admin No Comments

Alat tes Kraepelin : Emil Kraepelin, Pencetus Tes Kecepatan dan Ketelitian Kerja

Oleh : Epip Nurdiansah

Alat tes Kraepelin

Alat tes Kraepelin

Alat tes Kraepelin — Pernahkah kamu mengerjakan tes seperti di atas ? Biasanya tes ini diberikan saat kamu melamar kerja di perusahaan. Perlu dicatat bahwa tes ini dibuat oleh tokoh besar di dunia psikiater, yaitu Emil Kraepelin.

Emil Kraepelin lahir di Jerman tanggal 15 Februari 1856. Kraepelin dianggap sebagai Bapak psikiatri ilmiah. Gelar ini layak disandang karena pengaruhnya lebih besar pada praktik psikiatri (dan bidang terkait) dibandingkan tokoh lain. Kraeplin yang menyusun dasar dari sistem klasifikasi psikiatris modern. Beliau membuat perbedaan antara skizofrenia dan psikosis manik depresif yang masih berlaku sampai sekarang. Kraepelin memilih diagnosis berdasarkan gejala yang dapat diamati daripada melihat penyebab gangguan tersebut. Perbedaan ini dikenal sebagai Dikotomi Kraepelinian dan masih tercatat di dalam DSM (1).

Emil Kraepelin, Pencetus Tes Kecepatan dan Ketelitian Kerja

Emil Kraepelin, Pencetus Tes Kecepatan dan Ketelitian Kerja

 

Karir Kraepelin untuk Psikiatri

Setelah menerima gelar M.D. dari Universitas Würzburg (1878), Kraepelin melanjutkan studinya di bawah bimbingan Wilhelm Wundt dan beberapa ahli neuroanatom Jerman. Kraepelin menggunakan teknik eksperimental Wundt untuk mempelajari pengaruh obat-obatan, alkohol, dan kelelahan terhadap fungsi psikologis. Pada tahun 1881 beliau menerbitkan hasil penelitian tentang pengaruh penyakit menular pada timbulnya penyakit mental. Compendium der Psychiatrie (1883) adalah karya pertama Kraepelin tentang klasifikasi gangguan. Kraepelin membagi penyakit mental menjadi gangguan eksogen dan gangguan endogen. Eksogen disebabkan oleh kondisi eksternal dan dapat diobati. Sedangkan gangguan endogen memiliki penyebab biologis seperti kerusakan otak organik, disfungsi metabolisme, atau faktor keturunan dan dianggap tidak dapat disembuhkan (2).

Kraepelin meraih karir yang gemilang dalam dunia psikiatri. Pada usia 29 tahun beliau diangkat sebagai profesor di Universitas Dorpat (sekarang Tartu, Estonia). Kemudian di Universitas Heidelberg Kraepelin terus memperbaiki klasifikasinya, merevisi beberapa bagian dari buku teks psikiatrinya yang berkembang sampai beberapa volume. Dalam edisi keenam (1899), Kraepelin pertama kali membedakan antara psikosis depresif manik dan demensia praecox. Sekarang disebut skizofrenia. Dia percaya bahwa gangguan depresif manik dan melankolia termasuk eksogen dan dapat diobati. Sedangkan demensia praecox adalah penyakit endogen yang tidak bisa sembuh. Kraepelin mengaitkan demensia praecox dengan perubahan organik di otak.

Kraeplin membagi penyakit klinis menjadi tiga jenis. Pertama, katatonia di mana aktivitas motorik terganggu (baik terlalu aktif atau pasif). Kedua, hebephrenia yang ditandai dengan reaksi dan perilaku emosional yang tidak sesuai. Ketiga, paranoia yang ditandai oleh delusi keagungan dan penganiayaan.

Pada tahun 1903 Kraepelin menjadi profesor psikiatri klinis di Universitas Munich. Tahun 1922 beliau menjadi Direktur Lembaga Penelitian Psikiatri di kota yang sama. Sepanjang karirnya, Kraepelin terus memperbaiki klasifikasinya hingga wafat di kota tersebut tahun 1926. Bahkan ketika meninggal, beliau sedang mengerjakan buku Lehrbuch der Psychiatrie dan sedang membesarkan Institut Penelitian Psikiatri Jerman (3).

Awal Alat Tes Kraepelin dan Adaptasinya di Indonesia

Sebenarnya konsep-konsep dalam sistem klasifikasi Kraepelin berasal dari orang lain. Namun beliau adalah orang pertama yang mensintesisnya menjadi model yang dapat digunakan untuk mendiagnosis dan merawat pasien mental. Pada abad ke 19 Kraeplin menciptakan alat tes psikologi untuk membedakan antara orang yang normal dengan abnormal. Pada awalnya diberi nama Simple Arithmetic Test yang kemudian dikenal dengan tes Kraepelin (4).

Alat Tes Kraepelin untuk menguji perbedaan individu terutama pada proses sensori motor, persepsi dan tingkah laku. Pada awalnya tes diciptakan untuk mengukur karakteristik individu seperti memori, hasil latihan, dan daya tahan. Saat ini tes Kraepelin telah berkembang menjadi tes bakat dengan mengubah fokus pada penilaian dan intepretasi hasil tes.

Alat Tes Kraepelin masuk ke Indonesia dan dimodifikasi oleh Fakultas Psikologi Universitas Gajahmada (UGM) dan Fakutas Psikologi Universitas Indonesia. Norma yang digunakan di Indonesia merupakan hasil adaptasi dari beberapa penelitian sebelumnya. Pembakuan norma tes ini juga sudah dilakukan berdasarkan kelompok usia antara 15 sampai 44 tahun. Nuryati Attamimi pada tahun 1980 juga telah melakukan pembakuan norma tes ini untuk siswa-siswa lulusan SMEA dan STM di Yogyakarta dan pada tahun 1981 untuk siswa lulusan SMA jurusan IPA dan IPS di Yogyakarta (4).

Pada dunia kerja tes Kraepelin sudah lama digunakan, terutama dalam rangka seleksi ABRI dan penempatan kerja di perusahaan. Bentuk dan ukuran tes yang digunakan banyak mengalami perubahan dari bentuk aslinya dengan alasan lebih praktis. Namun prinsip-prinsip dasar tes ini tetap dipertahankan sesuai dengan keadaan aslinya (5).

artikel terkait: contoh laporan psikotes

dan macam tes psikologi

 

 

Validitas dan Reliabilitas Tes Kraepelin

Pada tahun 1965 Arif Wangsa dalam penelitian tentang koefisien validitas tes Kraeplin diperoleh hasil : aspek kecepatan kerja (r=0,54), aspek ketelitian kerja (r=0,57), aspek keajegan kerja (r=0,52), dan aspek ketahanan kerja (r=0,40). Adapun koefisien reliabilias tes diuji oleh Tukul Santoso pada tahun 1967 dengan hasil : aspek kecepatan kerja (r=0,875), aspek ketelitian kerja (r=0,758), aspek keajegan kerja (r=0,870), dan aspek ketahanan kerja (r=0,912) (6).

Data di atas menunjukan validitas dan reliabilitas tes cukup tinggi. Tapi perlu diingat bahwa pengujian sudah sangat lama, kurang lebih 50 tahun yang lalu. Fakta ini mendorong Catherine Febrianty menguji kembali tes Kraepelin. Hasilnya menunjukkan bahwa tes Kraepelin sudah tidak valid dan tidak reliabel dalam mengungkapkan bakat. Tes Kraepelin perlu ditinjau kembali oleh lembaga yang berwenang.

_______________________

Referensi

(1). www.psychologytoday.com. (Online)

(2). www.britannica.com. (Online)

(3). www.ncbi.nlm.nih.gov. (Online)

(4). Catherine Febrianty. Karakteristik Psikometri Tes Kraepelin. (Pdf).

(5). Koentjoro. Laporan Penelitian Pembakuan Norma Tes Karepelin…… (Pdf)

(6). Universitas Mulawarman. Modul Tes Minat dan Bakat. (Pdf)