Dinda Aisha No Comments

BECOMING PARENTS: 2. Mengenal Teori Bronfenbrenner

Mengenal Teori Bronfenbrenner

Penulis: Dinda Aisha

deepapsikologi.com — Sudah kita ketahui bersama bahwa sebelum mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai ilmu-ilmu pengasuhan, alangkah lebih baiknya kita sebagai orang tua terlebih dahulu memahami mengenai individu, terutama mengenai diri kita dan anak kita. Sembari membaca dan memahami mengenai paparan-paparan yang akan dipaparkan dalam artikel ini, para orang tua juga bisa sembari menilai dan mengevaluasi diri  sebagai individu, disamping memahami mengenai anak.

Setiap individu dilahirkan dan dibesarkan dengan berbeda-beda. Anak kembar pun akan tumbuh dan menjadi pribadi yang tidak sama persis. Maka dari itu, mari kita coba pahami bagaimana melihat anak kita sebagai individu yang unik dan berbeda satu sama lain. Sebenarnya banyak sekali teori-teori Psikologi dasar yang perlu dipelajari oleh orang tua supaya lebih memahami anak lebih dalam lagi. Namun, pada seri ini, kita akan mempelajari beberapa teori dasar saja. Mari kita bahas bersama mengenai teori pertama yaitu teori yang dikemukakan oleh pak Urie Bronfenbrenner. Skema yang beliau kenalkan dan populerkan adalah sebagai berikut:

 

 

Teori Bioecological

Setiap manusia memengaruhi dan dipengaruhi oleh segala hal yang ada di lingkungan sekitarnya. Pada intinya dikatakan bahwa manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Pak Urie membaginya menjadi beberapa lingkaran system agar lebih mudah untuk dipahami. Teori ini dikenal dengan nama teori bioecological. Penjabarannya sebagai berikut:

  1. Lingkaran pertama itu adalah ciri-ciri yang melekat dan menetap pada individu seperti jenis kelamin, usia, kondisi fisik yang menetap, kondisi inteligensi dan sebagainya. Tentunya ciri-ciri ini akan memberikan pengaruh pada bagaimana seseorang berperilaku, berpikir, berkata, dan sebagainya.
  2. Kemudian lingkaran kedua itu disebut microsystem. Lingkaran ini terdiri dari lingkungan yang paling dekat dengan individu dan sifatnya memberikan pengaruh langsung kepada individu tersebut. Yang termasuk di dalam sistem ini adalah keluarga, teman, sekolah, komunitas-komunitas yang diikuti, dan sebagainya. Sebagai contoh, bagaimana hubungan kita dengan orang tua dapat memberikan pengaruh bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Contoh lain, jika orang tua kita memiliki kecenderungan pribadi yang sering marah-marah ketika menghadapi suatu permasalahan, maka kita cenderung akan bersikap yang sama. Di sisi lain, apabila kita memiliki hubungan yang positif dan terbuka dengan orang tua, maka apapun permasalahan yang dihadapi, kita akan mampu berbagi dan mencari solusi bersama dengan orang tua. Intinya kita sebagai individu sangatlah dekat dan mudah terpengaruh dan memengaruhi dengan orang-orang yang ada di lingakaran paling dekat dengan diri kita.

 

  1. Kemudian lingkaran ketiga disebut mesosystem. Sistem ini merupakan interaksi yang terjadi antar microsystem kita. Seperti hubungan antara orang tua kita dan guru kita di sekolah; antara teman dan orang tua; dan sebagainya. Sebagai contoh, jika orang tua memiliki keterbukaan dan hubungan yang baik dengan guru di sekolah, maka seorang anak akan mendapatkan penanganan yang tepat baik di rumah maupun di sekolah. Contoh lain, apabila orang tua memiliki hubungan yang positif dengan teman-teman anaknya, maka anak akan merasa nyaman untuk terbuka ketika terjadi suatu hal yang kurang baik antara dirinya dan temannya. Contoh lain adalah ketika orang tua memahami mengenai komunitas yang diikuti oleh anak, maka orang tua bisa memberikan dukungan yang lebih untuk meningkatkan kemampuan anak selain kemampuan akademiknya di sekolah.

 

  1. Lingkaran selanjutya yaitu keempat disebut Exosystem. Lingkaran ini meliputi hubungan antara microsystem dengan sistem di luar diri individu tersebut. Sebagai contoh, media massa yang menampilkan banyak berita kekerasan secara tidak langsung memberikan pengaruh kepada anak seperti rasa ketakutan dan menimbulkan kecemasan dari orang tua yang menyebabkan anak menjadi tidak dibebaskan untuk bereksplorasi. Contoh lain seperti tempat kerja orang tua, teman orang tua, dan sebagainya. Ketika orang tua memiliki permasalahan di tempat kerja, orang tua menjadi tidak fokus menghadapi anak di rumah.

 

  1. Lingkaran kelima yaitu macrosystem. Lingkaran ini meliputi pola-pola budaya seperti agama yang dianut mayoritas, kondisi ekonomi negara, kondisi politik, budaya-budaya yang dianut di suatu daerah tempat tinggal. Sebagai contoh, anak yang tinggal di Jawa Tengah memiliki nilai-nilai budaya yang berbeda dengan anak yang tinggal di Sumatera Utara. Perlu diingat bahwa, nilai-nilai ini juga memberikan pengaruh pada bagaimana seseorang berpikir, berperilaku dan bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Lingkaran keenam atau yang terakhir yaitu chronosystem. Sistem ini erat kaitannya dengan konteks waktu dalam kehidupan seseorang. Terkadang hidup seseorang ada yang cenderung konstan yaitu lahir, besar, dan tinggal di suatu daerah tanpa adanya perubahan yang berarti di lingkungannya. Namun, ada orang yang memiliki kesempatan hidup berpindah-pindah atau mengalami suatu kejadian yang besar dalam kehidupannya seperti bencana alam, terjadinya perang atau konflik di daerah tempat tinggalnya.

 

Nah, sekarang kita sama-sama sudah mengetahui secara singkat mengenai teori yang diungkapkan oleh Urie Bronfenbrenner terkait dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Dari hasil mempelajari teori ini, diharapkan kita sebagai orang tua lebih bijak melihat dan memahami anak kita dan diri kita sendiri. Percaya-lah bahwa semua hal yang ada lingkungan anak akan memberikan pengaruh baik negatif maupun positif kepada anak, terutama pada lingkaran microsystem-nya yang paling dekat. Begitu juga dengan anak kita akan memberikan pengaruh kepada lingkungannya yang kita harapkan memberikan pengaruh yang positif dan membangun.

 

Teori ini juga memberikan pandangan kepada kita sebagai orang tua bahwa setiap anak pastilah berkembang dengan cara yang berbeda-beda karena setiap anak pastinya memiliki dan tumbuh dalam sistem-sistem yang berbeda pula. Setiap anak memiliki ceritanya masing-masing, maka dari itu, orang tua perlu-lah lebih menghargai anak sebagai manusia tanpa membanding-bandingkan dengan anak lain. Setiap manusia akan tumbuh dan tidak bisa dipisahkan dari pengaruh-pengaruh yang ada linkungan-nya. Maka dari itu, berilah anak bekal yang cukup untuk menghadapi lingkungan-nya dan semaksimal mungkin berikanlah dan paparkan anak pada lingkungan yang positif bagi mereka dengan dimulai dari microsystem nya.

 

Happy reading dan studying, Parents!

Dinda Aisha No Comments

BECOMING PARENTS: 1. Bagaimana Menjadi Orangtua yang Sehat Secara Psikologis.

deepapsikologi.com — BECOMING PARENTS, Bagaimana Menjadi Orangtua yang Sehat Secara Psikologis.

 

Penulis: Dinda Aisha & Puspa Rahayu Utami Rahman

Ketika mendengar kata orangtua, makna yang terlintas pertama kali pada kebanyakan orang adalah sepasang manusia yang diidentifikasikan dengan nama ayah dan ibu. Bagi sebagain besar pasangan individu yang sudah menikah, harapan besar berikutnya adalah menjadi orangtua bagi anak-anak mereka. Salah satunya mungkin Saya dan Anda!

Lalu, ketika Anda dan pasangan diberikan kesempatan untuk menjadi (atau calon) orangtua, sudahkah Anda banyak membekali diri dengan ILMU? Ilmu pengetahuan yang memfasilitasi pasangan agar dapat menjadi orangtua yang sesuai dengan karakteristik anak-anaknya, bukan hanya sebagai orangtua yang baik bagi pandangan subjektif orangtua itu sendiri.

Walaupun tidak ada definisi yang paten sebagai orang tua yang baik dan benar, karena setiap orang tua akan memiliki gaya pengasuhan yang berbeda-beda. Dalam mengasuh anak, perlu diperhatikan  kesesuaian dengan karakterisktik anak dan kondisi keluarga. Maka dari itu, dalam mempelajari ilmu-ilmu pengasuhan tidak hanya mempelajari teknik-tekniknya saja, namun perlu juga mempelajari mengenai karakteristik anak dan juga segala atribut yang menempel pada anak. Yang mana hal ini sangat memengaruhi gaya pengasuhan yang diterapkan oleh masing-masing orang tua.

Pada kenyataannya, menjadi orang tua itu bukanlah suatu tugas yang mudah. Belum ada sekolah wajib yang harus diikuti oleh setiap pasangan yang hendak menjadi orang tua. Tidak ayal, para pasangan akan “learning by doing” ketika mereka sudah memiliki buah hati. Pada pasangan lain mungkin adanya perasaan menyesal karena sudah melewati masanya belajar mempersiapkan menjadi orangtua yang optimal. Atau perasaan menyesal karena sudah  membuat suatu kesalahan dan berharap adanya “time machine” untuk mengulang waktu. Di sisi lain, ada juga pasangan yang sudah banyak membekali diri dengan ilmu “parenting” dengan berbagai cara namun masih kesulitan dalam menjalaninya. Padahal orang tua adalah salah satu kunci untuk menciptakan anak yang bermanfaat dan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupan.  Namun, bukan berarti hal itu tidak bisa diperbaiki dan dipelajari. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadi orangtua yang lebih optimal dan memanusiakan anak.

Family Care dari Deepa Pengembangan Psikologi, akan membuat artikel berseri mengenai “Becoming Parents” untuk membantu para orang tua ataupun calon orang tua memiliki bekal dalam menghadapi anak, baik itu dalam hal memahami anak dengan lebih baik, menyesuaikan pengasuhan yang tepat dengan kondisi anak, serta menjadi orang tua yang lebih sehat secara psikologis. Perlu diingat, setiap manusia tumbuh di muka bumi ini dengan kondisi yang berbeda-beda, baik dari segi fisik, orang tua, keluarga, lingkungan, tempat tinggal, kondisi ekonomi, dan sebagainya.

 

Happy Learning and Reading, Parents!

Dinda Aisha No Comments

Hebatnya Manfaat Bermain bersama Anak

Deepapsikologi.com — Bermain adalah kegiatan yang disukai oleh hampir semua orang, mulai dari anak bayi sampai dewasa. Coba anda ingat kembali ketika sedang melakukan outbound dari kantor anda atau bermain singkat ketika melakukan workshop atau seminar. Terlihat bapak-bapak dan ibu-ibu sejenak melupakan beban-beban pikiran dan ikut terhanyut, ketawa ketiwi, bersemangat mengikuti jalannya permainan. Dapat dikatakan bahwa orang dewasa pun menikmati sebuah permainan. Apalagi dengan anak-anak. Ada yang bilang bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Namun, terkadang kita sering mendengar seorang ibu mengatakan seperti ini ke anaknya:

 

“jadi anak kerjaannya main terus!”; “jangan main terus!”; “gimana mau pinter kalau main terus!” dan sebagainya.

 

Mari kita bahas sedikit mengenai bermain yaitu definisi bermain dan manfaat bermain

Read it out!

 

Apa itu Bermain?

 

Sebenarnya definisi bermain itu apa ya? Bermain itu berasal dari kata main. Menurut KBBI, main adalah melakukan permainan untuk menyenangkan hati (dengan menggunakan alat-alat tertentu atau tidak); melakukan perbuatan untuk bersenang-senang (dengan alat-alat tertentu atau tidak). Sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh James Sully yaitu bermain adalah suatu kegiatan yang menimbulkan perasaan senang. Dapat kita simpulkan bahwa suatu kegiatan yang membuat yang melakukan senang itu bisa dikatakan sedang melakukan kegiatan bermain. Pada dasarnya, setiap orang yang sedang bermain akan merasa senang atau merasakan emosi-emosi yang positif. Bermain biasanya berasal dari motivasi dalam diri tanpa adanya paksaan dari orang lain, biasanya lebih menekankan pada prosesnya bukan hasil akhirnya serta sifatnya fleksibel tanpa adanya aturan yang sangat baku.

Hal ini memperlihatkan bahwa sebenarnya tidak lah susah bagi orang tua untuk mengajak anak untuk bermain. Karena bermain itu tidak lah perlu menggunakan alat yang mahal, tempat yang luas, serta orang yang banyak. Kegiatan-kegiatan sederhana seperti berlomba meniup tisu di dalam rumah pun jika dilakukan dengan cara yang menyenangkan akan menjadi suatu permainan yang menyenangkan bagi anak dan orang tua.

 

Manfaat Bermain

 

Pertanyaan selanjutnya muncul, kenapa bermain itu penting dan  kemudian manfaat dari bermain itu apa saja ya? Pada dasarnya manfaat bermain itu bisa dikategorikan menjadi 5 aspek besar yaitu dilihat dari aspek fisik, aspek motoric kasar dan halus, aspek emosi, aspek sosial, dan aspek kognitif.

  1. Aspek fisik: anak yang bermain secara aktif yang cukup akan melatih otot-otot dalam tubuhnya lebih baik. Karena banyak gerak dan beraktivitas, anak juga akan memiliki kualitas tidur malam yang lebih baik karena penyaluran energinya sudah tercukupi dengan bermain aktif. Contoh permainan yang bisa dilakukan untuk memenuhi aspek fisik ini seperti bermain lombat tali, bermain lempar-tangkap bola, petak umpet, dan lain-lain. Namun yang perlu diperhatikan adalah anak-anak yang memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik, alangkah lebih baik perlu dikonsultasikan kepada dokter anak terkait dengan kegiatan bermain yang membutuhkan olah fisik yang banyak.
  2. Aspek motorik kasar dan motorik halus. Aspek ini merupakan salah satu aspek yang penting diasah agar anak mampu belajar dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya dengan lebih baik di kemudian hari. Motorik kasar itu adalah gerakan-gerakan tubuh seperti berjalan, berlari, melompat, dan sebagainya. Sedangkan motoric halus itu adalah gerakan-gerakan yang dihasilkan oleh tubuh seperti menulis, mewarnai, meronce, menuangkan air dalam gelas dan sebagainya. Jika anak tidak diberikan kesempatan untuk melatih gerakan motoric kasar dan halusnya dengan baik, maka kemungkinan anak bisa mengalami kesulitan ketika belajar menulis, olahraga, melakukan kegiatan sehari-hari seperti mengkancing baju, menalikan sepatu, dan sebagainya. Adapun contoh permainan yang bisa melatih aspek ini adalah permainan-permaian fisik di atas bisa melatih motoric kasar, sedangkan permainan seperti origami, membuat gelang menggunakan manik-manik dan tali, memasukkan pasir ke dalam botol, mazes, dan sebagainya.
  3. Aspek social. Pastinya hampir seluruh anak di dunia ini pernah diajak bermain ci luk ba oleh orang dewasa di sekitarnya. Tahukah bapak ibu apa manfaat dari bermain ci luk ba? Sebenarnya permainan ini melatih salah satu kemampuan sosial pada anak. Yaitu mengajarkan anak untuk mengetahui bahwa tidak adanya orang tua bukan berarti orang tua pergi selamanya. Hal ini penting ketika anak sudah mulai harus ke sekolah dan harus ditinggalkan oleh orang tua nya. Selain itu, permainan ini bisa meningkatkan hubungan yang positif antara anak dan orang tua. Aspek kemampuan social lain yang bisa diasah melalui bermain adalah kemampuan berbagi dengan orang lain, bergantian, mengantri giliran, berkomunikasi yang baik dengan teman sebaya, dan sebagainya. Contoh permainan yang bisa mengasah aspek ini antara lain bermain gobak sodor, board games, bermain rumah-rumahan/masak-masakan, sports game (sepak bola, tenis, bulu tangkis, dll), dan sebagainya.
  4. Aspek emosi. Dengan bermain, anak belajar dan mendapat kesempatan untuk merasakan berbagai macam emosi seperti perasaan senang, marah ketika ada teman yang bermain curang, sedih ketika kalah, tegang ketika permainannya menantang, bersemangat, dan sebagainya. Anak juga melatih diri untuk mengontrol perasaan-perasaan tersebut dengan cara yang positif, tentunya dengan bantuan orang tua atau orang dewasa yang ada di sekitarnya. Selain itu, dengan bermain anak juga bisa menumbuhkan rasa percaya diri dengan merasakan bahwa ia bisa atau baik dalam melakukan suatu permainan. Hampir semua permainan bisa mengasah aspek ini.
  5. Aspek kognitif. Secara singkat, aspek kogntif meliputi kemampuan anak untuk berfikir. Biasanya dikaitkan dengan kemampuan belajar. Bermain itu tidak hanya sekedar main dan tidak ada manfaatnya. Anak bisa banyak belajar melalui bermain. Bermain adalah cara belajar untuk anak. Hampir seluruh permainan dapat mengasah aspek ini dari berbagai sisinya seperti kemampuan matematika, membaca, mengenal huruf, mengenal bentuk, menulis, ilmu sains, dan sebagainya.

Bermain sebagai Sarana meningkatkan Hubungan Orangtua dan Anak

Selain kelima aspek di atas, manfaat dari bermain adalah untuk meningkatkan hubungan yang berkualitas antara orang tua dan anak. Orang tua juga perlu kreatif menciptakan permainan yang inovatif dan menarik bagi anak. Karena dengan bermain bersama antara orang tua dan anak maka bisa meningkatkan pola komunikasi, hubungan, dan cara pandang anak ke orang tua maupun orang tua ke anak menjadi lebih positif. Anak bisa menceritakan hal-hal sensitive atau private mengenai dirinya ketika sedang bermain bersama orang tua karena suasana bermain pastinya menyenangkan dan dekat. Pola komunikasi juga bisa lebih terbuka ketika orang tua secara aktif terlibat dalam permainan anak. Untuk anak-anak yang sudah remaja, maka orang tua bisa bermain bersama permainan-permainan board games seperti monopoli, twister, UNO, dan sebagainya.

Setelah kita mengetahui manfaat dari bermain maka alangkah lebih baiknya, kita sebagai orang tua lebih bijak lagi menanggapi keinginan bermain dari anak-anak kita. Tentunya jenis permainan yang dimainkan juga tidak luput dari perhatian dan seleksi dari kita. Perlu diperhatikan pula jenis permainannya, konten dari permainannya, bermain aktif atau terlalu banyak permainan pasif (tv, gadget, dan sebagainya), serta jam yang dihabiskan untuk bermain. Lantas bukan berarti anak dibiarkan untuk bermain 24 jam non stop. Perlu adanya pembagian waktu yang bijak dan cermat antara bermain dan juga mengerjakan tugas sekolah, membaca buku, istirahat, makan, membantu orang tua/kakak/adik, membersihkan diri, dan kegiatan lainnya.

 

Happy playing with your kids, Parents!

 

admin No Comments

SUKA DUKA MENJADI DOSEN PSIKOLOGI

 

Deepapsikologi.com — Banyak mahasiswa bertanya, mengapa dosennya sering susah dihubungi? Mengapa dosennya sok sibuk, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Mahasiswa sering menuntut dosennya siap support kapanpun dia butuhkan. Bisa selalu hadir di kampus. Dan jika ingin bimbingan, maka gampang ditemui.
Coba kita pahami dari sudut pandang pengajar ini. Bagaimana aktivitas menjadi dosen yang cukup menyita waktu. Karena sebenarnya tugas dosen tidak hanya mengajar. Dosen juga harus mengerjakan aktivitas lainnya, yang terkenal di sebut tri dharma perguruan tinggi. Apa saja tugas tri dharma perguruan tinggi yang terangkum dalam tri Dharma Perguruan tinggi. Yaitu,

Tugas Pendidikan, menyiapkan tenaga yang cakap membentuk manusia susia yang berjiwa Pancasila dan bertanggung jawab. Akan terwujudnya adil dan Makmur, material serta spiritual.

Tri Dharma kedua yaitu tugas penelitian. Tugas penelitian yaitu melakukan penelitian dan usaha kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kehidupan masyarakat.

Tri Dharma ketiga yaitu pengabdian kepada masyakarat. Mengabdi kepada masyarakat dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Sehingga, memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus ditunaikan oleh Dosen

Tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus ditunaikan oleh Dosen

Hal ini belum termasuk tugas administrasi yang disyaratkan oleh pihak kampus, seperti input nilai, rapat pembelajaran, pemberkasan, persiapan borang/ akreditasi kampus. Juga tugas kampus lainnya jika dosen diberikan tugas di jabatan fungsional.

Karena dosen juga harus memenuhi tugas-tugas lainnya, maka tugas mengajar dosen tidak boleh terlalu banyak. Hal ini diatur agar dosen bisa melakukan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi lainnya, dan juga perkerjaan administrasi kampus lainnya.

 

Tugas sebagai Dosen Psikologi

Seringkali pihak universitas memberikan ruang kepada dosen psikologi untuk memberikan layanan konseling bagi mahasiswa di universitas tersebut. Pihak universitas tidak ingin mahasiswanya mengalami kendala dalam proses perkuliahan. Sehingga permasalahan-permasalahan pribadi mahasiswa perlu dimediasi dengan bantuan konseling dari psikolog. Banyak universitas atau perguruan tinggi memberikan link konseling kepada mahasiswa yang mengalami masalah psikologis yang berpengaruh terhadap performa pembelajaran mahasiswa. Sehingga, fakultas atau prodi Psikologi banyak yang memiliki biro psikologi untuk memfasilitasi sesi konseling mahasiswa.

Kasus yang dialami mahasiswa dalam proses konseling tersebut bermacam-macam. Mulai dari permasalahan mahasiswa yang berprestasi kurang/ memiliki indeks prestasi di bawah rata-rata, diasumsikan tidak mampu mengikuti pembelajaran kuliah. Mahasiswa dengan kasus-kasus psikologis seperti fobia, neurosis, gangguan kepribadian. Mahasiswa juga banyak yang terhambat perkuliahannya dikarenakan permasalahan relasi dengan pasangan, dengan orangtua, dosen, dan senior-junior di kampusnya.

Permasalahan lainnya seperti mahasiswa yang mangkir dari perkuliahan, tidak kunjung selesai untuk mengerjakan skripsi atau tugas akhir. Beberapa kasus juga ditemui bagi mahasiswa yang menentang kebijakan-kebijakan kampus dan melawan dosennya. Sehingga tidak membuat nyaman interaksi antara dosen dengan mahasiswa. Dan banyak permasalahan-permasalahan psikologis yang ada di lingkungan kampus. Baik itu mahasiswa, sesama dosen, dan staf kampus. Agar, permasalahan-permasalahan psikologis tidak menjadi hambatan dalam berkegiatan di lingkungan universitas.

 

Beban Mental Sebagai Dosen Psikologi

Ada anggapan bahwa dosen psikologi memahami manusia. Maka, dari mahasiswa cenderung punya ekspektasi lebih, bahwa dosen psikologi tersebut tentu sangat memahami mereka. Memahami kondisi dan memahami permasalahan yang dirasakan oleh mahasiswa. Sehingga diharapkan dosen bisa lebih memiliki toleransi atas kesalahan atau kekurangan yang dilakukan oleh mahasiswa.

Tentu hal ini tidaklah tepat, karena dosen juga mempunyai peran untuk memberikan pembelajaran kepada manusia. Tidak selalu bahwa dosen psikologi harus bersikap humanis dan selalu ramah kepada mahasiswanya. Terlebih jika mahasiswa diberikan tuntutan untuk mencapai target pembelajaran.

Sebagi pengajar, dosen juga memperhitungkan, kapan mahasiswa perlu diberikan semangat, pujian, dan dorongan agar meningkatkan prestasinya. Tetapi, juga ada saatnya, kapan mahasiswa diberikan ketegasan, aturan yang jelas, dan sanksi jika ada pelanggaran aturan. Tujuannya, agar mahasiswa memiliki dorongan untuk memperbaiki diri, dan menyadari kesalahan yang dilakukannya.

Terlepas dari latar belakang dosen psikologi yang memiliki beberapa karakteristik. Tidak semua dosen bisa bersikap seperti yang diharapkan mahasiswa. Hal ini yang membuat terkadang mahasiswa kecewa dan tidak nyaman terhadap dosennya. Karena mereka berharap terlalu banyak terhadap dosen psikologi. Agar dosen tersebut dapat memahami mereka.

 

Apa saja yang diharapkan Dosen kepada Mahasiswanya?

Dosen sebagai pembelajar, tentu hal utama yang diharapkan adalah tersampainya proses pembelajaran/ transfer knowledge kepada mahasiswanya. Mahasiswa diharapkan mampu menerima apa yang disampaikan dan tuntutan yang diberikan oleh dosennya secara maksimal.

Namun, ada harapan lain selain target pembelajaran materi perkuliahan yang dituntut oleh dosen. Selayaknya orangtua kepada anaknya, dosen juga mengharapkan ada perilaku yang baik dari mahasiswanya. Mereka diharapkan bisa berperilaku sopan santun,  bersikap baik di kelas, menghargai dosen dalam menyampaikan materi dengan cara memperhatikan secara seksama. Mahasiswa perlu berkomunikasi dengan sopan, dan jika ada yang kurang pas, diharapkan mahasiswa mampu memberikan masukan kepada dosennya dengan cara yang baik. Sehingga, tidak menyinggung dosen.

Jika mahasiswa mampu memberikan kenyamanan kepada dosennya. Baik sikap perilaku, dan tuntutan tugas perkuliahan. Maka, dosen juga akan bersikap segan kepada mahasiswanya. Karena, dosen adalah pihak otoritas, jadi sangat mungkin ada penilaian subjektif dosen yang akan berpengaruh terhadap penilaian mahasiswa.

 

Etika Mahasiswa dalam Berkomunikasi Telepon dengan Dosen

Dimasa digital sekarang, tidak mudah bagi mahasiswa untuk mendapatkan akses dosennya. Dosen juga bisa diakses dari mulai facebook, Instagram, twitter, maupun whatsapp. Sehingga, mahasiswa bisa kapanpun menghubungi dosen. Namun, selayaknya hubungan komunikasi, juga perlu diperhatikan aturan sopan santun. Kepada dosen, mahasiswa perlu memperhatikan aturan-aturan tak tertulis dalam berintaksi di media social. Khususnya jika, mahasiswa perlu menanyakan tentang tugas perkuliahan. Misalnya, terkait jam. Bahwa sebagai dosen, di luar dia juga berperan sebagai suami/ istri, orangtua, bahkan punya aktivitas pekerjaan lainnya. Jadi, mahasiswa harus tahu, waktu yang pas untuk menghubungi dosen. Tidak etis jika mahasiswa menghubungi dosen di jam istirahat, seperti tengah malam, atau week end. Beberapa dosen juga tidak menerima jika ditelepon oleh mahasiswa, atau jika di whatsapp. Maka, mahasiswa perlu mengikuti aturan yang ditetapkan oleh dosen tersebut untuk tetap menjaganya merasa nyaman dalam melayani mahasiswa.

Bahasa yang digunakan juga harus diperhatikan, seperti penggunakan kata baku, dan tidak disingkat. Penggunakan emoticon, atau kesan dari Bahasa yang ditangkap juga penting. Seperti kalimat yang seolah memberikan kesan menginstruksi dosen atau menuduh itu tidak etis. Walaupun mahasiswa tidak ada niatan untuk mengungkapkan kata-kata negatif tersebut. Tetapi, hal tersebut perlu diperhatikan agar tidak ada kesalahpahaman. Mengingat kelemahan komunikasi tulis adalah tidak cukup mewakili ekspresi dan pesan tersirat dari komunikasi yang disampaikan.

suka duka menjadi dosen Psikologi

suka duka menjadi dosen Psikologi

Tips Bagi Mahasiswa agar Memenuhi Ekspektasi Dosen

Mahasiswa perlu memahami bahwa dosen tidak perlu ditakuti. Tidak usah terlalu berfokus terhadap dosen, sehingga tugas sebagai mahasiswa untuk meng-upgrade diri jadi terabaikan. Mahasiswa perlu belajar terhadap materi yang disampaikan oleh dosen dengan sungguh-sungguh. Biasanya, dosen di awal kontrak perkuliahan sering memberikan silabus perkuliahan. Fokus dalam pembelajaran yang disampaikan akan menjadikan mahasiswa tersebut berprestasi. Semua dosen tentu sangat menyukai jika mahasiswanya mendalami dengan sungguh-sungguh bahasan perkuliahan yang disampaikan.

Terlepas dari itu ada tips singkat bagi mahasiswa, yiatu memahami karakteristik dosennya. Ada beberapa dosen yang berfokus pada teksbook yang harus dipahami mahasiswa. Ada dosen yang mengharapkan mahasiswa memahami subtasi teori, pemahaman aplikasi, dan yang penting mengerti apa yang disampaikan. Sedangkan beberapa dosen, ada yang tidak banyak mensyaratkan apa-apa kepada mahasiswanya, selain kehadiran, sikap baik, dan mau mengerjakan tugas.

Dengan mengenali karakteristik dosen, maka diharapkan mahasiswa tersebut bisa mendapatkan penilaian positif. Sehingga, beberapa peluang bisa didapatkan seperti motivasi belajar meningkat, dilibatkan dalam aktivitas praktek dosen yang bisa meningkatkan pengalaman mahasiswa. Sedangkan, nilai bagus adalah bonus. Karena, nilai perkuliahan seringkali tidak banyak memberikan kontribusi positif dalam kesuksesan mahasiwa tersebut kelak setelah lulus. Namun, sikap positif, kemampuan memahami, menghormati, ketekunan dan keteguhanlah yang lebih berpengaruh menentukan kesuksesan seseorang kelak.

admin No Comments

Mengenal Pengertian Stres, Dampak yang Muncul dari Stres dan Cara Mengatasinya

deepapsikologi.com — Orang awam memahami stres dengan gambaran negatif. Seolah-olah dalam persepsi masyarakat, stres disamakan dengan orang yang mengalami gangguan jiwa. Atau beberapa orang memandang stres sebagai kondisi dimana seseorang bermasalah. Tentu hal tersebut tidak benar. Kami akan menjelaskan secara singkat terkait stres, latar belakang munculnya stres. Serta bagaimana kita menyikapi jika kita mengalami stres. Berikut kami sampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan stres.

Mengenal Pengertian Stres, Dampak yang Muncul dari Stres dan Cara Mengatasinya

Mengenal Pengertian Stres, Dampak yang Muncul dari Stres dan Cara Mengatasinya

Istilah Stres dan Pandangan Masyarakat Menyikapi Stres

Istilah stres sendiri berarti kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu. stres tersebut muncul sebagai persepsi pribadi karena hasilnya dipandang tidak pasti dan penting baginya. Stres menjadi beban mental dimana secara persepsi pribadi melebihi kemampuan atau dalam batas maksimal mental seseorang untuk menghadapinya. Stres dapat memunculkan pemikiran, perasaan, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. Tentu hal ini tergantung dari seseorang memaknai permasalahan dan menyikapinya. Hal tersebut tentu berbeda dengan pemahaman masyarakat awam tentang stres yang identik dengan gangguan jiwa (istilah psikologis mendekati Skizofrenia).

Sebagai tambahan, ada penjelasan stres menurut Ahli (Santrock, 2003). Menjelaskan stres sebagai respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stressor), yang mengancam dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping).

 

Respon Fisiologis Munculnya Stres

Stres memunculkan rasa takut dan perasaan cemas dari perasaan dan tubuh kita terhadap tekanan dari lingkungan. Bagaimana stres muncul dapat dilihat secara fisiologis. Bila ada sesuatu yang mengancam dan menekan pikiran, membuat ketidakseimbangan tubuh, sehingga kelenjar pituitary otak mengirimkan “‘alarm” dan hormon ke kelenjar endokrin.

Dari kalenjar endoktrin yang kemudian mengalirkan hormon adrenalin dan hidrokortison ke dalam darah. Hasilnya, tubuh mengeluarkan energi lebih agar menjadi siap untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang muncul. Energi lebih tersebut menjadi tegangan yang harus disalurkan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Efek secara alamiah yang kita rasakan adalah degup jantung yang berpacu lebih cepat, dan keringat dingin yang biasanya mengalir di tengkuk. Hal tersebut adalah respon fisik, ketika kita menghadapi tekanan atau tegangan baik dari stimulus luar, maupun dari tekanan pemikiran.

Ketika kondisi stres muncul, maka tubuh langsung menyesuaikan diri terhadap tekanan yang datang. Hal inilah yang menjadi penyebab bahwa stres yang melebihi daya tahan atau kemampuan tubuh biasanya. Namun, bagaimana kita menyikapi stres berpengaruh terhadap penyesuaian tubuh. Jika tidak mampu menyikapi stres dengan lebih baik dapat menyebabkan gangguan baik fisik maupun psikis.

 

Gangguan Fisik yang Bisa Muncul Sebagai Akibat Stres

Dengan meningkatnya hormon adrenalin dan hidrokortison yang dihasilkan akibat reaksi tubuh terhadap stres. Jika dua hormon tersebut meningkat secara berlebihan dan berlangsung dalam jangka waktu lama akan dapat mengakibatkan rangkaian reaksi dari organ tubuh yang lain. Sehingga beberapa fungsi organ tubuh pada manusia terhambat dalam bekerja. Menyebabkan beberapa penyakit fisik yang mungkin bisa mengganggu dan dapat menyebabkan kematian. Menurut penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa 6 (enam) penyebab utama kematian yang erat hubungannya dengan stres adalah penyakit jantung koroner, kanker, paru-paru, kecelakaan yang disebabkan karena gangguan konsentrasi, pengerasan hati dan bunuh diri.

 

Dampak Positif dan Negatif Stres

Karena stres sebagai respon munculnya tekanan dari luar. Maka, stres menjadi indikator agar kita bergerak untuk mengatasi masalah yang muncul. Analogi stres hampir sama seperti ketika kita terluka karena jatuh. Rasa sakit tersebut adalah stressor, yang menjadi indikator tubuh bahwa ada rangsangan dari luar yang membuat tubuh bekerja untuk mengobati sesuatu yang bersumber dari rasa sakit yang muncul.  Sehingga, stres itu bersifat netral. Stres bisa menjadi baik dan tidak baik, adalah dari bagaimana kita menyikapi tekanan tersebut. Hal ini berbeda dari pandangan awam, bahwa stres itu selalu buruk dan harus dihindari. Stres bernilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan energi untuk bergerak mendapatkan potensi hasil.

Sebagai contoh, banyak pekerja memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan deadline pekerjaan yang menekan sebagai tantangan positif yang meningkatkan kualitas pekerjaan mereka. Jika mereka selalu bisa menyelesaikan tekanan tersebut, maka kualitas pekerjaan mereka akan meningkat. Kemudian, perusahaan memandang karyawan tersebut kompeten, dan layak untuk mendapatkan kenaikan jabatan.

 

Klasifikasi Stres Berdasarkan Dampaknya

Jadi, menyikapi dampak positif dan negatif stres. Stres bisa diklasifikasikan menjadi 3 jenis:

Eustres dipahami sebagai stres yang memberikan dampak baik. Stres membuat kita waspada terhadap ancaman dari luar yang mengancam keberlangsungan hidup kita. Stres tipe ini juga mendorong seseorang bergerak maju dan mencapai potensi maksimal seseorang berusaha, sehingga mencapai hasil yang lebih baik.

Distres. Tipe stres ini memberikan dampak destruktif bagi seseorang. Stres tipe ini menjadikan seseorang kurang produktif, berkurang daya kreatif, dan semangatnya. Beban yang dirasakan menjadikan seseorang patologis, dan memunculkan gejala-gejala fisik, psikis, dan perilaku dari stres.

Neustres sebagai dampak stres ketiga dipahami stres berada antara eustres dan distres. Stres tersebut pada tahap yang lebih netral. Tidak memberikan dampak yang signifikan baik dampak positif mapun dampak negatif. Tampaknya orang yang mengalami neustres memberikan pemaknaan yang kurang besar terhadap permasalahan dan beban yang dirasakannya.

 

Sumber Penyebab Stres secara Umum

Stresor (sumber stres) dapat muncul dari beberapa macam masalah yang ada di kehidupan sehari-hari. Ada sumber stres yang berasal dari gangguan fisik, seperti kuman dan penyakit, kecelakaan, kurang gizi, dan cacat fisik. Dari segi Psikologi, stresor bisa disebabkan karena masalah kejiwaan, seperti frustrasi, konflik, kecemasan, fobia/ trauma, tekanan. Sedangkan dari segi budaya, lingkungan dan sosial, sumber stres bisa muncul karena permasalahan seperti kemiskinan, konflik agama, pandangan politik, stres di tempat kerja, pengangguran/PHK, pernikahan, serta Isu suku, ras, dan golongan.

 

Penyebab Stres di Tempat Kerja

Di lingkungan kerja, banyak stimulus yang membuat karyawan di dalamnya mengalami stres kerja. Bisa karena kondisi tuntutan kerja, sering berinteraksi dengan mesin, atau rekan kerja dan tantangan yang diberikan perusahaan. Pekerja menghabiskan rata-rata sepertiga hidupnya di tempat kerja, menjadikan stres kerja penting untuk di bahas. Karena seringkali, stres kerja berdampak pada aktivitas hidup selepas pulang kerja.

Setidaknya ada 10 dimensi stres kerja yang menjadi permasalahan umum penyebab stres di lingkungan kerja.

Yang pertama adalah work overload, atau pekerjaan yang berlebihan. Karyawan diberikan beban kerja yang di atas kemampuan jumlah yang dikerjakan. Sehingga, tugas pekerjaan akan menumpuk, dan karyawan dituntut untuk menyelesaikannya. Dampaknya, mungkin karyawan akan kerja lembur melebihi jam pulang kerja. Agar pekerjaan tersebut selesai.

Kedua, time urgency atau waktu kerja yang mendesak. Beberapa aktivitas kerja dituntut untuk diselesaikan dengan segera. Sehingga, karyawan dituntut kerja secara cekatan namun harus tidak boleh salah. Proses kerja yang harus dikerjakan secara buru-buru ini yang membuat karyawan menjadi tertekan.

Ketiga, quality of supervisor atau sistem pengawasan dari atasan. Sikap atasan yang kurang baik menjadi tekanan bagi bawahan. Ada beberapa sikap atasan yang menjadi sumber stres bagi bawahan, seperti pilih kasih, suka menyalahkan, tidak mau mendengarkan keluhan bawahan, suka menuntut dan menyalahkan bawahan, terlalu menekan bawahan, dan pemimpin yang tidak mau tahu.

Keempat, yaitu Inadequate authority to match responsibility, atau kurang tepatnya pemberian kewenangan sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan. Beberapa contohnya seperti pimpinan yang memberikan tugas tidak sesuai dengan kompetensi dan mainjob karyawan. Memberikan perintah yang melanggar SOP perusahan atau melanggar aturan savety.

Kelima, Performance Feedback atau umpan balik prestasi kerja. Dalam bekerja, karyawan juga butuh diapresiasi kinerjanya. Sehingga, penghargaan, pengakuan hasil kerja, apresiasi, reward, dan ucapan terima kasih sangat dibutuhkan oleh karyawan. Dengan adanya umpan balik prestasi kerja, karyawan akan bersemangat dalam bekerja karena adanya penghargaan. Sebaliknya, kurang adanya penghargaan dari perusahaan menjadikan karyawan tertekan, dan demotivasi dalam bekerja.

Bagian 2, Penyebab Stres di Tempat Kerja

Keenam, Role Ambiguity atau Ketidakjelasan peran. Peran atau posisi kerja yang berganti-ganti dengan cepat menuntut karyawan harus cepat menyesuaikan diri dengan suasa kerja dan project baru. Misalnya, karyawan dari posisi kurir terus dialihkan menjadi petugas admin, dan tiba-tiba dialihkan lagi di posisi customer service. Hal ini bisa membuat karyawan tertekan karena peran yang diberikan oleh perusahaan tidak jelas dan selalu berganti-ganti.

Ketujuh, Change of Any Type atau Perubahan dalam pekerjaan. Perusahaan yang selalu berinovasi akan menuntut karyawan selalu beradaptasi dan belajar hal baru. Perusahaan harus menjaga performa dan kualitas agar tetap bisa bersaing dengan kompetitor. Produk baru, SOP baru, mesinisasi, brand Change, penambahan dan perampingan karyawan juga membuat karyawan harus menyesuaikan diri.

Kedelapan, Interpersonal/ Intergroup Conflict atau Konflik antar pribadi dan kelompok. Dalam lingkungan kerja, karyawan selalu berinteraksi dengan rekan kerja. Baik dalam rekan tim kerja, tim satu divisi, dan beda divisi dalam satu induk usaha. Tuntutan perusahaan membuat satu tim dengan tim lainnya saling berinteraksi dan membutuhkan. Sehingga, memunculkan kepentingan dan tugas yang diberikan. Seringkali, pola komunikasi dan tuntutan perusahaan membuat konflik yang terjadi antar divisi, antar tim, maupun konflik dalam tim kerja sendiri. Permasalahan-permasalahan yang muncul dalam konflik rekan kerja ini menjadi beban stres tersendiri bagi karyawan. Karena akan menciptakan suasana kerja yang tidak nyaman dan tertekan. Sedangkan, mau tidak mau, dia harus selalu berinteraksi dengan rekan kerjanya tersebut.

Kesembilan, Frustasi. Frustasi adalah perasaan kecewa yang dialami oleh seseorang karena tidak tercapainya cita-cita, tuntutan, dan keinginannya. Frustasi muncul karena kegagalan, atau karena terlalu banyak berharap. Karyawan bisa menjadi sangat frustasi jika dia serius dalam bekerja tetapi mengalami kegagalan, terlalu berharap terhadap bawahan, rekan atau atasan. Gagal dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di perusahaan. Gagal mencapai target perusahaan, dan sebagainya.

Yang terakhir, sumber stres kerja yang kesepuluh yaitu Permasalahan keluarga mempengaruhi pekerjaan. Permasalahan yang muncul dalam keluarga, baik konflik keluarga inti maupun grounded Family, seperti kasus perceraian, konflik keluarga, krisis finansial keluarga menjadi sumber stres seseorang. Sehingga, masalah tersebut bisa dibawa ke perusahaan menjadikan performa kerjanya menurun, tidak bersemangat dalam bekerja dan memungkinkan muncul kecelakaan kerja karena kurang konsentrasi.

Itulah sepuluh dimensi stres yang muncul dalam dunia kerja. Permasalahan stres tersebut dapat di telaah untuk diselesaikan sumber stres sehingga performa kerja karyawan bisa ditingkatkan.

 

 

Gejala-gejala yang muncul akibat Stres

Stres muncul tidak dengan seketika. Ada tahapan stres yang bisa muncul dengan tingkatan rendah, kemudian berkembang ke tingkatan tinggi/akut. Gejala stres sering berantai dan berkembang selama waktu tertentu hingga mencapai tingkatan yang berat. Gangguan bisa muncul dari segi permasalahan kognitif, seperti susah konsentrasi, tidak mampu berpikir jernih dalam membuat keputusan, hilangnya kreativitas, dan tidak mampu berpikir lagi.

Gejala fisik yang muncul berupa keringat dingin, jantung berdegub kencang, merasa panas, susah tidur atau malah banyak tidur. Sampai dengan tanda aktivitas fisik yang berat seperti nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, sakit kepala, mencret, sembelit, letih yang tidak beralasan, otot-otot tegang, dan salah urat. Gejala selanjutnya, setelah muncul tanda fisik seringkali berdampak pada perilaku. Seperti mudah marah, cemas, bingung, salah paham, tidak mau bersosialisasi, gampang teledor, tidak semangat bekerja, tidak mau berbuat, dan menurunnya motivasi.

 

Tipe Kepribadian yang Mudah Mengalami Stres

Kami tidak bermaksud mengkotak-kotakkan orang menjadi golongan- golongan tertentu. Karena manusia adalah mahluk yang unik dengan individual deferences-nya. Karakteritistik berdasarkan dari sifat yang paling banyak dimiliki oleh seseorang menjadi penentu sering munculnya stres. Setidaknya ada empat tipe kepribadian yang rawan stres.

Pertama, orang yang sangat hati-hati. Dengan berhati-hati menjadikan dirinya banyak pertimbangan, perfeksionis, kaku, dan seringkali kurang memiliki toleransi terhadap perbedaan. Karena banyak pertimbangan, hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan menjadi dipikirkan. Hal yang tidak menjadi masalah bisa dianalisa sebagai masalah. Karena orang yang berhati-hati berusaha melihat kemungkinan terburuk yang bisa muncul. Hal-hal terburuk yang bisa muncul itu baik jika ada antisipasinya, tetapi jika tidak menemukan antisipasinya, maka memunculkan stres berlebih.

Bagian 2, Tipe kepribadian yang mudah mengalami stres

Kedua, orang yang pencemas. Hampir sama dengan tipe berhati-hati, karakteristik pencemas juga lihai untuk melihat kemungkinan terburuk yang muncul dalam situasi tertentu. Namun, pencemas tidak berdasarkan analisa logika seperti yang dilakukan oleh kebayakan orang yang berhati-hati. Orang jenis ini sering merasa tidak aman, cenderung kurang tenang, dan sering meresahkan segala sesuatu. Perasaan-perasaan yang muncul tersebut membuatnya jadi cepat panik/stres dalam menghadapi suatu masalah. Dan seringkali, kecemasan tersebut tidak rasional atau tidak benar-benar nyata.

Ketiga, orang yang kurang percaya diri. Ketidakpercayaan diri menjadikan dia mudah dipengaruhi oleh orang lain. Pengaruh orang lain tersebut bisa baik bagi dirinya, juga bisa tidak sesuai jika diterapkan ke dirinya. Stres bisa muncul jika ada dua pendapat orang lain yang saling bertentangan. Atau pendapat orang lain tidak tepat untuknya. Orang tidak percaya diri juga tidak percaya diri dalam berbuat untuk menyelesaikan masalahnya. Sehingga, dia stres dalam memandang permasalahannya. Tetapi tidak berani dalam menghadapi permasalahan tersebut.

Keempat, karakteristik temperamental. Orang temperamental memiliki ketidakseimbangan emosi, sehingga emosinya cepat terpancing. Masalah kecil bisa berakibat besar karena kecenderungannya yang mudah meledak-ledak. Akibatnya, banyak orang yang tertekan dan akhirnya bereaksi. Masalah bisa muncul karena respon emosinya. Padahal jika dia tidak berespon secara berlebihan, bisa jadi masalah tersebut tidak ada. Orang yang temperamental sering mendapatkan masalah karena ketidak seimbangan emosinya, sehingga, masalah-masalah tersebut membuatnya stres.

Itulah 4 karakteristik kepribadian yang bisa menjadikan orang rawan dengan permasalahan stres.

Risiko yang Muncul karena Stres

Tidak ada orang yang bebas dari stres sepanjang rentang hidupnya. Semua stres yang terjadi dapat menyenangkan atau menyiksa seseorang tergantung cara seseorang menghadapinya atau sudut pandang seseorang melihat permasalahan.

Perubahan denyut jantung, irama nafas, tegangan pada otak, dan dampak lain yang muncul ketika stres, seperti tidak bisa tidur, tidak nafsu makan. Menjadikan tubuh mengalami ketidakseimbangan. Sehingga, bisa muncul beberapa penyakit jika kondisi tubuh berlarut-larut menghadapi stres. Khususnya, respon individu tersebut menghadapi stres dengan cara yang tidak baik. Seperti menjadi tidak baik dalam mengatur pola makan, istirahat, dan bekerja. Resiko yang kemudian muncul jika kondisi stres berlarut-larut pada seseorang bisa mengalami gangguan seperti jantung, sakit maag, dan stroke. Kesedihan mendalam dan berlarut-larut menyebabkan lambung mengeluarkan asam berlebihan, sehingga mengganggu kinerja aktivitas lambung.

Dampak Stres pada Perilaku

Manifestasi stres yang nampak dalam perilaku dan tanda-tanda yang terlihat ada beberapa cara. Misalnya, seorang yang sedang stres berat bisa jadi mengalami tekanan darah tinggi, sulit membuat keputusan yang bersifat rutin, seriawan, mudah jengkel, kurang nafsu makan, rentan terhadap kecelakaan, dan yang lainnya. Secara umum, dampak stres dikelompokkan menjadi tiga kategori umum, yaitu gejala psikologis, gejala perilaku, dan gejala fisiologis.

Gejala stres yang seringkali muncul pertama adalah gejala psikologis.  Perasaan yang muncul seperti perasaan tertekan, cemas, takut, tidak puas, marah, dan jenuh. Dampak umum dari stres dari sisi psikologis adalah ketidaknyamanan. Sehingga, manusia dituntut untuk menyelesaikan, atau melakukan mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi sumber stres tersebut.  Pengaruh fisiologis, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Akan berdampak terhadap meningkatnya frekuensi detak jantung, tarikan nafas tidak teratur, kontraksi berlebih pada lambung, sakit kepala, rasa lemas pada tubuh, dan gejala fisik lainnya. Dampak stres pada fisik ini, jika sumber stres tidak diselesaikan. Sehingga memunculkan dampak fisik dalam waktu lama, akan memunculkan penyakit kronis dan malfungsi organ tubuh. Seperti sakit jantung, stroke, vertigo, maag kronis, dan penyakit lainnya.

Gejala stres yang berkaitan dengan perilaku meliputi sikap menarik jarak, penakut, atau pemarah, gampang tersinggung, pola makan tidak teratur, pola tidur tidak teratur, kurang bersemangat dalam beraktivitas. Perilaku-perilaku tersebut mengakibatkan perubahan dalam tingkat produktivitas, kemangkiran, dan konsumsi alkohol.

 

Upaya Mengatasi Pemasalahan Stres

Sebelum membahas bagaimana mengatasi permasalahan stres. Kita ulang lagi dampak stres yaitu ada yang disebut eustres. Jika stres memberikan dampak baik pada performa dan membuat seseorang bergerak maju untuk mencapai potensi terbaiknya. Maka, stres tipe ini tidak perlu dihilangkan. Stres tipe ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Bagi orang yang mengalami tipe distres, maka perlu dialihkan menuju tipe eustres.

Proses merubah seseorang menuju tipe eustres adalah dengan pendekatan coping stres, baik melalui merubah sudut pandang seseorang dalam menyikapi permasalahan, sampai merubah pola pikir dan pola perilaku.

Beberapa orang dengan gangguan stres patologis, perlu bantuan terapis seperti psikolog dan psikiater, atau tokoh spiritual, seperti ulama atau guru untuk membantu menyelesaikan permasalahannya. Upaya penyelesaian stres dibantu oleh psikolog dengan pendekatan konseling. Proses konseling ditujukan agar klien mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri. proses pendekatan melalui terapi psikologi, seperti Cognitive Behavior Theraphy, rogerian, Inner Child, dan terapi psikologi lainnya. Pendekatan stres dibantu oleh psikiater dibantu oleh obat untuk mengurangi gejala sakit, dan sebagai efek menenangkan. Sedangkan, pendekatan stres dibantu oleh ulama/ tokoh spiritual dengan menggunakan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Mengajarkan nilai-nilai kesabaran, ketabahan, dan keimanan dalam menyelesaikan masalah.

Pendekatan psikiater, seringkali jika memang upaya penyelesaian dibantu oleh psikolog kurang memberikan dampak yang optimal. Pendekatan Psikiater untuk gangguan psikosomatis pada dasarnya harus dilakukan dengan beberapa cara dengan mempertimbangkan pengobatan somatis (berorientasi pada organ tubuh yang mengalami gangguan).  Psikofarmakoterapi adalah penggunaan obat-obatan yang berhubungan untuk menyelesaikan permasalahan psikologis. Metode mana yang kemudian dipilih oleh dokter sangat tergantung pada jenis kasus dan faktor yang berkaitan dengannya.

___________________-

Itulah artikel singkat kami terkait, memahami stres, dampak-dampak stres, resiko yang bisa ditimbulkan jika kita mengalami gangguan stres akut, dan bagaimana kita menyelesaikan permasalahan stres. Semoga artikel terkait stres ini bermanfaat.

admin No Comments

Orang yang AMBISIUS dalam Berkuasa dalam Analisa Psikologi menurut Adler

Ambisi berkuasa adalah manifestasi dari energi agresivitas yang ada di diri seseorang. Energi agresivitas tersebut mencoba disalurkan pada hal yang tidak melanggar norma sosial. Pertanyaan yang muncul adalah apakah ambisi berkuasa tersebut adalah hal yang baik atau buruk?

Ambisi Berkuasa apakah Baik atau Buruk?

Deepapsikologi.com —  Sebelum menjawabnya kita perlu menelaah bahwa, dorongan berkuasa tersebut adalah langkah seseorang untuk memotivasi agar bekerja keras. Seseorang perlu menggunakan potensi baik tenaga maupun pikiran agar tercapai cita-citanya. Dengan tujuan bahwa ‘kekuasaan adalah kenikmatan yang membuat dirinya bisa berkehendak lebih’. Namun, hal tersebut tidaklah gratis dan harus di perjuangkan. Jika langkah memperjuangkan agar mendapatkan kekuasaan ini didapatkan dengan cara yang benar, tidak berbuat curang, tidak menyakiti orang lain: maka hal tersebut adalah baik.

Setelah mendapatkan kekuasaan, pertanyaan selanjutnya: apakah kekuasaan tersebut digunakan untuk hal yang baik atau tidak ?

Kekuasaan berdampak terhadap meningkatnya kemampuan mengontrol lingkungan dan dapat berkehendak lebih. Ada dua karakteristik orang yang berkuasa dalam teori adler nanti bisa kita bahas. Pertama, adalah orang yang berkuasa tetapi hanya untuk memuaskan kepentingan dirinya sendiri. kedua, yaitu orang yang berkuasa untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi masih ada perhatian besar kepada kesejahteraan orang atau lingkungan yang dikuasainya.

Orang yang berkuasa untuk kepentingan dirinya sendiri tentu sangat tidak baik. Dia melakukan banyak hal agar bisa memanfaatkan orang lain di lingkungannya. Memeras dan menekan orang lain untuk memenuhi kepuasan dirinya. Sedangkan, orang yang berkuasa untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Dia masih memperhatikan kesejahteraan orang lain. Masih ada dorongan menjadi ‘Hero’, agar orang di bawah kekuasaannya bisa terbantu menjadi lebih baik. dia masih menerima masukan dan berkorban untuk kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.

Jadi ambisi berkuasa itu baik atau buruk? Baik, jika didapatkan dengan cara yang tepat. Dan disalurkan untuk kesejahteraan orang-orang di sekitarnya. Hal yang tidak baik adalah ambisius. Yaitu mengorbankan segala cara untuk mencari kekusaan. Dan ketika mendapatkannya, akan memanfaatkan banyak orang untuk memenuhi kepuasan dirinya.

 Memahami Kekuasaan dalam perspektif Psikologi

Alfred Adler adalah salah satu tokoh psikologi yang sangat terkenal. Memberikan penjelasan gamblang tentang energi agresivitas untuk mendapatkan kekuasaan. Adler menjelaskan bahwa agresif itu lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian energi agresivitas itu diganti dengan “hasrat dan kekuasaan” dimana energi tersebut paling memberikan kenikmatan dan lebih bisa diterima. Sehingga itu tujuan akhir manusia menurut Adler yaitu : Menjadi Agresif, menjadi berkuasa, dan dengan berkuasa bisa menjadi superior.

Superioritas adalah perjuangan ke arah kesempurnaan, dimana bisa berkehendak lebih atas banyak hal. Superior sebagai dorongan kuat ke atas. Dorongan untuk mendapatkan kekuasaan ini sifatnya bawaan, dan merupakan bagian dari hidup. Sama seperti dorongan hewani, dimana binatang di alam liar berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dari rombongannya, seperti singa, monyet, dan serigala. Jadi, dorongan berkuasa adalah dorongan instingtif atau dorongan hewani yang ada pada diri manusia.

Perasaan Inferior itu Wajar pada Setiap Orang

Perasaan inferoritas muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh.

Setiap orang pasti merasa dirinya ada yang kurang. Apakah dia kurang pintar, kurang bisa bersosialisasi, ada anggota tubuhnya yang kurang proporsional sesuai dengan yang diinginkannya. Adler menjelaskan inferoritas sebagai “feminitas” dan kompensasinya disebut “protes maskulin”.

Adler mengungkapkan jika inferioritas bukan suatu tanda abnormalitas; tetapi penyebab segala bentuk penyempurnaan dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, secara kodrati manusia memang didorong oleh kebutuhan untuk mengatasi inferoritasnya dan ditarik hasrat menjadi superior. Bagi Adler tujuan hidup adalah kesempurnaan bukan kenikmatan.

Ambisi Berkuasa Membutuhkan Potensi

Karena seseorang mengalami konflik dalam menghadapi inferioritas atau perasaan tidak berdaya. Maka, dia akan menggunakan segala cara agar terhindar dari penderitaan. Yaitu, menghindari inferioritasnya tersebut. Namun, upaya untuk mendapatkan kekuasaan itu artinya dia harus bisa membuktikan kepada lingkungan. Harus berjuang agar lingkungan menerima kekuasaannya. Dia harus berjuang dengan potensi yang dimilikinya untuk menutupi kekurangan yang dimilikinya. Apakah dia harus menggunakan otot dan kekuatannya untuk mendapatkan kekuasaan. Atau apakah dia harus menggunakan otak, kreativitas, bahkan harta dan kemampuan negosiasi kepada lingkungan. Intinya, dia harus mencari potensi diri yang membuatnya bisa diterima untuk menyalurkan energi berkuasanya.

Selama dia bisa menggunakan potensi tersebut untuk mencapai kekuasaan. Maka, dia akan dapat meredakan ketegangan stres karena tidak nikmatnya hidup dalam kondisi tidak berdaya. Tetapi, jika orang tersebut tidak mampu menggunakan potensi untuk mencapai kekuasaan, maka sepanjang hidup, dia akan mengalami tegangan karena perasaan tidak berdaya.

Kesimpulan tentang dorongan berkuasa pada diri manusia

Perasaan tidak berdaya ada pada diri manusia. Dorongan hidup membuat orang bergerak untuk menutupi perasaan tidak berdaya dengan jalan dorongan berkuasa. Dorongan berkuasa adalah dorongan kesempurnaan dimana seseorang bisa berkehendak lebih. Kesempurnaan adalah tujuan hidup yang tertinggi menurut teori Adler.

Secara normatif. Dorongan berkuasa itu bisa baik dan buruk, dari bagaimana cara untuk mendapatkannya. Dan bagaimana kekuasaan itu digunakan untuk lingkungan sosialnya. Apakah untuk kepentingan dirinya sendiri, atau tetap memperhatikan kesejahteraan lingkungan sosialnya.

admin No Comments

Kenali Dirimu Introvert atau Ekstrovert, dan Sisi Mana Yang Lebih Baik

Kita tentu sudah sangat tidak asing dengan istilah introvert dan ekstrovert. Orang awam memahami introvert dengan karakteristik yang pendiam, jarang bicara, perasa, dan sensitif. Sedangkan untuk ekstrovert dipahami sebagai karakteristik dimana seseorang lebih banyak bicara, aktif, sering mengemukakan pendapat dan terkadang kurang peka. Setidaknya, itu yang dipahami oleh awam. Kemudian kita akan mengklasifikasikan diri kita, apakah kita termasuk introvert atau ekstrovert. Dan membandingkan, menjadi lebih baik mana.. apakah introvert atau ekstrovert.

Sebelum membahas hal tersebut, labih baik kita pahami dulu tentang sejarah dari asal kata introvert dan ekstrovert.

 

Diperkenalkan oleh Jung, Tokoh Psikologi yang sangat terkenal dengan teori Psikoanalisa

Carl Gustav Jung (1875-1961), dokter psikologi dari Swiss sebagai orang pertama yang merumuskan tipe kepribadian manusia dengan istilah ekstrovert dan introvert. Tetapi tidak hanya dua itu, ada istilah lain yang dikenalkan, yaitu Ambivert.

Jung juga menggambarkan empat fungsi kepribadian manusia yang disebut dengan fungsi berpikir, pengindera, intuitif, dan perasa. Tetapi untuk empat fungsi kepribadian ini, bisa kita bahas pada artikel terpisah di lain kesempatan. 🙂

https://www.youtube.com/watch?v=Fintqbr-9g8

 

Kepribadian Introvert bukan selalu harus pendiam

Jung menjelaskan bahwa inti dari introvert adalah karakteristik dimana seseorang lebih cenderung ke dalam dirinya. Seseorang dengan banyak kecerdasan intrapersonal, dimana dia sibuk dan lebih banyak mendengarkan ke dalam dirinya. Terkait fantasinya, komunikasi dengan dirinya, pemikiran, mimpi-mimpinya.

Sehingga, jika ada informasi dari luar. Maka, dia akan menimbang-nimbang dengan subjektivitas dirinya. Untuk pengambilan keputusan atau menyimpulkan segala sesuatu. Termasuk dalam berperilaku. Sehingga, “kesannya” dia pendiam, pemurung, dan sensitif. Tetapi, pendiamnya adalah dia sedang sibuk dalam aktivitas dengan dirinya yang mencakup berpikir, merasa, berkomunikasi dengan ‘dirinya sendiri’.

Ketika kita sangat sibuk dengan diri kita sendiri, ke bagian dalam diri kita. Sangat mungkin muncul nilai dari orang- orang di sekitar kita bahwa kita, susah bergaul, senang menyendiri, tidak aktif di pergaulan, pendiam, bahkan pemalu. Tetapi, kenyataannya banyak juga lho orang yang suka berbicara tetapi dia dominan introvert.

Bagaimana bisa orang cerewet tetapi kok introvert? Ya.. karena inti dari introvert adalah orientasi ke dalam dirinya sendiri. Maka, bisa jadi dia banyak bicara, tetapi ketika ada temannya berbicara atau memberi nasehat. Tidak diperhatikan. Karena dia lebih memperhatikan kata hatinya sendiri. Dia aktif berbicara tetapi tidak mendengarkan dan tidak menyaring nilai atau pendapat dari lingkungan.

Kepribadian ekstrovert nampak hangat dan ramah

Jika tipe introvert dimana seseorang cenderung ke dalam dirinya. Sebaliknya, tipe ekstrovert muncul dalam karakteristik dimana seseorang cenderung ke luar dirinya. Dia lebih melihat lingkungan sosial, aktif mendengarkan dan berbicara dengan orang lain, memiliki ketertarikan atau atensi yang kuat dengan orang lain. Sehingga, akan nampak sebagai orang yang hangat dan ramah. Aktif dan pintar bersosialisasi. Maka, nilai sosial yang muncul adalah orang ekstrovert lebih menyenangkan daripada orang introvert. Dan banyak orang berasa bahwa dirinya adalah tipe introvert, karena dia merasa tidak yakin dirinya ramah dengan lingkungan sosialnya.

Jika dia sibuk dengan kata di luar dirinya. Maka pendapat dan nilai yang menjadi keputusan, perilaku, dan yang disetujui adalah dari kata orang lain di luar dirinya. Dia menjadi kurang memperhatikan kata hatinya, pemikiran, ide dan gagasannya. Apakah hal tersebut bagus? Tentu tidak bagus untuk beberapa kondisi. Karena ada situasi dimana yang mengetahui mana yang terbaik bagi dirinya adalah dirinya sendiri.

 

Membandingkan introvert dan ekstrovert

Mana yang lebih bagus, antara introvert dan ekstrovert? Jawabannya adalah situasional. Karena lingkungan kan dinamis. Kadang kita perlu menjadi introvert untuk mendengarkan ‘diri kita’ tetapi kadang kita perlu menimbang dan mendengarkan orang lain berpendapat. Kita juga perlu bersosialisasi karena pada hakekatnya, manusia adalah mahluk sosial.

Jadi bisa dua-duanya kepribadian tersebut bisa ada di diri kita? Ya… namanya adalah kepribadian ambivert. Ambivert adalah karakteristik dinamis dimana seseorang perlu condong ke introvert dalam kondisi tertentu, juga perlu condong ke ekstrovert dalam kondisi tertentu. Ada stimulus sosial yang efektif jika kita introvert dan kondisi sosial tertentu efektif jika kita ekstrovert. Yang terbaik adalah jika kita dinamis dalam bersikap dan memposisikan diri di lingkungan sosial. Namun, tetap kita perlu memberikan wilayah di diri kita untuk ‘berbicara’ dan merasa.

Kepribadian ambivert lebih sehat dan baik bagi kita

Bayangkan jika kita sangat tertutup, tidak mau mendengarkan orang lain, dan menarik jarak dengan lingkungan sosial. Atau jika kita terlalu terpengaruh dengan orang lain, sedangkan banyak pendapat antara satu orang dengan orang lain. Orang lain juga belum tentu tahu kondisi diri kita, mana yang terbaik bagi diri kita sendiri. Maka, orang yang sangat kaku dan tidak fleksibel dalam kepribadian introvert maupun ekstrovert akan mengalami masalah dalam kepribadiannya. Dalam fungsi hidup/ aktivitas sehari-hari akan terganggu. Kepribadian yang sehat adalah kepribadian dimana seseorang bisa menjadi dinamis menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.

 

Kepribadian bukan untuk labelling

Tidak akan sama kondisi psikologis satu orang dengan orang lainnya. Karena stimulus dan permasalahan seseorang, maupun masa lalu orang berbeda-beda. Inti dari kepribadian dalam psikologi adalah kesehatan mental. Dimana seseorang bisa beraktivitas yang terbaik sesuai dengan kondisi dirinya, sesuai dengan potensi dan kondisi psikologis yang ada di dirinya.

Maka, orang yang bijak tentu tidak perlu memberikan nilai/melabeli dirinya atau orang lain. Apakah orang lain itu sangat introvert, atau sangat ekstrovert. Apakah teman kita itu orang yang perasa atau pemikir. Labelling tersebut akan menjadi problem jika membuat kita akhirnya bersikap berbeda atau memandang negatif teman dan diri kita sendiri. perlu kita ingat, bahwa di psikologi ada istilah individual defferences, yaitu masing-masing dari kita adalah unik. Tidak perlu melabelli lebih baik daripada yang lainnya. 🙂

admin No Comments

Memahami Cinta sebagai bagian dari Bentuk Emosi Manusia

Cinta adalah merupakan emosi manusia yang paling dalam dan paling diharapkan. Orang yang dikuasai cinta, akan menumpulkan logika kepada objek yang dicintainya. Dia bisa saja akan berbohong, menipu,mencuri dan bahkan membunuh, atas nama cinta. Bahkan banyak yang memutuskan lebih baik mati daripada kehilangan cinta. Cinta dapat meliputi setiap orang dan dari berbagai tingkatan manusia. Memberikan energi besar untuk menguatkan, sehingga orang bisa berkorban tanpa batas kepada pihak yang dicintainya.

 

Tiga Komponen Cinta untuk Menggambarkan Cinta Secara Utuh

DeepaPsikologi.com — Ada beberapa komponen cinta menurut Stenberg yang dikenal dengan stenberg’s triangular of love. Menurut Stenberg (salah satu tokoh psikologi) menjelaskan bahwa semua pengalaman cinta memiliki tiga komponen. Komponen tersebut yaitu yaitu keintiman (intimacy), gairah (passion), komitmen (commitment).

 

 

Keintiman sebagai salah satu komponen Cinta

Keintiman dijelaskan sebagai perasaan selalu ingin dekat, ingin selalu memberi perhatian pada orang yang dicintai. Kedekatan diri dengan pasangan dan komunikasi adalah sesuatu yang penting. Komponen ini sangat penting baik pada cinta romantis pada pasangan, dan cinta terhadap anak-anak.

Di dalam keintiman terdapat suasana emosi berupa kehangatan, kepercayaan, dan keinginan untuk membina hubungan. Keintiman Nampak dalam adanya perasaan kedekatan dengan seseorang, senang berbincang-bincang denganya dalam waktu lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu dan ada keinginan untuk aktivitas fisik saling bergandengan tangan atau merangkul bahu, dan memeluk.

Dalam keintiman ada upaya untuk meningkatkan kesejahteraan orang yang dicintai dan kemudian meningkatkan kesejahteraannya. Seseorang akan menikmati kegiatan yang dijalankan dengan pasangannya. Ketika mereka melakukan kegiatan itu bersama-sama, mereka akan menikmatinya dan membentuk kenangan-kenangan untuk diingat.

Seseorang akan menghargai dan menghormati orang yang dicintainya. Walaupun ada cacat atau kekurangan pada orang yang dicintainya tersebut, tidak akan mengurangi penghargaan yang diberikan. Dalam keintiman ada upaya untuk menempatkan orang yang dicintai pada penghargaan yang tinggi.

Di dalam cinta ada kebutuhan untuk bergantung pada orang yang dicintai ketika dibutuhkan. Seseorang akan merasakan bahwa pasanganya ada ketika ia membutuhkan. Ketika ia membutuhkan pasangannya, ia dapat memanggilnya dan berharap pasangannya akan segera datang. Keterikatan afeksi menjadikan ada pemahaman satu sama lainnya. Sehingga, pasangan dapat saling mengerti satu sama lain. Mereka memahami kelebihan dan kekurangan pasangannya dan bagaimana merespon terhadap kekurangan dan kelebihan tersebut untuk tujuan bersama dan menghindari konflik yang besar. Saling memahami teresebut juga akan memberikan empati pada kondisi emosi pasangannya.

Karakteristik yang muncul dalam interaksi Cinta

 

Karakteristik lain yang muncul dalam cinta adalah dorongan berbagi dengan orang yang dicintai. Seseorang mampu memberikan dirinya dan waktunya, seperti juga barang-barang yang dimilikinya kepada pasangannya. Bahkan mereka saling berbagi kekayaan dan yang lebih penting mereka saling berbagi dirinya sendiri.

Cinta akan memberikan dukungan emosi dari dan ke pasangannya. Seseorang akan merasa didukung oleh pasangannya terutama pada saat dibutuhkan. Interaksi cinta menjadikan seseorang mampu berkomunikasi dengan intens dan jujur terhadap pasangannya, berbagi perasaan-perasaan paling mendalam. Mereka akan bertukar cerita, keluh kesah. Dan sebagian dari mereka akan menjadi pendengar yang baik bagi pasangannya.

Karakteristik yang terakhir dari interaksi cinta adalah munculnya upaya menghargai orang yang dicintai. Seseorang merasa betapa pentingnya keberadaan orang yang dicintainya tersebut dalam kehidupannya. Upaya menghargai ini akan muncul dalam setiap perilaku dan bentuk kasih sayang.

 

Komponen Cinta yang kedua yaitu Gairah

 

Gairah sebagai dorongan yang mengarahkan pada suatu emosi yang kuat dalam hubungan cinta. Dalam hubungan cinta romantis, ketertarikan fisik dan seksual mungkin adalah hal yang utama. Namun, motif yang lainnya seperti memberi dan menerima perhatian, kebutuhan akan harga diri atau kebutuhan untuk mendominasi juga turut terlibat.

Kebanyakan orang menganggap gairah adalah hal – hal yang berhubungan dengan seksual. Tetapi setiap aktivitas fisiologis dalam cinta dapat dikatakan sebagai pengalaman gairah. Misalnya, individu dengan kebutuhan kasih sayang yang tinggi mungkin akan mendapatkan pengalaman gairah dengan orang yang memberikan kasih sayang tersebut.

 

Komponen Cinta berupa Komitmen

 

Komitmen sebagai perwujudan cinta pengungkapannya dilakukan secara berkesinambungan untuk tujuan mempertahankan cinta tersebut. Hal ini merupakan komponen kognitif utama dari cinta. Komitmen sendiri memiliki dua aspek jangka pendek dan jangka panjang. Aspek jangka pendek adalah keputusan untuk mencintai seseorang. Sedangkan keputusan jangka panjang adalah untuk mempertahankan hubungan cinta tersebut. Kedua aspek ini harus dialami dalam waktu yang bersamaan.

Keputusan untuk mencintai belum tentu mengakibatkan munculnya keinginan untuk mempertahankan hubungan. Komitmen ini penting untuk menjadikan cinta bertahan lama. Karena untuk awal dalam interaksi cinta, khususnya cinta lawan jenis, yang muncul pertama adalah gairah yang besar. Ketika gairah ini memuncak, hal tersebut menjadikan interaksi cinta dengan pasangan akan nampak indah. Namun, ketika gairah mulai pudar, komitmen lah yang menjaga interaksi dengan pasangan tetap bertahan.

admin No Comments

Komunikasi Verbal dalam Seksualitas, hal yang mempengaruhi Komunikasi dalam Perilaku Seksual

Deepapsikologi.com — Berbicara masalah seksualitas dalam psikologi adalah hal yang complicated. Tidak seperti dalam persepsi sosial bahwa seksualitas mengalami penyempitan makna, hanya untuk istilah hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan. Dalam psikologi seksualitas mencakup banyak hal, seperti dorongan energi yang harus disalurkan, aktivitas sekualitas, upaya menarik pasangan, dan manifestasi energi seksual untuk hal yang diterima sosial. Seksual lebih bermakna jika kita pahami sebagai segala energi hidup (eros) untuk mendapatkan kesenangan dan melanjutkan keberlangsungan hidup spesies.

Dalam banyak budaya, ekspresi seksual cenderung tabu dan tidak diterima jika diungkapkan di masyarakat. Oleh karena nilai yang dianut tersebut, maka peran seksualitas menempatkan peran spesial dan banyak yang ditutup-tutupi dalam masyarakat, khususnya perilaku seksual.

Perilaku seksual adalah normal dalam kebutuhan dasar manusia. Menurut Abraham Maslow, aktivitas seksual merupakan kebutuhan dasar yang disetarakan dengan kebutuhan seperti makan, minum, buang hajat dan tidur/ beristirahat. Aktivitas seksual merupakan kebutuhan paling dasar dari mahluk hidup untuk meneruskan keturunan.

Dalam perilaku seksual, komunikasi seksual memiliki peran penting dalam tercapainya kepuasan seksual dengan pasangan. Komunikasi tidak harus selalu dalam komunikasi verbal. Komunikasi seksual yang efektif berdasarkan mutual empathy. Perasaan mutual empathy menekankan bahwa adanya saling peduli dan memahami antar satu sama lain.

artikel terkait lainnya: rangsangan seksual dan respon yang mempengaruhi

Beberapa hal yang mempengaruhi Komunikasi dalam Perilaku Seksual

Beberapa alasan terkait komunikasi yang berpengaruh terhadap perilaku seksual, yaitu:

  1. Sosialisasi dan komunikasi seksual

Pola asuh saat masa anak-anak dapat mempengaruhi kesulitan untuk membicarakan hal seksual dimasa dewasa. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa banyak budaya memandang seks sebagai hal yang tabu. Anak-anak yang tidak memiliki model dalam komunikasi verbal dalam hal seksual kemungkinan memiliki hambatan dalam membicarakan hal seksual (keinginan, kebutuhan) dengan pasangan. Permasalahan yang muncul dalam kaitannya dengan seksualitas juga sulit untuk dibicarakan di depan orang lain.

 

  1. Bahasa dan komunikasi Seksual

Dikarenakan hal-hal berkaitan seksualitas di tabukan di lingkup sosial. Maka, pembahasaan diungkapkan secara tidak apa adanya, dengan pendekatan kultur yang diterima. Hambatan  penggunaan kata-kata yang tepat terjadi akibat kesulitan untuk mengungkapkan kebutuhan seksual. Orang seringkali tidak memiliki pengetahuan dalam istilah-istilah seksual (bahasa sehari-hari vs istilah ilmiah).

  1. Komunikasi seksual berdasarkan jenis kelamin

Ada pola komunikasi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dalam komunikasi, laki-laki cenderung bertujuan untuk mencari menang-kalah, pemberian solusi atau nasehat, sedangkan perempuan komunikasi dengan tujuan untuk mencari kedekatan dan keitiman. Begitu juga dengan komunikasi seksual. Laki-laki lebih memungkinkan untuk mengungkapkan seksualitas dalam komunikasi lebih terbuka dibandingkan perempuan. Pola komunikasi seksual pada perempuan cenderung tertutup, dan tidak elok jika diungkapkan.

 

____________

Itulah pembahasan yang berhubungan antara pola komunikasi dengan perilaku seksual. Mengungkapkan hal-hal tabu secara sebagian kultur untuk berbicara terkait perilaku seksual. Semoga artikel singkat ini bermanfaat.

admin No Comments

Rangsangan Seksual dan Renspon- respon yang mempengaruhi dalam Interaksi Seksual

Deepapsikologi.com — Dalam interaksi seksual, dibutuhkan rangsangan yang memunculkan perilaku seksual. Sehingga secara fisik tubuh siap dalam aktivitas seksual. Rangsangan- rangsangan seksual tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:

Peran hormon dalam rangsangan seksual

Hormon seks pada laki-laki adalah androgen yang diproduksi oleh testis, sedangkan perempuan adalah estrogen. Secara umum, testoteron lebih berperan pada libido dibandingkan fungsi seksual. Pada laki-laki dengan kadar testoteron rendah memiliki minat seksual yang rendah namun mampu untuk ereksi dan orgasme. Sehingga hormon testoteron berperan pada memunculkan minat/dorongan seksual di awal.

Peran otak dalam rangsangan seksual

Bagian otak yang mengontrol proses mental tingkat tinggi, termasuk di dalamnya proses seksual ada pada Cerebral cortex. Cerebral cortex berada pada lapisan tipis bagian luar dari otak. Sistem limbic ada pada bagian otak yang mengatur emosi. Sistem limbik tersebut memainkan peran dalam perilaku seksual.

Pikiran, emosi dan ingatan berperan dalam respon seksual. Fantasi dan imaginasi dapat memunculkan rangsangan seksual. Rangsangan seksual dapat muncul walaupun tanpa ada rangsangan fisik atau stimulus sensorik. Respon seksual dapat berbeda antara satu orang dengan orang lain, walaupun dengan satu stimulus. Contohnya, ketika ada gambar porno, belum tentu semua orang yang menonton akan terangsang.

Sentuhan dan Pandangan dalam Pengaruhnya terhadap rangsangan Seksual

Stimulasi beberapa sentuhan pada berbagai bagian tubuh merupakan sumber untuk rangsangan seksual. Beberapa area tubuh lebih sensitif dibandingkan bagian tubuh lainnya. Bagian tubuh yang memiliki syaraf rangsangan seksual tinggi disebut erogenous zone. Primary erogenous zone seperti genital, pantat, anus, payudara (putting), paha bagian dalam, ketiak, pusar, leher, telinga, mulut. Secara anatomi, bagian tubuh dengan rangsangan tinggi memiliki perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Pada perempuan, area tubuh dengan rangsangan seksual lebih menyebar di banyak bagian tubuh.

Untuk pengaruh pandangan pada rangsangan seksual, dalam berbagai lingkungan masyarakat, stimulasi melalui penglihatan memegang peranan penting. Orang-orang mencoba menarik pasangan dengan tampil lebih seksi, dan busana lebih menarik.

 

Pengaruh Bau-Bauan dalam Rangsangan Seksual

Pengalaman seksual dan konsisi budaya mempengaruhi dampak bau-bauan terhadap rangsang seksual seseorang. Di Eropa, bau dari area genital lebih dipersepsikan sebagai rangsang seksual dibandingkan di Asia. Beberapa parfum tertentu digunakan untuk rangsangan seksual lawan jenis. Dan upaya menarik lawan jenis di ungkapkan dengan bau-bauan. Sebaliknya, bau yang tidak sedap dan tidak nyaman, akan mengganggu rangsangan seksual.

Rangsangan Seksual Berupa Makanan dan Bahan Kimia

Beberapa bahan makanan dapat meningkatkan gairah atau kemampuan seksual. Seperti misalnya tiram, pisang, selederi, timun, tomat, gingseng, kentang, alkohol, dan obat-obatan. Sedangkan, makanan atau bahan kimia yang bersifat anaphrodisiac, yaitu bahan-bahan yang menurunkan gairah/kemampuan seksual. Makanan yang menurunkan gairah seksual misalnya nikotin, obat antidepresan, dan obat antipsikotik.

 

Demikian adalah artikel singkat terkait renspon- respon yang mempengaruhi rangsangan seksual. Semoga bermanfaat.