan pasangan.

Pada tes ini, semakin tinggi pembatasan atau pengekangan menunjukkan indikasi bahwa suami atau istri menghayati pasangannya sebagai seseorang yang sangat otoriter dan karenanya memiliki perasaan tidak bebas. Sedangkan semakin rendah pembatasan atau pengekangan menunjukkan indikasi bahwa suami atau istri menghayati pasangannya sebagai seseorang yang sangat demokratis dan memiliki kebebasan untuk berpendapat.

Melihat Aspek Afeksi

Pada tes ini, semakin tinggi Afeksi mengungkapkan hubungan yang intim dan / atau membutuhkan relasi afeksi dengan pasangannya. Menunjukkan afeksi yang kuat, artinya bahwa suami atau istri dan pasangannya memiliki hubungan afeksi yang memuaskan. Sedangkan semakin rendah afeksi pasangan menunjukkan adanya suasana yang dingin dan hubungan secara fisik yang minim.

Pada tes ini, semakin tinggi Kepekaan pasangan mengindikasikan suami atau istri mampu ikut merasakan kepekaan pasangannya. Suami Atau Istri mampu memahami dan mengekspresikan empati terhadap perasaan sakit, kesepian, dan kesedihan dari pasangannyanya. Sedangkan semakin rendah kepekaan pasangan mengindikasikan bahwa suami atau istri kurang mampu merasakan kepekaan pasangannyanya.

Melihat Aspek Keadilan

Pada tes ini, semakin tinggi keadilan menunjukkan penghayatan suami atau istri bahwa pasangannya banyak berbuat untuknya dan bahwa dia mau berbuat sesuatu sebagai balasannya. Penghayatan suami atau istri terkait dengan keseimbangan antara memberi dan mengambil dalam hubungan dengan pasangannyanya. Sedangkan semakin rendah keadilan menunjukkan penghayatan suami atau istri bahwa pasangannya tidak banyak berbuat untuknya.

Melihat Aspek Pengakuan

Pada tes ini, semakin tinggi pengakuan mengekspresikan penghayatan bahwa pasangannya menghargai dirinya dan perilakunya. Suami Atau Istri merasa apa yang dilakukannya telah diakui secara eksplisit oleh pasangannyanya. Sedangkan semakin rendah pengakuan mengekspresikan penghayatan suami atau istri merasa tidak dianggap betul-betul penting dalam relasi dengan pasangannya.

Melihat Aspek Kepercayaan

Pada tes ini, semakin tinggi Kepercayaan mengindikasikan bahwa suami atau istri melihat bahwa pasangannya dapat diandalkan dan memiliki penghayatan bahwa pasangannyanya mempercayainya. Suami Atau Istri merasakan banyak dukungan yang bisa diharapkan dari pasangannyanya. Sedangkan semakin rendah kepercayaan mengindikasikan Suami Atau Istri melihat bahwa pasangannya kurang dapat diandalkan dan memiliki penghayatan bahwa pasangannya kurang mempercayainya. Suami Atau Istri merasakan pasangannya kurang memberikan dukungan kepadanya.

 

Psikotes Keluarga Fungsional

Pada psikotes suami istri ini, ditujukan untuk menggali persepsi finansial pasangan, Persepsi tetang  pengampunan dan perbaikan pernikahan, persepsi tentang komunikasi perkawinan, dan persepsi tentang keintiman seksual.

Persepsi tentang finansial pasangan mengungkapkan bagaimana pasangan memahami uang. Ada empat persepsi tentang uang, yaitu sebagai status, rasa aman, kesenangan, dan sebagai kontrol atau kendali terhadap pihak lain. Pada persepsi pengampunan dan perbaikan pasangan melihat tentang sulit dan mudahnya suami istri dalam memberikan pemaafan terhadap pasangannya. Kemudian terkait persepsi tentang komunikasi pernikahan mengukur bagaimana penyampaikan perasaan, keinginan, dan pikiran suami istri kepada pasangannya. Semakin kuat mengindikasikan pasangan yang asertif. Yang terakhir yaiatu persepsi tentang keintiman seksual mengukur tentang permasalahan seksual yang mampu menjadi sarana untuk menunjang keharmonisan dalam keluarga. Melihat tentang kepuasan interaksi seksual berdampak terhadap keharmonisan keluarga.

 

 

______

Demikian adalah artikel singkat kami tentang psikotes suami istri. Tes-tes psikologi di atas bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan konseling pasangan dan bahan pertimbangan atau evaluasi. Semoga artikel ini bermanfaat.