admin No Comments

Webinar Parenting – Anak memang seharusnya berbakti kepada orangtua. Dalam semua agama menyatakan bahwa berbakti kepada orangtua adalah kebajikan dan dibalas dengan pahala. Jika tidak berbakti kepada orangtua adalah sebuah kejahatan sehingga harus dibalas dengan dosa dan hukuman. Namun bagaimana jika orangtua memiliki karakteristik yang toxic. Apa itu karakteristik toxic. Akan kita bahas dalam artikel singkat ini.

Kepribadian toxic merupakan karakteristik dimana orang tersebut menjadi beban dan masalah bagi orang lain atau lingkungan. Sedangkan orangtua toxic merupakan individu yang berkedudukan sebagai orangtua, namun tidak memiliki kematangan emosional yang cukup untuk berperan sebagai orang tua. Sehingga orangtua tersebut tidak mampu memberikan pola asuh yang sehat terhadap anak. Orangtua toxic tidak mampu membangun bahkan mungkin menarik diri dari kedekatan emosional terhadap keluarga terutama anak-anak mereka.

Sifat kurang dewasa pada orangtua toxic menjadikan mereka tidak sanggup menghadapi      permasalahan keluarga,  tidak mampu menampilkan kebijaksanaan dan kedewasaan serta tidak             peduli dengan kebutuhan anak-anak. Lebih lanjut, orangtua toxic tidak bisa membangun komunikasi yang hangat dengan anak-anak mereka, terlebih mengenal secara mendalam anak mereka.

Jika orangtua memiliki karakteristik toxic, dia akan berkonflik dengan pasangan. Anak-anak mereka akan menjadi korban dari kepribadian orangtua. Bisa dari dampak konflik, melalui pengabaian, kurang perhatian, atau tekanan, dan hukuman berat dari orangtuanya. Akhirnya, anak akan berkepribadian rapuh dan mengalami gangguan psikologis, seperti gangguan kecemasan, kesulitan mengontrol emosi dan sebagainya. Anak yang diasuh oleh orangtua toxic akan berpeluang memberikan pengasuhan toxic juga ketika anak tersebut telah punya anak ketika berkeluarga kelak.

Baca juga artikel kami lainnya di tes psikologi online

dan jasa psikotes

 

Karakteristik Orangtua Toxic

Orangtua toxic memunculkan berbagai karakteristik perilaku dan sikap yang menghadirkan kekacauan pola asuh. Berikut adalah karakteristik dari orangtua toxic:

  1. Bapak-ibu yang kaku dan tidak berpikiran terbuka. Mereka tidak mudah menerima masukan dan saran. Pemikirannya sempit dan tidak terbuka dengan alternatif-alternatif solusi yang bisa ditawarkan.
  2. Orangtua yang memiliki toleransi rendah terhadap stres yang mereka miliki. Terkadang hal-hal simpel bisa menjadi sumber konflik pasangan. Permasalahan sepele yang tidak perlu diperhatikan akan menjadi masalah bagi orangtua toxic.
  3. Bapak-ibu yang melakukan apa yang mereka rasa paling sukai. Penilaiannya sangat subjektif. Penilainnya banyak didominasi oleh doktrin-doktrin tidak logis yang terkadang tidak justru malah merepotkan mereka sendiri.
  4. Bapak ibu yang egosentris. Pemikiran berfokus pada diri mereka sendiri. Terlalu disibukkan dengan diri sendiri sehingga tidak memperhatikan dan mendukung anak-anak mereka.
  5. Tidak respect dengan munculnya perbedaan. Subjektivitas, egosentris, dan berpikir tertutup menjadikan mereka tidak terbuka dengan adanya perbedaan. Hal ini yang terkadang menjadikan konflik dengan pasangan bahkan ke anak ketika anak sudah menjelang dewasa.
  6. Sangat asyik dengan dunianya sendiri. Menjadikan interupsi anak sebagai gangguan. Mereka cenderung akan menghindari anak. Atau justru mengeksploitasi anak untuk mencapai keinginannya sendiri.
  7. Merujuk pada diri sendiri, tidak berupaya untuk berempati. Karakteristik ini yang menjadikan anak dan pasangan tidak tertarik untuk curhat.
  8. Selalu berusaha menjadi pusat perhatian dalam interaksi keluarga
  9. Mengupayakan anak berperan untuk mereka. Anak harus berbakti dan ada dorongan agar anak bisa balas jasa kepada orangtua.
  10. Menganggap apa yang dilakukan anak sudah seharusnya dilakukan, sehingga tidak memberikan apresiasi. Disini, anak akan tertekan dalam tuntutan orangtua.
  11. Terang-terangan bersikap pilih kasih terhadap salah satu anak dan mengabaikan yang lain. Yang menjadikan antara anak memunculkan sibling rivalry dan ketidakharmonisan antar saudara sampai mereka dewasa.

Dampak Orangtua Toxic Pada Perkembangan Kepribadian Anak

Orangtua yang toxic memunculkan permasalahan-permasalahan psikologis anak ketika mereka masih anak-anak sampai mereka dewasa. Berikut adalah dampak dari orangtua toxic terhadap perkembangan kepribadian anak:

  1. Anak menjadi sering bersikap tidak konsisten dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Karena anak dalam konflik keluarga tumbuh dengan kepercayaan diri rendah.
  2. Perilaku ingin menentang aturan sosial dan norma masyarakat
  3. Penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas dan kenakalan remaja jika anak lebih nyaman berinteraksi di luar rumah dari pada dengan keluarga. Di sisi lain lingkungan luar rumah ternyata membawa pengaruh yang buruk terhadap anak.
  4. Mengembangkan pertahanan diri yang sangat kuat sehingga menutupi diri mereka yang sesungguhnya/tidak mengenal diri. Anak bisa menjadi agresif dan cenderung melawan orang yang mencoba menasehati atau pihak otoriter di luar rumah.
  5. Memiliki perasaan ketakutan dan tidak aman yang sangat besar terhadap lingkungan, kesepian. Dalam kondisi ini, anak lebih suka menyendiri dan tidak banyak berinteraksi dengan teman-temannya.
  6. Tidak memiliki tujuan yang jelas. Tujuan mereka seringkali untuk membahagiakan orang tua mereka. Dimana tujuan mereka tersebut tidak akan dapat dipenuhi seumur hidup mereka.
  7. Kesulitan mengekspresikan emosi. Hanya mengetahui satu jenis ekspresi emosi (biasanya marah dan sedih). Akibatnya anak tidak berpengalaman untuk mengatasi emosi yang datang bersamaan.
  8. Merasa tidak mampu membangun kedekatan emosioal dengan orang lain dan tidak mudah beradaptasi dengan linkungan sosial.
  9. Tidak memahami cara memberikan empati dan kasih sayang yang tepat
  10. Sangat membangkang atau justru sebaliknya, terlalu patuh dan memiliki ketergantungan pada orang selain dirinya.
  11. Selalu menyalahkan orang tua ketika bertemu dengan masalah-masalah dalam hidup

 

Baca juga artikel kami lainnya di jasa psikotes online

dan jasa psikologi

 

Bagaimana Menghadapi Orangtua Toxic

Ada beberapa tips yang bisa kami share terhadap orangtua toxic. Namun, permasalahan terhadap orangtua toxic yang efektif adalah tergantung kondisi dan situasi yang mungkin. Butuh bantuan psikolog, konselor, bahkan psikiater untuk membantu menyelesaikan orangtua toxic jika permasalahan terlalu kompleks. Kenyataannya orangtua toxic sangat bervariasi. Terkadang solusi satu efektif pada orangtua yang satu tetapi tidak bisa diaplikasikan pada orangtua toxic lainnya. Dalam beberapa situasi, permasalahan toxic ternyata tidak hanya dimiliki oleh satu orangtua. Tetapi asal permasalahan bisa muncul karena permasalahan finansial, pihak ketiga, keluarga berat, penyakit yang dialami oleh anggota keluarga, dan sumber permasalahan lainnya.

Berikut adalah tips umum dalam menghadapi orangtua toxic:

Memahami “Mengapa mereka menjadi Orangtua Toxic?”

Permasalahan toxic orangtua bisa disebabkan karena mereka memiliki masalah emosional yang tidak selesai. Mereka bisa saja memiliki latar belakang keluarga yang tidak jauh berbeda dengan kondisi yang mereka bangun. Mengalami kekerasan selama masa perkembangan kecil dan diperlakukan buruk oleh kakek kita. Memiliki perasaan kesepian yang besar atau mengalami kejadian trauma ketika kecil. Serta pendidikan atau pola asuh yang mereka terima (saat kecil) yang kejam. Dengan memahami kondisi orangtua seperti ini, kita juga perlu belajar membuka toleransi untuk memahami mereka sebagai “manusia” yang perlu ditolong. Sehingga, kita tidak terlalu menuntut atau membenci mereka atas apa yang telah mereka ‘lakukan’ kepada kita.

Tidak meletakkan kebahagiaan kita pada kebahagiaan orang tua

Tugas berbakti kepada orangtua tidak sama dengan membahagiakan orangtua. Berbakti, menyenangkan dan membahagiakan adalah tiga istilah yang jauh berbeda. Kebahagiaan orangtua berasal dari hati dan internalnya sendiri. Kita tidak bisa mempengaruhinya. Setiap manusia bertanggungjawab atas           kehidupannya sendiri termasuk kebahagiaan pribadinya. Begitu juga dengan orangtua. Jadi sebagai anak, kita perlu mengenali diri, termasuk kebutuhan, keinginan, dan kemampuan yang dimiliki. Buatlah tujuan hidup pribadi karena kita juga punya masa depan. Dimana ketika kita dewasa kelak, kita perlu membesarkan anak dengan kehidupan lebih baik. Bersikaplah fleksibel bila tujuan hidup tersebut perlu diubah karena kondisi keluarga. Segala sesuatu ada skenario dari Tuhan. Dan setiap ujian keluarga ada hikmah dibaliknya yang akan membuat kita bahagia jika kita bersabar.

Demikian adalah dua tips terkait menghadapi toxic parent. Tips lainnya seperti :

  1. Membangun Nilai-nilai baru tentang orang tua
  2. Nilai-nilai mengenai hubungan orang tua dan anak
  3. Berkenalan dengan coping stress yang efektif
  4. Bersikap asertif
  5. Hargai dan cintai diri kita sendiri
  6. Mengontrol reaksi emosi
  7. Mengaktualisasikan diri dengan meningkatkan kompetensi diri

Bisa dibahas di workshop dan webinar parenting yang diselenggarakan oleh Deepa Psikologi

Webinar Parenting: Berbakti kepada Orangtua Toxic

Webinar Parenting: Berbakti kepada Orangtua Toxic

Webinar Parenting dari Deepa Psikologi

Kami sebagai biro psikologi yang concern dalam layanan konseling memberikan konseling pernikahan, konseling pasangan dan interaksi orangtua anak. Dalam layanan psikologi keluarga diantaranya dengan rutin mengadakan seminar webinar parenting secara offline maupun secara online. Anda bisa menghubungi CS atau admin kami untuk menanyakan terkait layanan webinar parenting. Khususnya untuk layanan webinar parenting secara online. Webinar parenting dari deepa psikologi juga tersedia dalam fasilitas berbayar maupun gratis. Anda bisa mengikuti layanan webinar parenting sesuai dengan kebutuhan Anda. Semoga webinar parenting dari Deepa Psikologi bisa membantu Anda dalam menyelesaikan permasalahan dan menambah informasi ataupun ilmu baru terkait parenting.

Baca juga artikel kami lainnya di konsultan psikologi

dan biro psikologi

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *